
SEGENGGAM LUKA
BAB 42 || KEPERGIAN PITA
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
Selama satu hari Rey lebih mengurung dirinya di ruang kerjanya. Bahkan Winda sampai mendatangi studio karena Rey yang tak kunjung menjawab panggilan teleponnya. Winda sangat terkejut saat melihat balutan kain kasa di tangan Rey. Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada Rey saat ini.
"Rey kamu kenapa sih dari tadi diem aja kayak patung," ujar Winda.
Winda tak kalah khawatir saat melihat tangan Rey terluka. Tetapi apa boleh buat, Rey segera menepis tangan Winda.
"Pulang sana! Berisik!" usir Rey.
"Kamu ini kenapa sih? Kenapa kalah taruhan ya? Iti berarti kita akan segera menikah dong?" Winda terlihat sangat bahagia. Jika benar Rey gagal untuk meyakinkan wanita yang dicintai maka dalam waktu dekat Rey akan menikahi dirinya.
"Ya ampun demi apa Rey? Kita akan menikah."
Katakan saja ini adalah sebuah keberuntungan bagi Winda. Harapannya menikah dengan Rey benar benar akan terjadi dalam waktu dekat.
"Mimpi!" sentak Rey.
🌿🌿🌿🌿
Pita menyibakan rambutnya saat terpaan angin menyapu rambutnya. Saat ini Pita sedang duduk di bangku taman yang tak jauh dari kompleksnya. Pita malas untuk pulang. Hatinya masih gundah.
Sebuah fakta baru dari hancurnya rumah tangganya hingga Rey yang berubah dingin kepada dirinya. Terkadang Pita merasa jika nasib baik tak pernah memihak kepada dirinya.
Hening
Sejenak Pita merenungi nasib yang tak pernah berpihak kepada dirinya. Tak ingin larut, Pita memilih melanjutkan perjalanan pulang setelah jadwal pemotretan hari ini dibatalkan. Pita berjalan gontai menyusuri trotoar jalan meski sedikit panas yang menyengat kulitnya.
Pita seakan putus asa, bagaimana ia harus menghadapi kenyataan yang ada.
__ADS_1
Waktu terus berlalu hingga tak terasa seminggu telah berlalu. Hari hari sepi tanpa adanya canda tawa bahkan sekedar untuk berbicara saja hampir tidak pernah terdengar. Melewati harinya tanpa semangat hingga membuat orang disekitarnya merasa sangat heran dengan perubahan atas diri Rey.
Ya, selama satu minggu setelah Rey mengusir Pita, kini wanita yang telah merasuki jiwanya itu pergi tanpa kabar berita. Bahkan rumah Pita juga terlihat kosong. Sebelum pergi, Pita memang sempat meminta izin kepada Riyan untuk cuti karena ada suatu hal penting yang tak bisa disebutkan. Pada surat tersebut hanya cuti selama 3 hari namun, nyatanya sudah seminggu Pita tak ada kabarnya. Bahkan ponsel Pita juga tidak bisa dihubungi.
Rey merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengontrol emosinya saat itu. Jika bisa meminta, Rey akan menarik ucapannya kala itu dan akan berterima kasih kepada Pita. Tetapi sayang, Rey terlalu emosional.
Sudah 2 hari Rey tidak berangkat ke Studio. Ia lebih memilih mengurung dirinya di apartemen tanpa ingin di ganggu. Bahkan Rey telah membatalkan pertunangannya dengan Winda tadi malam dan membuat kesehatan ayah Rey menurun hingga harus di rawat di rumah sakit.
Asiah selaku kakak Rey murka saat mendengar Rey memutuskan pertunangannya dengan Winda dan membuat kesehatan ayahnya drop.
Asiah menggedor pintu apartemen sambil berteriak, bahkan Rey sama sekali tak peduli hingga Asiah meminta pihak keamanan untuk membantunya membukakan pintu tersebut.
Asiah menggeleng pelan saat melihat isi dari dalam apartemen milik Rey yang seperti kapal pecah.Â
"Rey… Reyhan!" teriak Asiah.
"Ya ampun anak ini!" teriak Asiah lagi saat melihat masih menggulung tubuhnya pada balutan selimut tebal. Ruangan yang gelap tanpa lampu yang dinyalakan serta gorden jendela yang masih tertutup rapat membuat ruangan gelap seperti tak berpenghuni.
"Bangun!" paksa Asiah kasar.
Asiah menautkan alisnya. Harusnya dia yang marah bukan Rey!Â
"Kamu kenapa sih? Ada masalah apa? Coba sini cerita sama aku!" Asiah menyibakkan selimut Rey membuat Rey merasa sangat kesal.
"Apaan sih? Pulang sana!" usir Rey.
Diusia yang baru memasuki 24 tahun, emosi Rey masih naik turun belum stabil. Apalagi Rey anak bontot yang selalu diberi kebebasan oleh orang tuanya membuatnya belum bisa berpikir lebih dewasa dan masih Plin Plank.
"Jangan kayak anak kecil! Malu udah jenggotan masih kayak anak anak!" seru Asiah.
Rey dan Asiah duduk di ruang tengah yang masih berserak dengan barang barang milik Rey. Asiah mencoba untuk mencari tahu penyebab dari Rey yang mengambil keputusan sepihak hingga ayahnya harus drop akibat keputusan Rey.
Asiah menyeduh coffee sachet agar suasana tidak menegangkan. Asiah yakin jika Rey saat ini sedang ada masalah.Â
Setelah merasa cukup tenang, Asiah mencoba untuk mencari tahu alasan Rey memutuskan pertunangannya dengan Winda. Dari situ Asiah tahu bahwa ternyata Rey tidak menyukai Winda terlebih saat ini Rey telah memiliki wanita yang dia cintai namun sayangnya setelah mengetahui bahwa Rey telah bertunangan wanita itu pergi hingga membuat Rey frustasi.Â
__ADS_1
"Oh… Jadi hanya karena perempuan kamu kayak gini," sindir Asiah.
"Kak… Kakak tahu kan, selama ini aku gak pernah tertarik kepada perempuan dan saat aku sudah nyaman dengan dia, dia malah pergi," adunya pada Asih.
"Ya kejar daong, Rey!" Asiah memberi semangat.
"Gimana mau ngejar Kak kalau dia perginya sama mantan suaminya," keluh Rey lemas.
Seketika itu mata Asiah membulat saking terkejutnya. "Apa? Jadi kamu mencintai janda? Astaga Rey? Perawan belum pada punah lho!"Â
Rey melirik malas kepada Asiah. Percuma saja ia bercerita pada akhirnya akan ditertawakan. Memangnya mengapa jika janda? Yang penting kan setia. Ah, Rey lupa jika cintanya terhadap janda muda itu hanya bertepuk sebelah tangan. Miris bukan?
Cukup lama Asiah dan Rey bertukar cerita. Sedikit demi sedikit Rey telah bisa terbuka meskipun masih suka terdiam sendiri. Hari semakin malam membuat Asiah pamit untuk pulang karena sudah dijemput oleh suaminya.
"Ingat Rey, jangan mengurung diri terus! Jenguk ayah di rumah sakit dan minta maaf kepadanya! Katakan yang sebenarnya jika kamu sudah memiliki kekasih agar ayah tidak selalu khawatir! Agar ayah juga tahu jika kamu masih normal doyan sama lobangnya buaya!" Asiah tertawa puas mengiring langkah kepergiannya.
"Dasar kakak tak berakhlak!" teriak Rey.
Menuruti ucapan Asiah, malam ini Rey beranikan diri untuk menjenguk ayahnya yang sedang terbaring di rumah sakit. Meski keadaanya sudah membaik namun, pihak rumah sakit masih melarangnya untuk pulang karena belum seutuhnya sehat.
Rey memberanikan diri untuk mendekati ayahnya yang sedang tertidur pulas. Disebelahnya ada seorang wanita yang dengan setia menamai ayahnya yang sedang tertidur, dia adalah Aminah, ibu Rey.
"Ibu," sapa Rey.Â
Rey segera memeluk tubuh wanita tengah baya tersebut. "Maafin Rey, ya Bu."
Sebagai seorang ibu, Aminah menggelengkan kepala. Semua ini bukan salah Rey. Mungkin selama ini Aminah dan suaminya yang sangat mengkhawatirkan keadaan Rey hingga tanpa menanyakan persetujuan darinya tiba tiba menjodohkan Rey dengan Winda dan melangsungkan pertunangan tanpa meminta persetujuan dari Rey. Aminah sangat menyesal telah mengambil keputusan yang sepihak. Mereka tidak tahu jika Rey ternyata masih normal dan memiliki wanita lain yang ia cintai.
"Ayah minta maaf, Rey," lirih Abdullah, ayah Rey.
Rey tersentak melihat ayahnya berusaha untuk bangkit. "Maafkan ayah yang egois. Ayah tidak tahu kalau kamu sudah memiliki wanita yang kamu cintai," lirih ayahnya lagi.
Rey semakin bingung mengapa tiba tiba orang tuanya meminta maaf kepada dirinya dan mengetahui semuanya.Â
Rey terdiam sejenak, ini pasti ulah kak Asiah. Dasar wanita tidak bisa dipercaya! Awas kau kak.Â
__ADS_1