SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
SALAH ALAMAT


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 43 || SALAH ALAMAT


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA...


Hujan rintik rintik mengawali pagi yang terlihat tidak bersahabat, mendung mengelilingi hamparan luas langit yang seolah tahu akan perasaan Rey yang sedang kacau. Mungkin dia telah memiliki sabuk kuat dari orang tuanya namun ia belum bisa menarik orang yang dicintai kedalam pelukannya. Rasa yang kian mendalam merasa Rey benar benar telah jatuh cinta kepada janda muda sangat dalam. Kepergian Pita seolah tanpa ada kabar berita seolah menyayat hatinya. Rasa bersalah pun membumbung tinggi di hatinya.


Sejak kepergian Pita, Rey berusaha dengan keras mencari keberadaan wanita tersebut meski sedikitpun Rey tidak tahu dimana Pita berada, yang terpenting baginya tiada hari tanpa mencari dimana keberadaan Pita.


Pagi ini semangat Rey luntur saat melihat alam yang sedang tidak bersahabat. Bagaimana Rey bisa mencari Pita jika diluar sana hujan makin deras membuat hatinya semakin gundah.


Jenuh tidak bisa kemana mana, Rey mencoba berselancar ke akun media sosialnya untuk mengusir rasa bosannya


Tangannya dengan lincah segera mencari akun sosial yang digunakan oleh Pita. Awalnya biasa saja saat melihat foto Pita dan Yuna sedang berpose sambil menyeret koper mereka. Dengan jeli Rey membaca sebuah captionnya.


"See you Java Island Welcome Sumatra Island"


Saat itu juga tubuh Rey melemas. Meskipun ia mencari sampai patah kaki tak akan menemukan keberadaan Pita karena kemungkinan Pita sedang pulang kampung. Karena caption tersebut mengatakan bahwa Pita sedang berada di pulau Sumatra, berarti bisa jadi kan Pita pulang ke Medan.


"Tan, kenapa gak bilang kalau pulang kampung sih? Kalau tau kan aku gak capek muter nyari tante," gerutu Rey.


Merasa percuma saja akan usahanya yang tak akan pernah berhasil, Rey menggulung lagi dirinya ke dalam selimutnya.


🍃           🍃           🍃             🍃


Jika di lain pulau sedang merasakan dingin akibat hujan yang mengguyur maka di lain pulau, cuaca sangat terik nan panas hingga membuat siapa saja tidak sanggup untuk berada di luar rumah lama lama. Jika kata orang Medan adalah kota yang dingin di pulau Sumatera, maka itu tidak berlaku kepada Yuna yang baru pertama kalinya menginjakan kakinya di kota tersebut.


"Bu… Kapan kita pulang? Aku udah gak betah," rengek Yuna.


Pita yang masih terlihat lincah membantu masak di dapur mengedikan bahunya.


"Entah kapan, yang jelas menunggu acara pesta ini selesai. Mungkin paling cepat satu minggu lagi," sahut Pita.


Tubuh Yuna terasa lemas tak bertulang. Jika satu minggu lagi dirinya berada disana bisa dipastikan kulitnya akan segera berubah warna. Percuma selama ini Pita merawat kulitnya dengan sebaik mungkin dalam kenyataan harus berbuah warna dalam sekejap.


"Bu… Bisa bisa pas kita pulang, kulit ini sudah hitam," celoteh Yuna.


"Siapa bilang? Kamu gak lihat perempuan disini cantik cantik, kulit mereka putih bersih," sambung Pita lagi.


Yuna terdiam saat ucapan Pita ada benarnya. Selama sepekan disini Yuna menang mengamati gadis gadis yang hilir mudik ke rumah Pita. Mereka cantik, putih dan mayoritas tinggi.

__ADS_1


Pita menghilang bukan karena ingin putus asa atau marah kepada Rey. Bukan juga untuk balas dendam kepada Rey tetapi, Pita harus pulang karena Bang Ucok akan menikah. Karena dia anak laki laki maka harus wajib untuk manortor.


Oleh sebab itu Pita pulang kampung dengan alasan ada keperluan yang tidak bisa dijelaskan selama 3 hari. Jika Pita  mengatakan 2 minggu, sudah yakin Riyan akan menolak cutinya.


Disisi lain, seorang lelaki dengan sebuah ransel sudah siap untuk berangkat. Meskipun tak ada yang mengantar kepergian, Rey berani. Rey juga sudah biasa hidup mandiri di luar Negeri sana saat dia sekolah dahulu. Apalagi hanya di kota kecil seperti ini, yang menurut Rey tak ada apa apanya.


Dengan nekat  setelah hujan yang mengguyur sebagian kota, Rey berangkat terbang menuju Bandara YIA menuju Kualanamu. Rey sempat mengemis kepada Raka meminta alamat rumah Pita yang ada di Medan. Awalnya Raka tidak memberikan tetapi, Rey terus memaksa dan mengancam tidak akan mengorbitkan Pita lagi di dalam naungannya. Dengan pasrah Raka menyerah dan memberikan alamat rumah Pita yang ada di kampungnya.


Perasaan Rey saat ini sangat terlihat bahagia karena telah menemukan titik terang keberadaan Pita dan akn segera menemuinya. Rey benar benar tidak sabar.


"Tante, tunggu aku ya," lirih Rey.


Perjalanan yang hampir memakan waktu 3 jam membuat Rey tidak sabar untuk cepat sampai. Katakanlah jika saat ini Rey sedang lebay tetapi, dia harus membuktikan keseriusannya pada Pita sebelum Pita benar benar kembali kepada mantan suaminya.


Setelah sampai di Bandara Kualanamu, Rey dengan penuh percaya diri melangkahkan kakinya, berharap kali ini dia berhasil menyakinkan Pita termasuk juga keluarga Pita. Rey yakin jika keluarga Pita akan dengan tangan terbuka menerima kedatangan dan niat baiknya.


"Semangat, Rey!"


Berhubungan tidak ada taksi maka Rey memilih mobil travel yang lebih aman untuk menuju alamat rumah Pita yang masih jauh lagi dari Bandara. Namun, demi Bisa bertemu dengan Pita, tak menjadi masalah bagi Rey.


Mobil yang Rey tumpangi ternyata sudah berhenti di salah satu depan rumah yang memang bukan alamat tersebut karena jalan akses menuju alamat tersebut telah di portal.


"Bang, sampai sini ya! Jalan menuju sana di portal," ucap sanga driver.


"Gak jauh lagi, palingan 500 meter lagi. Abang kalau gak tau nanti tanya aja sama orang!" pesan sang driver.


Rey mengikuti saran yang diberikan kepada dirinya. Heran orang yang punya hajatan jalan umum yang ditutup. Menangnya setinggi apa sih jabatannya? Paling paling Dewan yang suka makan duit rakyat. Lihat saja  jalan umum saja sampai ditutup. Rey membatin sambil terus berjalan. Suara musik sudah mulai terdengar di daun telinganya berarti tempat yang punya hajatan tidak jauh lagi. 


Rey mencoba mengelap keringat yang bercucuran. Teriknya panas tak membuat Rey patah semangat untuk segera sampai di alamat rumah Pita. Namun, sedari tadi Rey tidak melihat tanda tanda manusia yang berkeliaran di jalan. Apakah mereka juga dilarang keluar rumah juga?


"Tan, rumah tante itu dimana sih? Perasaan udah hampir 1 kilo aku jalan tapi belum juga menemukan alamat yang diberikan Raka. Jangan jangan Raka ngibulin nih? Wah… Parah! Mesti diberi pelajaran tuh orang! Udah jauh jauh Jogja- Medan ternyata cuma dikibulin! Sengguh keterlaluan, Raka!" gerutu Rey sepanjang perjalanan. Kaki Rey terasa pegal. Jika kata sopir tadi hanya sekitar 500 meter tetapi, ini sudah 1 kilometer lebih belum juga sampai.


Di mana, di mana, di mana?


Tinggalnya sekarang di mana?


Ke sana kemari membawa alamat


Namun yang kutemui bukan dirinya


Sayang, yang kuterima alamat palsu


Kutanya sama teman-teman semua

__ADS_1


Tetapi mereka bilang tidak tahu


Sayang, mungkin diriku sudah tertipu


Membuat aku frustasi dibuatnya


Rey memilih beristirahat sejenak di sebuah pos ronda. Kakinya sudah sangat letih.


"Haus lagi," keluh Pita.


Rey yang lelah mengibaskan tangannya agar mendapat angin. Jujur saja ini adalah pengalaman pertama bagi Rey, jalan kaki di bawah terik dengan jarak 1 kilometer lebih.


Saat Rey sedang beristirahat  tiba tiba lewat segerombolan anak anak yang sedang berlari-lari. Rey segera bangkit, berharap bisa menanyakan alamat tersebut kepada anak anak yang sedang lewat.


"Dek, tunggu!" panggil Rey.


"Apa Bang," jawabnya.


"Sini dulu!" perintah Rey. 


Seketika anak anak itu mendekat kepada Rey dengan heran karena seperti mereka baru pertama kali melihat sosok Rey.


"Abang orang baru, ya?" tanya salah satu anak dari mereka.


"Tau aja sih? Eh kalian tau gak alamat ini?" Rey segera memberikan kertas putih yang bertuliskan sebuah alamat.


"Abang tamu kesasar ya?" tawa anak anak setelah membaca kertas tersebut.


Rey semakin mengernyitkan keningnya merasa heran. Jadi apakah betul jika alamat itu tidak benar? Ah, awas saja kau Raka! 


"Alamatnya salah ya?" lirih Rey.


"Gak salah kok, Bang? Abang kawannya bang Ucok ya?"


Rey menggeleng. Rey kesini untuk mencari Pita, bukan Ucok.


"Jangan jangan Abang mantannya pengantin perempuan ya. Wah, Abang telat, mantan Abang udah nikah tadi Gereja," sahut salah seorang anak.


Rey semakin tidak mengerti dengan ucapan anak anak ini yang semakin ngelantur. Rey mengacak kasar rambutnya, berharap bisa mendapatkan bantuan namun, nyatanya dia malah semakin dibuat pusing.


"Udahlah, kita antar aja Abang ini ke tempat tulang! Kasian dah jauh jauh datang kesini gak bisa ketemu sama pengantinnya," celoteh anak diantara mereka.


Dengan pasrah Rey digiring oleh kelima anak tersebut untuk menuju ke alamat tersebut. Saat ini Rey tidak bisa berbuat apa apa lagi karena dirinya yang tidak tahu tempat ini. Biar saja, setidaknya Rey bisa mencari rumah Pita kepada orang yang punya hajatan. Apalagi Pita yang sekarang sudah dikenal banyak orang. Tidak mungkin tidak ada yang mengenali Pita saat ini.

__ADS_1


__ADS_2