SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MENUNGGU REY


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 26 || MENUNGGU REY


~TEH IJO~


SELAMAT MALAM DAN SELAMAT MEMBACA


Pita sangat panik saat Ucok mengajak pita untuk segera berangkat lebih awal karena mereka akan mengikuti penerbangan jadwa pertama.  Pita berusaha menghubungi Rey namun tidak ada jawaban. Apakah Rey sedang berada dalam perjalanan? Semoga saja begitu, pikir Pita.


Yuna terpaksa melepas Pita dengan perasaan sedih. Mungkin ini sudah menjadi suratan takdirnya berpisah dengan Pita secepat ini. 


"Bu, Ibu baik baik di kampung sana ya. Sering sering kasih kabar. Saya pasti akan sangat merindukan ibu," ujar Yuna.


Apakah ini adalah akhir dari pertemuan kita Yun? Jujur aku tidak rela akan perpisahan ini. Rey kamu dimana sih? Jika sempat kamu gak dateng, aku sumpahin jomblo seumur hidup.


"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang akan pergi? Sebentar lagi super hero akan datang," lirih Pita.


Namun sepertinya tak ada tanda tanda Rey menampakkan kehadirannya meskipun Pita sudah berusaha mengulur waktu hingga kedatangan Rey.


Apakah Rey lupa atau memang Rey tidak mau membantu dirinya. Pita pun tak hentinya menghubungi Rey yang tak kunjung mendapat jawaban. 


Pita yang putus asa segera mengiyakan seruan Ucok untuk segera naik ke mobil yang telah mereka sewa. Nadine tak bisa berkata apa apa lagi, jujur dalam relung hatinya ia juga sangat kecewa dengan kenyataan yang telah menimpa hidup putrinya. Jika bisa mengembalikan waktu, Nadine tak akan pernah mengizinkan Pita untuk melanjutkan sekolah di kota pendidikan ini.


"Yun kau jaga rumah itu ya! Tenang gajimu akan tetap dibayar asal kau rawat rumah ini dengan sebaik mungkin," pesan Ucok membuat Yuna tak percaya dengan pendengarannya. Benarkah gaji Yuna akan tetap berjalan asal dia merawat rumah ini dengan baik? Yuna tertawa pelan, kalau seperti ini mah Yuna tidak akan pernah untuk menolak.


Setelah "Jalan, Pak!" perintah Ucok kepada sang supir. 

__ADS_1


Pita hanya bisa pasrah sambil melilit ujung kemejanya. Tak ada harapan lagi untuk dirinya tetap tinggal di kota ini.


Di lain tempat Rey mengerjapkan matanya sambil mengedarkan pandangannya. Ternyata dia ketiduran. Rey terlonjak saat melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. "Astaga… Mampus telat," teriaknya.


Rey segera mengambil kunci mobil tetapi sampai di garasi Rey berubah pikiran. Jika menggunakan mobil, Rey tidak akan bisa melaju dengan cepat. Akhirnya Rey memutuskan untuk menaiki motornya.


Rey merutuki kecerobohannya, dia juga melihat banyak panggilan tak terjawab dari Pita. Satu pesan yang membuat jantung Rey seakan ingin berhenti saat ini juga yaitu sebuah pesan perpisahan dari Pita.


"Ini tidak akan pernah terjadi, Tan." 


Rey melajukan motor dengan kecepatan tinggi bak seperti Rossi yang sedang sedang mengikuti perlombaan balapan. Mengejar waktu dan menyalip kendaraan yang berada di depannya. 


Tak hentinya Rey berdoa agar dirinya bisa mencegah kepergian Pita tetapi Rey sendiri tidak tahu Pita sudah ada di jalan mana. Yang Rey tahu hanya tujuan Pita yang menuju Bandara YIA.


Rey menepikan motornya lalu menghubungi Pita. Dengan cepat panggilan Rey telah di jawab.


Rey merasa sangat bersalah. "Tante ada di jalan mana? Aku sudah berada di jalan. Bikin alasan  gitu biar mobil tante berhenti."


Pita mengerti lalu menutup ponselnya. 


"Bang, sakit perutku. Cari toilet bentar ya," kilah Pita. Tak lupa tangan Pita memegangi perutnya seolah dia benar benar sakit perut. Ucok yang duduk di samping kursi pengemudi melihat Pita yang meringis menahan rasa sakit pun menyuruh supir untuk menepi mencari toilet umum dan satu satunya cara adalah berhenti di SPBU.


"Cepat sana! Ada ada aja kau ini!" gerutu Ucok.


"Iya namanya panggilan alam, Bang," sahut Pita.


Pita segera turun lalu menuju sebuah toilet. Disana Pita segera menghubungi Rey dan mengirim lokasinya saat ini. Sebisa mungkin Pita mengulur waktu menunggu kedatangan Rey.

__ADS_1


Di dalam mobil Ucok sudah menggerutu kesal karena Pita tak kunjung juga kembali. Apakah Pita akan kabur? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


"Mak, coba lihat Butet. Lama kali pun."


Mendadak Nadine patuh dengan Ucok. Ia segera turun dari mobil untuk mencari keberadaan anaknya. Di ujung toilet Nadine melihat jika Pita sedang mondar mandir tidak jelas.


"Kau kenapa? Sudah seperti setrika berjalan?" tanya Nadine.


"Aduh Mak… Mak tahu kan kalau Pita gak mau pulang kampung. Bantu Pita ya, Mak," renge Pita.


Nadine menatap nanar putrinya tetapi apa yang bisa ia lakukan saat ini. Menentang keputusan Ucok hanya akan menambah masalah mengingat Ucok memiliki darah panas seperti suaminya.


"Kau mau kabur? Jangan gila kau ya, Tet," ujar Nadine.


Pita segera menggeleng. "Bukan, Mak. Aku gak akan kabur kok. Tapi Mak bantu aku ya," rengek Pita.


Mata Nadine menatap tajam kearah Pita saat Pita menjelaskan rencananya


Ternyata anak bungsunya tidak berubah. Ia memiliki tekad yang kuat untuk mempertahankan keinginannya.


"Kau yakin dia akan datang? Kalau kau yakin biar Mak cari alasan. Tapi kau harus ajak Mak ke Candi Borobudur, gimana?" tawar Nadine. 


Mungkin inilah yang dikatakan buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Mak nya aja sudah hobi tawar menawar apalagi anknya?


"Gampang itu, Mak. Nanti kalau Bang Ucok setuju, lusa kita jalan jalan keliling kita Yogyakarta, oke!" 


🍁🍁BERSAMBUNG🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2