
SEGENGGAM LUKA
BAB 88 || MENJADI ASTRONOT
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA. MOHON PERHATIAN YANG DIBAWAH UMUR TOLONG MENYINGKIR TERLEBIH DAHULU 😀
Rey membuka pintu apartemennya. Ia terheran saat suasana ruangan terlihat gelap tak ada lampu yang menyala. Satu hal yang ia khawatirkan tentang istrinya, tetapi semoga itu hanya firasatnya saja. Rey berulang kali memanggil nama Pita tapi, tak jua istrinya menyahut.
Rey berusaha berjalan dengan cahaya lampu senter di ponselnya untuk mencari dimana letak sakral berada. Sekali cetek langsung terang benderang dengan di iringi lagu Happy birthday dari Pita.
Terlihat Pita berdiri tak jauh dari Rey dengan memegang sebuah kue tart serta lilin yang sudah berdiri di atas kue dengan angka dua dan empat.
"Happy birthday suamiku kecilku." Pita tersenyum simpul menatap Rey yang masih ternganga di depannya.
Masih dalam keadaan tak percaya bahwa dirinya sedang ulang tahun, Rey menggeleng pelan sambil menahan senyumnya.
"Hei, kenapa bengong? Happy birthday to Twente four year old my little husband." Pita menyodorkan sebuah kue kepada Rey.
"Ya ampun Sayang ... aku sangat terharu. Baru kali ini ada yang ingat dengan tanggal ulang tahunku." Dengan perasaan haru, Rey segara meraih tubuh istrinya agar masuk kedalam pelukannya.
"Makasih Sayang, kamu orang pertama yang mengingat hari lahir ku setelah sekian lama," bisik Rey penuh haru.
"Maaf tadi udah cuek, ya," sambung Pita.
Rey segera melepaskan pelukannya lalu menatap Pita tajam. "Jadi udah kamu rencanain, ya."
Pita mengangguk pelan.
"Dasar!" Rey mengusap kepala Pita.
Kelamaan mendrama yang tak akan ada habisnya, Pita segera menyuruh Rey untuk segera meniup lilinnya. Eh, tunggu dulu. Bagaimana lilin akan tertiup sementara lilin belum dinyalakan.
"Sayang, gimana mau tiup lilin, sementara lilinnya saja tidak menyala," protes Rey.
"Yah, gimana dong? Kita gak punya korek api," keluh Pita.
"Dah lah, gak usah pakai lilin. Langsung potong kue aja," saran Rey.
"No! Tidak afdol, dong. Bentar ya aku ke dapur dulu." Pita segera menuju ke dapur dengan langkah cepat. Untung saja di dapur ada kompor, jadi tak perlu korek api untuk menghidupkan lilin. Pita tersenyum puas saat melihat lilin telah menyala.
"Nah, kan jadi."
Rey yang mengamati gerakan Pita, merasa salut. Bisa mencari jalan keluar dengan baik. Hal sekecil ini saja dia bisa menyelesaikan, apalagi masalah besar. Rey tak salah memilih Pita sebagai pendamping hidupnya.
"Kamu pinter juga ya," puji Rey.
"Jangan puji aku, nanti aku sombong."
__ADS_1
Rey sangat bersyukur, meskipun selama satu minggu hanya sarapan nasi goreng saja tetapi itu sudah cukup baginya, sebab diolah dari wanita yang ia cintai. Meskipun rada cuek, Rey yakin cinta sang istri juga besar terhadap dirinya.
Setalah tiup lilin dan potong kue seadanya, Rey pun memutuskan untuk membersihkan diri karena keringat yang sudah lengket di tubuhnya.
"Sayang, mana handukku?" teriak Rey dari kamar mandi.
Pita yang sedang menyiapkan pakaian untuk Rey segera membuang nafas kasar saat melihat handuk Rey masih di balkon.
"Kebiasaan tuh anak," gerutu Pita.
Meskipun kesal, Pita tetap bejalan untuk mengambil handuk milik Rey.
Saat Pita menyerahkan handuk ke kamar mandi, tanpa terduga tangan Pita langsung ditarik oleh Rey dari dalam membuat Pita sangat terkejut.
"Rey, mau ngapain?" Pita mengernyit saat Rey mengunci tubuhnya ke dinding kamar mandi.
"Mau buka puasa." Rey tersenyum licik.
Wajah Pita seketika langsung merona, degup jantungnya kembali berdebar. Bersusah payah ia menelan Saliva saat melihat tubuh Rey yang terekspos menantang. Pita hanya memejamkan mata saat Rey memiringkan wajahnya.
"Dimana kamu letakkan sabun mandi," bisik Rey tepat di daun telinga Rey membuat bulu kuduk Pita merinding. Saat itu juga mata Pita terbuka lebar dan langsung mendorong tubuh Rey dengan penuh rasa malu.
"Aww ... sakit." Rey mengasuh pelan.
Pita menetralkan detak jantungnya dan merutuki isi kepala yang berpikir kejauhan, berharap Rey menyentuh bibirnya.
"Apaan sih kamu Rey. Maaf aku lupa sabun mandinya habis. Tunggu aku ambil dulu." Pita beranjak untuk keluar. Namun, lagi lagi tangan Rey mencegah.
"Dah gak usah pakai sabun. Aku mandinya pakai shampoo aja. Tapi kamu yang mandiin ya."
Dengan telaten, Pita memijit kepala Rey, seolah dirinya berada di salon sedang melakukan creambath. Pijatan Pita mampu membuat ubi super itu terbangun. Sudah payah sedari tadi Rey menahan, tetapi kali ini Rey benar benar tidak bisa menahannya lagi.
"Sayang," panggil Rey.
"Ada apa?" sahut Pita.
"Itu ... kebun kamu dah kering belum. Aku dah kangen lho pen jenguk sekalian nanam ubi lagi," lirih Rey.
Pita membulatkan matanya. Dirinya memang sudah selesai sehari yang lalu.
"Kok diem, sih?" Rey membalikkan tubuhnya hingga menghadap kearah Pita.
"Kamu diem gak bisa jawab berati udah siap kan?" Wajah Rey terlihat sangat berbinar.
Entah darimana asal mereka memulai, saat ini keduanya sudah berada di dalam bathtub dan saling bertukar saliva. Suara decakan memenuhi ruangan kecil tersebut. Rey semakin memperdalam ciumannya hingga Pita hampir saja kehabisan nafasnya.
Perlahan tapi pasti tangan Rey telah berhasil membuka resleting dress hingga tubuh putih terpampang di hadapannya dengan sempurna. Sebuah gunung kembar masih di balut dengan alat pengamanan berwarna hitam membuat Rey ingin segera meraba rabanya.
"Sayang, kamu jadi astronot ya," pinta Rey.
__ADS_1
"Udah pernah jadi astronot kan? Pasti lebih seru," kekeh Rey pelan.
"Apaan sih, Rey?" Pita melayang pukulan kecil ke tubuh Rey. Pita bukanlah orang yang bodoh, terlebih dirinya sudah pernah menikah, meski istilah yang digunakan oleh Rey sedikit nyeleneh.
"Kamu hobi KDR sama suami durhakim lho," seloroh Rey.
Sepasang insan yang telah dimabuk hasrat sudah tak sadar diri. Saling bergelut di dalam air. Pengalaman pertama untuk seorang Pita meskipun ia sudah pernikahan menikah. Rey benar benar bisa membawanya ke angkasa.
"Jangan di tahan jika ingin mendesah," bisik Rey.
Dengan pergerakan pelan, Rey mecoba memompa ubi supernya menjelajahi kebun yang sangat ia rindukan.
"Ah ... gak mau. Nanti di sensor sama yang punya kontrakan. Kasian pembaca kalau cuma bintang bintang yang terlihat. Pita masih berusaha menahan ******* kenikmatan yang dirasakannya.
"Tapi gak seru dong," balas Rey.
"Biarkan mereka berimajinasi sendiri dengan permainan kita. Rey ... ah ..."
"Yang punya kontrakan sekarang payah, reviewnya lama kalau kita terus mendesah, Rey. Kasian teteh ijo kalau lama reviewnya."
"Ya sudah, sekarang gantian kamu jadi astronot. Aku tau kamu belum pernah kan jadi astronot kan? Sini aku ajari, pasti akan nyandu," bisik Rey.
"Sok tau," elak Pita
Pita berusaha mengikuti instruksi dari Rey. Dengan singkat, tubuh Pita sudah berbalik. Kini Pita telah memegang kendali sepenuhnya atas tubuh Rey.
"Ah ... Rey, gak bisa masuk," lirih Pita.
"Bisa. Pegang aja, terus masukin," balas Rey tak sabar. "Sini aku bantu," imbuhnya lagi.
Pita menggigit bibir bawahnya serta memejamkan mata. Sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Tubuhnya seketika bergetar saat kenikmatan dunia menyapu seluruh tubuhnya.
Tangan Rey memegang pinggang Pita untuk membantu menggoyangkan ubi yang sudah tertanam di dalam kebun dengan sempurna.
"Sayang ..."
"Rey, jangan mendesah kuat, nanti kena sensor. Jangan ngeyel dong."
"Tapi Sayang, ini luar biasa."
"Rey, bisa diam gak?"
"Iya, iya. Aku diam tapi ngomong ngomong kamu terlihat seksi dengan gunung yang naik turun rasanya jadi pen enyut."
Seketika tanpa aba aba, Pita memberanikan diri untuk membungkam mulut Rey dengan mulutnya agar segera terdiam. Rey terperanjat, tidak menyangka jika istinya yang kalem bisa juga bersikap agresif. Rey semakin menyukai perubahan dari istri tercintanya.
🌼 BERSAMBUNG 🌼
YO, HAYO ... SELAMAT HARI MINGGU SEMOGA KALIAN GAK BOSEN BACA NOVEL RECEH INI 🥰
__ADS_1