SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
KEKASIHKU


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 52 || KEKASIHKU


~TEH IJO~


SELAMAT HARI SENIN, CUMA MAU BILANG AJA BOLEH DONG KALIAN VOTE CERITA INI SEBAGAI TANDA DUKUNGAN KALUAN UNTUK AUTHOR


[ AUTHORNYA NODONG 😀 ]


SELAMAT MEMBACA


Bagaikan dua kutub yang saling melengkapi.  Mungkin itu adalah suatu kata yang tepat untuk hubungan kedua anak insan yang sedang  dimabuk asmara.  Rasa cinta untuk saling memiliki dan takut kehilangan, meskipun tidak bisa diungkapkan dengan  terus terang namun tak membuat keduanya merasa jenuh atau bosan menjalani hubungan  yang terasa hambar tanpa rasa romantis. 


Sepanjang kegiatan Pita hanya menahan rasa kesal karena tempat yang dituju tak sesuai ekspektasinya. Bukan hanya sebagai santapan nyamuk saja, Pita juga tengah beralih menjadi asisten Rey yang harus kena bersedia membantu dirinya mengarahkan modelnya. Tentu saja Pita tidak bisa menolak meskipun merasa marah sekalian.


Benar kata Rey, cuaca ditempat ini terasa sangat dingin. Beruntungnya, Pita juga telah menyiapkan baju tebal dan jaketnya.


Di Bawah rindangnya pohon pinus yang sejuk, Pita mengeluarkan camilan yang sengaja ia siapkan. 


"Widih … enak nih bawa cemilan. Suap dong! Aaa …" Mulut Rey mangap, berharap Pita mau menyuapkan  ke dalam mulutnya.


"Tante gak asyik," keluh Rey saat tidak ada respon sama sekali dari Pita.


"Manja sekali sih, calon imanku ini," lirih Pita. Namun, dengan jelas daun telinga Rey masih bisa menangkap dengan jelas membuat hidungnya kembang kempis.


"Apa tante bilang? Calon imam? Subhanallah akhirnya tante ngakuin aku sebagai calon imam tante. Duh … makin gak sabar lagi nunggu sebulan." Rey terlihat saat girang. Sedikitpun sikap Pita selama ini tidak bisa romantis, cuek tapi sesekali ngena di hati.


"Tapi … apa yang harus aku gadaikan dulu biar dapat uang 1 M dalam waktu sebulan, Tan?" Tiba tiba wajah yang tadinya sumringah mendadak sirna sudah.


"Itu urusanmu, lagian bikin penawaran yang kok konyol?"sindir Pita.


Melewati malam yang dingin nan sepi layaknya di sebuah Hutan. Keduanya memilih menginap di sebuah penginapan


yang di sekitar puncak pinus. Mau tak mau keduanya harus berada satu kamar karena hanya itu yang tersisa.

__ADS_1


Rey mulai mengistirahatkan tubuhnya di sebuah sofa karena. Hari yang melelahkan tapi juga menyenangkan karena bisa melepaskan diri di alam bebas. Udara yang masih asri, ituah alasan utama Rey menyanggupi pemotretan wedding tersebut.


"Tante gak usah khawatir, tidur aja di kasur. Aku tidur disini aja." Rey menatap kearah Pita yang baru saja meletakkan tasnya di meja.


"Bisa gak sih, Rey kamu gak panggil aku tante terus? Emang aku udah setua itu?! Lihatlah orang orang mengira aku ini tante kamu bukan …?" Pita menggantung ucapannya dan menggigit bibir bawahnya.


"Bukan apa?" tekan Rey.


"Menurut kamu apa?"


"Iya, iya aku gak panggil kamu tante lagi tapi … tapi aku pengen denger dulu bukan apa tadi?" goda Rey


Pipi Pita telah bersemu merah, merasakan sedikit hawa panas meskipun dalam keadaan dingin. Pita memengan kedua pipinya.


"Tan, aku tuh cuma pengen denger tante bilang, aku cinta kamu, aku sayang kamu dan mengakui hubungan ini. Duduk sini dulu!" Rey menarik pelan lengan Pita agar duduk disampingnya.


Dada Pita bergerumuh lebih kencang seperti orang yang baru saja merasakan jatuh cinta yang akan berdebar saat sedang berada di dekat orang terkasih. Sensasi getaran seperti kupu kupu sedang berterbangan membuat sesak didada hingga seakan terasa muak.


"Apa sih, Rey?"


Terbukti perjuangan Rey tidak sia sia dan berbuah manis. Ungkapan lamaran Rey ternyata diterima oleh Pita, meski belum resmi meminta kepada orang tua Pita terapi Rey dan ayah Pita sudah menyetujui sebuah kesepakatan yang luar biasa.


"Tante tau gak seberapa besar rasa cinta ini untuk Tante?" Rey menjeda sejenak.


"Rasa cinta ini tidak bisa diukur dengan sebuah kata kata saja karena terlalu dalam, seperti dalamnya Samudra dan sangat luas bak langit yang terbentang luas tiada taranya dan itu hanya untuk kamu seorang meskipun aku tidak bisa mengungkapkan dengan lisan tapi percayalah, di hati ini hanya ada kamu seorang." Rey membuang nafas beratnya.


"Jadi … bisakah Tante juga mengakui hubungan kita yang sekarang? Atau tante merasa malu menjalin hubungan denganku?" tambah Rey lagi.


"Kamu ngomong apa sih, Rey? Ngaco mulu," sanggah Pita.


Bukan Pita tidak ingin mengungkapkan rasa cintanya lewat tutur kata, menurut Pita dengan sikap Pita selama ini sudah cukup untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Rey. Mungkin itu faktor U


 ( usia 😀) yang membuat Pita tidak bisa mengungkapkan secara lisan.


Tangan Rey terulur menyelipkan anak rambut ke telinga Pita yang kini sudah menduduki jabatan dihatinya sebagai pemenang.

__ADS_1


"Tan … apa tante benar benar malu punya kekasih seperti aku yang masih labil ini?" lirih Rey.


Pita menatap tajam iris mata hitam  lekat dan bulu mata yang lentik dengan berat Pita berkata, "Rey … rasa yang aku miliki tak bisa hanya ku ungkapkan dengan sebuah kata kata saja. Usiaku tidak muda lagi dan aku memang tak pandai untuk merangkai sebuah kata kata untuk mengungkapkan rasa ini. Tapi, rasa cinta ini tulus. Aku takut malah kamu yang malu mengakui hubungan ini. Buktinya saja kamu selalu panggil aku tante, kan aku bukan tante kamu, Rey! Aku kekasihmu!"


Rey tersenyum puas setelah menunggu tujuh purnama akhirnya ia bisa mendengar secara langsung Pita mengakui bahwa dia adalah kekasihnya. Yah, meskipun tidak bisa mengungkapkan dengan kata yang lebih romantis lagi.


"Aku seneng banget, akhirnya Tante, eh … maksud aku, kamu bisa mengakuiku sebagai kekasihmu. Makasih ya." Rey mengecup tangan Pita dengan lembut sebagai pengungkapan rasa hatinya yang benar benar sangat bahagia.


Malam panjang menyelimuti kedua insan dalam satu ranjang. Rey berusaha keras menahan gejolak hatinya untuk tidak menyentuh Pita terlalu lebih dalam. Hanya sekedar tidur bersama karena Pita telah memberi batas area untuk tempat tidur mereka.


Jantung Rey tak hentinya untuk berdebar. Menatap wanita yang ia puja tengah terlelap di sampingnya dengan nafas teratur.


🍃      🍃      🍃      🍃


Cahaya kemuning mampu menembus hingga ke sebuah kamar yang masih belum ada tanda tanda penghuninya bangun, malahan keduanya semakin mengeratkan pelukan sama lainnya untuk mengusir rasa dingin yang sangat menusuk tulang hingga tulang mereka.


Keduanya tak lagi  peduli akan  guling yang pembatas. Saat ini keduanya hanya butuh kehangatan untuk tubuh mereka.


"Rey, dingin banget," lirih Pita yang terlihat sedang menggigil. 


Rey yang terusik mengerjakan matanya saat merasakan tubuhnya telah di peluk oleh Pita yang semalam ngotot tidak akan ada sentuhan fisik, namun nyatanya dia sendiri yang melanggar. 


Reh segera menarik tubuh Pita agar semakin merapat lebih dekat lagi untuk memberikan rasa hangat di tubuhnya. Selimut yang mereka gunakan tidak mampu menghangatkan tubuh Pita.


Bagaimana Rey bisa melanjutkan tidurnya lagi saat sesuatu dibawah sana telah bangun. Rey berusaha mati matian berusaha menidurkan lagi dengan cara membuang dan mengambil nafas secara beraturan dengan pelan. Hanya itu yang bisa Rey lakukan saat ini mengingat tubuh keduanya saling merapat.


.


.


.


MANIS TERUS KAYAK GULA KAPAN PAHITNYA KAYAK EMPEDU?


PITA KAMU HARUS KUAT YA 💪🏻

__ADS_1


OH YA, MOON MAAF HARI INI KEMUNGKINAN TIDAK BISA UP SEPERTI BIASA KARENA TETANGGA AUTHOR SEDANG ADA MUSIBAH. 🙏🏻🙏🏻


__ADS_2