
SEGENGGAM LUKA
BAB 74 || TEBAK SKOR
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA ...
Dering ponsel mengganggu kedua insan yang masih terlelap dalam mimpinya. Jika pada awalnya hanya ingin menyicip tetapi, setelah tahu rasanya tak tahan untuk tidak mengulangi lagi dan lagi hingga keduanya merasa sangat kelelahan dan tertidur pulas.
Tangan kiri yang menjadi bantalan kepala istrinya terasa kebas. Pita tertidur dengan tubuh merapat ke tubuh suaminya meski tak memakai kain penutup tubuhnya, hanya selimut tebal yang membungkus sepasang insan yang sedang di gairah malam pertama.
Rey menguap sambil meraih ponsel yang berada di atas kepalanya. Dengan suara serak serak basahnya Rey mengangkat ponselnya yang sedari tadi berdering.
Rey hanya mengiyakan setiap ucapan dari seberang telepon sambil menguap.
Ternyata keempat orang tuanya sudah menunggu dirinya untuk melakukan sarapan pagi sebelum cek out dari hotel.
Rey menatap Pita, tak tega rasanya jika ingin membangunkan sang istri yang terlihat begitu pulas. Rey menyunggingkan senyumnya saat mengingat malam panas yang penuh gairah hingga istrinya mendesah di bawah kendalinya.
.
.
.
Di sebuah meja bundar terlihat dua keluarga tengah bercengkrama hangat meskipun berbeda keyakinan.
Mereka masih sabar menunggu kedatangan sepasang pengantin baru yang hampir satu jam tak kunjung keluar.
"Tebak berapa skor yang dicetak tadi malam?" tanya ayah Pita kepada besannya.
Ayah Rey sejenak terdiam untuk memikirkan skor yang telah dicetak oleh anaknya.
"Berapa ya? 2-0 mungkin," tebak ayah Rey.
"Kalau aku tebak 3-0. Yakin tak kau?"
Ayah Rey menggeleng. "Kenapa harus yakin 3-0?"
__ADS_1
"Sini ku kasih tau kau, 1 ronde untuk acara pembukaan, 2 ronde untuk tengah malam dan 3 rondenya di sepertiga malam. Nah, akhirnya mereka kelelahan," jelas ayah Pita, membuat ayah Rey membenarkan ucapan besannya saat mengingat malam indah puluhan tahun lalu saat menjadi pengantin baru.
Ayah Rey mengangguk pelan. "Benar juga, 3-0. Hebat memang besan ku ini," puji ayah Rey.
Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi kedua bidadari yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan yang sama sekali tak berfaedah. Ingin rasanya mereka menyumpal mulut suami suaminya dengan heels yang mereka kenakan, tapi takut dosa.
Tak lama, Rey dan Pita terlihat sudah susah berjalan mendekati meja dimana mereka sedang ditunggu. Tanpa rasa bersalah Rey segera menarik kursi untuk istri tercintanya.
"Selamat pagi semua, kalian mengapa belum pesan makanan? Atau memang sudah siap?" tanya Rey.
Keempat pasang mata menatap Rey dan Pita secara bergantian. Rey yang mendapat tatapan mematikan pun segera menatap Pita dengan penuh tanda tanya.
"Mereka kenapa?" bisik Rey.
Pita menggeleng pelan. "Mana aku tahu."
"Hmm … sebenarnya kalian semua kenapa sih? Ada yang salah atau aneh dengan kita?" tanya Rey.
"Kau benar benar ya! Kami sudah menunggu kalian sejak pukul tujuh tadi dan sekarang sudah pukul delapan, tanpa basa basi meminta maaf, kalian malah bertanya mengapa kami tak memesan makanan. Kau mentang mentang pengantin baru lupa waktu." Nadine mengeluarkan semua amarahnya kepada sepasang pengantin di hadapannya yang sama sekali tak merasa bersalah. Apalagi saat melihat bekas gigitan grandong di leher serta rambut yang masih sedikit basah dibiarkan terurai begitu saja.
"Ah, mak kayak gak pernah muda aja," sahut Rey.
Seketika Pita langsung menginjak kaki Rey dibawah sana dengan kuat hingga membuat sang empu mengaduh kesakitan.
"Sudah berani kau ya?! Baru satu malam menjadi menantu sudah berani melawan," omel Nadine.
"Sudah, kita sarapan dulu. Tapi setelah sarapan jangan bilang kau bisa lari dari kami," imbuh ayah Pita.
Rey dan Pita hanya saling memandang. Keduanya benar benar tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga akan diinterogasi lebih lanjut.
Acara sarapan pagi berjalan dengan lancar. Tetapi ada yang kurang yaitu kehadiran Asian dan Ilham yang tak ikut hadir dalam acara pagi ini. Padahal seingat Rey kakaknya juga ikut menginap di hotel tetapi pagi ini Rey tak melihatnya hingga menimbulkan pertanyaan yang mendalam.
"Kak Asiah mana?" Tiba tiba Rey menanyakan keberadaan kakaknya.
"Biasa, istri pengusaha sukses itu kerjanya ngeluyur ikut suami dinas. Gimana mau cepat punya momongan kalau ngeluyur terus," sahut ibu Rey.
Saat itu juga tubuh Pita membeku. Ia menggigit bibirnya. Bagaimana jika kelak dirinya juga tak bisa memberikan momongan untuk keluarga Rey, pasti orang tuanya akan sangat merasa kecewa, mengingat pernikahannya dengan Danar yang juga tak kunjung memberikan keturunan.
"Itu bukan ngeluyur, Bu. Wajar saja kak Asiah nempel kayak perangko, mas Ilham aja matanya jelalatan kalau lihat yang bening dikit. Ibu sih, dulu main iya iyain aja perjodohan itu." Rey memberi pembelaan kepada kakaknya yang sengaja menikah karena dijodohkan. Untung saja keduanya bisa saling mencintai, kalau tidak bisa bisa rumah tangga sang kakak sudah hancur sejak lama.
Setelah menyiapkan sarapan, seperti apa yang diucapkan oleh ayah mertua, Rey ditodong dengan pertanyaan yang terbilang sangat konyol.Sedangkan Pita memilih tukar posisi dengan ayah mertuanya agar mereka lebih leluasa dalam bertanya jawab.
__ADS_1
"Kau harus jawab jujur!" Ayah Pita mulai menginterogasi lebih dahulu.
"Jawab apa ayah mertua?" Rey mengernyitkan dahinya.
"Tadi malam kau cetak berapa gol ke gawang?" bisik ayah Pita.
"3-0 atau 2-0," bisik ayah Rey dari telinga sebelahnya.
Rey menggeleng tak mengerti dengan pertanyaan konyol dari kedua lelaki beda usia di samping kanan dan kirinya.
"Semalam aku gak main bola, Yah," balas Rey bingung.
"Jadi semalam kau main apa?" tanya ayah Pita.
Rey hanya mengembangkan senyumnya, dalam diam ia mengingat kejadian tadi malam yang baru saja berulang tadi pagi di kamar mandi.
"Main … " Rey menelan saliva, masa iya Rey harus mengatakan jika tadi malam ia bermain di kebun sempit milik istrinya. Kan gak sopan.
"Nah … iya nyetak berapa gol?" Kini ayah Rey yang sangat antusias dengan jawaban Rey.
"Daripada berbelit belit, tadi malam kau manjat berapa ronde. Keduanya ayah kau merasa sangat penasaran. Bahkan mereka sampai taruhan demi menebak jumlah ronde kalian tadi malam." Nadine yang sudah muak dengan pernyataan konyol langsung membeberkan maksud ucapan suami dan besannya yang sama sama kepo.
Pita yang ada di dekat ibunya sangat terperanjat. Wajahnya memerah seketika, malu jelas iya. Ada ya, orang tua yang kepo atas apa yang dilakukan anaknya pada malam pertama, seperti tak pernah menjadi pengantin baru saja.
"Oh itu …" Rey menyahut.
"Ho'o. Berapa kosong?" tanya kedua ayahnya dengan cara bersamaan.
"Em … Empat kali," lirih Rey.
"Apa?" kedua ayahnya pun terperanjat tak percaya. Ternyata tebakan mereka salah, karena Rey menambah lagi saat berada di kamar mandi.
🍃BERSAMBUNG🍃
JANGAN LUPA LIKE, TAMPOL BUNGA JUGA GAK PAPA 🤭
NAH, SELAGI NUNGGUIN BAB SELANJUTNYA UP LAGI, YUK MAMPIR DULU DI NOVEL KARYA TEMEN TEH IJO YANG TAK KALAH SERUNYA.
JUDUL NOVEL ; POOR BEAUTIFUL WONDER
AUTHOR : GUPITA
__ADS_1