SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
CALON ISTRI


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 64 || CALON ISTRI


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA


Degup jantung Pita sudah tak karuan lagi saat langkah kakinya telah menyentuh anak tangga teras rumah kebesaran Rey. Pita memegang erat lengan Rey berharap tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Rey mencoba meyakinkan Pita bahwa semua akan baik baik saja.


Derap langkah keduanya membuat semua mata yang tengah menunggu terkejut saat melihat kedatangan Pita yang ternyata adalah tamu istimewa malam ini. 


Rey sempat mengatakan bahwa malam ini dirinya akan pulang ke rumah utama dengan membawa oleh oleh calon menantu yang tengah di perjuangan selama hampir dua bulan lamanya.


Disaat yang bersamaan, Asiah turun dari tangga dan melihat Pita tengah diapit oleh Rey.  "Pita," gumam Asiah.


Pita menarik kedua garis simpul di bibirnya saat netranya bertemu dengan Asiah


 


Tak hanya Asiah yang terkejut, Aminah sang ibunda Rey juga sangat lebih terkejut bahwa Pita adalah wanita yang mampu menggoyahkan hati Rey yang sangat tertutup. Begitu juga dengan Abdulah, meski pernah merasa kecewa dengan keputusan Rey tetapi dia mencoba untuk menghargai keputusan anak bungsunya yang memang keras kepala. Bahkan Abdulah tidak menyangka bahwa Pita yang mampu menaklukkan hati Rey.


"Malem Tante, Om." Pita menyapa kedua orang tua Rey terlebih dahulu sebelum menyapa Asiah dan Ilham, suami Asiah.


"Malem juga, sini duduk." Aminah menarik sebuah kursi untuk Pita tepat di sebelahnya tetapi Rey segera menghadang.


"Its … Bukan disini Bu. Masa iya berhadapan sama mas Ilham? Ntar matanya jelalatan sama calon istri aku dong," protes Rey.


Asiah yang baru saja bergabung hanya menggelengkan kepalanya. Mohon di maklumi saja, selama ini Rey yang tidak pernah menjalin kasih dengan siapapun pasti akan terlihat sedikit posesif sekalipun dengan kakak iparnya sendiri.


"Lagian mas Ilham juga udah punya yang bisa disentuh, diraba dan dirasakan. Nah situ …?" sindir Asiah.


Ucapan Asiah mampu membuat pipi Pita merona. Merasa malu dengan sikap Rey yang terlalu posesif.


"Ah, Ibu  lupa. Ya udah dekat sama Ayah aja," tawar Aminah.

__ADS_1


Lagi lagi Rey menolak, membuat Pita semakin kesal akibat dirinya harus berdiri lebih lama.


"Enak aja deket Ayah.  Gak bisa!" tolak Rey.


"Ya sudah kalau takut langsung bungkus aja terus bawa ke kamar!" ketus Asiah.


"Hanya masalah tempat duduk saja kalian ribut. Mau di lanjutin gak ini acaranya? Ayah mau meeting online." Akhirnya Abdulah membuka suara.


Pada akhirnya Rey mengalah. Saat ini Pita tengah diapit oleh Rey dan mamanya, sedangkan di depannya ada Asiah yang terus menatapnya dengan tatapan susah diartikan. Lama tidak bertemu Pita ingin bercerita lebih tetapi Pita harus bisa menempatkan diri, sedang berada dimana dirinya.


Kegugupan Pita sirna sudah saat kedua orang tua Rey sama sekali tidak merasa keberatan dengan hubungan mereka. Sebenarnya orang tua Rey sudah mengetahui jika wanita yang Rey perjuangan adalah seorang janda tetapi mereka tidak tahu jika itu adalah Pitaloka, teman Asiah semasa kuliah.


Rey merasa heran saat kedua orang tuanya sudah mengenal Pita dengan baik. Semua kata kata yang ingin Rey lakatan sirna sudah. Pengenalan Pita kepada keluarganya ternyata sesimpel itu, tidak butuh drama panjang.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Abdullah.  Hubungan Rey bukanlah sebuah rahasia lagi di dalam keluarganya meski saat itu mereka tidak mengetahui siapa sosok janda yang tergila gila kepada anaknya.


"Kalau Rey maunya langsung kawin, Yah," celoteh Asiah.


"Nikah dulu baru kawin. Iya kan Ta … eh, iya kan yank?" Rey meminta pendapat kepada Pita.


"Tante gak nyangka lho jika Pitaloka yang mampu meruntuhkan kerasnya batu karang, kirain hanya ombak laut saja yang bisa mengikisnya, eh ternyata Pita pelakunya," kekeh Aminah.


"Bu … udah dong! Kalian semua suka ya godain calon istriku? ntar kalau kabur kalian mau tanggung jawab?" Rey sebenarnya merasa malu sendiri karena ujungnya dialah yang akan menjadi bahan bullyan keluarganya.


"Kalau kabur tinggal cari lagi penggantinya," sahut Asiah.


Astag … ini kakak sama adek gak bisa apa sehati gitu? Baru kali ini kakak sama adek sama sama sengklek. Belum lagi mamanya yang hampir mendekati juga. Kalau bapaknya sih masih kelihatan kalem belum tahu bagaimana aslinya. Jangan jangan malah lebih parah dari ketiga orang ini.


"Rey … kamu belum jawab pertamanya ayah lho!"  Abdulah mengingatkan kembali hubungan Rey dan Pita akan dibawa kemana.


"Kan Rey udah bilang, Yah. Nikah dulu baru kawin. Tapi sebelum itu kita akan melamar calon istriku di hadapan bapaknya di Medan sana," ujar Rey.


.


.

__ADS_1


.


Acara dinner malam ini telah usai namun, sepertinya cuaca sedang tidak berpihak kepada Pita. Nyatanya saat hendak pulang hujan pun datang deras membuat Pita menunda dirinya untuk pulang. 


Meski cuaca sedang tak bersahabat namun hatinya merasa sangat bahagia luar biasa. Keluarga Rey ternyata menerima Pita apa adanya tanpa memandang statusnya saat ini.


Dan dari hasil keputusan, bulan depan orang tua Rey mau menemui orang tuanya yang berada di Medan sana.


"Sudah yakin ingin menikah?" Tiba tiba suara sedikit serak mengagetkan Pita dan Rey yang tengah duduk di ruang tengah.


Siapa lagi jika bukan suara Ilham yang sejak tadi membungkam.


"Maksud mas Ilham apa sih?" Rey tidak terima atas pertanyaan Ilham yang seolah sedang meragukan keputusan mereka.


"Apa kai sudah benar benar melupakan Danar, cinta pertama yang kau banggakan itu?"  Mata Ilham melirik Pita.


Pita membeku sesaat. Mengapa Ilham tidak percaya jika dirinya telah melupakan Danar sepenuhnya. Atas dasar apa Ilham mempercayai keseriusan Pita.


"Aku hanya takut saja adik iparku hanya menjadi bahan pelarianmu semata."


Rey yang mendengar merasa sangat geram. Sejak kapan mulut Ilham menjadi lemas seperti perempuan. Inilah akibatnya jika perempuan yang selalu diatas membuat lelaki berubah bak mulut laki laki


"Mas Ilham jaga ucapanmu ya! Aku lebih mengenal Pita dari padas Ilham." Sura Rey meningkat satu level.


Ilham hanya terkekeh pelan. "Sebelum kamu mengenal dia, aku sudah mengenal dia lebih dahulu, jadi aku lebih  tahu bagaimana dia."


Tangan Rey sudah mengepal hendak melayangkan bogeman di mulut lemesnya itu, tetapi Pita berusaha mencegah dan menyuruh Rey tidak perlu memikir ucapan Ilham. Pita sebenarnya merasa heran mengapa Ilham tiba tiba tidak menyukai dirinya. Apakah ini ada hubungannya dengan Danar?


...🍃 BERSAMBUNG 🍃...


HALO HALO YANG MASIH PENASARAN JANGAN LUPA TUNGGUIN NOVEL INI UP LAGI TAPI SAMBIL MENUNGGU NOVEL OTHOR INI UP KALIAN BISA SINGGAH KE NOVEL TEMAN OTHOR.


JUDUL NOVEL : ANTARA JERITAN DAN HARAPAN


AUTHOR : IBN MUCHSIN

__ADS_1



__ADS_2