SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
Season 2 : Bagian 4


__ADS_3

Aku pernah berpikir bahwa kau mampu untuk menghapus luka di hati ini. Tak pernah terbersit akan dirimu yang tega meninggalkanku dalam kesunyian. Aku disini menunggu mu.


~Pitaloka~


Melalui hari tanpa adanya sosok Rey membuat Pita seakan menyerah untuk tetap bertahan, tetapi saat ia mengingat nyawa yang sedang tumbuh di rahimnya, ia mencoba untuk mengendalikan rasa sedihnya.


Saat ini Pita benar-benar sedang berada di titik yang paling rendah. Wajahnya yang sudah mulai tirus bahkan Pita tak lagi memperhatikan penampilan. Rambutnya dibiarkan begitu saja dan wajah kusam tanpa polesan bedak sedikitpun. Jika melihat keadaan Pita saat ini terlihat sangat miris.


Rey, seseorang yang ia banggakan untuk menghapus luka yang bersemayam di hatinya, kini malah menggoreskan luka yang sudah kering. Berulang kali Rey menggores hatinya, Pita sudah tidak bisa menghitung lagi. Yang ia tahu bahwa ia mencintai Rey sepenuh hatinya.


Satu minggu telah berlalu. Asiah dengan sudah dinyatakan sebagai tersangka meskipun tidak ada bukti yang kuat, itu semua atas pengakuan dari pihak keluarga Ilham bahwa sebelum kematian Ilham, Asiah dan Ilham mengalami cek-cok dan itu jelas terlihat dalam sebuah rekaman cctv.


Sudah satu minggu juga Pita tak keluar dari kamarnya, bahkan ia juga tidak mandi. Beruntunglah Yuna masih bisa membagi waktu untuk merawat Pita.


"Bu, saya ijin pulang dulu ya soalnya sekarang cafe pak Danar sudah bangkit lagi dan dia juga telah mendirikan sebuah restoran." Yuna berpamitan kepada Pita.


Pita yang masih terbaring di ranjangnya tak menghiraukan ucapan Yuna. Saat ini tak ada semangat lagi untuk dirinya tetap bertahan. Satu persatu orang di sekitarnya pergi meninggalkan dirinya, termasuk Yuna yang biasanya selalu ada untuk dirinya.

__ADS_1


Pita perlahan bangkit dari ranjang. Dengan langkah gontai ia mencari sesuatu didalam laci. Sebuah benda yang menggetarkan hatinya.


Pita memejamkan mata sambil menarik berat nafasnya. Mungkin ini adalah tarikan nafas terakhirny, karena setelah ini Pita akan merasa lebih tenang, tak akan ada beban yang ia rasakan lagi.


Rey, maafkan aku. Aku sudah tak sanggup lagi untuk bertahan. Lebih baik aku pergi dari pada harus berjuang sendiri, menahan luka yang tak kunjung sembuh.


Dengan degup jantung yang berdebar, Pita mengangkat sebuah pisau cutter. Lebih dekat dan dekat lagi untuk menyayat pergelangan tangannya sendiri. Pita memejamkan mata lebi erat, berharap ini adalah rasa sakit untuk terakhir kalinya.


Namun, sayangnya sebelum pisau cutter menyentuh kulitnya seseorang lebih cepat menangkis pisau itu hingga terjatuh ke lantai.


Pita tidak tau siapa sosok tersebut. Tetapi dari aroma tubuhnya ia yakin jika tubuh yang sedang memeluknya adalah Rey.


"Kamu jahat, Rey," Isak Pita dalam dekapan yang tak tau siapa pelakunya.


Lama keduanya saling berpelukan. Pita menumpahkan keluh kesahnya sambil berderai air mata.


"Iya, aku salah. Aku minta maaf."

__ADS_1


Pita sudah yakin jika sang pemilik suara adalah Rey, suaminya maka Pita memilih mengeratkan pelukannya lebih erat lagi sambil mendumal, menyalahkan Rey.


Butuh waktu lama untuk menenangkan hatinya Pita. Saat sudah lebih membaik, Rey bersimpuh di kaki Pita dengan mengucapkan kata maaf berulang kali.


Rey sadar semala ini sudah tanpa ia sadari telah menggoreskan luka pada hati wanita yang sangat ia cintai. Tanpa angin, tanpa hujan, tanpa berpamitan ia pergi begitu saja tanpa kabar berita. Rey terlalu menyepelekan hal kecil yang nyatanya melukai hati Pita. Wanita yang seharusnya ia jaga hatinya seperti janjinya saat itu, Rey tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Pita saat ini.


"Sayang, aku minta maaf. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi, tapi jangan pernah ulangi hal bodoh ini lagi. Apa jadinya jika aku tidak tiba tepat waktu? Aku tidak sanggup untuk kehilanganmu, terlebih anak kita. Karunia yang sudah lama kamu inginkan," sesal Rey


Diam tanpa ekspresi, Pita menatap Rey dengan nanar. "Simpan kata sayang itu, Rey. Aku tidak ingin mendengarkan kata itu lagi. Karena nyatanya, rasa sayang itu tidak cukup hanya di ungkapkan dengan kata-kata."


Rey mendongak, ia terkejut dengan pengakuan Pita. "Baiklah, jika kamu tidak suka, aku akan menyimpan jika itu membuat mu lebih tenang. Jadi aku panggil apa sekarang?"


"Terserah kamu, aku lelah ingin beristirahat."


Halo-halo, selagi menunggu aku up lagi Mampir dulu ke novel author Momy Ida dengan judul novel Pernikahan Kontrak sang CEO


__ADS_1


__ADS_2