Sayap Perwira

Sayap Perwira
54. Hampir Final.


__ADS_3

Harap cermati keterikatan suami istri.


🌹🌹🌹


"Nggak usah Bang.. Dinda sudah bahagia kok" bujuk Dinda yang masih melihat kilat kesal di wajah Bang Wira.


"Tapi Abang siapkan semua susah payah demi kamu. Kenapa kurang ajar sekali kambing-kambing itu mengunyah bunga yang sudah Abang setting. Abang cuma mau buat kamu senang" ucap Bang Wira.


"Abang mau lihat Dinda senang khan? Ada suami yang sayang, anak yang cantik dan calon anak kita ini.. Dinda sudah sangat bahagia Bang"


Hati Bang Wira sungguh terasa sesak dan ngilu mendengar setiap kata Dinda yang mengungkit tentang calon anak mereka. Kini ia berada pada posisi maju salah, mundur pun salah.


"Abang nangis??"


"Nggak sayang. Abang bahagia." jawabnya dengan memasang senyumnya meskipun hati tersayat sembilu.


Dari jauh mata Bang Bayu mengisyaratkan agar Bang Bayu menjauh dari kerumunan.


"Kamu ngobrol sama ibu-ibu yang lain dulu ya..!! Abang ada perlu sebentar sama bapak-bapak" kata Bang Wira sembari membantu Dinda untuk duduk.


:


"Siregar sudah bisa melumpuhkan enam puluh persen pemberontak tapi sisanya masih belum bisa di takluk kan. Ini misi terakhir. Kendalanya hanya kurang ketelitian.. terburu-buru dan lelah" kata Bang Bayu menjelaskan.


"Biar saya berangkat Bang..!!"


"Jangan Wira, kondisi mu jauh dari kata stabil. Fisik dan mental mu sedang kacau. Kalau kamu mau bantu.. kamu bisa mengarahkan dari balik layar..!!" arahan Bang Bayu.


Bang Wira sungguh tidak puas, tapi benar apa yang di katakan Bang Bayu.. ia menyadari kondisinya yang sedang tidak stabil. Bisa berjalan seperti ini saja dirinya masih begitu memaksa sekuat tenaga.


"Baiklah Bang, saya akan ikut memantau dari sini. Selama penugasan itu, saya akan terus berjaga.. sama seperti mereka"


...


Bucket bunga seperti pesanan Bang Wira sudah datang. Mata Dinda terbelalak kaget melihat hiasan bunga itu.


"Bang.. ini besar sekali. Beda sama yang tadi ya?" tanya Dinda.


"Iya, yang ini Abang modifikasi lagi."


Dinda melihat bucket bunga itu dan ternyata isinya ada camilan, uang, perhiasan, bunga indah dan surat ketetapan bahwa saat ini Dinda sudah sah menjadi istri sah satu-satunya Kapten Panji Rakasheta Wiranegara. Rasa haru itu pun menyelimuti hati Dinda. Tak tahan lagi melihat segala perlakuan manis Bang Wira, Dinda memeluk Bang Wira dengan erat.


"Terima kasih banyak ya Abang sudah mau mengangkat derajat Dinda"


Bang Wira pun membalas perasaan Dinda.


"Abang yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Kamu tau hidup bersama Abang begitu berat tapi kamu memilih untuk bertahan. Semua ini tak ada artinya. Abang lebih memilih kehilangan harta dari pada kamu"


...


Malam sudah semakin larut, acara kecil-kecilan dan makan bersama dengan anggota sudah usai. Bang Wira pun masuk ke dalam kamar.


"Lhoo.. kamu belum tidur dek?" tanya Bang Wira sembari melepas kaosnya, kini ia sudah bertelanjang dada di hadapan Dinda.

__ADS_1


"Dinda tunggu Abang" jawab Dinda.


"Kamu harus banyak istirahat, biar cepat pulih." kata Bang Wira.


"Abang pijat ya..!!"


"Tunggu Bang, sebenarnya Abang ada masalah apa? Wajah Abang nggak bisa membohongi Dinda" kata Dinda yang sudah mulai sedikit peka dengan keadaan. Biasanya Bang Wira akan lebih sering mengusapnya di sana sini.


"Nggak ada dek. Abang hanya cemas beberapa hari ke depan.. Abang harus sibuk berdinas di pusat. Tidak ada yang menjagamu" Bang Wira mengalihkan perasaan Dinda.


"Oohh.. Dinda nggak apa-apa Bang. Papa dan Mama libur. Jadi Mama, Papa, Mbak Hazna dan Asya bisa sama Dinda" jawab Dinda yang sama sekali tidak tau bahwa Bang Wira yang sudah mengatur semuanya.


"Begitu ya. Kalau begitu Abang sedikit lega. Yang penting kamu bersama orang yang tepat"


***


Pagi ini Bang Wira berangkat berdinas di kantor pusat. Ia menghandle kegiatan melalui jarak jauh melalui kamera yang selalu terpasang pada pakaian Bang Siregar. Dinda juga terlihat lebih tenang karena suaminya tidak membawa perlengkapan berat seperti biasanya.


...


"Sehat pot? Dinda aman??"


"Alhamdulillah sudah lebih baim.. tapi lu gagal punya ponakan sob" jawab Bang Wira berusaha tegar.


"Astagfirullah hal adzim.. ternyata nggak bisa di tahan ya?"


"Belum rejeki. Mau gimana lagi. Si kecil belum mau ikut papanya" kata Bang Wira mengobrol sembari mengawasi keadaan sekitar.


"Pot, gue curiga sama gubug tua di balik bukit itu. Awasi terus..!!"


:


"Aahh.. Mbak Hazna belum tau saja suami Dinda. Saking kakunya.. julukannya saja si Maung" jawab Dinda.


"Tapi Mbak Hazna tenang saja. Abang Regar itu baik kok"


"Mbak Tau Din. Hmm.. disini ada dokter bedah atau dokter pribadi keluarga yang di percaya nggak ya?" tanya Mbak Hazna.


"Memangnya kenapa Mbak??"


Mbak Hazna pun berbisik pada Dinda.


"Waaahh.. Mbak Hazna ternyata..!!!"


~


"Hoooee.. matamu pot, itu perhatikan depan. Yang belakang cover dulu..!!!!" perintah Bang Wira.


Kini Bang Siregar paham mengapa dinas tidak pernah melewatkan nama Wira, pada kenyataannya Wira itu peka dan sigap dengan situasi.


"Tembak..!!! Beberapa yang lain sergap ke dalam..!! Kamu masuk Gar..!!!!"


doooorr.. dooooorr..

__ADS_1


:


"Bisa ya Bang??" tanya Dinda pada dokter Nick.


"Bisa Din. Nggak apa-apa, nggak perlu sungkan sama Abang" jawab dokter Nicko.


"Terima kasih banyak Bang"


"Sama-sama Dinda"


...


Bang Siregar menampar pipi pemberontak dengan keras. Gemas sekali rasanya melihat wajah manusia yang sudah membuat kerusuhan.


"Wira.. Aku sudah berhasil menangkap dua orang yang kamu cari. Kamu mau bicara??" tanya Bang Siregar.


"Nanti saja kalau mereka sudah sampai di hadapan ku. Aku mau bicara langsung" jawab Bang Wira.


***


Sambutan kehormatan karena Bang Siregar mampu menangkap pusat pemberontak dalam keadaan hidup.


"Saya tidak pantas mendapatkan semua ini. Kapten Wiranegara yang membimbing saya dalam penugasan" jawab Bang Siregar menolak penghormatan itu.


"Baiklah, kalian berdua pantas mendapatkan semua itu. Saya tidak akan membedakannya" kata Panglima.


"Siap..!!"


...


Bang Wira menemui Sahara atau yang ia kenal sebagai Sari selama ini. Keduanya duduk berhadapan di sebuah ruangan yang lebih pantas di sebut ruang interogasi.


"Masih punya muka kau bertemu dengan ku Bang" tegur Sahara pertama kali.


"Aku tidak menyangka mantan yang pernah singgah dalam hidupku dulu bisa seperti ini" jawab Bang Wira.


"Karena kamu, aku kehilangan semuanya Bang"


"Dulu hatimu tidak sejahat ini Sahara, Abang tau kamu wanita yang lembut"


"Itu semua karena Abang. Karena Abang menjualku. Abang butuh banyak biaya untuk pendidikan Abang sampai Abang menjualku pada Bang Rendra. Aku hamil dan Abang hanya memintaku untuk menggugurkan nya. Saat aku sudah tau dimana keberadaan Abang, ternyata Abang sudah menghamili wanita lain. Adinda...!!!!!!!"


"Astagfirullah hal adzim.. itu semua nggak benar"


"Lalu apa yang benar??? Sekarang Abang pun menikahi wanita lain dan mengingkari janji untuk menikahi ku" teriak Sahara.


"Apa maksudmu??"


"Ceraikan Dinda, aku bisa bisa jadi istri kesayanganmu" pinta Sahara dengan tangisnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2