SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
POSESIF


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 66 || POSESIF


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA ...


Sepeninggal Ilhma wajah Danar masih memerah menahan amarahnya. Entah mengapa Danar sangat tidak rela jika Pita akan menikahin adik ipar Ilham. 


"Arrhh …" Danar menjambak ramabutnya, tetapi tanpa sadar rambutnya ikut ronton dalam genggaman tanganya. Matanya melotot tak mempercayai kenyataan yang sangat menyedihkan. 


"Tidak mungkin." Danar menggelengkan saat melihat helaian rambut di tangannya.


.


.


.


Pita masih tak melepas senyum dibibirnya saat menjalani beberapa proses pengambilan gambarnya dengan Rey, lelaki menyebalkan yang meluluh lantahkan hatinya.


Cinta hadir begitu saja tanpa bisa ditebak dengan siapa ia akan melabuh. Lelaki yang tak pernah terpintas dalam benaknya. Mungkin ini adalah takdir dari Tuhan. Setiap kegagalan pasti akan ada cahaya terang menuju kebahagiaan. 


Awal pertemuannya dengan Rey yang tidak sengaja, hingga Rey membantu Pita tetap bertahan dan selalu menguatkan.


Cinta tidak memandang usia. Belum tentu yang sudah matang itu setia.


"Rey, ponsel kamu bunyi terus." Pita yang sudah berganti pakaiannya tanpa sengaja mendengar nada posel Rey berdering terus.


"Angkat aja!" teriak Rey yang masih berada di dalam ruang ganti.


Pita yang sudah mendapatkan izin dari sang empu segera mengangkat panggilan tanpa nama. Berulang kali Pita menyapa, tetapi tak ada jawaban hingga akhirnya panggilan terputus.


Pita mengernyit. "Aneh," gumamnya.


"Siapa, Sayang?" tanya Rey yang tiba tiba nongol di belakangnya sambil memeluk Pita dari belakang serta mengecup bahu Pita dengan lembut. Katakan saja Rey sudah berani untuk menyentuh Pita berlebih, toh mereka juga akan menikah. Selama ini tak ada suasan apapun hingga terasa anyep. Tapi kali ini Rey telah memberanikan diri karena tak ada penolakan dari Pita.

__ADS_1


"Apaan sih Rey? Malu tau diliatin banyak orang." Pita berusaha melepaskan tangan yang melingkar diperutnya.


"Kenapa harus malu? Kita kan gak  nganu disini."


"Rey!" sentak Pita.


Rey yang bergelayutan manja mendadak berdiri tegak. Memang payah punya calon istri yang tidak pernah peka. Tak pernah ada niatan romantis dikit. Rey membuang nafas lelahnya.


"Dikit dikit ngambek, dikit dikit marah," keluh Rey.


Pita segera membalikan badan lalu menatap Rey dengan tajam. Bukan karena tidak suka di peluk, tapi pikiran Pita masih memikirkan siapa penelepon misterius tadi.


"Kok gitu? Kenapa ada yang salah lagi? Gini nih, kalau lagi PMS. Dikit dikit salah," keluh Rey lagi.


"Apaan sih Rey! Kamu tuh nyebelin banget."


Rey semakin mengernyit saat aura Pita terlihat lebih serius. Pasti ada yang sedang dipikirkan.


"Ada apa?" tanya Rey lembut.


Pita segera menyodorkan ponsel Rey dan menanyakan siapa yang sudah meneleponnya tadi. Rey yang tidak tahu apa apa hanya bisa menggeleng.


Dua karakter yang berbeda selalu mempermasalahkan masalah kecil tetapi akan ada saja yang memilih mengalah, baik Rey ataupun Pita.  


Cinta kadang merubah kewarasaan seseorang. Rasa ingin memiliki dan takut kehilangan membuat cemburu hingga berlebihan.


Pada akhirnya Rey yang tidak tahu apa apa memilih memblokir nomer yang tak dikenal agar Pita percaya jika Rey tidak menyembunyikan sesuatu darinya.


"Inget Rey, aku paling tidak suka dengan pengkhianatan. Awas aja kalau kamu sampai berani macam macam, langsung ku potong beo mu!" ancam Pita.


Rey menelan kasar ludahnya sambil bergidik ngeri. Tangannya ia letakkan tepat diatas resleting celana. "Sadis amat! Belum juga di unboxing udah mau di potong aja," keluh Rey pelan.


Rey baru tahu di balik sikap anggun Pita ternyata dia gakal dan posesif. Pita yang sudah pernah merasakan kegagalan rumah tangga tak ingin mengulangnya lagi. Berharap Rey benar benar setia kepada dirinya.


.


.

__ADS_1


.


Lampu hijau yang telah menyala dari keluarga Rey membuat janda muda itu selalu nempel terus kepada Rey. Bahkan kadang Pita menghabiskan waktunya di kantor milik Rey.  


Sekedar menemani Rey ataupun ikut terjun langsung ke gudang untuk melihat pengemasan kosmetik yang hendak di kemas dan akan di pasarkan ke lokal maupun interlokal.


Pita masuk ke ruangan Rey dengan secangkir kopi di tangannya. Malam ini Rey terpaksa harus lembur karena kemarin sudah membuang waktunya tanpa menyentuh pekerjaan sama sekali.


"Kamu pulang aja, aku masih lama," ujar Rey saat Pita meletakkan cangkir di depan Rey.


"Kenapa? Mau janjian sama wanita lain?" tuduh Pita.


Rey memijit pelipisnya. Posesif Pita ternyata berlebihan juga melebihi rasa posesif yang ia miliki.


"Ya sudah, tapi jangan ganggu biar cepet siap," pesan Rey.


"Siap."  Pita pun memilih kembali ke sofa sambil menunggu kekasih hatinya mengerjakan tugas yang menumpuk. Pekerjaan baru tugas pun juga baru.


Beberapa kali Pita melihat Rey meluruskan otot tangannya yang terasa pegal akibat terus berkutat di keyboard laptopnya.


Pita menghela nafas pelan lalu menghampiri Rey. "Kalau udah capek ya gak usah di paksain." Pita menijat bahu Rey membuat berondong jagung itu terdiam sesaat. Sentuhan tangan Pita membuat syaraf otknya mengalir cepat ke bagian sensitifnya hingga terasa sesak.


Rey menghentikan pekerjaannya. Matanya memejam menikati setiap pijatan lembut dibahunya. "Tan, kayakanya tante cocok jadi tukang pijat deh. Enak banget."


Seketika bahu Rey mendapat tabokan dari Pita. "Tuh kan tante lagi," protes Pita.


Mulut Rey yang sudah terbiasa masih sulit untuk beradaptasi membiasakan mengganti nama panggilan untuk Pita.


SEGINI DULU, MAAF KALAU MASIH ADA TYPO. BELUM SEMPAT AKU CEK LAGI.


IKUTI TERUS NTAR ADA BONUS SPESIAL DARI OTOR.


SELAGI MENUNGGU KALIAN SINGGAH DULU DI NOVEL MILIK AUTHOR ZAFA


JUDUL : SAHABAT JADI NIKAH


AUTHOR : ZAFA

__ADS_1



__ADS_2