
SEGENGGAM LUKA
BAB 60 || SAKIT
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA ...
Rey masih berada di teras rumah Pita, berharap Pita segera membuka pintu lalu menghambur ke dalam peluknya seperti yang ia bayangkan sejak dua hari yang lalu setelah kepulangannya ke Indonesia.
Sepertinya harapan Rey hanya sia sia, nyatanya Pita tak kunjung keluar. Di bawah guyuran air hujan, Rey terus menatap sebuah kamar dengan masih terang. Sedikit kecewa, tetapi Rey tidak akan menyalahkan Pita. Mungkin dirinya yang terlalu berharap lebih pada hubungan ini atau memang dirinya yang masih labil.
Tak ingin memaksakan hati, Rey memilih masuk ke dalam mobil dengan pakain yang sudah basah kuyup. Sebelum Rey menginjakkan pedal gas, Rey masih bisa mengulum senyum di bibir saat ia melihat bayangan Pita berada di pinggir jendela.
Rey menghembuskan nafas beratnya, berarti Pita sedang marah terhadap dirinya. Baiklah, mungkin Pita butuh waktu begitu juga dirinya yang harus mengoreksi diri dimana letak kesalahannya.
Mobil melesat pergi. Hati Pita terasa nyeri. Sebenarnya ia tidak tega mengacuhkan Rey seperti ini, tetapi rasa kecewa yang terlanjur membumbung tinggi membuatnya harus bersikap seperti anak anak.
Tubuh Pita luruh ke lantai begitu juga dengan air mata kesedihannya yang tumpah begitu saja. Rasa sesak memenuhi rongga dada, Pita hanya bisa menangis seorang diri di tengah dinginnya angin malam yang bercampur derasnya air hujan.
Hampir satu malam Pita tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pita juga tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Satu sisi iamemikirkan bagaimana Danar harus bisa sembuh, satu sisi lagi Pita memikirkan Rey yang tiba tiba saja kembali lagi.
Pergi tanpa pamit, pulang tanpa kabar.
Pita memijat pelipisnya karena merasa sedikit pusing. Mungkin karena kurang tidur dan banyak yang memenuhi pikirannya.
"Ibu sakit? Kenapa wajah Ibu pucat?"
Yuna yang terlalu peka bisa segera menyadari bahwa Pita sedang tidak enak badan.
"Hanya sedikit pusing saja. Mungkin karena kelelahan," alibi Pita.
__ADS_1
Pita malu untuk mengakui perasaan yang memang sedang merindukan Rey, hingga bayangan Rey tadi malam masih tergambar jelas di dalam memorinya.
"Ibu istirahat dulu saja, nanti saya belikan obat ke apotek," saran Yuna.
Pita menolak dan segera mencegah Yuna.
"Gak usah. Aku gak papa. Lagian aku juga ada sedikit urusan." Pita segera bangkit dan meninggalkan meja makan yang belum sempat menyentuh sarapannya.
Yuna lagi lagi mengernyitkan dahinya seperti ada yang sedang disembunyikan, tetapi tidak tahu apa itu. Yuna hanya mengedikkan bahunya. Biarlah nanti kalau sudah tidak sanggup memendam sendiri pasti majikannya akan cerita.
Kali ini tujuan Pita adalah ke rumah sakit untuk menjenguk Danar terlebih dahulu sebelum melakukan meeting bersama seseorang klein penting. Namun, langkahnya ragu saat bayangan Rey melintas dalam pikirannya.
Ah, sudahlah. Lebih baik aku fokus terlebih dahulu dengan kesembuhan bang Danar setelah itu menyelesaikan masalah ini kepada Rey si berondong jagung itu.
Pita menuju sebuah kamar dimana Danar sedang dirawat. Ternyata Danar sedang sarapan dengan ditemani oleh perawat. Bahkan Danar harus dipaksa untuk makan oleh perawatnya dengan cara disuap bak seperti seorang anak kecil.
"Astaga, bang Danar," gumam Pita.
"Maaf Bu, saya terpaksa harus menyuapi karena bapak ini tidak mau makan dan ini sudah waktunya untuk minum obat," jelas sang perawat.
Pita tersenyum tipis. Sejak kapan bang Danar jadi manja seperti ini?
"Gak papa kol, Sus. Memang sudah sewajarnya. Kalau bandel gak bisa dibilangin, tabok aja."
Dilain sisi, Rey malas untuk membuka matanya. Kepala yang terasa berat dan tubuhnya yang panas membuat Rey memilih menggulung dirinya dalam balutan selimut tebalnya. Jangankan untuk mengambil obat, untuk beranjak ke kamar mandi saja terasa sangat berat.
Beginilah kalau berada jauh dari keluarga, saat sakit tak ada yang tahu.
Sudah hampir pukul 10 pagi, tetapi belum ada tanda tanda Rey akan bangkit. Bahkan demamnya semakin tinggi. Padahal tadi malam hanya terkena hujan sebentar tetapi karena kekebalan tubuhnya tidak kuat membuatnya harus tumbang. Rey yang terbaring lemah terus saja mengigau, menyebut nama Pita matanya melihat Pita tengah berada di depan matanya. Demam yang tinggi ternyata mempengaruhi halusinasi Rey.
Setengah sadar Rey melihat Pita tengah sibuk mengompres dirinya dengan handuk kecil lalu membenarkan selimutnya. Sesekali mengecek suhu tubuhnya. Rey berharap itu bukan hanya sekedar halusinasi, tetapi sebuah kenyataan yang benar benar nyata.
__ADS_1
"Tan, jan pergi!" lirih Rey.
Tangan Rey seolah menahan lengan Pita saat wanita itu hendak pergi. Katakan ini bukan mimpi, ini nyata!
Hati kecil Rey masih penuh harap.
Pandang Rey yang tidak terlalu jelas akibat demam yang tinggi, dengan samar melihat Pita tersenyum kecil lalu memegang tangan Rey dan berkata, "Aku gak pergi. Kamu istirahatlah!"
Bak seperti sedang terhipnotis, Rey mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya akibat obat yang baru saja ia minum.
Ternyata itu semua bukan hanya halusinasi Rey semata karena Pita benar benar nyata ada di hadapan Rey saat ini.
Lima belas menit yang lalu setelah menjenguk Danar, Pita hendak segera ke kantor karena akan ada pertemuan penting dengan seseorang tetapi pikirannya tidak tenang. Pita terus saja memikirkan Rey hingga membuatnya tidak bisa berpikir dengan normal dan akhirnya Pita memilih untuk menyambangi Rey di apartemennya. Berulang kali Pita mengetuk pintu tapi tak ada jawaban akhirnya ia nekat untuk membuka saja pintunya. Pita bisa masuk dengan sempurna karena dia telah mengetahui pass lock pintu apartemen Rey sejak awal Pita diajak singgah ke apartemennya.
Pita yakin jika Rey ada di dalam karena ia melihat mobil Rey masih di parkiran di depan tadi. Pita manggil nama Rey yang tak kunjung mendapatkan sahutan. Samar samar Pita mendengar suara seperti rintihan sedang memanggil dirinya.
Pita merasa terkejut saat melihat Rey dalam balutan selimut. Ia pun segera menghampiri Rey. Mata Pita membuat setelah mengecek suhu tubuhnya dengan tangannya. "Astaga Rey … demamnya tinggi sekali." Pita segera mencari kain untuk mengompres Rey dan memberikan parasetamol yang tersedia di kotak obat.
"Kamu nyata atau aku hanya berhalusinasi?" Rey mencoba untuk bangkit tetapi Pita segera mencegah. "Mau ngapain? Istirahat dulu biar turun demamnya!"
🙍🏻♂ : Baru juga ketemu udah ketus.
🙎🏻 : Kamu sih, ngeyel. Dah tau sakit malah bangkit. Dah bobok sana! Kalian juga ... yang udah baca tinggalin LIKE biar cepet kasih restu emakku buat nikahkan aku!
...🍃 BERSAMBUNG 🍃...
HALO HALO ... OTHOR MAU REKOMEN NOVEL LAGI DARI TEMEN OTHOR, KALIAN SINGGAH YA.
JUDUL NOVEL : SUPERBIA
AUTHOR : JIKA LAUDIA
__ADS_1