
SEGENGGAM LUKA
BAB 25 || PULANG KAMPUNG
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
Mengerti jika Pita butuh ruang privasi maka Rey memutuskan untuk berundur diri. Sebelumnya Rey juga berpamitan kepada ibu dan kakaknya Pita.
Rey tidak menyangka ternyata rumah tangga tante Pita sudah berada di ujung tanduk disaat karirnya sedang bagus. Namun Rey tetap salut kepada Pita yang menyimpan lukanya secara ralat.
Setelah kepergian Rey, Pita memohon kepada ibunya agar membujuk abangnya agar tidak membawa dirinya kembali ke kampung mengingat namanya sedang banyak di endorse oleh para pengusaha.
Pita sudah rela jika harus berpisah dengan Danar namun dia tidak siap jika harus meninggalkan karirnya yang baru saja ua rintis. Menjadi seorang model adalah impiannya sejak kecil dan kini impian itu telah terwujud. Pita tidak ingin melepaskannya begitu saja.
"Mak bantulah, Mak," rengek Pita.
Nadine sendiri tidak bisa mengabaikan anak rengekan anak bungsunya. Terlebih Nadine tahu jika saat ini Pita sedang merintis karirnya.
"Iya, nanti Emak bujuk Ucok. Biarkan dia meredakan emosinya dulu. Macam tak tahu bagaimana si Ucok," bisik Nadine.
Pita mengangguk pelan. Ia juga akan membujuk Ucok nanti setelah kepala sudah dingin.
Sementara itu di ruang rawat, Danar sedang mendapat perawatan dari dokter. Luka lebamnya yang berjejak di wajah dan pelipisnya yang pecah sudah di tempel dengan kain kasa oleh perawatannya.
Danar merasakan seluruh tubuhnya sakit semua bak seperti patah tulang tulangnya akibat pukulan Ucok yang sangat kuat hingga membuatnya tak sadarkan diri.
Jihan yang terus mendampingi Danar merasa lega saat Danar sudah mulai siuman.
"Mas Danar jangan banyak gerak dulu." Jihan melarang Danar untuk bangkit.
"Auw…." keluh Danar memegang sudut bibirnya yang pecah.
"Mas… Siapa sih orang itu? Punya dendam apa sama kamu kok sampai kamu dihajar seperti ini?" tanya Jihan.
Danar menatap Jihan dengan perasaan sulit diartikan lagi. Terkadang perasaan Danar ingin menjauh dari Jihan namun setelah ingin mencoba, Danar tidak bisa melakukan hal itu.
"Dia abangnya Pita," ujar Danar.
Jihan mengatupkan mulutnya tak percaya jika yang baru saja menghajar Danar adalah abangnya Pita yang dari Medan? Apakah Pita mengadu kepada keluarganya tentang masalah ini?
__ADS_1
Malam hari di kediaman Pita, Nadine barusan memberi nasehat kepada Ucok agar tidak keras terhadap Pita. Untuk masalah rumah tangga Pita, biarkan Pita menyelesaikan sendiri. Sebagai keluarga seharusnya bisa memberi support kepada Pita saat ini, bukan malah menekannya.
"Mak… Ini rantau orang. Bagaimana mungkin aku melepaskan Butet untuk tinggal disini sendirian? Kita harus bawa Butet pulang!" Danar masih bersikeras dengan keinginannya membawa Pita pulang ke Medan.
"Bang… Jangan gitu dong! Aku akan baik baik disini bersama Yuna. Dan lihatlah karirku, Bang. Impian aku terwujud, aku jadi model, Bang." Pita berusaha meyakinkan Ucok agar tak membawanya pulang kampung.
"Abang tak mau tahu, yang Abang tahu kita besok pulang bersama ke Medan!"
Ucok meninggalkan Pita dan ibunya di ruang makan. Hati Pita sangat kecewa atas keputusan Ucok yang tidak bisa ditawar lagi. Tidak mungkin Pita tenggelam begitu saja setelah apa yang dilakukan Danar terhadap dirinya. Pita masih tidak terima atas luka yang Danar torehkan di hatinya. Danar harus membayar apa yang telah diperbuat kepada dirinya. Harus!!
Semilir angin malam berhembus sangat dingin hingga Pita harus mengenakan sweater untuk menghangatkan tubuhnya.
Malam ini Pita harus mencari cara agar bisa menggagalkan rencana Ucok membawa dirinya pulang kampung besok pagi.
Rey, gumam Pita.
Terlintas bayangan Rey muncul di dalam kepalanya. Sekarang Pita tahu apa yang harus ia lakukan agar bisa menggagalkan rencana abangnya dan Rey adalah salah satu orang yang bisa menghentikan Ucok.
Pita pun segera menghubungi Rey meski waktu telah menunjukan pukul sebelas malam. Pita tahu jika Rey telah tertidur karena hingga tiga panggilan tak terjawab.
"Ayolah, Rey angkat!" Pita sangat gelisah, berharap Rey segera mengangkat teleponnya.
"Tante Pita ngapain malam malam nelepon?" Monolog Rey.
Rey pun segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo Tan, ada apa malam malam nelpon? Kangen ya? Kan ada hari esok," celoteh Rey.
Pita yang mendengar bergidik geli. Rey yang doyan bercanda membuat Pita ingin menabok mulutnya yang asal njeplak tak bisa menempatkan waktu.
"Rey jangan bercanda. Aku butuh bantuanmu, please!"
Pita pun segera mengutarakan niatnya untuk meminta bantuan Rey. Dengan terperinci Pita menjelaskan apa yang harus Rey katakan kepada Ucok besok pagi agar Ucok tidak membawanya pulang kampung.
Mendadak tubuh Rey membeku saat Pita menjelaskan bahwa abangnya akan membawanya pulang kampung. Jika itu benar berarti Rey tidak akan pernah lagi bertemu dengan Pita. Pertemuan yang masih seumur jagung harus terpisahkan jarak. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Pita harus disini dan tetap menjadi salah modelnya.
"Tenang aja Tan, aku pasti bantuin Tante," ucap Rey.
Rey merasa malam ini berjalan sangat lambat. Bolak balik ia harus membenarkan posisi tidurnya agar nyaman tetapi tetap saja matanya sangat sulit untuk memejam. Ucapan Pita masih jelas terngiang di kepala Rey. Rey harus bisa menggagalkan Ucok membawa Pita.
Hingga pukul empat dini hari Rey tak kunjung bisa terpejam hingga Rey memutuskan untuk segera bersiap menuju rumah Pita. Setelah selesai mandi Rey menatap dirinya di pantulan kaca besar. Kemeja lengan panjang serta celana jeans favorit telah melekat sempurna di tubuh Rey namun mendadak Rey menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyapu rambutnya saat mendengar suara adzan baru berkumandang.
__ADS_1
"Ssttt… Rey, kamu gila! Jam berapa ini?" gerutunya saat menyadari kekonyolannya yang telah rapi hendak ke rumah Pita, sementara waktu masih subuh.
Rey mengacak kembali rambut yang telah ternyata rapi dan menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya lagi menyesali kekonyolan yang baru saja ia lakukan demi untuk segera bertemu dengan Pita.
Sebisa mungkin Rey harus bisa bersabar hingga sang fajar menjelang nanti.
Di kediaman Pita, Nadine telah bangun lebih awal. Sebenarnya wanita itu belum puas berada di kota Gudeg tersebut. Belum sempat bisa berwisata ke destinasi yang ada di kota Guged tersebut sudah kembali lagi ke Medan. Ucok yang sangat keras dan kaku sulit untuk diajak bernego.
"Cok, serius nya kau mau bawa Butet pulang?" tanya Nadine
"Ya serius lah Mak," sahut ucok yang masih berbaring di kasur lantainya.
Nadine sebagai ibu tahu betul bagaimana sifat anak sulungnya. Jika dia sudah berkata iya, maka tidak akan pernah terbalik lagi ke kata tidak, begitulah sifat Ucok.
Pita dengan perasaan berat menuruti perintah abangnya untuk mengemas pakaian. Namun iya tetap yakin jika Rey akan datang untuk menyelamatkan hidupnya saat ini.
Yuna yang ikut mengemas pakaian Pita merasa sangat sedih. Dia tidak tahu akan berlabuh kemana setelah Pita pulang kampung. Rasa nyaman yang ia rasakan ternyata hanya mampu bertahan beberapa bulan saja.
"Kamu kenapa, Yun?" tanya Pita saat Yuna telah terisak.
"Bu, sebenarnya saya tidak rela jika harus berpisah dengan Ibu. Saya tidak tahu lagi akan berlabuh dimana, belum tentu majikan baru nanti akan baik seperti Ibu," jelas Yuna dalam isaknya.
"Siapa juga yang mau pergi? Aku cuma nurutin aja mengemas baju biar gak ribet urusannya."
Yuna melotot lebar. Disaat seperti ini majikannya masih sempat bercanda, pikir Yuna.
"Ibu gak lucu bercandanya. Saya tidak tertarik untuk tertawa." Yuna mengerucutkan bibirnya.
Pita membuang nafas beratnya. "Terserah percaya atau tidak itu urusan kamu."
🍁🍁BERSAMBUNG🍁🍁
LOHALO... MAAF TEH IJO BARU BISA HADIR LAGI. MANA NIH DUKUNGAN KALIAN UNTUK NOVEL INI???
OH IYA MAMPIR JUGA YA DI RUMAH BARU ANYER
ANYER JUGA BUTUH DUKUNGAN KALIAN
SEBELUMNYA TEH IJO UCAPKAN TERIMAKASIH BANYAK BANYAK. KECUP JAUH 😘😘
__ADS_1