
Pisau terhempas dari tangan Alena. Dinda ambruk tak sadarkan diri, mungkin ia sudah lelah dengan kejadian hari ini.
"Bawa ke kamarku saja..!! Kamu cobalah bicara dengan Dinda. Bibi dan Asya bisa tidur di kamar belakang, adikmu di kamar tengah. Aku dan Aaron di luar..!!" kata Bang Arman.
"Siap Bang.. terima kasih"
...
"Sudah enakan?" tanya Bang Wira lembut.
Dinda memalingkan wajahnya, ada rasa mual mendera saat melihat wajah Bang Wira dan rasa teraduk kuat juga dirasakan Bang Wira begitu menyadari Dinda 'tak suka' melihatnya.
"Nampaknya si Jambul ikut marah sama Papanya." gumam Bang Wira sembari memercing menahan mual.
"Dari tadi Papa sakit lho dek.. Dedek nggak kasihan sama Papa??" tanyanya sengaja melembutkan suara untuk membujuk Dinda.
Refleks Dinda melirik Bang Wira, memperhatikan apakah suaminya benar sedang tidak sehat atau tidak.
Bang Wira menunduk merasakan tubuhnya yang tidak karuan. Tangannya hanya bisa mengusap dada sampai ke batas perut, menghalau rasa yang seakan membunuhnya perlahan.
"Bilang ke Mama ya dek..!! Papa minta maaf..!! Papa salah sudah buat Mama kecewa." kata Bang Wira.
"Tapi Mama masih marah. Nggak mau Maafin Papa" jawab Dinda.
"Mama mau apa biar nggak marah lagi?" tanya Bang Wira.
"Perhiasan mahal, mobil, tas baru, baju yang bagus, uang yang banyak" Jawab Dinda dengan cepat.
"Kalau ada semua, Abang di maafin nggak?"
"Tergantung..!!" Dinda masih enggan menanggapi Bang Wira.
"Apapun maumu. Harta tidak ada artinya" Bang Wira mengeluarkan seluruh isi dompetnya.
"Ambil ini..!! Pilih dan beli apa yang kamu mau. Abang hanya mau kamu dan anak kita"
"Hhh.. gombalan laki-laki. Norak" gumam Dinda tapi tangannya menyambar dompet Bang Wira.
Bang Wira melongo melihat sang istri yang sigap tanggap darurat kalau soal uang.
"Kenapa?? Dinda matre??"
"Nggak.. sok ambil semua. Abang nggak ikutan. Abang bawa badan saja sudah cukup" tak ingin mencari ribut, Bang Wira benar-benar mengalah mengatasi emosi Dinda dan mempertahankan rumah tangga nya.
"Kalau begitu, Dinda beli rumah saja" kata Dinda mengancam.
"Manut.."
"Kenapa Abang iya.. iya aja kalau Dinda mau habiskan uang Abang. Kalau Dinda salah, nggak Abang cegah??" tegur Dinda.
__ADS_1
"Abang kerja siang malam untuk siapa?? Untuk kamu juga. Untuk anak kita. Wajar kalau kamu habiskan. Itu hak mu" jawab Bang Wira.
Dinda memang masih kesal, tapi hatinya tak bisa berbohong kalau ia sungguh bahagia mendapatkan perhatian dari Bang Wira.
"Dinda belum minum susu" ucapnya menguji kepekaan sang suami.
"Abang buatkan..!! Tunggu disini ya...!!"
"Hmm.."
Bang Wira segera keluar dari kamar.
:
"Ke dapur saja.. Tapi apa adanya ya. Maklum.. Abang bujangan"
"Siap Bang"
"Dinda masih marah?"
"Wajar kalau Dinda marah. Tapi ternyata sikapnya tidak kekanakan seperti Alena" Jawab Bang Wira.
"Maaf.. tanpa sadar karena Abang juga masalah ini terjadi. Tapi pasti kamu sendiri juga paham. Cinta itu dasarnya dari dalam diri dan hati, jika memang tidak bisa.. maka tidak bisa. Itu menurut Abang" kata Bang Arman.
"Siap.. saya paham"
"Abang paham perasaan mu. Hal seperti ini bisa menggoncang rumah tanggamu. Tapi jangan sampai kamu kasar lagi sama Dinda. Saat Abang bersamanya dulu.. Dinda tidak selembut ini perangainya saat bersamamu"
"Iya.. asal kau tahu.. sangat menantang" bisik Bang Arman.
Seketika Bang Wira melirik Bang Arman dengan tatapan kesal.
"Ini hanya masa lalu. Kalau kamu saja bisa cemburu dengan masa lalu Dinda yang seperti ini. Apa kabar dengan cemburunya pada Adindamu. Ia hanya menahan nya karena tau itu semua tidak pantas. Adinda istri sah mu"
Bang Wira tersenyum kecut tak berani membayangkan bagaimana sedihnya perasaan Dinda.
"Cepat kembalilah dan rayu istrimu. Kamu pasti lebih paham bagaimana cara menaklukkan hati Nyonya Wira..!!" ucap Bang Arman setelah Bang Wira selesai membuat susu ibu hamil untuk sang istri.
:
Bang Aaron menghapus air mata Alena.
"Sampai kapan mau terus menangis?"
"Apa urusan Abang? Kembalikan ke rumah Bang Arman.. Turuti segala ucapan Abangku juga istri kesayangannya yang tak tau diri itu..!!" ucap kasar Alena.
"Kamu ini wanita cantik, wanita tercantik yang pernah Abang lihat. Jangan kotori kecantikanmu dengan sikapmu yang seperti ini" tegur Bang Aaron secara halus.
"Kenapa?? Abang baru tau artinya penyesalan saat bertemu denganku??"
__ADS_1
Bang Aaron memberanikan diri memeluk Alena dari belakang. Hatinya sudah tidak tahan lagi terbelenggu cinta yang kian hari, kian ia sadari semakin membuat batinnya terusik.
"Kenapa harus menyesal? Jika Bang Arman tidak bisa mencintaimu.. Abang sudah mencintaimu tanpa syarat"
"Alena nggak mau, Bukan Abang yang Alena cintai..!!!!" pekik sedih Alena.
"Allah yang akan membuka pintu hati setiap umatnya asal ada keyakinan dan percaya padaNya. Kita sudah salah besar, tak inginkan kita menebusnya?"
"Ini urusan Alena. Abang tidak usah ikut campur..!!"
"Abang laki-laki.. Abang yang pegang kendali. Jika memang saat itu Abang tidak mau.. seharusnya sudah Abang tolak, tapi Abang mau bersamamu malam itu.. karena memang ada hati untukmu" kata Bang Aaron.
"Laki-laki semua sama saja..!!" Alena menghabiskan susu kotak yang ia beli dari minimarket di seberang jalan.
...
"lagi..!!"
"Nyanyi opo maneh cah ayu..!!"
"Balonku ada lima sama burung kakatua pakai beatbox..!!"
"Ya salam.. si jambul niat banget ngerjain papanya..!!" gumam kecil Bang Wira.
"Papa nggak mau nih??"
"Mauuu.. mau Mama sayang" Bang Wira mengalah dan akhirnya bernyanyi dengan nada beatbox dadakan yang membuat dirinya sampai tak begitu paham karena lupa lirik aslinya.
Hal kecil itu membuat mata Dinda perlahan terpejam dan tertidur. Bang Wira mengarahkan tangan Dinda agar memeluk pinggangnya tanpa sadar, pelukan yang jika sehari saja tidak ia dapatkan sudah membuat dirinya kelabakan tidak tenang.
Senadyan kowe ngilang..
Ra biso tak sawang..
Nanging.. Ning ati tansah kelingan...
Manise janji.. Janjimu kuwi...
Nglarani ati....
Bang Wira menyanyikan lagu penghantar tidur untuk Dinda dan sang istri terpejam manis, dan tenang tanpa perlawanan dalam dekapan hangatnya.
"Owalah gustii.. untung Abang cinta, kalau nggak cinta.. sudah Abang tarik bibir mungilmu ini. Mama blackpink kesayangan Papa Wira" gemas sekali rasa hati Bang Wira sembari berkali-kali menciumi bibir sang istri yang selalu membuatnya rindu.
.
.
.
__ADS_1
.