Sayap Perwira

Sayap Perwira
55. Lelaki sejati.


__ADS_3

"Abang tidak bisa menceraikan Dinda."


"Dia sudah tidak mengandung anakmu lagi Bang." kata Sahara.


"Iya, tapi Dinda tetap ibu dari anak ku"


"Apa cintaku sama Abang masih kurang?" tanya Sahara yang tidak bisa menerima keadaan ini.


"Apapun alasannya, sekarang Abang sudah beristri. Abang juga sudah punya anak. Terima lah keadaan ini. Tidak ada jodohnya bagi kita" jawab Bang Wira memberi pengertian pada Sahara.


"Nggak.. aku maunya nikah sama kamu Bang..!! Hidupku sudah hancur, lalu siapa yang mau bertanggung jawab?? Sejak dulu aku sudah bermimpi menikah sama kamu. Aku cintanya sama kamu Bang" Sahara begitu histeris dalam ruangan itu.


Di luar sana Bang Siregar mendengarkan percakapan antara Bang Wira dan Sahara. Ia pun miris mendengarnya, hatinya takut Bang Wira akan goyah dan memilih meninggalkan Dinda adiknya.


"Dek.. sudah.. kita sudah punya jalan hidup masing-masing" bujuk Bang Wira.


Sahara memeluk Bang Wira dengan erat.


"Cintaku sama kamu nggak pernah berkurang Bang. Aku rela melayani pria lain meskipun kamu menjualku. Aku lakukan semua untukmu Bang. Aku nggak ikhlas kamu memiliki cinta untuk wanita lain. Ceraikan Dinda Bang, aku mohon..!!!!"


Bang Wira melonggarkan pelukan Sahara dan tak ingin membalasnya.


Andaikan kau goyah dan memilih Sahara.. aku benar-benar akan membunuhmu Wira.


Bang Siregar sampai ikut stress memikirkan masalah ini.


"Sahara.. tolong jangan begini. Abang nggak bisa penuhi permintaan mu"


"Aku akan membunuhnya, siapapun yang membuatmu berpaling dariku..!!" pekik Sahara dengan emosi.


Tak lama Bang Rendra datang, ia berhadapan langsung dengan Bang Siregar.


"Puas kamu melihat semua ini???? Inikah yang kamu sebut pria jantan??? Harusnya kamu malu menabur benih dan masalah disana sini hingga orang lain yang harus memanen segala jerih payahmu itu" bentak Bang Siregar.


"Aku minta maaf Gar. Aku akan menemui Sahara dan menyelesaikan masalah ini..!!" Jawab Bang Rendra meskipun terdengar begitu ragu.


"Nesya ikut denganku, aku minta tolong agar dia tidak banyak mendengar kerusuhan ini.. kasihan dia sudah banyak menderita"


Tak ayal ucapan itu begitu membakar hati Bang Siregar.


"Kau tau, litting mu itu hampir mati karena kamu membuat nyawanya terbelah-belah. Kamu membuatnya sampai tidak berdaya padahal kau tau Wira itu pria yang sangat tangguh" bentak Bang Siregar.


"Kau ini memang laki tak ada otak ya..!! Stress kau rupanya.. Otak kau hanya isi paha dan dada saja. Kalau kau tak tahan lagi dengan na*su mu itu, kenapa tidak kau jepit di pintu saja. Dasar kau penjahat ke*am*n" umpat Bang Siregar.


Bang Rendra tidak menanggapi kemarahan sahabatnya itu karena memang ia merasa sangat bersalah sudah membuat malapetaka besar seperti ini.


"Jangan pergi Abaaaanngg..!!" teriakan dari dalam sana membuat Bang Rendra dan Bang Siregar terhenyak.

__ADS_1


Tak peduli apapun lagi, Bang Rendra segera masuk ke dalam ruangan dan menerobos pintu ruangan.


"Jangan begini Sa.." Bang Wira berusaha keras melepas pelukannya dari Sahara.


"Nggak mau.. nanti kalau aku lepas, Abang akan kembali ke perempuan itu"


"Saaaa... Abang sudah punya istri..!!!!!! Abang sangat mencintai istri Abang. Tolong kamu hargai dirimu sendiri. Semua yang terjadi di antara kita, semua terjadi karena kesalah pahaman." Bang Wira akhirnya membentak Sahara.


"Abang suami Dinda dan selamanya akan selalu begitu. Jadi berhenti hidup dalam bayangan masa lalu. Abang tau mungkin ada rasa sakit di antara kita dulu.. tapi saat ini ada perasaan orang yang kita sayang, yang harus kita jaga"


Bang Rendra berdiri di hadapan mereka.


"Maaf.. aku lah ujung pangkal masalah kalian. Aku ingin menyelesaikan nya berdua bersama Sahara..!!"


Secepatnya Bang Wira keluar dari ruangan itu agar ia bisa segera terbebas dari masalah dan Bang Rendra segera menyelesaikan masalah yang sudah di buatnya.


:


"Minum dulu pot, tarik nafas panjang..!!" Bang Regar membawakan air minum untuk Bang Wira. Sahabatnya itu masih terlihat kesakitan. Tiga hari dalam acara dinas sudah membuat mereka cukup dekat.


"Melihat Rendra rasanya aku tidak bisa menahan emosiku. Keterlaluan sekali dia. Anak istriku terlibat masalah pelik karena ulahnya." kata Bang Wira.


"Tahan pot, dia memang keterlaluan.. tapi jangan sampai emosimu menjadi malapetaka buatmu sendiri" tak hentinya Bang Regar menasihati sahabatnya itu meskipun hatinya pun terasa sakit dan panas.


"Kamu harus bisa mengontrol emosimu pot, saking marahnya kamu, aku sampai dengar kamu mimisan. Pembuluh darahmu sudah panas itu. Bahaya..!!"


"Hhhsshh.. Iya Wir, aku paham. Ya sudah ayo pulang, persiapan temani aku nanti malam" ajak Bang Siregar sambil merangkul pundak Bang Wira.


"Kemana??"


Bang Siregar pun berbisik di telinga Bang Wira.


"Haaahh.. khitan???????" Bang Wira pun begitu terkejut tapi kemudian ia tersenyum dengan wajah jahilnya.


-_-_-_-_-_-


Di rumah Bang Nicko. Bang Wira, Bang Maulana, Bang Bayu, Pak Amar, Dinda juga Hazna dan Asya sedang menemani Bang Siregar yang terlihat nervous gede-gedean.


"Deg-degan Abang dek, Ini demi cinta Abang sama Hazna.. Abang rela bersakit-sakit demi menyenangkan kamu" kata Bang Siregar.


"Aahh lu.. Di ukir sedikit saja masih banyak mengeluh" tegur Bang Wira.


"Tau nih Abang, hamil sampai melahirkan tuh rasanya luar biasa Bang." imbuh Dinda yang akhirnya ikut kesal.


"Maafin Hazna ya Bang..!! Tapi ini wajib. Hazna nggak minta apa-apa dari Abang" kata Hazna.


"Iya dek, kamu minta apa juga Abang rela kok" jawab Bang Siregar.

__ADS_1


Tak lama Bang Nicko dan dokter senior keluar dari ruangan yang akan di pakai untuk proses 'pensucian' Bang Siregar.


"Ayo pot, ganti sarung..!!"


Raut wajah Bang Siregar memucat meskipun wajahnya terlihat begitu tenang.


:


"Pelaaaaann... hoooeeee..!!!!!!!!!"


"Bisa diam nggak pot? Kamu mau prosesnya cepat selesai nggak????" kata Bang Nicko yang mulai jengah.


"Jangan sampai salah potong..!!!! Ini barang kesayangan Hazna..!!" ucapnya dengan tak tau malunya.


"Burik lu, Hazna bisa sawan"


"Tua bangka belum khitan, selama ini buat apa saja hidup lu hah??" ledek Bang Wira.


:


"Lailaha Illallah.. diam pot..!!!!!!!!"


sluuuppp...


"Matamu... jarumnya..!!!!!!!!" Bang Wira terpekik kaget karena jarum bius itu menembus sarung Bang Wira.


"Sorry bro, Siregar banyak tingkah" kata Bang Nicko sampai panik karena jarum bius malah menusuk Bang Wira.


"Lagian lu bro, mau antar khitan aja seperti orang mau tahlilan" imbuh Bang Bayu.


"Gue kagak mau tau..!! Penggal..!!!!!!" perintah Bang Wira yang akhirnya ikut merasakan ngilu di bagian vitalnya dan sesaat kemudian tidak merasakan apapun lagi.


"Dungu lu.. Ini buat nyenengin adik kesayangan lu..!!!!" gerutu Bang Wira sampai kesalnya merangkak naik ke ubun-ubun kepala.


"Weehh.. Gar..!!" Situasi juga masih tidak kondusif, sekali lagi bius itu menancap di paha Bang Bayu dan membuat sebelah kakinya terasa mati rasa.


"Amit-amit jabang bayi, lu bener-bener bikin masalah ya..!!!" Bang Wira sudah gemas dan akhirnya papa Asya ini merebut jarum suntik dan menancapkan pada Bang Siregar tanpa aturan.


"Naahh.. ini baru namanya laki..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2