SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
TERBONGKAR


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 17 || TERBONGKAR


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA...


Tiga hari telah berlalu. Kegiatan Pita berada di pulau Dewata ternyata lebih cepat siapnya ketimbang perkiraan sebelumnya. Pagi ini Pita dan Yuna sudah siap siap untuk chek out dari hotel. Ternyata berjemur di pinggiran pantai membuat kulit Pita sedikit berubah warna.


Rey sengaja mengikuti Pita dan Yuna. Dirinya juga ikut penerbangan pagi ini. Jika harus jujur, Rey masih terasa kurang untuk menikmati liburan sambil kerja ini. Jarang bagi Rey untuk bisa bermain, apalagi di pantai yang menjadi tempat favoritnya sejak kecil.


"Bu, mending kita gak usah kasih tahu pak Danar jika ingin pulang sekarang," saran Yuna. 


Yuna yang memang sudah mengetahui apa yang dilakukan Danar kepada Pita merasa sangat geram. Andaikan saja Yuna berada dalam posisi tersebut, sudah  dipastikan Yuna tidak akan memberi celah kedua orang yang menjijikkan tersebut. Jangankan untuk disentuh, dipanggil saja Yuna tidak sudi.


"Ya. Aku ingin memberi kejutan kepada mereka. Selama tiga hari mereka telah puas menuntaskan hasrat bejat mereka di rumahku. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat kita datang nanti," ujar Pita.


Yuna setuju. Bahkan kalau dibolehkan Yuna ingin menyiram Jihan dengan air keras agar wajahnya hancur seketika.


Rey yang berada di belakang Pita tidak terlalu merespon percakapan Yuna dan Pita karena memang Rey tidak tahu titik masalahnya namun Rey juga tahu jika inti dari percakapan keduanya adalah seseorang yang telah berselingkuh.


Rey tidak ambil pusing, ia memilih memasang earphone dan memilih mendengarkan musik untuk menemani perjalanan menuju kota pendidikan tersebut.


***


Yuna dan Pita saling menatap saat pintu rumah dalam keadaan terkunci. Dari CCTV yang telah dihubungkan ke ponsel Pita,mereka tidak menemukan tanda tanda kedua manusia itu keluar dari kamar. Berarti keduanya masih tertidur.


"Lewat pintu samping aja, Bu," saran Yuna. Pita mengangguk setuju. Sungguh dirinya tidak sabar untuk memberikan sebuah kejutan kepada suami dan sahabatnya yang telah berhasil mengkhianatinya.


"Pelan, Bu!" ucap Yuna.


"Iya, iya." 



Pita dan Yuna memasuki rumah dengan mengendap endap bak seorang maling hanya demi untuk tak terdengar oleh penghuni rumah. Mata Yuna berkeliaran memastikan apakah situasinya aman atau tidak. Pita hanya mengikuti langkah Yuna dari belakang.


"Sepertinya mereka masih tidur, Bu," bisik Yuna.


Setelah memastikan situasi aman, Pita membuka pelan pintu kamarnya yang memang tidak terkunci. Tubuhnya mematung serta matanya membulat dengan sempurna. Dada Pita naik turun menahan rasa sakit dan kecewanya.


Pita berjalan pelan, dengan perasaan hancur Pita menyibakan selimut tebal yang masih membungkus kedua manusia yang tidak mempunyai moral tersebut membuat Yuna berteriak sambil menutup matanya.

__ADS_1


Akibat teriakan Yuna, Danar dan Jihan membuka matanya. Alangkah terkejut keduanya saat mendapati Pita telah berada di depan mereka, terlebih selimut yang menutupi tubuh polos keduanya tercampakan ke lantai.


"Pi-Pita," gugup keduanya bersamaan sambil memungut pakaian yang tercecer di lantai.


Satu tamparan keras mendarat pada pipi mulus Jihan. Pita yang sudah habis kesabaran segera menjambak rambut Jihan membuat sang empu meringis kesakitan. 


Sementara itu Danar hendak melerai Pita namun dengan cepat Pita melayangkan sebuah ancaman.


"Jika Bang Danar maju selangkah, aku pastikan kejadian ini akan viral di media sosial," ancam Pita.


"Tapi Pit, kasihan Jihan kesakitan," tutur Danar.


"Bang Danar lebih kasihan sama pelakor seperti ini, ha?!" Pita semakin kuat menarik rambut Jihan. 


"Aauu, sakit Pit," rengek Jihan. Pita tidak mempedulikan keluhan Jihan. Sebenarnya ini belum seberapa, bisa saja Pita menggiring  Jihan dan Danar ke kompleks tetapi Pita tidak akan melakukan hal itu.


"Pit, kita bisa bicara baik baik. Lepasin dulu. Auuuw… Sakit, Pit." Jihan meneteskan air matanya. Sungguh dirinya sangat malu dengan keadaan saat ini yang belum sempat memakai pakaian dan terlebih di ujung pintu berdiri sosok Yuna yang terus memperhatikan dirinya.


"Apa yang perlu dibicarakan lagi? ha?!" bentak Pita.


"Ambil itu!" Pita berteriak sambil menunjuk selimut agar Jihan menutup tubuh polosnya.


Dengan nafas yang masih tersengal, Pita menatap Danar dan Jihan bergantian. Keduanya seolah tidak punya nyali untuk menatap Pita bahkan untuk mengucapkan satu kata saja rasanya sangat sulit.


Saat ini mereka telah duduk di ruang tamu. Pita ingat dengan jelas sofa yang tengah diduduki oleh Danar dan Jihan adalah tepat dimana keduanya bercumbu sangat kuat.


Yuna masih setia berdiri di belakang Pita. Ingin rasanya Yuna mengambil air comberan lalu menyiramnya ke wajah Jihan namun Pita melarangnya.


"Pit… Maaf aku khilaf," tutur Jihan pelan.


Pita menertawakan penjelas dari Pita. Sejak kapan khilaf namun diulang setiap hari. Itu bukan khilaf, tapi doyan.


"Bang Danar bisa jelaskan semua ini, Bang?" lirih Pita.


Danar tak mampu menatap Pita. Sungguh malu luar biasa. "Maaf… Abang khilaf," ujarnya pelan.


Yuna yang  geram pun ikut berceloteh.


"Khilaf kok berulang kali. Doyan iu namanya."


"Ji, selama ini aku sangat percaya kepadamu tapi ini balasanmu untukku? Bang Danar itu suami aku, Ji!" sentak Pita.


"Kenapa dari tadi hanya aku yang dipojokkan? Kenapa gak Mas Danar. Harusnya kamu intropeksi diri, Pit. Kamu udah gak cantik lagi, wajar kalau suami kamu berpaling," ujar Jihan. 

__ADS_1


Untuk apa mengalah, jika pada dasarnya memang begitulah kenyataan. 


"Diam kamu Jihan!" bentak Danar. 


Baik Danar maupun Jihan saling menyalahkan untuk mencari pembelaan. Tetapi apa yang akan dibela jika keduanya sama sama menikmati.


Pada dasarnya saat ini iman Danar sedang tergoyahkan oleh secuil ikan asin. 


Daging di rumah lebih segar tetapi Danar malah tergiur ikan asin di luar sana yang belum tentu higienis.


"Sekarang pilihan ada di tangan Bang Danar. Masih ingin mempertahankan rumah tangga kita atau lebih memilih wanita murahan seperti Jihan? Jika Bang Danar lebih memilih Jihan, kita pisah! Aku tidak sudi berbagi dengan orang lain. Sebenarnya aku juga masih mikir mau apa tidak untuk disentuh kamu, Bang!" tegas Pita.


"Mas, kamu pilih aku kan mas? Kamu udah pernah bilang kamu bosan dengan istri kamu. Aku bisa kan memuaskanmu, Mas Danar aku lebih cantik dari istri kamu, Mas!" Jihan merengek menunggu jawaban dari Danar. Jihan tidak akan terima jika Danar lebih memilih Pita lagi. Selama ini Jihan sudah berusaha mati matian untuk bisa mendapat Danar, tidak mungkin usaha Jihan akan gagal.


"Pit, aku akan tetap pertahankan rumah tangga kita. Maaf sudah membuatmu kecewa," lirih Danar.


Jihan tersentak dengan ucapan Danarm tidak mungkin, ini tidak mungkin. Danar sedang berkilah kan?


"Mas Danar," gumam Jihan pelan.


Pita tersenyum sinis. Begitu mudahkah memaafkan penghianat seperti Danar? Tidak! Dia sudah menghancurkan cinta dan kepercayaan, dia harus diberi pelajaran!


"Baiklah, jika Bang Danar memang serius ingin mempertahankan hubungan rumah tangga kita, aku ingin semua aset yang Abang miliki semuanya menjadi atas namaku, termasuk kepemilikan rumah ini dan cafe. Satu lagi, Bang Danar harus pecat wanita ****** ini dari Cafe. Jika Bang Danar bisa melakukan ini semua aku anggap itu adalah bukti keseriusan Bang Danar untuk meminta maaf. Bagaimana, Bang?" tantang Pita.


Wajah Jihan sudah memerah. Tidak mungkin Danar akan menyerahkan semua aset miliknya termasuk memecat dirinya.


Jihan menggeleng pelan.


Danar membulatkan lebar matanya. Bagaimana mungkin Pita bisa melakukan hal ini kepada dirinya. Itu sama saja menjatuhkan dirinya sebagai lelaki. Danar terdiam belum bisa memberi keputusan. Karena tawaran Pita sungguh berat. Semua aset dan rumah ini adalah jerih payahnya sendiri tanpa campur tangan orang lain mengingat Danar adalah anak yatim piatu sedari kecil.


"Kenapa Bang Danar diam? Aku anggap diamnya Bang Danar sebagai rasa tidak setuju," ujar Pita.


"Tidak… Tidak Pita. Aku setuju untuk menyerahkan semua aset yang aku milik kepadamu asal kamu memaafkanku."


Jihan yang mendengar merasa sangat terkejut. "Mas sadar, dia hanya ingin memeras kamu, Mas. Dia licik," protes Jihan.


"Jihan kamu sudah dengar bukan, suami aku lebih memilih aku ketimbang kamu. Jadi mulai sekarang tinggalkan suami aku dan pergi dari rumahku!" tegas Pita.


🍃🍃BERSAMBUNG🍃🍃


Halo Halo... terimakasih like dan komen. Tanpa kalian sadari Like dan komentar kalian adalah mood booster untuk author.


Oh iya, selagi menunggu novel ini Up lagi, mampir di novel temen Othor ya.

__ADS_1


TERSESAT DI HUTAN CINTA karya Author LUSIANA ANWAR. Mampir ya!



__ADS_2