
SEGENGGAM LUKA
BAB 21 || KEPUTUSAN PITA
~TEH IJO~
HAPPY READING...
Danar benar benar sangat bahagia karena Pita menyerahkan sebuah kotak berwarna coklat. Hari ini akan menjadi hari yang tak pernah bisa Danar lupakan karena kejutan demi kejutan yang Pita berikan kepada dirinya.
"Apa ini sayang?" Danar penasaran dengan hadiah pemberian dari Pita tahun ini. Biasanya tiap tahun Danar lah yang memberikan hadiah, namun kali ini Pita lah yang memberikan hadiah kepada dirinya.
"Buka aja, Bang! Semoga Bang Danar menyukainya," ujar Pita.
Dengan rasa yang sudah tidak sabar, Danar segera membuka kotak tersebut.
Danar menatap Pita. "Cincin kawin," lirih Danar.
"Abang masih ingat cincin itu? Syukurlah kalau Abang masih ingat," seru Pita.
"Jelas ingat dong, kan Abang yang beli."
Tidak sampai disitu, ternyata masih ada lagi sesuatu di dalam kotak tersebut. Sebuah kertas HVS terselip di bawahnya.
"Ini apa?" Danar penasaran. Apakah Pita merangkai kata kata dalam bentuk tulisan tangan. Romantis banget sih, Pit.
"Buka aja, Bang. Semoga Abang juga suka," ucpa Pita.
Mata Danar terbelalak tak percaya akan surat yang sedang Danar baca. Bagaikan disiram air es yang membekukan tubuhnya. Tidak, ini tidak mungkin.
Danar menggelengkan kepala tidak percaya. "Tidak… Kamu pasti sedang bercanda kan, Pit. Katakan ini tidak benar." Danar benar benar shock.
Sebuah surat gugatan perceraian yang tidak pernah terbayang dalam hidup Danar. Bagaimana mana mungkin bisa Pita menggugat dirinya.
"Bang, aku tidak sedang bercanda dengan Abang. Aku juga sudah pikiran keputusan ini dengan matang, ternyata hatiku tidak sanggup jika harus berbagi suami dengan pelakor," sinis Pita.
Mata Danar membulat, apakah Pita mengetahui jika dirinya masih berhubungan dengan Jihan?
Nasib telah menjadi bubur, Danar tidak akan bisa mundur dari permainannya karena saat ini Jihan sedang mengandung darah dagingnya.
__ADS_1
"Bang Danar tidak usah mengelak lagi! Aku sudah mengetahui semuanya dan aku tidak sudi jika harus berbagi suami dengan wanita lain, maka aku memilih mundur untuk mempertahankan Abang. Mari kita berpisah!" tegas Pita. Sebisa mungkin Pita menahan cairan bening di pelupuk matanya yang hendak menetes.
"Tidak, Pit! Abang tidak mau!" tolak Danar.
"Bang Danar jangan egois! Aku tahu jika saat ini Jihan sedang mengandung darah daging Abang dan diam diam ternyata kalian telah menikah siri di belakangku. Iya kan Bang? Jawab?" bentak Pita.
Pita tidak bisa lagi menahan luapan emosinya yang kian menggebu. Suasana romantis yang baru saja mereka rasakan kini berubah menjadi suasana menegangkan. Dimana Danar sedang dituntut untuk memberikan sebuah penjelasan kepada Pita.
"Kenapa Bang Danar diam saja? Tidak inginkah Abang memberi pembelaan terhadap diri Abang sendiri?"
Danar mengacak rambutnya kasar. Sedalam apapun dirinya menyimpan bangkai pada akhirnya akan tercium juga.
"Maafkan Abang, Pit. Abang terpaksa melakukan itu semua karena Jihan terus mengancam Abang dan akan membuat karirmu hancur. Iya, Abang memang telah menikahi Jihan tanpa sepengetahuan kamu, Abang minta maaf," ucap Danar penuh iba.
Pita membuang nafas kasarnya. "Sudah berapa bulan Abang menikahi Jihan?"
"Dua bulan yang lalu."
Pita meremas dress-nya. Sudah dua bulan Danar menikah dengan Jihan tanpa sepengetahuan dirinya, sungguh hebat bukan?
"Abang bisa mikir gak sih bagaimana perasaan aku? Bagaimana hancurnya hatiku, Bang! Abang benar benar sudah kejam!" Isak tangis tak bisa lagi Pita bendung lagi.
"Jauhkan tangan Abang! Aku tidak sudi disentuh oleh Abang! Segera tanda tangani surat ini dan pergi dari sini!" usir Pita.
Danar membulatkan mata mendengar ucapan Pita. Bagaimana Danar bisa pergi sementara ini adalah rumah miliknya.
"Kamu jangan bercanda, Pit. Uni rumahku!"
Pita tersenyum sinis menatap Danar yang sudah lupa ingatan. Danar lupa jika semua aset miliknya kini sudah pindah kepemilikan.
Pita tertawa kecil. "Abang bahkan juga lupa jika semua aset milik Abang sekarang sudah pindah kepemilikan. Semuanya sudah sah menjadi milikku, Bang! Sekarang aku lah yang berhak menentukan apakah Bang Danar masih pantas tinggal di rumah ini atu tidak. Aku beri waktu 2 hari."
Danar menggeleng tidak percaya. Saat ini Danar benar benar diambang kehancuran. Saat Danar bersedia menuruti permintaan Pita, Danar sama sekali tidak memikirkan hingga sejauh ini.
Malam kian menyapa. Hawa dingin semakin menusuk tulang namun tidak menggoyahkan tubuh Pita untuk bergerak masuk le dalam kamarnya.
Saat ini Pita tengah bediri di balkon kamar dengan menatap hamparan langit yang sangat luas. Sebuah keputusan yang tak pernah terbesit dalam hidupnya. Pita harus menggugat Danar, lelaki yang sangat ia cintai. Lalu setelah ini alasan apa yang hendak Pita berikan kepada keluarganya. Lelaki yang ia perjuangan ternyata sudah menghancurkan hati dan kepercayaannya.
Setelah melewati malam yang sulit akhirnya Pita bangun dengan keadaan mata panda yang sangat jelas terlihat. Pita harus segera menyamarkan, karena siang ini Pita memiliki jadwal pemotretan.
__ADS_1
Yuna yang baru saja mencuci piring merasa sangat terkejut saat melihat Pita menempelkan buah tomat di bawah matanya.
"Astagfirullahaladzim," kaget Yuna.
Apakah efek depresi begitu parah hingga membuat penampilan Pita menjadi acak acakan seperti ini. Rambut yang di biarkan saja tanpa di ikat dan di sisir, mata yang sembab serta wajag yang terlihat sangat kusut.
Disisi lain Danar terlihat sangat kacau disebuh kamar milik Jihan. Setelah Danar di usir oleh Pita, Danar memutuskan untuk pulang ke rumah Jihan du disewa dua bulan belakang ini.
"Mas Danar kenapa lagi?" Jihan sudah membwa secangkir kopi hitam.
Danar hanya sekilas melirik Jihan. Entah kenapa dirinya tidak bisa menolak keingunan Jihan meski hatinya kecilnya ingin memberontak. Setiap menatap mata Jihan, Danar tidak bisa berbuat apa apa lagi selain menuruti permintaan Jihan.
"Pita menggugat, Ji," terang Danar.
Jihan tersentak, apakah Jihan tidak salah dengar? Mengapa secapat itu, bahkan Jihan belum puas untuk mempermainkan hidup Pita tetapi Pita lebih dulu menyudahi permainan ini. Tidak seru, batin Jihan.
Namun dalam hati Jihan bersorak ria. Setelah perpisahan Danar nanti berarti hanya dirinya lah istri Danar satu satunya. Saat ini mungkin masih sebatas siri namun sebentar lagi Jihan-lah yang akan menjadi Nyonya Prasetyo. Jihan tersenyum kecil.
"Bagus dong, Mas. Jadi kita bisa menikah secara sah dan anak kita akan memiliki status yang sah juga."
Danar menatap perut rata milik Jihan. Tak dapat di pungkiri saat Jihan mengatakan dirinya tengah hamil darah dagingnya, Danar merasa sangat bahagia. Impian yang selama ini telah terwujud meski dalam rahim wanita lain. Entah mengapa Danar sangat yakin jika yang tenagah di kandung adalah darah daginganya hingga Danar setuju untuk menikahi Jihan.
"Jangan bilang kamu masih sangat cinta sama Pita kan, Mas?" tebak Jihan.
Danar tidak bisa mengartikan perasaannya sendiri. Tetepi relung hatinya sangat berat untuk berpisah dengan Pita.
Namun satu sisi lain Danar tetap ingin bersama dengan Jihan.
Diam adalah tanda jika Danar memang masih mencintai Pita. Jihan merasa sangat kesal, mengapa begitu sulit membuat Danar benar benar untuk melupakan Pita.
🍂🍂 Bersambung 🍂🍂
Mohon maaf jika ada Typo, belum sempat di revisi. Silahkan taburkan kebaikan dengan cara like dan komen 😊
Yang ingin Follow2 IG juga boleh : Teh_ijo25
Selagi menunggu novel ini Up mampir di karya temen Othor Saee MALAIKAT TAK BERSAYAP
__ADS_1