SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
KARMA


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 55 || KARMA


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA


Tak perlu disesali apa yang telah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu karena di depan sana ada sepercik harapan yang telah menanti. Jika kau hanya masa lalu maka tak perlu kau berada di depan karena tempatmu ada di belakang. Kau masa lalu, tak akan pernah bisa untuk menjadi masa depan. Maka dari itu izinkan aku melupakanmu.


Awan putih berselimut mendung pekat. Rintik rintik air hujan sudah mulai turun satu persatu membasahi bumi yang sedang diselimuti kelabu. Mungkin bisa tersenyum tetapi hati seolah ingin menangis. Begitulah yang sedang dialami oleh Pita.


Bibirnya dengan mudah mengatakan bahwa ingin menghapus bayangan tentang Rey dalam hatinya, nyatanya hati Pita selalu memberontak dan yakin jika Rey tidak sejahat itu.


Proses melupakan tidaklah segampang dengan proses mencintai. Bisa saja kita mencintai seseorang hanya satu detik saja tetapi akan butuh waktu panjang untuk melupakan seseorang yang kita cinta.


Pita berusaha untuk berdamai dengan perasaannya sendiri dan melupakan Rey adalah pilihan terbaik saat ini.


Fokus mengurus bisnis peninggalan Danar yang telah menjadi miliknya. Katakan saja dia serakah, tetapi Pita harus melakukan itu agar Danar sadar, jika penyesalan itu ada di belakang.


Dibantu dengan Raka, Pita mencoba untuk mengelola caffe tersebut. Pita masih dengan jelas mengingat semua ucapan Rey tentang apa saja yang harus diperbaiki lagi.


"Rak, jangan lupa kamu harus mengganti baground itu!" tunjuk Pita


"Baik, Bu."


Pita yang baru saja dua hari bekerja di cafenya sendiri merasa pekerjaannya sangat membosankan. Hanya duduk saja tanpa mengerjakan sesuatu, hanya menunggu laporan dari Raka saja. Kalau seperti ini mending Pita duduk manis di rumah saja. Untuk apa membuang tenaganya, toh sama sama duduk. Jika di rumah Pita bisa tidur.


Namun, seiring berjalan waktu Pita mulai terbiasa dengan pekerjaan. Semua itu hanya butuh penyesuaian saja seperti hatinya yang telah menyesuaikan keadaan. Perlahan mencoba menghapus jejak Rey dalam memorinya. 


"Seperti wajah anda sedang berbunga, apakah sesuatu yang membuat anda sebahagia ini?" goda Yuna saat menyiapkan sarapan untuk Pita.

__ADS_1


Pita mengulas senyum merekah. "Sudah seharusnya aku bahagia," ujar Pita.


Yuna merasa penasaran, sebenarnya hal apa yang telah membangkitkan imun majikannya hingga pagi pagi wajahnya sudah secerah mentari.


"Udah sana! Tugas kamu di dapur, di sumur dan di dapur lagi," kekeh Pita.


"Ah … gak seru dong, Bu kalau gak di kasur." 


"Memangnya ada laki laki yang mau sama kamu?" 


"Jelas ada dong, Bu. Secara saya cantik dan sudah sedikit mapan meskipun hanya seorang menjadi ART karena gajinya yang lumayan besar." Yuna tertawa kecil. 


Gaji yang diberikan Pita untuk Yuna lumayan lebih besar dari gaji ART pada umumnya. Hal itu membuat Yuna semakin nyaman bekerja dengan Pita dan hampir lupa akan pendamping hidupnya kelak.


Pedoman Yuna adalah jodoh gak kemana, jika sudah jodoh pasti akan datang sendiri tak perlu repot repot memikirkan jodoh yang tak tahu dimana rimbanya. 


"Halah, ngomong doang! Coba bawa sini kenalin dulu sama aku. Kalau aku cocok besok nikah kalian, gimana?" tantang Pita.


Yuna menelan kasar ludahnya. Darimana coba jalannya nyari gebetan kalau tiap hari dirinya  hanya di dapur, di sumur dan di dapur lagi. Emang ya majikan gak ada perasaan. Udah tahu jomblo, di ejek terus!


🍃          🍃           🍃              🍃


kebahagiaan Pita terpancar lebih bersinar saat melihat desain cafe telah jauh lebih berubah dari sebelumnya. Penataan tempat juga telah berubah sesuai dengan keinginan Pita. Karena Pita ingin menghidupkan suasana. Kali ini Pita mengambil ide yang telah dicetuskan oleh Rey saat itu.


"Bagaimana menurut anda, Bu?" tanya Rafa. Lelaki yang setia mengelola cafe saat kepergian Danar.


"Sungguh sangat memuaskan. Oh ya Raf, seperti aku sudah sudah siap untuk melanjutkan rancangan bang Danar  membuka cabang Cafe yang ada di solo.


Seperti tempat itu cukup bagus karena letaknya di samping kampus dan sekolah," ujar Pita.


Rafa merasa bersyukur jika usaha ini bisa berkembang lebih banyak lagi. Dia tidak memandang dengan siapa dirinya bekerja. Yang penting adalah kemajuan Cafe. 

__ADS_1


Rafa adalah salah satu teman Pita dan Danar saat masih kuliah. Rafa tahu betul bagaimana jatuh bangun Danar merintis usahanya dari nol meskipun sekarang sudah pindah kepemilikan. Rafa sedikit pun tidak membela Danar ataupun Pita, yang terpenting adalah ia bekerja dan lancar gajinya.


"Itu ide yang bagus, Bu."


 "Syukurlah kalau kamu setuju," lanjut Pita.


Semakin hari Cafe semakin ramai. Kabar tersebut pun menembus hingga ke telinga Danar yang tengah berjuang melawan penyakitnya. Saat ini Danar hanya bisa menjalani rawat jalan saja. Sebuah kanker darah atau leukemia telah bersarang pada tubuhnya. Tak ada cara lain, Danar hanya mampu menebus obat obatan agar memperlambat penyakitnya. Tak ada harapan untuk bisa sembuh total, membuat Danar semakin merasa sangat menyesal tidak bisa membahagiakan Pita sesuai janjinya.


"Oh ya, Bu. Apakah anda tidak ingin menjenguk pak Danar?" Anggap saja Rafa telah lancang menyebut nama Danar dihadapan Pita tetapi, sungguh Rafa tidak tega akan kondisi Danar saat ini.


"Menjenguk? Memangnya saat ini dia sakit apa sampai harus dijenguk?" Pita mengernyitkan dahinya.


Rafa menarik kasar nafasnya. Mungkin inilah waktunya ia mengatakan hal sebenarnya yang tengah dihadapi oleh Danar. Katakan saja ini karma tetapi, bagaimana mana juga Danar ikut andil dalam usaha Cafe ini.


"Pak Danar mengidap kanker darah. Beliau hanya bisa mengkonsumsi obat-obatan untuk memperlambat penyakitnya. Maaf sudah lancang," ungkap Rafa.


Mata Pita membulat. Daun telinganya masih bergetar saat mendengar penyakit yang sedang diderita oleh Danar. Sungguh miris jika saat ini Danar tidak bisa menjalani perawatan insentif akibat biaya yang tidaklah murah. Sampai mana obat obatan akan bertahan?


"Kenapa tidak kemoterapi? Percuma hanya mengkonsumsi obat obatan, itu tidak akan berpengaruh."


"Maaf Bu, untuk makan saja beliau sekarang sangat kesusahan. Menjadi tukang parkir tak seberapa hasilnya," lanjut Rafa.


"Jadi bagaimana dengan istri dan anaknya? Harusnya bulan ini bayinya sudah lahir."


Rafa kembali terdiam. Sepertinya bosnya belum mendengar kabar tentang kehancuran pasangan tersebut. Danar yang menalak Jihan hingga bayi Jihan yang tak terselamatkan saat itu. Dan sekarang Jihan harus mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit terbesar spesialis orang dalam gangguan jiwa. 


Ya, setelah kejadian saat itu, Jihan sangat terpukul. Bayinya meninggal dan tanpa sebab tubuhnya menua lebih cepat. Bahkan tak akan ada yang mengenali Jihan saat ini karena Jihan yang terlihat lebih tua.


"Maaf lagi Bu. Dari kabar yang saya dapatkan, pak Danar telah mentalak Jihan saat mendapati kenyataan bahwa anak yang sedang Jihan kandung adalah anak dari laki-laki lain, bukan anak dari Pak Danar. Pak Danar ternyata hanya di jebak saja. Tidak sampai disitu, bayi yang dikandung Jihan telah meninggal sebelum lahir dan yang paling menyediakan lagi, Jihan sekarang dirawat di rumah sakit jiwa. Mental dan kejiwaan Jihan terganggu apalagi saat mendapati kenyataan bahwa dirinya tiba tiba menua tanpa sebab," jelas Raka panjang lebar.


Pita masih tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Danar setelah mengetahui fakta sebenarnya. Membuang berlian hanya demi setumpuk sampah.

__ADS_1


Ternyata karma begitu cepat menghampiri mereka. Tidak tahu kapan, yang jelas karma itu nyata.


 


__ADS_2