SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
DINNER


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 39 || DINNER


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA JANGAN LUPA BAHAGIA ❤


Pita saat ini tengah bersiap meskipun waktu masih menunjukkan pukul 6 sore. Jantung Pita terus berdebar, menebak nebak siapakah orang yang mengirim buket dn terlihat sok misterius itu. Pita mengedikkan bahu seolah merasa tidak peduli namun nyatanya penasaran.


"Yun, aku berangkat ya!" Pita berteriak karena Yuna sedang berada di kamar mandi.


Yuna yang sedang mandi samar samar mendengar suara majikan yang berteriak meskipun tidak jelas. Tak ambil pusing Yuna memilih melanjutkan kegiatan. 


Sesampainya di Restoran Bukit Indah Pita celingukan karena nyatanya Restoran itu kosong tak ada satupun pengunjung membuat Pita merasa ragu, apakah Pita salah alamat atau memang Restoran sudah tidak beroperasi lagi. Pita menakutkan alisnya, jangan jangan dirinya sedang di prank oleh seseorang. Jika benar demikian maka Pita tidak bisa menyembunyikan rasa malunya yang sudah terlalu percaya diri saat memasuki Restoran tersebut.


"Ah sayang, Restoran bagus kayak gini sepi pengunjung," gumam Pita saat dirinya masih melihat para pelayanan sedang sibuk mengantarkan menu dengan menggunakan lift.


"Sepertinya di lantai atas sedang ada acara," gumam Pita lagi.


Pita yang sedang celingukan segera di hampiri boleh seorang pelayan yang dianggap sok kenal karena mengetahui namanya.


"Nona Pita, silahkan segera naik ke lantai dua. Seseorang sudah menunggu anda disana!" 


Pita mengernyit mendengar ucapan pelayanan Restoran yang terlihat sangat ramah dan sok kenal.


Pita diiring menuju lift untuk ke lantai dua dengan perasaan heran. Seumur umur Pita tidak pernah diperlakukan istimewa oleh seorang pelayanan Restoran. Apakah karena namanya sudah beredar di media sosial sehingga semua orang mengenal dirinya. Pita terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri.


"Nona, silahkan," ujar sang pelayan dengan menyilahkan dirinya bk seorang ratu. Lagi lagi Pita hanya terkekeh pelan.


Mata Pita membulat sempurna saat melihat suasana lantai dua ini telah di rias begitu indah dengan lilin yang mengelilingi meja makan. Menu yang telah terhidang membuat Pita yakin bahwa bahwa ini adalah acara dinner yang romantis. Apakah ini dibuat untuk dirinya. Ah, tidak mungkin.


"Ini…" Pita menunjuk ke arah meja tersebut.


"Maaf Nona, saya hanya bisa mengantar anda sampai sini. Jika anda membutuhkan sesuatu boleh panggil kami," pesan pelayanan sebelum pergi.


Pita masih tak percaya akan pandangan di depan matanya, ternyata seseorang telah menyiapkan semua ini untuk dirinya. Sungguh luar biasa, gumam Pita.


Mata Pita tertuju pada salah seorang yang sedang bersandar di sudut dinding. Ia pun menangkup bibirnya dengan keduanya tangannya saat melihat lelaki tersebut.


Tak bisa menahan tawanya saat yakin itu adalah Rey.



"Rey," gumam Pita.


Rey tersenyum menatap Pita. "Malam, Tante. Makasih udah mau datang," ucap Rey.

__ADS_1


Astaga, berarti semua ini adalah ulah Rey yang sok menjadi orang misterius dengan memberikan buket tanpa nama.


"Kamu yang ngirim buket itu?" kekeh Pita.


Rey mengangguk pelan. "Iya. Gimana Tante suka?"


Hal apa lagi yang sedang Rey buat untuk Pita. Setelah menjatuhkan perasaannya ke jurang terdalam kini Rey mengangkat dirinya untuk terbang luas ke angkasa. Sungguh gila kamu Rey!


"Iya aku suka, tapi tak seharusnya kamu lakukan ini semua. Ingat kamu sudah bertunangan, Rey!" tegas Pita.


Pita tidak ingin menjadi penghalang hubungan Rey dan Winda yang telah ditentukan oleh orang tua mereka.


Apa jadinya jika orang tua Rey tahu jika Rey diam diam menyiapkan sebuah acara makan malam yang romantis seperti ini terlebih kepada dirinya yang menyandang status janda. Sudah jelas orang tua Rey akan menentang jelas hubungan mereka.


Ah, Pita segera menepis semua pikirannya yang terlalu jauh memikirkan hubungannya dengan Rey.


"Tan," panggil Rey.


Pita tersentak dan segera menatap Rey yang telah memberikan buket bunga lagi kepada Pita.


Pita masih tidak bisa mencerna atas sikap Rey yang dianggap berlebihan.


Please Rey jangan buat aku melayang jika akhirnya kamu hanya ingin menjatuhkan diriku kedalam jurang. Sudah cukup Rey!


"Ambilah, Tan," pinta Rey saat Pita hanya menatap buket tersebut.



"Tante kenapa sih ketus terus? Niat aku tuh baik kok Tan, hanya ingin buat Tante bahagia dunia akhirat." Rey tertawa pelan.


Cih, bahagia dunia akhirat! Jelas jelas kamu sudah membuatku sakit hati dunia akhirat!


Pita segera menggelengkan kepala saat sebuah bisikan di telinganya.


Tak ingin terus berdebat dengan Pita, Rey segera membuka acara dinner dadakan yang disiapkan khusus untuk Pita setelah mendapatkan tantangan dari Winda. 


Winda akan segera memutuskan pertunangannya dengan Rey saat Rey bisa membuktikan bahwa Rey benar benar memiliki wanita yang dicintai. Berkat tantangan tersebut, Rey memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada Pita meski ini terlalu cepat untuk keduanya ditambah lagi masa iddah Pita juga belum habis. Rey tidak ingin memaksakan perasaan Pita jika pada akhirnya Pita akan menolak perasaan, setidaknya Rey sudah berterus terang. Jika ternyata Pita menolak, mau tidak mau Rey akan menikah dengan Winda dalam waktu dekat.


"Tante suka?" tanya Rey setelah menyantap hidangan makan malam.


Pita mengangguk. Meskipun saat itu Danar memiliki Cafe sendiri dan sering makan diluar namun, nyatanya Pita belum pernah menyantap menu seperti ini.


"Iya, suka," jawab Pita.


Rey tersenyum bahagia melihat Pita makan dengan lahap. 


"Tan, ada satu hal yang ingin aku katakan kepada Tante, tapi…" Rey menjeda kalimatnya karena merasa ragu.

__ADS_1


"Katakan saja. Biasanya  tanpa disuruh pun juga udah bilang. Pakai malu malu segala," ejek Pita.


Rey terdiam sejenak.


Gimana caranya aku  mengungkap perasaanku, Tan. Aku akan malu jika pada akhirnya tante akan menolak dan menertawakan perasaanku pada tante.


"Udah, mau bilang apa sih Rey?" Pita merasa sangat penasaran dengan ucapan Rey yang menggantung  seperti jemuran kering.


"Kalau gak ada lagi yang perlu dibahas mending kita pulang. Makasih ya udah siapin dinner malam ini. Sungguh ini akan sangat berkesan," lanjut Pita lagi.


"Eh… tunggu Tan! Aku kan belum siap mau bilang apa, tante udah ngajak pulang aja," gerutu rey.


Pita membuang nafas beratnya. Apalagi sih Rey


Rey mengambil nafasnya dalam dalam dan mengeluarkan perlahan. Jujur inilah rasa gugup yang Rey alami selama hidupnya, bahkan saat menantikan sebuah kelulusan saja Rey tidak segugup ini. Mengapa sangat mendebarkan saat ingin mengungkapkan sebuah perasaan. Apakah seperti ini rasanya jika sedang ingin menembak seseorang? Keringat berkeluaran, badan pun juga panas dingin.


Maklum selama ini Rey tidak pernah menembak cewek saat ia bersekolah dan saat kuliah Rey juga telah disibukan dengan kameranya, hingga tak pernah terlihat untuk memiliki seorang kekasih yang hanya akan merepotkan saja, pikir Rey saat itu.


"Ya udah, katakan kamu mau bilang apa? Mau kasih undangan pernikahanmu dengan Winda? Ya udah sini! Gitu aja malu malu!" protes Pita kesal karena Rey terlalu lama menggantung ucapannya.


"Oke! Dengerin aku ya, Tan! Aku serius ini!" pinta Rey.


Pita hanya mengangguk kepala. Setelah berhasil menjadi seorang misterius kini harus dibuat penasaran lagi dengan ucapan Rey yang  terlihat serius.


Setelah merasa siap Rey pun segera memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Tan, aku gak tahu harus mulai darimana, aku sendiri juga bingung. Tapi percayalah, ini murni isi hatiku." Lagi lagi Rey menggantung ucapannya. Kali ini Rey lebih memberanikan diri untuk menggenggam tangan Pita membuat wanita itu merasa sangat terkejut.


"Tan, izinkan aku untuk mengatakan sesuatu. Pertemuan kita yang tak disengaja, Tante ingatkan? Tante nabrak aku saat itu eh bukan… bukan. Bukan Tante yang nabrak tapi aku. Terus kerjasama kita yang membuat kita sering bertemu membuat aku merasa nyaman dengan kehadiran Tante di samping aku. Jujur hampa banget kalau gak ada Tante, suer! Jadi… Malam ini izinkan aku untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya.


Tante, aku suka sama tante."  Panjang lebar Rey menjabarkan pada diakhir kata suara Rey melemah. 


Pita yang mendengarkan dengan seksama dari awal yang tidak tahu maksud dan tujuan harus dibuat terkejut dengan pengakuan diakhiri kalimat yang mengatakan aku suka sama tante.


Pita masih terdiam dan membeku. Katakan ini bukan mimpi! Katakn ini bukan prank! Katakan ini nyata!


Sebuah pengakuan yang tak pernah Pita bayangkan ternyata bisa terucap dari bibir Rey. Jujur hati Pita sangat bahagia atas pengakuan Rey yang ternyata juga menyimpan rasa untuk dirinya. Haruskah Pita berteriak kepada dunia jika perasaan Pita tidak bertepuk sebelah tangan? Namun, Pita menarik senyum bibirnya saat mengingat siapa dirinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hayo diterima atau ditolak?


__ADS_2