Sayap Perwira

Sayap Perwira
78. Hukuman dari Ibu Komandan kesayangan.


__ADS_3

"Satu minggu kita bertukar peran. Abang jadi Dinda dan Abang harus merasakan jadi Dinda"


"Ya Tuhan, apa tidak ada hukuman yang lain lagi??" tanya Bang Wira.


"Ya sudah, Dinda nggak mau baikan"


"Eeeehhh.. iyaa.. Abang mau. Satu Minggu saja khan?" kata Bang Wira menyanggupi.


***


Bang Wira melangkah tak pasti. Kaki baru turun dari ranjang tapi sudah harus mendapat protes dari sang istri.


"Turun perlahan Bang, si dedek di perut bisa kaget kalau bangun terlalu cepat..!!"


Tak banyak membantah, Bang Wira mengikuti instruksi bumil. Pagi ini dirinya memulai kegiatan sesuai permintaan Dinda.


Suami Dinda itu mengenakan daster seksi kesayangan sang istri, Bang Wira menyampirkan serbet di bahunya lalu memasak sembari mengajak ngobrol si kecil Asya yang sudah mulai pandai bicara.


"Sabar sayang.. Papa lagi ribet masak" dapur sudah mulai berantakan saat Asya meminta susu pada papanya.


Ingin sekali rasanya melepas kantong kompres berisi air sekitar enam ratus mililiter yang terikat di perut karena terasa sangat mengganggunya tapi mata sang istri sudah meliriknya dengan tajam.


"Dek, Abang lepas sebentar saja ya kantongnya? Rasanya Abang sesak sekali"


"Nggak bisa, Abang baru pasang itu kantong dapat sepuluh menit. Dinda malah akan merasakan sampai beberapa bulan kedepan" tolak Dinda menghadapi kerewelan Bang Wira.


Mendengarnya Bang Wira tak lagi membantah. Ia pun melanjutkan tugasnya daripada harus banyak berdebat.


:


"Astagfirullah.. Abang capek sekali dek..!! Rasanya punggung Abang mau patah." Bang Wira meliuk ke kanan dan ke kiri serta berputar-putar agar pinggangnya terasa sedikit lebih lega tapi rasanya semua sia-sia belaka.


"Ini baru berapa jam Bang. Dinda pasti akan mengalaminya sembilan bulan sepuluh hari. Kalau hanya untuk satu minggu saja.. Abang jangan banyak mengeluh..!!" kata Dinda.


"Siaapp.. Abang nggak akan mengeluh lagi" jawab Bang Wira pasrah.


tok..tok..tok..

__ADS_1


Bang Wira membuka pintu rumahnya karena ada seorang anggota yang hendak melapor.


"Ada pancaran apa?"


Seorang anggota berpangkat Pratu melihat penampilan Komandan mereka dengan gaya yang berbeda. Ingin rasanya tertawa melihat Komadan memakai dress, celemek dan bando kelinci di rambut cepaknya.. belum lagi perut Komandan terlihat sedikit membusung seperti wanita yang sedang hamil.


"Kamu tertawai saya??" tegur Bang Wira.


"Siap salah.. tidak berani komandan..!!"


"Cepat katakan..!! Ada masalah apa?


"Ijin Komandan. Ada undangan rapat kerja dari kantor Gubernur..!! Tadi sudah di sampaikan piket kantor dan bagian SET tapi Komandan tidak monitor, sore hari ada kunjungan dari Markas pusat ( bagian wilayah sekitar )..!!" kata anggota tersebut.


"Oohh.. iya, saya sedang sibuk menuruti ngidamnya istri. Ya sudah.. kembali lah bekerja, saya sudah monitor..!!"


"Siap Komandan"


...


Bang Wira duduk memijat bahunya sendiri, punggungnya pun terasa pegal.


"Nah.. sekarang tambah lagi volumenya jadi satu liter" kata Dinda sembari menuang air ke kantong kompres tersebut.


"Ya Allah dek, Abang baru saja duduk. Capek sekali sampai kepala terasa pening" jawab Bang Wira.


"Abang harus biasakan..!!"


Mau tidak mau Bang Wira pasrah dengan permintaan sang istri demi maaf yang bisa menyatukan mereka kembali.


Sejak pagi tadi Dinda menginginkan bertukar peran, ia jadi semakin menyadari sulitnya menjadi seorang wanita. Saat hamil, harus memasak, membereskan rumah.. belum mengatasi saat mual awal kehamilan.


Belum selesai rasa tercengangnya, Dinda duduk di pangkuan Bang Wira sambil memainkan jari lentiknya.


"Kenapa dek?" tanya Bang Wira heran, tumben sekali Dinda menempel padanya seperti ini.


"Dinda pengen di sayang Abang" jawab Dinda dengan nada nakal.

__ADS_1


"Astaga.. baru jam sepuluh pagi ini dek. Masa tutup pintu? Lagi pula badan Abang rasanya remuk. Nanti malam saja ya sayang" kata Bang Wira.


Senyum Dinda pun berubah. Matanya menatap lekat wajah Bang Wira.


"Baru tau rasanya kelabakan kalau di mintai jatah?" tanya Dinda.


"Abang kadang belum tanya istri capek atau tidak tapi sudah main serobot jalur tengah. Malah kadang suka memaksa langsung pengen Abang selesaikan. Pernah nggak Dinda nolak meskipun badan rasanya lelah??"


Seketika Bang Wira memeluk Dinda.


"Maaf, lain kali Abang akan lebih peka." Bang Wira mencium bahu Dinda yang tetap beraroma wangi meskipun matahari sudah semakin terik.


"Abang di maafin nggak sih dek? Nggak kuat nih Abang jalani hukuman yang begini repotnya. Push up saja ya.. atau sit up?? Mau berapa kali juga Abang sanggup"


"Nggak mau, satu minggu seperti ini. Juga nggak ada jatah" ucap tegas Dinda.


Bang Wira memeluk erat Dinda dan menyandarkan kening di bahu istri cantiknya.


"Papa kapok ma, nggak akan ulangi salah lagi. Lain kali mikir dulu kalau mau bicara. Maafin Papa donk ma..!!" rengek kecil Bang Wira.


Sebenarnya Dinda ingin sekali tertawa lepas melihat Bang Wira, tapi sekali-kali ia juga harus memberi pelajaran agar suaminya itu tidak mengulang lagi kesalahan yang sama. Dirinya hanya cemas ada kata terlontar dari bibir seorang suami yang tengah menahan emosi.


"Nggak bisa, Abang harus jalani hukuman ini atau Dinda mengadu sama Bang Regar kalau Abang menolak di hukum..!!" ancam Dinda.


"Ya sudah, ini Abang harus kerja apalagi?? Jangan ngadu sama Abangmu itu lah. Abang lagi nggak mood debat sama dia" jawab Bang Wira.


"Cuci pakaian lalu Abang jemur. Setelah selesai, Abang bersihkan kamar mandi..!!" perintah Dinda.


"Hukuman yang lain bisa nggak dek??" tanya lembut Bang Wira sebagai bahan protesnya.


"Apa??"


"Yaa... Jadi ajudanmu seumur hidup, memijat badanmu yang capek atau katakan cinta setiap hari.. misalnya bilang I love you sayang..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2