
SEGENGGAM LUKA
BAB 40 || KEMBALI LAGI
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA!!
"Rey, kamu jangan ngaco deh!" Pita segera menipis tangan Rey. Jangan ditanya lagi bagaimana wajah Rey saat ini. Merah padam. Apakah ini pertanda bahwa Pita menolak pengakuan Rey.
"Sadar Rey, kamu udah tunangan dan bentar lagi nikah," sambung Pita lagi.
"Kata siapa, Tan? Aku cuma mau nikah sama tante aja."
Katakanlah saat ini Reu sudah tidak waras lagi. Jelas jelas sudah bertunangan dengan wanita lain malah masih bisa mengungkapkan perasaannya kepada wanita lain.
"Cukup Rey! Jangan bercanda, pusing palaku!"
"Tan, aku serius! Beri aku jawaban sekarang! Itu semua akan menentukan nasib masa depanku, Tan. Tante, terima ya! Kalau tante terima kita langsung nikah besok!" ujar Rey.
Pita melotot, segampang itukah menikah?
"Rey… Bagaimana aku bisa menerima ungkapkan hatimu sementara kamu sudah memiliki tunangan yang jauh lebih muda daripada aku, lebih cantik dan lebih mapan. Apa yang akan kamu harapkan dari aku yang seorang janda ini?" tekan Pita.
Jujur Pita sangat ingin menerima perasaan Rey namun, banyak hal yang harus di pikiran lebih matang lagi, jangan sampai kegagalannya terulang kembali. Cukup Danar orang yang membuat hatinya hancur jangan ada Danar kedua lagi mengingat status yang ia sandang saat ini
Diluar sana orang akan memandang rendah statusnya yang janda.
"Jadi… Jadi tante gak menerima perasaanku?" Wajah Rey terlihat sangat murung. Sudah jelas Pita tidak akan pernah tertarik kepadanya tapi Rey masih aja ngotot untuk tetap mengungkapkan isi hatinya pada Pita.
"Maaf Rey, aku belum siap membuka hatiku lagi. Rasa sakit itu masih terasa, Rey. Aku juga takut jika luka itu akan tergores lagi," tutur Pita.
"Tapi beri aku satu kesempatan, Tan. Aku akan buktikan bahwa aku bisa membalut luka tante dan tidak akan pernah menggoresnya lagi, suer Tan." Sebisa mungkin Rey meyakinkan Pita agar memberikan sebuah kesempatan.
"Maaf Rey, aku belum siap."
Pita memilih pergi meninggalkan Rey yang masih membeku tak percaya atas keputusan Pita yang ternyata tak menerima ungkapkan cintanya.
__ADS_1
"Ku kira kau terima, nyatanya kau tolak, Tan," lirih Rey.
Rey berjalan gontai saat kepergian Pita. Mau diletakan dimana lagi wajah Rey saat bertemu dengan Pita besok. Sudah nembak, ngemis, maksa ditolak pula. Lengkap sudah penderitaan Rey. Apa yang bisa Rey jelaskan pada Winda nanti jika ternyata Rey gagal menyatakan perasaannya pada Pita. Rey sungguh tidak mau jika harus menikah dengan Winda karena cinta Rey hanya untuk Pita seorang.
Sesampai di apartemen, Rey langsung menuju sebuah kamar khusus yang memang disiapkan untuk mencuci foto. Kamar yang gelap, Rey sengaja membuat sedemikian rupa karena menyesuaikan hatinya. Di dalam sana hampir seluruh ruangan dipenuhi oleh potret Pita. Beraneka ragam pose Pita yang diam diam Rey ambil. Rey menghampiri salah satu foto Pita saat sedang bersama dirinya.
"Kenapa tante tolak aku? Kenapa Tan? Kurang apa aku?" lirih Rey.
"Harusnya aku sadar kalau tante hanya menganggap aku seperti bocah kemarin sore tapi aku sudah mapan, Tan. Tante mau lihat kemapanan dan ketampanan ku?" Lagi lagi Rey hanya bermonolog di depan foto Pita.
Di lain sisi Pita tengah merenung. Salahkah dia jika menolak Rey sedangkan hatinya sedari tadi menyuruh Pita untuk menerima saja perasaan Rey namun, lidahnya sangat kelu dan gengsi untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya.
Pita diambang kebimbangan, antara ingin menolak atau menerima perasaan Rey.
🍁 🍁 🍁 🍁
Pagi ini Pita sudah bersiap untuk berangkat ke Cafe terlebih dahulu. Seperti hari sebelumnya, mata Pita sangat terkejut oleh kedatangan Danar yang pagi pagi sudah sampai di rumahnya. Apakah tidak puas Danar menyakitinya berulang kali dan kemarin adalah puncak sara sabar Pita untuk Danar.
"Mau apalagi?" ketus Pita.
"Apa maksudmu, Bang?" gugup Pita.
Tanpa sebuah aba aba Danar segera memeluk tubuh Pita yang terlihat lebih kecilan dari pada saat bersamanya.
Danar tak melepaskan pelukannya meski Pita memberontak dengan sekuat tenaganya.
"Lepas Bang, lepas!" teriak Pita.
"Maaf." Satu kata yang terucap dari bibir Danar. Pita merasa tak mengerti lagi dengan sikap Danar yang seolah tengah menyadari kesalahannya? Mengapa baru sekarang, Bang? Bukankah kuberi satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Tapi kamu malah mengabaikannya dan baru menyesal saat aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan atas ulahmu?"
"Pit, bisa kita bicara sebentar?" tanya Danar ragu.
"Tidak, Bang. Aku tidak bisa dan tidak mau! Jika kedatangan Abang kesini hanya untuk merendahkanku maka silahkan Abang pergi!" usir Pita dengan keras.
Danar menatap nanar mata Pita. Danar juga sadar bahwa dirinya sudah sangat keterlaluan namun, itu bukan salah Danar seutuhnya. Semua ini gara gara Jihan yang telah berhasil mempengaruhi pikirannya dengan cara yang tidak masuk diakal. Zaman sekarang masih saja menggunakan cara yang salah untuk menaklukan mangsa. Danar benar benar menyesal perbuatan yang telah ia lakukan kepada Pita hingga Pita merasa jijik terhadapnya.
"Beri Abang satu kesempatan untuk berbicara kepadamu. Setelah itu, Abang tidak akan mengganggu kamu lagi. Tapi kita tidak berbicara disini. Please mau ya?" Danar sangat memohon kepada Pita agar memberikannya satu kesempatan untuk menjelaskan semua.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak punya waktu!" ketus Pita
Danar menahan langkah Pita saat hendak berlalu.
"Tolong sekali ini aja," iba Danar.
Biar bagaimanapun Pita membenci Danar, tetap saja Pita tidak bisa menolak. Apalagi wajah Danar yang terlihat menyedihkan. Pita harus membuang egonya. Pita tidak ingin egois meskipun itu menyakitkan.
"Oke! Ini terakhir kalinya Abang temui aku. Setelah ini aku tidak akan sudi bertemu dengan Abang! Aku tahu Abang masih belum terima atas harta Abang yang beralih ke tanganku kan?"
Saat ini pikiran Danar tidak tertuju pada harta yang telah menjadi milik Pita. Memang sudah seharusnya Pita yang memiliki. Jika itu bisa membuat Pita lebih bahagia, Danar rela jika dirinya harus menjadi gelandang di jalanan.
Pita terkejut saat Danar telah membawa Pita ke sebuah tempat bersejarah dalam hidupnya. Tempat dimana dirinya mengikrarkan sumpah syahadat 2 tahun yang lalu juga dimana tempat Danar mengikrarkan ijab qobul atas dirinya.
Untuk apa Danar membawa Pita ketempat ini jika hanya akan menyayat luka hatinya yang sudah hampir mengering. Pita tidak tahu apa yang akan Danar lakukan di Masjid ini. Apakah Danar akan menikahi Jihan di tempat ini juga.
"Kamu masih ingat tempat ini kan? Abang hampir saja lupa namun, tidak dengan hati Abang. Kemarin setelah pertengahan kita, langkah Abang tiba tiba mengarah ke Masjid ini. Ayo turun, di sana ada Abah sudah menunggu!" titah Danar.
Pita yang masih tidak mengerti akan rencana Danar hanya menuruti saja perintah Danar untuk turun. Benar saja di sana ada lelaki sepuh sedang tersenyum menyambut keduanya namun, sebelum itu Danar memberikan sebuah jaket kepada Pita dan syal agar menutup kepala Pita.
"Pakai ini agar lebih sopan," titah Danar.
Pita benar benar seperti sedang kembali kemasa lalu dimana Danar yang selalu memperhatikan dirinya.
Pita memasang syal dengan bantuan Danar. Seketika kedua mata Pita dan Danar saling bertemu membuat getaran di hati kedua orang yang telah berpisah itu. Akankah ini pertanda bahwa cinta mereka masih tersimpan dihati keduanya? Akankan keduanya akan bersatu kembali?
Wallahualam, hanya Author yang tahu.
.
.
.
NAH, HAYO GIMANA KIRA KIRA? AKANKAH PITA KEMBALI KE PELUKAN DANAR SETELAH MENGETAHUI SEBUAH KEBENARAN????
TAP LIKE AND KOMEN BARU AKU UP LAGI 😀😀
__ADS_1