
SEGENGGAM LUKA
BAB 77 || MERABA-RABA
~TEHBIJO~
SELAMAT MEMBACA, MAAF BARU BISA NONGOL 🙏🏻
Seminggu telah berlalu. Tidak mudah untuk menyatukan dua karakter yang berbeda tetapi, beruntunglah diantara keduanya masih ada yang waras untuk mengalah.
Sesuai permintaan sang ayah dan juga suaminya, Pita telah menyerahkan semua aset milik Danar meskipun terasa berat. Namun, ia tidak boleh serakah. Bagaimanapun Pita tidak punya hak atas semua harta yang telah di rempasnya.
"Bu, jadi bagaimana dengan nasibku?" rengek Yuna, saat mengetahui bahwa Pita tidak lagi tinggal di rumah itu lagi.
"Kamu gak usah khawatir. Kamu cukup rawat rumah ini dengan baik, anggap rumah ini adalah rumahmu juga. Karena suatu saat nanti bang Danar akan pulang dan dia akan lebih membutuhkan bantuanmu."
"Bu, tapi saya bekerja dengan ibu, bukan dengan pak Danar," sanggah Yuna.
"Mulai sekarang rumah dan beserta isinya sudah kembali menjadi milik bang Danar, itu artinya kamu juga termasuk."
"Kok gitu? Ibu jahat!" rajuk Yuna.
"Gaji kamu tiga kali lipat dari gaji yang aku kasih lho, kamu gak mau?" Pita memberi iming iming.
Sejenak Yuna terdiam untuk berpikir lebih dahulu saat mendengar gajinya tiga kali lipat hanya untuk menjaga dan merawat rumah ini. Terlebih hanya dirinya sendiri yang tinggal di rumah ini dan di beri gaji perbulan bisa untuk membeli seekor induk sapi. Setahun saja Yuan menunggu rumah itu, ia pastikan bisa menjadi juragan sapi di kampungnya.
"Baiklah, aku bersedia untuk tinggal disini, tapi awas aja kalau gajiku gak keluar, ibu saya tuntun," ancam Yuna.
Pita tertawa pelan. "Tidak apa apa, lagian suamiku sekarang sudah menjadi orang kaya kok. Kamu tuntun, aku sogok hakimnya." Pita melepaskan tawanya sementara itu, Yuna hanya bisa mencebikan bibirnya karena merasa kesal. Tak akan ada jalan menang jika melawan mantan majikannya itu.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan cemberut gitu. Nasib kamu aman kok. Nih, tanda tangani dulu surat pernyataan penyerahan atas dirimu kepada bang Danar. Gaji kamu sudah dijelaskan disini." Pita menyodorkan lembaran kertas yang telah diberi sebuah materai. Hanya tinggal bubuhan tanda tangan dari Yuna semua kelar.
Yuna yang tidak membaca isi poin penting langsung saja membubuhkan tanda tangannya karena matanya hanya sempat membaca jumlah nominal gajinya yang membuat matanya berbinar.
"Saya dengan sadar menandatangani surat ini. Bilang saja sama pak Danar yang lama di di luar Negeri," kekah Yuna.
Pita menarik kedua garis simpulnya bibirnya melihat Yuna tidak bersedih seperti semula. Memang uang bisa merubah segalanya.
Setelah bertemu dengan Yuna, Pita segera menghubungi Danar dan mengatakan bahwa Yuna telah menandatangani surat tersebut, tak lupa Pita juga mengirimkan bukti kepada Danar
Kehidupan Pita setelah menikah kembali lagi seperti semula, hanya di rumah dan mengurus suami kecilnya yang kadang kala manja hingga membuatnya sakit kepala. Tingkah Rey kadang lebih dewasa tapi kadang juga seperti balita.
.
.
.
Rey menautkan alisnya saat melihat menu sarapan yang sama setiap paginya. Dan sempat berpikir bahwa istrinya tidak bisa memasak.
"Sayang, kenapa tiap pagi cuma nasi goreng aja sih? Aku kan bosan. Kalau kayak gini mending aku makan kamu aja deh," protes Rey.
"Kalau gak mau yaudah, gak usah di makan. Sini!" ketus Pita.
"Ya ampun … gitu aja ngambek." Rey menghembuskan nafas beratnya. Seketika Rey teringat sesuatu. Hari ini adalah hari kedelapan setelah malam banjir lokal, berarti bisa dipastikan kebun yang sempit nan rindang sudah tak terendam banjir lagi. Ingin bertanya tetapi melihat wajah Pita yang kusut membuat Rey berpikir dua kali lipat lagi.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Ada yang salah kok diam aja dari tadi? Kenapa? Pengen di raba raba? Ya udah sini, sebelum aku berangkat kerja. Apa yang mau diraba, yang bawah atau yang atas," goda Rey.
Pita menatap Rey jengah. Secara garis besar tak ada salahnya Rey menanyakan tentang menu sarapan yang dihidangkan. Pita terlalu menikmati kebiasaan sebelum menikah dengan Rey hingga ia malas untuk masak. Hanya nasi goreng yang menurutnya lebih praktis.
__ADS_1
"Kamu apaan sih? Ngeraba tiap malam gak bosan?"
"Aku gak akan bosan selagi yang aku raba kamu," kekeh Rey.
"Jadi kamu juga mau ngeraba punya orang lain?" Pita menatap Rey tajam.
"Lho, kok malah ngeraba punya orang lain sih, Sayang? Punya kamu lah, sini aku raba raba."
Pita tak lagi menanggapi celotehan yang tidak berfaedah dari mulut Rey. Lebih baik segera menghabiskan sarapannya dan berselancar ke dalam ponselnya. Saat ini untuk mengusir kejenuhan, Pita sengaja menjual produk kosmetik milik Rey lewat aplikasi online shop dan juga lewat akun instagramnya. Meskipun hanya di rumah, setidaknya Pita juga berusaha agar bisnis sang suami terus berkembang dapat laba yang banyak, hidup mewah nan kecukupan serta selalu rukun dan bahagia.
Meskipun sedikit kesal, Pita tak akan lupa akan kodratnya sebagai seorang istri. Ia tetap menyiapkan perlengkapan kerja suaminya.
"Dah, jan ngambek, jelek tau. Sini sun dulu, aku mau kerja, nih." Rey berusaha mendekat untuk mencium kening Pita. Sang empu hanya diam terpaku saat merasakan sentuhan hangat dari Rey yang selam satu minggi ini rutin memberikan kecupan di sembarang tempat.
"Nah gitu dong, senyum." Rey melihat wajah Pita telah merona.
"Ya udah sana berangkat, nanti telat," ucap Pita.
"Kamu ngusir? Aku yang punya perusahaan jadi terserah aku dong mau berangkat terlambat atau tidak. Kalau saja tak mengingat ada meeting, aku pasti akan makan kamu dulu."
"Udah sana." Pita mendorong tubuh Rey agar segera beranjak pergi.
Setelah kepergian Rey, Pita segera sibuk dengan ponselnya. Namun, kali ini bukan karena bisnis onlinenya, melainkan sesuatu yang sangat penting hingga ia harus beberapa kali menelepon seseorang dengan wajah yang sangat serius.
Berpura pura acuh kepada Rey sebenarnya hal yang paling sulit, tetapi untuk melancarkan rencananya, Pita harus bersikap dingin untuk hari ini meski terasa berat.
"Rey, maaf ya. Tapi untuk kali ini aja kok." Pita menatap layar ponsel, dimana walpapernya adalah foto keduanya saat mengenakan gaun pengantin.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya Rey terus berpikir mengapa Pita pagi ini tak seperti biasanya. Padalah selama masih bobok kelon, bahkan saat baru bangun Pita memeluk erat tubuhnya. Namun, hanya karena ia protes menu sarapan saja bisa langsung ngambek. Memang kalau perempuan susah dimengerti tetapi ingin dimengerti.
__ADS_1
🍃BERSAMBUNG🍃
Kak Nur Halimah, Othor dah bela belain ngetik di bawah gelapnya cahaya lampu, karena sedang mati lampu, jangan lupa saweran untuk tante Pita ya 🤭 Nih, mata dah lengket ya 🙄🙄