
SEGENGGAM LUKA
BAB 1 | MENJEMPUT JIHAN
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
Siapa yang menyangka seorang Pitaloka, perempuan bersuku Batak dan terlahir dari agama non Muslim dengan tekad bulat meninggalkan keyakinannya dan rela mengucap dua kalimat syahadat di depan para saksi dan penghulu. Sebuah Masjid terkenal di Kota Yogyakarta yaitu Masjid Jogokariyan. Tempat dimana seorang Pitaloka Siregar melepaskan keyakinan dan dengan sah telah menjadi mualaf, tepat sebelum ikrar pernikahan terucap dengan lelaki yang sangat ia cintai, yaitu Danar Prasetya. Cinta pertama yang menggetarkan hati Pita.
Kisah asmara keduanya telah berjalan selama satu tahun. Danar yang juga sangat mencinta Pita tiba-tiba melamar Pita di sebuah Caffe miliknya. Pita yang memang berharap bisa hidup bersama dengan Danar pun, menerima lamaran Danar. Namun kedua harus menghadapi orang tua Pita yang berada di Medan.
Kedua orang tua Pita sangat menentang keras hubungan Danar dengan Pita karena berbeda keyakinan. Sampai saat ini keduanya pun belum mendapatkan restu pernikahan dari orang tua Pitaloka yang berada di Medan.
*****
Pita tersenyum lebar saat melihat Danar yang baru saja keluar dari kamarnya dan menghampiri dirinya yang sedang menata sarapan di atas meja. Setelah menikah, keduanya hidup harmonis meski belum ada tanda-tanda hadirnya malaikat kecil sebagai pelengkap kebahagiaan rumah tangga mereka.
"Selamat pagi, sayang." Sebuah kecupan mendarat di kepala Pita.
Pita yang sudah terbiasa dengan perlakuan manis Danar pun memeluk tubuh Danar. "Selamat pagi juga."
Danar adalah seorang Owner sebuah Caffe yang ia kembangkan selama setahun lebih. Berkat doa dari Pita, usaha Danar mampu berkembang dengan pesat.
Pita yang sudah menjadi seorang istri Danar merasa sangat bahagia karena diperlakukan sangat baik oleh Danar. Saat Pita juga telah melepaskan karirnya di dunia Model yang sempat memberi ruang untuk dirinya berkarir.
Wanita mana yang tidak bahagia ketika mendapatkan lelaki yang sangat mencintai dirinya dan memuliakannya.
"Mending kita cari asisten rumah tangga deh, Pit! Soalnya aku gak mau kamu kelelahan mengurus aku dan rumah ini," ujar Danar.
Pita tersenyum lebar. "Tidak perlu, Bang. Lagian aku pasti akan merasa bosan jika tidak mempunyai pekerjaan di rumah."
Ya, memang benar ucapan Pita. Danar yang menyuruh Pita untuk meninggalkan pekerjaan Pita dan memilih fokus dengan keluarga kecilnya saat ini.
"Baiklah, tetapi aku tidak ingin kamu merasakan kelelahan. Mengerti?"
Pita mengangguk tanda patuh pada Danar.
__ADS_1
Setelan kepergian Danar ke kantornya, Pita segera membereskan rumah. Dari mulai menyapu, mengepel hingga mencuci pakaian dengan tangannya sendiri. Begitulah kegiatan Pita sehari hari.
Pita tidak pernah mengeluh, ia malah menikmati pekerjaannya saat ini. Memang sudah sepantasnya itu semua adalah tugas seorang istri. Istri yang berbakti akan mendapatkan ridho dari suami, begitulah yang pernah Pita dengar dari salah satu Ustadz yang membimbingnya mengucapkan dua kalimat Syahadat saat itu.
***
Hari berganti hari, tak terasa pernikahan Pita telah bertahan selama satu tahun. Tak ada yang berubah dari perlakuan Danar kepada dirinya malah Danar semakin meluangkan waktu bersama dengan Pita.
Danar sering mengajak Pita keluar untuk sekedar jalan jalan ke Mall membuat Pita semakin merasa bersyukur bisa di pinang oleh Danar.
"Bang, minggu depan sahabat aku mau menginap disini, boleh gak?" tanya Pita kepada Danar.
Danar yang sedang bermain ponsel mendongak mendengar ucapan Pita.
"Siapa?"
"Jihan, Bang. Abang pasti tahu lah, kan Jihan sering nempel kalau kita lagi ngedate," ungkap Pita.
Danar terdiam sejenak untuk mengingat nama yang disebutkan oleh Pita. Memang nama yang tidak asing di pendengarannya namun, Danar tidak bisa mengingat Jihan yang dimaksud oleh Pita karena memang setelah menikah Pita lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah saja.
"Abang lupa," ujar Danar.
Danar menatap bola mata Pita lalu mengangguk pelan. "Jelas boleh dong. Sahabat kamu sekarang juga sahabat Abang 'kan."
Pita yang mendapat persetujuan dari Danar terlihat sangat bahagia kemudian memberikan satu kecupan manis pada Danar.
"Terimakasih Abang."
Dengan segera Pita mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan kepada Jihan yang mengatakan bahwa Danar mengizinkan Jihan untuk menginap di rumahnya.
Jihan adalah salah satu sahabat terdekat Pita saat kuliah di salah satu Universitas kota pendidikan tersebut. Bahkan Jihan akan selalu ada saat Pita dan Danar sedang bertemu. Pita yang saat itu menganggap Jihan lebih dari sekedar sahabat tidak pernah merasa keberatan dengan Jihan yang selalu nempel.
Pagi ini Pita diantar oleh Danar untuk menjemput Jihan yang sudah berada di Bandara. Jihan yang tinggal di Surabaya membuat mereka tidak pernah bertemu apalagi setelah menikah Pita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
"Bang, sebenarnya Jihan datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan lho. Kasian dia, udah capek-capek kuliah tapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak," keluh Pita.
Danar yang menjadi sopir Pita untuk ke bandara YIA sekilas melirik istrinya.
__ADS_1
"Jadi dia kesini mau kerja?"
"Iya, Bang. Tapi tenang aja di gak bakalan ngerepotin kita kok. Setelah mendapatkan pekerjaan Pita akan segera mencari tempat tinggal," ujar Pita.
Danar mengangguk. Inilah salah satu sifat Pita yang disukai oleh Danar. Terlalu memikirkan orang lain dan sangat tulus membantu.
"Abang gak keberatan kan?" Pita meyakinkan Danar.
"Tentu tidak lah, sayang. Bagaimana Abang akan merasa keberatan sedangkan istri Abang sangat tulus untuk membantu orang lain," jelas Danar.
Mobil melaju kendaraannya rendah saat melewati sebuah Under pass terpanjang di Indonesia dengan panjang 1,4 km. Di jalan terowongan itu dilengkapi dengan pencahayaan lampu yang terang sehingga membuat sepanjang jalan bawah tanah itu tidak gelap.
Danar mulai memarkirkan mobilnya di tempat yang telah disediakan oleh pihak Bandara, sedangkan Pita jalan lebih dulu karena tidak sabar untuk segera bertemu dengan Jihan yang sudah lama tak berjumpa.
Dengan menyeret koper besar, Jihan melambaikan tangan kepada Pita yang sibuk mencari keberadaan Jihan.
Pita segera menuju ke arah Jihan setelah melihatnya. Pelukan hangat ia rangkul kan kepada Jihan, sahabat terbaiknya selama masa kuliah.
"Kamu apa kabar, Jihan? Lama tidak berjumpa kamu terlihat sangat cantik sekali," puji Pita yang merasa sangat takjub atas perubahan Jihan yang semakin glowing.
"Ah, kamu bisa aja, Pit. Dimana suamimu?" Mata Jihan berkelana mencari sosok Danar yang telah menjadi suami Pita selama satu tahun ini.
"Oh… Bang Danar nunggu di parkiran. Ya sudah ayo!" Pita menggiring Jihan untuk ke parkiran dimana Danar menunggu.
Danar memang tidak terlalu suka ikut campur dengan urusan Pita, apalagi teman Pita yang tidak begitu ia kenal.
Ada rasa berdebar saat pertama kalinya Jihan melihat sosok Danar yang terlihat lebih bersinar. Jihan yang duduk di kursi penumpang tanpa hentinya ia memperhatikan Danar yang hanya fokus menyetir tanpa ingin menanyakan kabar atau sekedar menyapa.
Sepanjang perjalanan, Pita terus mengajak Jihan untuk terus bercerita agar tidak merasa bosan. Bahkan Pita tidak percaya bahwa Jihan saat ini adalah seorang model majalah ternama di kotanya. Namun, karena insentif yang diterima tidak sesuai dengan pekerjaannya, Jihan memilih mundur lalu menghubungi Pita jika ia ingin mencari pekerjaan di kota Gudeg tersebut.
.
.
.
HALO YANG BARU BACA, BOLEH DONG TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN KALIAN SEBAGAI TANDA DUKUNGAN KEPADA AUTHOR
__ADS_1
TERIMAKASIH🙏🏻🙏🏻