
SEGENGGAM LUKA
BAB 29 || HAI BOROBUDUR
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
Mungkin aku bisa memaafkanmu karena aku sangat mencintaimu, tetapi itu sudah terlambat. Hati sudah terlanjur hancur hingga tak bercelah lagi. Berpisah darimu adalah keputusan terbaikku, meski itu berat.
...~Pitaloka~...
Sesuai janji Pita kepada emaknya, bahwa ia akan membawa emaknya untuk mengunjungi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, yaitu Candi Borobudur yang berada di wilayah Magelang.
( kalau belum nambah ya )
Pita yang sudah siap hanya tinggal menunggu kedatangan Rey. Karena mereka akan berangkat menggunakan mobil Rey. Namun sayang Yuna tidak diizinkan ikut karena harus mengerjakan pekerjaan rumahnya, apalagi besok Nadine dan Ucok akan terbang ke Medan.
Tak menunggu lama mobil Rey telah berhenti di depan pekarangan rumah Pita, mereka pun segera berangkat. Yuna hanya bisa mengucir bibir yang tebal.
"Nasib, nasib. Siapa yang mau pulang siapa yang repot. Untung mereka adalah keluarga Ibu. Kalau bukan, gak sudi aku disuruh beresin barang bawaannya," dumel Yuna.
Nadine sudah tidak sabar untuk segera sampai di tempat yang diimpikan selama ini. Akhirnya bisa terwujud juga.
Setelah sampai, Nadine sangat terkagum dengan pandangan matanya. Ternyata candi tersebut lebih besar dari bayangan Nadine.
"Mak, aku mau kerja dulu. Mak nikmati aja dengan Bang Ucok dulu ya," ucap Pita.
"Beres!"
"Hai, Borobudur i'm coming," seru Nadine
Pita tersenyum lebar melihat ibu dan abannya yang mulai masuk ke pintu utama sedangkan Pita dan Rey masih menunggu kru yang lain serta tiga model lainnya yang terpilih untuk mengiklankan sebuah produk.
"Tan, sebelum mereka datang traktir es krim dulu ya! Lagiaan jadwal pemotretan sore nanti," ujar Rey.
Pita mendongak sambil terbelalak. "Apa nanti sore? Yang benar saja Rey?" Pita sangat terkejut.
Jadwal mereka ternyata telah berubah karena ternyata sang pemilik produk masih sibuk dan mengganti acara menjadi sore.
"Yah pemberitahuan barusan, tan. Udahlah ayo! Kebanyakan mikir?" Rey melenggang jalan lebih dahulu sedang Pita masih membeku dengan sejuta rasa kesal. Jika mengetahui acara diundur Pita bisa menemani ibunya mengelilingi candi.
__ADS_1
"Dasar Rey sialan," gerutu Pita.
Pita mengikuti langkah Rey yang sudah berada di sebuah toko pinggiran jalan sambil memesan es krim yang ia inginkan.
Rey menyodorkan es krim kepada Pita setelah Pita mendekat. Pita yang tidak suka dengan es krim menjauhkan tangan Rey, namun Rey tetap memaksa.
"Coba sikit aja, Tan. Enak kok," pinta Rey.
"Aku gak suka beginian, Rey," tolak Pita.
"Ayolah," desak Rey.
Dengan wajah yang cemberut, Pita akhirnya menerima es krim dari tangan Rey. "Sayang meleleh, Tan. Kalau gak mau sini."
Pita membulatkan matanya. "Enak aja, barang yang sudah diberikan mana boleh diminta lagi, bintitan ntar lo. Kan gak lucu ganteng ganteng tapi matanya bintitan," ujar Pita.
Hidung Rey kembang kempis setelah mendengar kalimat yang terakhir saat Pita mengakui bahwa dirinya ganteng. Sudah tak akan diragukan lagi bahwa dirinya memang ganteng.
"Jujur amat sih, Tan. Tapi tanpa tante katakan, aku memang terlahir sebagai orang ganteng," kekeh Rey.
Pita segera menutup mulutnya saat menyadari lidahnya keselimpet. Memang lidah tak bertulang. Lihat Rey menjadi besar kepala kan?
Pita acuh kepada setiap kata yang keluar dari mulut Rey. Sedikit demi sedikit es krim yang ada di tangan Pita sudah hampir habis dan itu tak lepas dari pandang Rey membuat Rey bersemangat untuk mengejek Pita lagi. Namun Pita tetap acuh, abaikan saja Rey yang rese'.
Setelah berpikir keras tidak ada salahnya mengikuti saran Rey, ya anggap saja Pita menyegarkan kepala sebelum menghadapi sidang perceraian dengan Danar yang akan digelar 2 hari mendatang.
Pita pasrah mengikuti langkah kaki Rey ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Tempat yang pas untuk membuang penat, ah, mengapa Pita malah meresapi kenyataan hidupnya yang seperti empedu.
Kamera Rey yang selalu menggantung di lehernya telah siap membidik setiap objek yang dianggapnya menarik. Sesekali mengambil potret Pita yang sedang menghirup udara segar.
"Rey, hentikan! Aku tahu kamu sedang mencuri fotoku!" teriak Pita.
Rey terkekeh pelan. "Cantik cantik galak juga," ejek Rey.
Saat berada di dekat Rey pikiran Pita menjadi lebih tenang bahkan ia bisa melupakan masalahnya dengan Danar.
Saat ini Pita hanya menikmati waktunya saja tanpa memikirkan masalah hidupnya.
Ada benarnya juga kata Rey yang mengatakan lupakan masalah yang ada karena masalah itu hanya akan membuat pikiran lemah.
"Tan, kayaknya spot ini pas banget untuk pengambilan latar belakang coba deh kita cek dulu. Tante berdiri di sana!" titah Rey.
__ADS_1
Dengan patuh Pita menuruti ucapan Rey untuk berdiri ditempat yang diperintahkan oleh Rey.
"Jangan kaku kek gitu lah, Tan! Senyum!" teriak Rey.
"Lama lama cerewet juga ya!" ketus Pita.
******
Nadine sangat puas saat dia berada diatas candi, tak lupa ia menyuruh Ucok untuk mengambil fotonya. Saat ini Ucok benar benar sedang seperti seorang bodyguard dengan membawakan tas milik ibunya kemanapun ibunya melangkah.
"Mak… Istirahat dululah. Capek aku," keluh Ucok.
Sebenarnya kaki Nadine pun juga sudah terasa pegal karena sejati saat ini dia telah berada di arca paling atas untuk mengabadikan momen yang sangat berharga dalam sejarah hidupnya.
"Ya sudah duduk sini kita," ujar Nadine.
Beruntung saja sebelumnya Nadine menyiapkan sedikit bekal camilan yang ia beli di bawah sana tadi. Tetapi Nadine juga harus tetap menjaga kebersihan di atas sana. Sampah tidak boleh dibuang sembarang.
Kurang lebih 2 jam Nadine menikmati suasana di atas candi dan kini saat ia turun ke bawah karena perutnya juga sudah mulai terasa lapar. Nadine pun menghubungi Pita agar segera datang.
🍁🍁🍁🍁
Rasa yang paling menyedihkan itu adalah sebuah perpisahan. Setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Meskipun itu hanya untuk sementara waktu.
Begitulah yang Pita rasakan saat ini.
Pita yang kuat mendadak menjadi cengeng saat Nadine sudah mulai berkemas. Pagi ini Nadine dan Ucok sudah harus kembali ke kampungnya meskipun sebenarnya Nadine sendiri belum cukup puas melepaskan rindu terhadap anaknya. Tetapi setidaknya rasa itu sudah sedikit terobati.
Begitu juga dengan Ucok yang tidak merelakan adiknya mengadu nasib sendirian di rantau orang dengan kondisinya yang sekarang. Ucok sengaja meminta Rey untuk tetap memantau keadaan adiknya karena Ucok melihat bahwa Rey adalah orang yang bertanggung jawab.
"Kau jaga si Butet. Awas saja kalau aku dengar Butet kenapa napa. Ku pasukan kau akan ku hajar seperti ba**ngan itu!" pesan Ucok sebelum pergi.
"Beres Om," jawab Rey dengan cepat.
Ucok menepuk pundak Rey tanda setuju dan terimakasih. Begitu juga dengan Nadine yang ikut menitipkan Pita kepada Rey.
Eh, sejak kapan Rey menjadi kang penitipan anak? Masih mending jika anak anak yang dititipkan, lha ini tante tante yang usianya berada diatasnya.
Harusnya dia yang dijaga karena mengingat usianya lebih muda daripada Pita.
__ADS_1
Pita tak bisa membendung air matanya yang sengaja meleleh begitu saja. Beberapa kali Pita juga harus membuang ingusnya membuat Rey bergidik jijik melihat kelakuan Pita yang seperti anak TK.
🌿🌿BERSMBUNG🌿🌿