
SEGENGGAM LUKA
BAB 32 || MENGHILANG
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN DONG BIAR GAK ANYEP KEK KUBURAN!
Hingga malam, nomor Rey masih tidak bisa untuk dihubungi. Pita yang memegang buket merasa sangat bersalah saat membaca kartu ucapan selamat kepada dirinya atas pencapaian yang luar biasa dan selamat akan kontrak perdana untuk tampil di televisi.
Pita tidak mungkin menanyakan keberadaan Rey kepada Asiah. Lagian Rey yang memilih tinggal di apartemen pribadinya tidak akan membuat Asiah tahu akan keberadaan Rey.
Pita melalui malamnya dengan penuh kegelisahan. Jika waktu bisa diputar kembali, Pita tidak akan mengusir Rey namun Pita tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Saat ini Pita hanya bisa berdoa agar Rey besok sudah kembali seperti biasanya. Datang menjemput dirinya serta selalu membuatnya kesal dan tertawa. Tanpa disadari bayangan Rey telah memenuhi ruang kosong dalam hati Pita
Mentari telah menyingsing dengan kilauan emasnya, membuat ruangan kamar sedikit silau karena ternyata Pita lupa menutup gorden jendela tadi malam. Pita menguap sambil merenggangkan otot ototnya sambil melirik sebuah jam weker diatas nakasnya.
"Udah siang ya," gumam Pita saat melihat waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi tetapi mengapa Yuna tidak membangunkan dirinya.
Pita bangkit seraya manggil nama Yuna. Merasa namanya dipanggil, Yuna yang masih berada di dapur menyahuti dengan sebuah teriakan yang menggema di seluruh ruangan tersebut.
"Iya Bu," teriak Yuna.
Pita segara menuang air minum dan melirik Yuna yang tengah sibuk membuat sarapan.
"Kenapa gak bangunin tadi? Udah jam berapa ini?" protes Pita.
Yuna menatap pelan ke arah Pita dengan mata panda yang sangat jelas terlihat. Bagaimana Yuna bisa membangunkn Pita saat dirinya tahu bahwa Pita baru tidur pukul 4 dini hari saat Yuna keluar kamar untuk ke kamar mandi. Yuna masih melihat lampu kamar Pita masih menyala dan melihat Pita yang duduk termenung di atas sofa.
"Maaf Bu saya tadi ke pasar, jadi lupa bangunin Ibu," jelas Yuna. Memang benar Yuna baru saja pulang dari pasar karena persediaan sayur sudah tidak ada. Beruntung jarak pasar dengan rumah Pita tidaklah jauh.
"Oh." Pita kembali lagi masuk ke dalam kamar. Sia sia dirinya ingin protes jika pada kenyataannya Yuna memang sedang pergi.
Pagi ini setelah sarapan Pita langsung pergi menuju Cafe terlebih dahulu sebelum menuju studio. Lama Pita menunggu namun tak ada tanda tanda Rey akan menjemput. Akhirnya Pita memutuskan untuk pergi sendiri menggunakan taksi online karena Pita yang tidak bisa mengemudi.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa Cafe aman, Pita baru berangkat menuju studio.
Sesampainya disana Pita masih belum bisa menemukan keberadaan Rey. Bukan hanya Pita yang kehilangan Rey, namun seluruh crew juga heran atas menghilangkan Rey.
"Gak biasanya Rey pergi gak ada kabar," celoteh salah seorang model lainnya.
"Iya, selama gue kerja bareng dia baru kali ini menghilang tanpa kabar. Kan semua jadi kateter kalau gak ada Rey," sahut yang lainnya.
Pita hanya terdiam sambil mendengarkan celoteh pagi ini. Hampir semua sudut ruangan membahas tema yang sama tentang kepergian Rey yang tanpa kabar.
Jujur Pita merasa sangat bersalah atas kejadian ini. Pita menganggap bahwa kepergian Rey ada sangkut pautnya dengan kejadian kemarin. Apakah Rey merasa sakit hati?
Rey kamu dimana? Jangan buat aku merasa bersalah seperti ini. Please kembalilah.
Pita mengikuti pemotretan dengan tidak fokus hingga beberapa kali harus di tegur oleh Riyan. Riyan merasa heran, tidak biasanya Pita melakukan banyak kesalahan seperti ini.
"Stop!" teriak Riyan.
"Iya maaf," lirih Pita.
"Ok. Kita break dulu 10 menit!" perintah Riyan.
Riyan pun tak jera untuk menghubungi Rey yang tak tahu rimbanya dimana. Baru sehari Rey mangkir tanpa kabar berita semua kacau.
"Dimana kau, Rey!"
🌿🌿🌿🌿
Pita tidak bisa menahan rasa gundahnya dan nekat menanyakan keberadaan Rey kepada Asiah. Namun rasanya itu percuma karena Asiah juga tidak mengetahui keberadaan Rey, tetapi Asiah berjanji akan membantu mencari dimana keberadaan Rey.
Tidak sampai disitu, Pita juga nekat untuk mendatangi apartemen Rey. Lagi lagi Pita harus menelan kekecewaan karena ternyata Rey juga tidak ada disana.
Sebegitu sakit hati kah Rey terhadap sikap Pita kemarin.
__ADS_1
Rey, dimana sih sebenarnya kamu! Jangan buat aku khawatir, Rey!
Hati kecil Pita seakan ingin menjerit saat tidak bisa menemukan dimana Rey berada.
Pita pulang dengan langkah gontai membuat Yuna sangat heran. Berangkat buru buru dan pulang langkah lesu.
"Ibu kenapa?" tanya Yuna.
Pita saat ini malas untuk berbicara meskipun niat Yuna itu baik. "Tau ah," ketus Pita kemudian mengurung diri di kamar. Yuna semakin tidak mengerti, apakah majikannya sedang ada masalah mengingat majikannya baru saja bercerai dengan suaminya? Apakah Danar menyakiti Danar lagi?
Beberapa kali Yuna mengetuk Pintu kamar Pita namun Pita menolak untuk membuka dan mengabaikan suara Yuna yang terus memanggilnya.
Malam semakin larut, Pita masih betah mengurung diri dikamar hingga membuat Yuna benar benar sangat khawatir.
"Bu, Ibu kenapa? Buka dong pintunya!" pinta Yuna.
"Bu… Ibu makan dulu!" Tak hentinya Yuna membujuk Pita untuk keluar. Namun, sepertinya itu hanya sia sia karena Pita tetap mengabaikan panggilan Yuna.
"Aku yakin, ibu sedang ada masalah. Apa jangan jangan baru ketemu Jihan lagi?" terka Yuna.
Di sebuah kamar yang tidak terlalu besar Jihan mengelus pipi Danar yang tengah terlelap. Rasa puas memiliki Danar sudah di depan mata, tinggal meresmikan secara negara saja pernikahan mereka. Anehnya Jihan tidak menyesal hidup bersama Danar yang sudah tidak memiliki apa apa dan sedang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan baru. Bagi Jihan bisa hidup bersama Danar saja itu sudah lebih dari segalanya.
Tiba tiba saja ponsel Jihan bergetar. Sebuah panggilan dari seseorang membuat Jihan harus mengangkat. Jihan meninggalkan kamar untuk menerima panggilan tersebut dengan rasa was was agar Danar tidak terbangun.
Sebisa mungkin Jihan berbicara sangat pelan.
[Za, kamu tahu kan sekarang Danar itu udah kere, jadi apa yang harus dikuasai lagi?]
[Iya. Aku tahu. Kamu juga jaga diri baik baik ya! Bye!]
Jihan pun segera mengakhiri teleponnya. Ia memutar kepala bagaimana caranya merebut kembali aset milik Danar yang sudah berada di tangan Pita. Jihan melirik perutnya yang sudah sangat terlihat dengan perkiraan usia kandungan 6 bulan.
Sepertinya aku harus menggunakan kamu lagi, Nak. Baik baik kamu di dalam perut mami ya. Jihan tersenyum licik sambil mengelus perut buncitnya. Mungkin sekarang Jihan harus bersakit sakit dahulu sebelum kenyataan yang sesungguhnya berpihak kepada dirinya.
__ADS_1