Sayap Perwira

Sayap Perwira
47. Mulai terasa.


__ADS_3

Dinda minum di dekat meja makan usai bicara dengan Bang Regar, dan sekarang Abangnya itu sedang bicara dengan Bang Wira di ruang tamu entah meributkan apa. Tak sengaja Dinda menyenggol botolnya, ia pun berjongkok mengambilnya.


"Apa itu?" gumamnya sambil melihat dua lembar kertas di sisi lemari es.


Dinda mengambil kemudian membacanya.


...Surat Perjanjian....


Yang bertanda tangan di bawah ini.. Nahza Rahma Dinda. Dengan sadar.. bersedia menerima pinangan dari Panji Rakasheta Wiranegara dan hidup bersama dibawah janji yang mengikat dan suci di mata Allah dan saya akan melaksanakan kewajiban saya tanpa paksaan dari pihak manapun.


:


Yang bertanda tangan di bawah ini.. Panji Rakasheta Wiranegara pada hari ini .. /.. /.. meminang Nahza Rahma Dinda. Saya berjanji setelah mengikat janji suci akan memperlakukan nya dengan adil, memberikan hak nya sebagai bagian dari hidup saya.


Selama kurang lebih delapan bulan setelah terikat, saya hanya akan memberinya nafkah lahir untuk memberi ruang perkenalan. Jika dalam jangka waktu kurang dari delapan bulan lamanya saya sudah meminta hak saya sebagai kepala keluarga, maka saya akan menerima segala hukuman yang di ajukan Nahza Rahma Dinda.


demikian saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun.


...P. R. Wiranegara....


Itulah sepenggal surat yang Dinda baca kemudian terdapat nama mereka berdua yang terbubuh tanda tangan bermaterai.


Mata Dinda berkaca-kaca. Apalagi saat membaca curahan hati Bang Wira di secarik kertas.


Abang sudah belajar membuka hati untuk mencintaimu dan kini Abang benar-benar mencintaimu.


Kata-kata itu begitu menghangatkan hatinya. Rasa haru begitu mengikat batinnya yang kecil. Ia mengusap dan belum juga percaya bahwa ada malaikat kecil di dalam rahimnya.


:


"Ijin Dan.. sepedanya baru saja datang, sudah di setting seperti yang komandan minta" kata Om Ody.


"Oke, terima kasih" ucapnya saat Dinda sudah ikut bergabung bersamanya.


Bang Wira mengulurkan tangannya pada Dinda. Tak tau kenapa istrinya itu terdiam seolah memikirkan banyak hal, matanya juga terlihat ragu, tapi akhirnya Dinda mau menerimanya juga.


"Ayo ikut..!!"


:


"Dinda takuuuutt.. Abaaaaang..!!!!!" teriak Dinda saat Bang Wira memboncengnya naik sepeda pancal di bagian depan.


"Kamu diam donk. Aman sama Abang. Kalau kamu teriak itu malah nggak aman" kata Bang Wira.


Dinda pun diam dan memilih menikmati pemandangan pagi ini. Hari ini Bang Wira sedang mengontrol keadaan Batalyon dan Papa Asya itu mengajaknya jalan-jalan.


:

__ADS_1


"Lahan ini bagus Bang, tanahnya gembur. Kenapa tidak di buat kebun sayur dan peternakan kecil-kecilan. Hasilnya bisa untuk warga asrama sendiri. Abang khan tau kita harus punya pemikiran ketahanan pangan" kata Dinda.


"Pintarnya istri Abang. Kamu mau buat seperti itu? Nanti Abang bilang sama Bang Bayu. Ini wilayah 'kekuasaan intel', jadi kamu berhak mengaturnya" jawab Bang Wira.


"Terima kasih Abang..!!"


"Hmm.. manisnya kalau nggak keluar tanduk" goda Bang Wira.


"Perutnya masih sakit nggak?"


"Sudah nggak lagi Bang" jawab Dinda.


"Sayang.. boleh Abang bilang sesuatu?"


"Apa Bang?" tanya Dinda mendengar nada suara Bang Wira yang serius.


"Sampai detik ini Abang masih menyesali perkataan Abang. Masih bisakah di maafkan?"


"Salah Abang sama Dinda sudah terlalu banyak." kata Dinda.


"Abang tau"


"Abang harus di hukum"


"Apa saja yang penting kamu maafkan Abang" jawab Bang Wira.


"Siaaaapp neng"


"Satu lagi. Abang melanggar perjanjian kita. Abang hamilin Dinda sebelum delapan bulan pernikahan"


Bang Wira tersenyum mendengar ocehan Dinda. Dengan kata lain istrinya itu sudah melihat surat perjanjian dan curahan hatinya.


"Abang mau di hukum apa?" tanyannya sambil mengayuh sepeda dengan hati-hati.


"Dinda mau Abang sendiri yang ceritakan tentang masalah pemberontakan itu..!!"


Sepeda itu langsung terhenti seketika. Ucapan Dinda membuatnya kembali gemetar ketakutan dan cemas.


"Kalau masih ingin Dinda menjadi istri Abang, ceritakan. Kalau tidak.. hubungan kita sampai disini saja Bang. Itu hukuman Abang"


"Jangan..!! Oke.. Abang mau cerita"


:


"Jadi Abang menikahi Mbak Adinda atas dasar kasihan.. atau cinta?"


"Tentunya cinta itu belum ada, tapi rasa tanggung jawab itu menimbulkan rasa. Abang melihat anaknya dulu, baru melihat Adinda" jawab jujur Bang Wira.

__ADS_1


"Seperti apa Abang melihat Dinda.


"Terus terang Abang melihat Adinda dalam dirimu, tapi sama seperti saat hidup bersama Adinda. Semakin lama, tumbuh rasa karena kita sering bersama. Abang akui hubungan kita lebih hidup.. karena pribadimu, karena tingkahmu yang lebih terbuka daripada Adinda." Bang Wira tidak ingin mengingat kembali kebersamaan nya dengan Adinda, tapi ia pun tidak ingin kehilangan sang istri karena tidak bisa jujur dengan hatinya.


"Lalu apa yang terjadi sampai Mbak Adinda hilang?"


Bang Wira setengah menindih tubuh Dinda, mereka bersantai di lapang yang luas sekitar Batalyon setelah Bang Wira meminta lokasi tersebut di steril kan dari berbagai kegiatan dan lalu lalang anggota.


"Beri Abang waktu untuk menceritakan nya. Abang benar-benar nggak kuat untuk mengingatnya"


Saat ini Dinda menyadari kepedihan hati suaminya dan ia tidak ingin memaksa. Dinda mengalungkan kedua tangan di belakang tengkuk Bang Wira.


"Jika hal itu menimpa Dinda juga.. Apa Abang akan berlaku sama?" Dinda tau pertanyaan itu mungkin sangatlah tidak tepat, tapi perasaan itu sungguh tidak bisa ia tahan.


Tanpa kata tetes air mata Bang Wira mengalir, ia menciumi wajah Dinda penuh perasaan dan begitu dalam. Bang Wira terlihat sangat lemah bersandar di sela leher Dinda.


"Jangan pernah dan tidak akan pernah hal itu terjadi sama kamu. Abang akan menjagamu dengan nyawa Abang"


Pelukan itu terasa begitu erat, jelas sekali tekanan dalam hati Bang Wira begitu kuat.


"Ini Dinda Bang, bukan Adinda. Tidak percaya kah Abang sama istri Abang ini?"


"Abang percaya. Tapi Abang suamimu. Abang tetap berkewajiban menjagamu tanpa kecuali. Abang tidak sanggup lagi merasakan kehilangan" Bang Wira terisak kuat, dadanya seakan terhantam berkali-kali.


Dinda pun turut merasakan sakitnya hati sang pujaan hati.


"Bang..!! Dinda pengen. Boleh??"


Dahi Bang Wira berkerut. Tak biasanya Dinda bersikap semanja ini dan ia pahami. Istrinya itu tidak sungguh-sungguh mengajaknya dan hanya mengalihkan suasana yang tidak kondusif ini.


"Boleh, tapi kamu belum sepenuhnya sehat dan juga.. kamu boleh memintanya saat kamu sungguh menginginkannya, bukan karena mengalihkan pikiran Abang"


"Tapi Bang.."


"Istri sholehah itu adalah istri yang mampu membangkitkan gairah suaminya. Abang akan sabar menunggu sampai kamu ikhlas dek"


"Anak Abang pengen main tembak-tembakan sama papanya" kata Dinda.


Tak ayal mata Bang Wira melotot kaget, ternyata Dinda masih bisa menggodanya padahal ia tau betul Dinda belum benar-benar menginginkan nya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2