SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
JANGAN SENTUH!


__ADS_3

Samar-samar Rey mendengar namanya disebut. Ia pun berbalik badan ke belakang. Di balik tembok, terlihat Pita tengah menutup mulut yang masih ternganga . Rey tidak percaya bahwa kejadian ini akan terlihat oleh sang istri.


"Kalian urus dia. Pastikan dia sudah tak bernyawa lagi!" perintah Rey kepada bodyguardnya kemudian berlari kecil menghampiri Pita yang masih shock.


"Sayang, kamu gak papa kan? Kenapa ada disini? Ayo pulang." Rey hendak menyentuh tubuh Pita, namun dengan cepat Pita menepis tangan Rey.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu, Rey." Pita menggerakkan kepala. Ia tak percaya bahwa Rey mampu melakukan hal seperti itu.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Ayo kita pulang sekarang! Kasihan anak kita."


"Aku bilang jangan sentuh aku, Rey! Selain pembohong kamu juga pembunuh. Kamu bunuh Ilham, Rey!" teriak Pita dengan Isak tangisnya.


Rey tak mampu mengelak. Apa yang didengar dan dilihat oleh Pita sudah menjadi bukti kuat jika dirinya sudah membunuh seseorang.


"Baiklah, aku tidak ingin menyentuhmu, tapi kita harus pulang sekarang."


Pita tak bersuara tetapi langkah kakinya mengikuti jejak Rey. Setelah berada di luar, Rey melihat ada sebuah mobil taksi online. Seperti mobil itu yang mengantar Pita sampai di tempat ini.


"Pak maaf sudah menunggu lama. Sebagai gantinya ini ada sedikit insentif untuk bapak karena telah menunggu istri saya. Sekarang bapak pulanglah!" Rey menyodorkan sepuluh uang merah bergambar pak proklamator.


Siapa yang tidak tergiur dengan upah yang sangat banyak. Lebih dari cukup untuk gajinya selama lima hari.


"Banyak sekali, Pak," ujar sang supir.


"Anggap saja ini adalah rezeki bapak hari ini," timpal Rey.


Pita terpaksa naik ke dalam mobil Rey. Sebenarnya banyak sekali yang hendak Pita tanyakan, tetapi seketika pikirannya juga ikut berhenti berpikir. Bayangannya masih terngiang-ngiang saat Rey melepaskan senjata api ke arah Ilham.


Tanpa terasa mobil yang dikemudikan oleh Rey sudah sampai di parkiran sebuah gedung yang menjulang tinggi. 


Tubuh Pita masih bergemetar, hingga ia tak kuat untuk berdiri. Dengan sigap Rey segera memapah Pita untuk berjalan namun, lagi-lagi Pita menolak dan menepis tangan Rey.

__ADS_1


Tenaga Rey yang kuat tak membuatnya kewalahan saat menghadapi tubuh Pita yang tak seberapa.


"Lepasin aku! Aku gak mau disebut oleh tanganmu, Rey. Aku benci kamu?" isak Pita.


Sesampainya di apartemen, tubuh Pita diletakkan di sofa. Rey segera bergegas untuk mengambil air minum untuk Pita.


Hening untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya Rey bersuara. "Oke, aku salah. Aku minta maaf," sesal Rey.


"Aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu. Saat itu aku malang kehilangan sebagian ingatanku, tapi beberapa hari terakhir ini ingatanku sudah kembali. Tapi asal kamu tahu, kecelakaan pesawat itu sudah direncanakan oleh seseorang.


Tak ada satu kata yang terucap dari mulut Pita, hingga akhirnya Pita memilih pergi ke kamar. 


"Sayang, kamu mau kan maafin aku?" 


"Rey, aku ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku!"


Rey mengangguk dengan paham, ia pun keluar dari kamar.


"Akhirnya kamu mati juga," sinis Rey.


*


*


*


Pagi ini Pita bangun dengan wajah segar, seolah sedang tidak mempunyai beban pikiran. Seketika Pita menarik tubuhnya yang sedang berada dalam dekapan Rey.


Pantas saja janin yang berada di dalam perut tidak protes. 


Namun, saat Pita hendak turun, tangan kekar menghentikan langkahnya Pita.

__ADS_1


"Mau kemana? Sini aja." Rey menahan lengan Pita.


Pita kembali ke tempat semula. Rey segera mengukung tubuh Pita yang telah lama sangat dirindukan. Dengan tatapan penuh hasrat di pagi hari, Rey ingin sekali menjenguk anaknya di dalam sama.


Rey yang sudah lama menahan diri untuk tetap waras, ternyata goyah saat melihat Pita marah dan mendiamkan dirinya. Kecupan demi kecupan mendarat dari leher hingga ke dua buah benda kesukaannya.


"Rey hentikan. Aku tidak mau disentuh oleh seorang pembunuh," teriak Pita 


"Aku tidak peduli, tapi aku benar-benar menginginkannya, Sayang. Ya?" pinta Rey.


"Tidak aku tidak Sudi, Rey!"


Rasa yang sudah diubun-ubun tak mampu terbendung lagi, akhirnya bisa masuk ke dalam lembah kenikmatan.


"Rey hentikan! Kamu udah nyakitin aku!" teriak Pita saat Rey memompakan tubuh diatas tubuh Pita.


Yohayo … sudahlah sampai disini saja. Kalian lanjutan sendiri saja bagaimana cerita selanjutnya. Jangan kalian baca pas siang hari ya 🙄😀😊


Eh, ceritanya kok jadi gini sih? jawaban Rey mau othor angkat sebagai mafia 😀😀


Oh iya hari ini teh ijo mau kasih rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.


Blurb


Wil, bocah SMP kelas 9, harus berpetualang menemukan siapa bapak kandungnya, agar nama yang tertulis di ijasah betul-betul tidak salah. Selama ini nama bapak kandung di ijasah SD dan beberapa surat penting lainnya tidak sama.


Perjuangannya begitu berat, petunjuk yang ia punya hanya tiga lembar KK. Tak ada tempat bertanya, karena satu-satunya orang terdekat yang ia punya, yaitu ibunya, sudah meninggal.


Petualangan Wil dimulai berdasarkan alamat pada lembar KK, dan tanpa diduga, Wil mengalami hal-hal dahsyat yang begitu luar biasa.


Akankah Wil berhasil menemukan bapak kandungnya?

__ADS_1



__ADS_2