SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
SADAR


__ADS_3

Berkat doa dari orang yang tulus, keajaiban itu datang. Siapa yang menyangka dengan kehadiran Pita dan bisikan-bisikan lembut mampu menggerakkan hati Rey untuk membuka mata. Terlelap dalam satu bulan lebih, bukan berarti Rey tidak mendengar setiap ucapan yang ia dengar. Dan saat Rey mendengar suara Pita, ada sebuah dorongan kekuatan untuk Rey membuka matanya.


Jari Rey tergerak membuat Pita yang masih setia menggenggam tangan Rey merasa sangat terkejut. Pita segera memanggil dokter untuk memastikan keadaan Rey saat ini.


Beberapa dokter masuk ke dalam ruangan Rey untuk memeriksakannya. Pita yang berada dalam pelukan Yuna merasa sangat gemetar, berharap ia tadi tidak sedang halusinasi.


"Yun, apa aku hanya berhalusi merasakan gerakan tangan Rey?"


Yuna tidak bisa menjadi karena memang ia tidak tahu. Tapi, semoga saja itu adalah sebuah mukjizat dari Tuhan.


"Semoga saja, Bu."


Orang tua Rey yang mendapatkan kabar dari Yuna segera mencari penerbangan awal dari luar kota untuk segera melihat kondisi sang anak yang dianggapnya sudah tiada.


Sebuah tangan kekar menyentuh pundak Pita. Sebenarnya ia tidak sanggup saat melihat Pita terlalu sedih hingga wajahnya terlihat sangat pucat.


"Bang Danar," lirih Pita.


Lelaki yang tak lain adalah Danar sangat prihatin dengan keadaan Pita saat ini. Badannya yang mulai terlihat kurus dengan kantung mata yang tebal serta rambut hanya diikat kuda saja membuat hati Danar sedikit teriris.


"Kamu harus kuat."


Pita mengangguk sambil menyeka jejak air matanya. Dalam diam Yuna melihat ada yang sedikit berubah dari Danar, entah karena baru bertemu atau memang Danar berubah.


Sekilas Danar menangkap pandangan Yuna yang membuat gadis itu segera membuang pandangannya.


Tak lama dokter keluar membuat Pita tak sabar untuk mengetahui kondisi Rey saat ini.


"Jadi, bagaimana Dok kepada suami saya?"


"Alhamdulillah … semua atas kuasa Tuhan. Pasien sudah sadar."


Pita yang mendengar kabar tersebut tak hentinya mengucapkan syukur dan bergegas untuk menemui Rey.


Di dalam sana, semua alat bantu telah dilepas. Terlihat Rey masih terbaring lemah dengan selang infusnya

__ADS_1


"Alhamdulillah Rey … akhirnya kamu sadar juga. Aku rindu." Pita memberikan pelukan kecil ke tubuh Rey yang sedang terbaring.


Rey mendong dengan tatapan tajam. "Kamu siapa?"


Seketika pelukan itu mengendur. Pita menatap Rey dengan nanar. Apakah Rey hilang ingatan?


"Aku istri kamu, Rey."


"Istri?" Rey membeo.


"Aku belum menikah. Mana mungkin aku mempunyai istri. Kamu jangan mengada-ngada ya! Dimana orang tuaku?"


Tubuh Pita melemas. Beruntung saja di belakang Pita ada Danar yang dengan sigap menahan tubuh Pita.


"Kamu gak papa?" tanya Danar.


Pita hanya menggeleng pelan.


Kini giliran Yuna yang mendekat dan bertanya kepada Rey.


"Mas Rey ingat saya?"


Mata Yuna membulat lebar serta menahan nafasnya.


Fix mas Rey hilang ingatan. Ya Allah kuatkan hati hamba terlebih hati ibu Pitaloka.


*


*


*


Dengan ditemani Danar, Pita ke ruangan dokter setelah Pita protes mengenai masalah Rey yang tidak mengingat dirinya tetapi bisa mengingat jelas orang tuanya dan juga Asiah, kakaknya.


Jadi begini, Bu. Akibatnya dari kecelakaan, ternyata pasien mengalami amnesia jenis Retrograde dimana pasien tidak bisa mengingat memori yang baru tetapi dia akan tetap menginginkan memory lamanya. Tetapi tenang saja, semua ingatan akan pulih kembali nanti. Anda jangan memaksakan pasien untuk mengingatkan hal-hal secara dipaksakan, karena itu akan berakibat fatal," jelas sang dokter.

__ADS_1


Apa amnesia. Berarti dia tidak akan mengingatku dan juga anak ini.


"Tapi Dok, berapa lama suami saya bisa mengingat saya?"


Dokter menggeleng pelan. Semua itu hanya Rey yang bisa menjawabnya.


"Mohon maaf, saya pribadi tidak tahu kapan pasien akan mengingat anda. Jika ingin cepat maka anda harus melakukan terapi."


Entah harus bahagia atau bersedih tapi kali ini Pita tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia sedang tidak suka dengan keadaan seperti ini. Dimana Rey bisa tertawa di depan orang tua dan kakaknya sementara dirinya tak teringat sama sekali.


"Kita pulang," ajak Danar.


Orang tua Rey dan juga Asiah sudah menemani Rey di ruang rawat. Meskipun Pita berada di sana, seolah dirinya terabaikan oleh rasa syukur mereka atas Rey.


"Iya, Bu. Kita pulang saja," timpal Yuna.


Sudah dua hari sejak Rey sadar, namun Pita belum juga menjenguk Rey karena kondisi kesehatan yang menurun. Morning sickness membuat dirinya harus tepar, beruntung ada Yuna yang setia mendampingi dirinya.


"Yun, gimana keadaan Rey?"


"Mas Rey udah membaik, Bu. Dan rencana hari ini sudah boleh pulang. Makanya saya beres-beres ini," sahut Yuna.


Anehnya selama dua hari ini mertua Pita tak ada menghubungi Pita maupun menanyakan bagaimana keadaan Pita saat ini. Seolah mereka tak peduli dengan keadaan Pita.


Hayo Pita kenapa tuh mertua kamu???


Halo-hola Teh ijo up lagi. Terimakasih kepada kalian yang masih stay disini 🙏


Oh iya, bentar bagi bulan Ramadhan tiba nih, Author Teh Ijo cuma ingin meminta maaf jika selama berkarya disini ada salah kata maupun tidak membalas comen kalian, tapi setidaknya semua comen kalian Teh Ijo baca kok.


MARHABAN YA RAMADHAN 😊


SELAGI MENUNGGU NOVEL INI UP LAGI MAMPIR DULU YA DI KARYA TEMAN TEH IJO


PENANTIAN DI UJUNG SENJA

__ADS_1


KARYA : ENI PUA



__ADS_2