SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MENGANCAM


__ADS_3

Wajah yang selama ini dirindukan, kini sudah berada di depan mata. Sambil berurai air mata, Pita membelai wajah Rey dan berharap agar cepat terbangun dari tidur panjangnya. Pita mengangkat tangan Rey untuk menyentuh perut ratanya.


"Rey cepat bangun. Disini anak kita yang membutuhkanmu." 


Berharap ada sebuah datang, Pita benar-benar berharap Rey segera bangun.


Disamping itu Vio sangat merasa bersalah terhadap wanita dihadapannya yang terlihat sangat pucat. Tak tega dengan apa yang ia lihat, Vio pun memilih keluar dari ruangan tersebut. Yuna yang melihat gerakan Vio memilih mengikuti wanita itu. Rasa geram ingin melahap Vio sudah berada di ubun-ubun.


"Vio!" sentak Yuna.


Vio membalikkan badan seraya menatap Yuna yang sudah mengeratkan giginya.


"Kamu kira aku akan seperti majikan ku yang dengan lapang dada memaafkan upahmu? Tidak! Kamu harus mendapatkan balasan yang setimpal. Aku akan melaporkan kamu kepada pihak yang berwajib!" ancam Yuna.


Vio gelagapan sambil menggelengkan kepalanya. Bukankah dia sudah berterus terang? Lalu mengapa harus dilaporkan kepada pihak yang berwajib?


"Tidak … jangan laporkan aku. Aku mohon." Vio memohon dengan penuh iba.


Sementara Yuna hanya tersenyum sinis melihat wajah ketakutan dari seorang Vio.

__ADS_1


Mau maling kok setengah-setengah. Udah tau gak mampu sok-sokan jadi pahlawan kesiangan. Baru diancam secuil  udah mengkerut. Dasar Cemen.


"Tapi gara-gara ulah kamu, majikanku hampir gila. Kalau sampai saat itu sampai keguguran, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara!"


"Iya aku ngaku salah. Aku khilaf saat itu. Aku berharap dia bisa menggantikan suamiku."


Mata Yuna terbelalak lebar.


"Gila kamu ya! Suami orang mau kamu ambil! Punya hati dan pikiran gak sih?" Emosi Yuna memuncak.


Vio tak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya benar-benar sangat merasa bersalah. Sekilas hatinya merasa menyesal telah memberitahukan sebuah kebenaran tapi, satu sisi lain Vio tidak sanggup untuk membayar tunggakan rumah sakit yang kian membengkak karena ulah Rey.


"Sudahlah, aku sangat muak dengan wajahmu! Pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku ataupun bu Pita. Terimakasih atas kebaikanmu telah menyelamatkan mas Rey tepat pada waktunya. Ini disini ada jumlah uang yang lebih dari cukup untuk menggantikan waktu, tenaga dan uangmu yang telah kamu gunakan untuk mas Rey." Yuna menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Vio.


"Tidak, terimakasih. Aku tidak butuh uangmu. Jujur aku menyesal telah menyelamatkan laki-laki itu jika tau ternyata akan direndahkan seperti ini. Nyesel aku kasih tau kalian!" Dengan hati yang berkecamuk, Vio melenggang pergi meninggalkan Yuna dengan sejuta rasa kesal.


"Eh … siapa juga yang merendahkan? Aku hanya mengatakan kenyataan!" teriak Yuna.


*

__ADS_1


*


*


Hingga malam datang, Pita masih setia menemani Rey. Tak hentinya Pita memanjatkan doa agar Rey segera sadar. Sesekali Pita membisikkan kata-kata penyemangat untuk Rey.


"Bu, kita pulang dulu. Ibu juga harus beristirahat. Jangan sampai ibu juga sakit. Kan kasian kecebongnya mas Rey di perut ibu."


Silakan kamu Yuna ngatain anakku kecebong!


"Gak, Yun. Aku akan tetap disini untuk menemani Rey. Aku takut saat dia bangun dia nyariin aku."


Yuna membuang kasar nafasnya. Kali ini ia tidak bisa mencegah Pita untuk tetap berada disamping Rey karena Yuna tau bagaimana perasaan Pita saat ini. Merindukan seseorang yang sangat dicintainya yang hampir satu bulan menghilangkan tanpa jejak, bahkan telah dianggap gugur dalam kecelakaan. Ya, meskipun Yuna belum pernah merasakan sih, bagaimana kehilangan seseorang yang sangat dicintai, maklum jomblo akut tetapi dia terlalu peka untuk masalah hati


Bersambung.


Sabar ya, Yuna ntar Othor kasih jodoh tapi di rumah sendiri ya 😀


Halo-halo … maafkan Othor yang jarang nongol, Othor cuma mau bilang kalo cerita ini bentar lagi END 

__ADS_1


Oh iya kali ini Othor punya rekomendasi novel bagus buat kalian, mampir ya



__ADS_2