SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MINTA BAYARAN


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 28 || MINTA BAYARAN


~TEH IJO~


Dulu kau pernah menjadi pelangi saat hati tengah kelabu, bahkan kau pernah menjadi pijakan kaki ku saat aku lemah tak berdaya. Namun sekarang dirimu tak dapat lagi aku genggam, kau melenggang pergi begitu saja menyisahkan serpihan luka yang mendalam.


Kau pernah datang membawa penuh harapan tetapi kau juga pergi meninggalkan luka terdalam.


...~Teh ijo~...


SELAMAT HARI LIBUR & SELAMAT MEMBACA!!


Yuna dan Ucok menahan tawanya saat Nadine memberikan ceramah kepada Rey. Jangan ditanya bagaimana wajah Rey saat ini. Jelas terlihat merah padam seperti kepiting rebus, begitu juga telinganya yang memerah akibat ceramahan panjang kali lebar. Nadine benar benar marah saat dirinya dikatakan sudah tua. Rey yang tidak mengetahui akan hal tersebut berulang kali meminta maaf kepada Nadine.


Nadine yang tidak bisa marah lebih lama pun dengan ketus memaafkan Rey. 


Untung ganteng, batin Nadine.


Benar saja setelah makan siang Rey dilarang pulang oleh Ucok, padahal Rey harus segera kembali ke studio untuk agenda pemotretan lainnya. Rey terpaksa menghubungi Fotografer cadangan untuk menggantikan dirinya sesat.


Rey duduk sambil menyangga dagunya memperhatikan cara jalan bidak catur Ucok. Bagaimana Rey bisa menjalani bidaknya sementara dia saja tidak pernah memegangnya. 


Pita yang datang membawakan camilan melirik Rey yang termenung melihat bidaknya sudah banyak yang dimakan oleh bidak milik Ucok. Pita yakin jika Rey tidak pandai bermain catur. 


"Nah, seperti ini." Pita memakan salah satu kuda milik Ucok membuat Ucok berteriak tidak terima. 


"Curang kau, curang!" umpatnya.


"Bang Ucok yang curang! Maksa Rey untuk menemani Abang yang kesepian kan?" ledek Pita.


Memang tidak salah ucapan Pita. Ucok sengaja menahan Rey untuk menemani dirinya yang merasa kesepian tak ada lawan untuk main catur. Biasanya Ucok akan memainkan bersama bapaknya namun mengingat dirinya sedang berada di luar kota Ucok tidak memiliki tandingan yang sepadan untuk mengalahkan dirinya.

__ADS_1


"Kau jangan mengada ada, Tet," protes Ucok.


"Aku gak mengada ada kok, Bang. Bener gak kalau Abang sengaja nahan Rey? Kalau Abang bohong besok kami tinggal Abang di rumah sendirian. Kami mau kerja sambil jalan jalan," ancam Pita.


"Iya, iya. Abang ngaku sengaja nahan Rey untuk menghilangkan rasa jenuh," terang Ucok.


Hampir satu harian Rey menemani Ucok bermain  PS di rumah Pita. Beruntung saja Ucok juga hobi main PS jadi Rey tak perlu sakit kepala memikirkan jalannya bidak catur.


Saat ini hari sudah menunjukkan pukul 4 sore. Rey pun izin untuk pulang karena di studio ada sedikit masalah dengan hasil pemotretan. Mau tidak mau Ucok memberikan izin Rey untuk pulang.


Dasar badan aja yang kekar, wajah sangar tapi sifatnya bocah, batin Rey sebelum pulang.


Pita mengantar kepulangan Rey hingga depan gerbang. Hatinya sangat bersyukur bahwa Rey ternyata bisa menyelamatkan dirinya.


"Rey," panggil Pita.


Gerakan Rey tertahan. "Ada apa Tan? Gak boleh pulang juga?"


"Makasih ya, udah bantuin aku. Kamu udah nyelamatin hidupku. Pokoknya makasih banyak banyak." Pita tak hentinya mengucapkan kata terimakasih kepada Rey.


Rey menatap pancaran setitik kebahagiaan di mata Pita. Rey juga merasa sangat bahagia saat melihat Pita bahagianya. 


"Tapi itu semua tidak gratis lho, Tan. Ada bayaran," ucap Rey.


Pita menakutkan alisnya. Dasar perhitungan, batin Pita.


"Butuh berapa biar aku transfer sekarang?"


Sekarang berganti Rey yang mengernyitkan dahinya. Apakah tampang Rey seperti butuh uang? Tidak kan?


"Aku gak butuh uang, Tan. Uangku dah banyak. Aku cuma butuh tante traktir aku makan es krim sepuasku, gimana?" tawar Rey.


Pita terkekeh pelan. Permintaan seperti itu sangat gampan bagi Pita, apalagi saat ini Pita sudah memegang Cafe milik Danar yang omset gak nanggung nanggung. Hanya duduk manis saja Pita sudah menerima uang banyak.

__ADS_1


"Gampang itu. Besok aku borongkan sekalian sama penjualan," kelakar Pita.


Rey manatap Pita lebih dalam. Sungguh hatinya saat ini terasa adem melihat tawa Pita yang renyah. Dengan begitu, malam ini Rey bisa tidur dengan nyenyak.


 


****


Di dalam kamar Yuna memeluk tubuh Pita dengan erat. Ia sangat bersyukur bahwa majikan tidak jadi meninggalkan dirinya.


"Ibu, Tuhan memang menjawab doa Ibu."


Pita menggelengkan kepala mencoba melepaskan pelukan Yuna yang terlalu erat sehingga Pita kesusahan untuk bernafas. "Lepasin, sesak tau," gerutu Pita. Yuna hanya cengengesan menyadari kekonyolan dirinya saking bahagianya Pita tidak jadi pulang kampung.


Malam ini suasana rumah Pita kembali riuh oleh suara Ucok yang sedang melihat pertandingan bola. Beberapa kali Ucok mengumpat saat jagoan tim nya kebobolan. Pita yang mendengar teriakan pun marah tidak terima karena itu sangat mengganggu Pita dan Nadine yang sedang berkonsultasi membicarakan tentang acara lusa. Yuna yang mendengarkan tidak terima saat dirinya tidak diajak untuk liburan bersama. Yuna protes, dirinya juga harus ikut jika tidak, maka Yuna akan mengadu kepada Ucok bahwa semua ini hanya sebuah sandiwara untuk menggagalkan rencananya.


"Berani kau bilang sama Ucok, ku tendang kau dari sini sekarang!" ancam Nadine balik.


Yuna tidak bisa berkutik. Ia semakin cemburu saat Pita menjelaskan rute yang akan mereka lewati. Bahkan Pita juga berjanji akan mengajak ibunya untuk berkeliling kota Yogyakarta ini sebelum ibunya kembali ke Medan. Nadine sangat setuju dengan ide Pita, memang itu niat awal Nadine jika dia sedang berada di kota ini dirinya ingin mengelilingi destinasi yang keren agar bisa ia pamerkan saat di kampung nanti.


"Iya, iya. Ngaku kalah aku." Yuna pun melipir pelan meninggalkan ibu dan anak yang sedang berdiskusi.


Di lain kamar, Rey mengumbar senyumnya saat melihat banyaknya potret Pita yang ada di ruangan pribadinya. Rey dim dim  mencuri foto Pita saat Pita sedang lengah.


Ini adalah perasaan aneh untuk dirinya. Bagaimana bisa hatinya selalu bergetar saat berdekatan dengan Pita yang jelas jelas adalah istri seseorang, yang sebentar lagi akan menjanda. Pikiran Rey selalu terbayang wajah ayu Pita, apalagi saat Pita sedang tersenyum seketika hatinya langsung ambyar.


"Tan, tan. Cantik sih, tapi istri orang. Eh, bentar lagi janda," kekeh Rey yang tengah mencuci hasil foto curian hari ini. Hampir setiap hari Rey mencuri foto Pita.


"Bodoh sekali suami kamu, tan. Kurang cantik apa coba kamu," gumam Rey.


Setelah puas memandang foto Pita, Rey segera menuju ke kamar. Tubuhnya terasa lelah meski hanya bermain di dalam rumah bersama Ucok. Rey segera memejamkan matanya untuk pergi ke alam bawah sadar. Mengistirahatkan tubuh lelahnya untuk bisa bangun lebih segar lagi hari esok.


Kini giliran Pita yang tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bagaimana mungkin bayangan Rey berkeliaran di pikirannya padahal Pita sudah menepis jauh jauh bayangan tersebut namun tetap saja gambaran Rey muncul terus menerus. Tidak mungkin hati Pita cepat berlabuh ke dalam laki laki lain saat status pernikahan dengan Danar masih sah meskipun Danar telah menikahi Jihan.

__ADS_1


__ADS_2