
"Tebus penyesalan itu. Selesaikan tugas Abang..!!" kata Dinda.
"Iya dek. Abang akan menebusnya."
-_-_-_-_-
Malam harinya Bang Wira bersandar di ranjangnya. Ia melepas 'pakaian dinasnya' dan membersihkan wajahnya. Punggungnya masih terasa pegal, perutnya terasa berat bahkan sesekali mual masih menderanya.
Apa Dinda merasakan seperti ini setiap harinya? Kamu hebat sayang. Istri-istri Abang memang luar biasa. Adinda.. Dinda.. kalian berdua wanita paling berharga dalam hidup Abang, terutama kamu Dindaku sayang, sungguh perjuangan panjang menaklukan hatimu.
Terdengar suara mual dari arah kamar mandi, Bang Wira segera bangkit dan menghampiri Dinda. Disana Bang Wira berpapasan dengan Alena dan terlihat Alena hanya melenggang pergi tanpa peduli dengan Dinda sedikit pun.
"Kamu tau tata krama atau tidak? Istri Abang setengah mati mabuk dan kamu hanya melenggang melambaikan tangan seolah tidak mau tau..!!" tegur Bang Wira.
"Apa hubungannya sama Alen? Yang hamil dia, jadi biar dia yang rasakan semua. Siapa suruh mau hamil anak Abang" ucap Alena dengan gaya cibirannya.
"Omongan apa itu Alen?? Nggak tau aturan..!!" bentak Bang Wira.
"Abaang.. jangan marah lagi..!! Dinda nggak kuat berdiri nih Bang" kata Dinda sembari berpegangan pada dinding kamar mandi.
Tak peduli lagi dengan Alena, Bang Wira segera menghampiri Dinda.
"Mual lagi ya? Besok kita ke rumah sakit saja..!! Sejak datang waktu itu kita belum check kandungan. Abang takut si dedek ada apa-apa" Bang Wira memercing menahan rasa mual yang tersalur dari Dinda. Ia sudah lebih pandai menguasai diri hingga tak sampai ikut oleng seperti Dinda.
"Ini wajar Bang, nggak usah di besar-besarkan."
"Itu istri Abang sendiri yang bilang kalau mabuk saja hal yang wajar. Nggak perlu lah Abang berlebihan begitu" kata Alena menyahut dari ruang makan.
Melihat Bang Wira mulai murka, Dinda berusaha memeluk suaminya itu. Tapi ternyata ia tak sanggup merasakan tubuhnya yang melemah. Dinda terjatuh di depan pintu kamar mandi.
"Dindaa.. Dindaaaa.. dek..!! Allahu Akbar" panik sekali hati Bang Wira, ia segera membawa Dinda ke ruang tamu.
"Dindaa sayang.. kalau ada yang sakit bilang sama Abang, jangan diam saja..!!"
"Alen.. tolong hubungi Aaron sekarang..!!" Bang Wira sibuk mengurusi Dinda.
"Untuk apa?? Apa untuk membantu dia juga???" tanya Alena dengan sinis.
"Alenaa..!!!!" bentak Bang Wira dengan kuat sampai Asya pun menangis dan menjauh dari papanya padahal sejak tadi siang papanya itu belum menyapanya sama sekali.
"Dalam keluarga kita saat ini, Abang adalah kepala keluarga karena orang tua kita sudah tidak ada lagi, dan kalau kamu tidak mau menurut dengan Abang lagi.. silakan kamu mengurus dirimu sendiri. Abang tidak akan mau tau tentang kamu lagi" ancam Bang Wira.
__ADS_1
Tak lama Bang Aaron datang. Awalnya dirinya akan membuat laporan secara lisan, tapi siapa sangka malah dirinya harus kembali mendengar perdebatan antara seniornya dengan Alena.
"Ini peringatan terakhir buat Abang, jangan pernah menyiakan saudara sendiri hanya demi menyelamatkan benalu di rumah ini..!!" Alena tak kalah keras berteriak.
Bang Wira sudah bersiap kembali melayangkan pukulannya tapi Bang Aaron sigap menjadi tameng untuk Alena yang gemetar di belakang punggung junior Bang Wira itu.
Dinda berdiri perlahan dan menggenggam tangan Bang Wira sekuatnya.
"Cukup Abang..!! amarah Abang tidak akan menyelesaikan semua.." mata Dinda rasanya berkunang-kunang. Kakinya seakan tidak mampu menopang tubuhnya.
"Jangan menyela kalau Abang bicara..!!" ucap keras Bang Wira memperingatkan Dinda hingga membuat istrinya itu jatuh menimpanya dan kali ini pingsan tidak sadarkan diri.
"Ya ampuun.. apalagi ini???" gerutu Bang Wira kembali cemas.
Entah apa yang terjadi. Alena pun ikut tak sadarkan diri.
:
"Bagaimana??" tanya Bang Wira pada juniornya. Dokter Arjono.
"Terus terang dari penjabaran Abang.. Mbak Dinda membutuhkan perlakuan khusus karena pengobatan yang harus terhenti. Jadi wajar kalau sampai terjadi seperti ini. Dan untuk istri Aaron.. karena sedang hamil muda, jadi masih adaptasi dengan keadaan tubuhnya"
"Astagfirullah hal adzim.." Bang terduduk lemas mengusap dadanya. Tak terbayang adik perempuan satu-satunya harus mengalami hal seperti ini. Hatinya sungguh berantakan karena merasa sangat bersalah tidak bisa menjaga adiknya sendiri.
"Kalian.. berapa banyak lagi tingkah kalian yang akan mencoreng wajahku..!!!"
:
"Kowe tenan kurang ajar to Ableh, iku adik ku bleh..!!!!!!" rasanya Bang Wira tak sanggup lagi berpikir, semua terasa begitu berat untuknya.
"Ijinkan saya menikahi Alena Bang..!!" kata Bang Wira.
"Kamu sudah buat Abang kehilangan muka, apapun yang Abang putuskan tidak akan baik untuk pihak perempuan" Bang Wira mengacak rambutnya, di lihatnya dua wanita kesayangannya tertidur tanpa daya. Tangannya mengusap perut Dinda.
"Boleh ya Bang..!!" tanya Bang Aaron meminta ijin.
"Astagfirullah hal adzim.. Aaroooonn..!!!!!!!" sesak sekali perasaan Bang Wira sampai tidak tau dirinya harus berbuat apa.
...
"Minum dulu Alena.. nanti mualnya hilang..!!" Dinda membantu Alena minum jahe hangat, ia sudah lebih dulu merasakan mual.. jadi Dinda sudah lebih tau bagaimana cara mengatasi rasa mualnya.
__ADS_1
"Itu pedas, Alen nggak suka" tolak Alena.
"Alen.. mungkin ini nggak enak, tapi ini bisa mengurangi rasa mualmu.. biar kamu bisa makan. Kasihan anakmu, dia juga pasti lapar" bujuk Dinda.
Bang Wira duduk bersandar di dinding luar kamar Alena tanpa kata, tanpa suara. Dirinya bisa saja membiayai bayi Alen dan membesarkannya, tapi bayi dalam kandungan Alena tetap membutuhkan ayahnya. Bang Wira hanya takut Alena tidak akan mendapatkan lelaki yang tepat hingga adik perempuan satu-satunya itu menderita. Baginya.. pernikahan adalah hal sakral, satu kali seumur hidup.
"Abang.. tolong restui kami. Apa Abang ingin melihat perut Alena membesar tanpa suami?" tegur Bang Aaron karena seniornya itu tak juga mendapat jawaban.
"Beri saya waktu sampai nanti malam..!!"
:
"Mau Bang, tapi rewel sekali.. namanya juga baru pertama kali. Sama seperti Dinda yang awalnya sulit beradaptasi"
"Menurutmu, apakah Aaron pria yang tepat untuk Alena?" tanya Bang Wira.
"Kita tidak bisa menyelami hati manusia. Tapi sebagai pria, Abang yang lebih peka.. apakah pria tersebut baik untuk Alena atau tidak." jawab Dinda.
"Abang butuh kepekaanmu sebagai wanita"
"Dinda menganggap Bang Aaron pria yang baik dan bertanggung jawab. Dinda yakin Alena akan aman jika bersama Bang Aaron" kata Dinda.
"Berarti maksudmu, dia bisa menjadi kepala keluarga yang baik??" tanya Bang Wira belum juga meyakini hatinya.
"Insya Allah"
-_-_-_-_-
Malam sudah tiba, Alena dan Bang Aaron duduk bersebelahan. Bang Wira juga duduk berdampingan dengan Dinda.
"Malam ini, sesuai janji saya.. saya akan menjawab pertanyaan Aaron tadi siang"
Tangan Bang Aaron bertaut gelisah. Bagaimanapun juga ini pengalaman pertamanya melamar seorang wanita.
"Saya menerima lamaranmu untuk Alena. Tapi....."
.
.
.
__ADS_1
.