SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
KEMBALI PULANG


__ADS_3

Dugaan Yuna salah, ternyata Rey di bawa pulang ke rumah utama, bukan ke apartemen yang mereka tinggali. Rasa kecewa tak terelakkan dari wajah Pita. Sambil ditemani Yuna, Pita pun menyambangi rumah orang tua Rey.


"Masuk, Nak. Rey ada di dalam." Ayah Abdullah yang tak sengaja berpapasan dengan Pita di halaman.


"Maaf ayah harus urusan penting. Kamu masuk aja. Rey pasti sedang membutuhkan kamu."


Pita tersenyum tipis. Namun, ia bersyukur karena masih ada yang menganggap dirinya ada. Entah hanya perasaannya saja yang menilai kakak dan ibu mertua menjauhinya.


Sampai di ruang tamu, terlihat Asiah sedang menyuapi Rey karena sebenarnya lagi Rey akan minum obat.


"Siang semua," sapa Pita.


Seketika semua mata mengarah pada sosok tamu mereka, eh bukan tamu tapi menantu.


Asiah segera memalingkan wajahnya. Masih jelas membekas di hatinya pengakuan sang suami yang ternyata memiliki perasaan kepada iparnya. Lebih kesalnya lagi, Asiah juga sudah membeberkan rahasianya kepada Pita saat itu.


"Pita," gumam Aminah, ibu Rey.


Sementara itu Rey menatap Pita tanpa kedip. Serasa begitu familiar tetapi, Rey tidak tahu siapa wanita yang berada di hadapannya ini.


"Kamu …. " ucapan Rey Tejeda sambil mencoba untuk mengingatnya.


Mata Asiah dan ibunya saling menatap. Apakah Rey begitu cepat mengingat Pita.


"Kamu Yu-na 'kan?" Rey terbata.


Yuna terbelalak dengan mulut ternganga. Bagaimana mungkin Rey bisa mengingat dirinya sedangkan ia tidak bisa mengingat Pita.


"Iya … iya Mas. Saya Yuna. Kalau ini, Mas tahu?" Yuna memegang tubuh Pita.


Rey menggeleng. "Tidak."


"Kalian dengar kan, Rey tidak mengingat kamu. Jadi pulang pulang sana!" usir Asiah.

__ADS_1


"Mending kamu pulang aja, Pit. Percuma kan, Rey saja tidak mengenali kamu," sahut ibunya.


Hati Pita sangat hancur mendapatkan sikap yang tidak adil dari kakak dan ibu mertuanya padahal dia adalah istrinya Rey.


Dengan berat, Pita pun lebih memilih untuk mengalah meninggalkan tempat tersebut. Percum, toh dia tidak akan dianggap ada. Namun, saat langkah Pita baru satu langkah, Rey segera mencegah.


"Tunggu!"


Semua mata menatap Rey, tak terkecuali Pita yang berbalik badan menatap Rey.


Rey menghampiri Pita dengan langkah sedikit tertatih akibat luka di kakinya.


"Maaf aku benar-benar tidak bisa mengingatmu. Jika memang apa yang kamu ucapkan benar, beri aku bukti yang jelas."


Degup jantung Pita berdebar lebih kencang. Dengan aroma khas tubuh Rey, ingin sekali Pita memeluk tubuhnya untuk menyalurkan rasa rindunya.


"Hei …." Rey melihat Pita yang tertunduk menahan mair mata.


Pita membuang nafas kasar lalu melihat kedua wanita di belakang Rey dengan mata yang melotot lebar.


Pita tersenyum tipis lalu memperlihatkan wallpaper di ponselnya. Tidak sampai disitu, Pita juga membuka album foto mereka saat ijab kabul dan foto-foto saat mereka berdua.


Rey memejamkan matanya dan  memegang kepalanya yang terasa sakit. Sungguh dia tidak bisa mengingat Pita.


"Rey, kamu gak papa? Ayo kita ke kamar." Asiah dengan sigap memegang tubuh Rey yang hampir terhuyung.


"Ayo, Nak kita ke kamar saja. Kamu harus istirahat. Pita lebih baik pulang."


Rey segera menghempaskan tangan Asiah yang hendak menuntunnya ke kamar.


"Lepas. Kalian apa-apaan sih? Dia istriku dan seakan kalian tidak suka dengannya. Asiah, lepas! Aku akan pulang bersama dia."


"Tapi Rey …."

__ADS_1


"Bisa saja dia berbohong, Nak dan memanfaatkan kamu karena keadaanmu yang sekarang," timpal Ibunya.


Yuna yang merasa geram terhadap tingkah anak dan ibu yang terang-terangan mengibarkan bendera perang akhirnya pasangan badan untuk Pita 


 "Aku heran dengan kalian berdua. Jelas-jelas mas Rey itu suaminya bu Pita, tapi kalian seolah ingin memisahkan mereka. Kenapa ada masalah apa?"


Tak ingin membuat keributan, Pita menahan Yuna lalu mengajaknya untuk keluar dari rumah ini. "Udahlah gak ada gunanya. Ayo kita pulang aja. Aku ingin beristirahat."


Yuna menyetujui ucapan Pita dan memilih meninggalkan kedua wanita yang tak punya hati seperti anak dan ibu ini.


"Tunggu … aku ikut," ucap Rey.


"Rey," sentak ibunya.


"Maaf, Bu. Mungkin aku kehilangan sebagian ingatanku dan tidak bisa mengingat dia. Tapi hatiku mengatakan bahwa dia memang istriku. Maaf aku juga harus pergi." Rey menggandeng tangan Pita untuk keluar dari rumah orang tuanya.


Pita masih tak menyangka akan mendapatkan perlakuan baik seperti ini disaat ipar dan mertua tak lagi menyukai dirinya. Dalam keadaan hilang ingatan, Rey masih bisa mempercayai ucapan Pita dan berpihak kepada dirinya. Sambil mengelus perut ratanya Pita mengembangkan seuntai senyum di bibirnya merasa jika ini adalah mukjizat dari Tuhan.


🌼 Bersambung 🌼


Halo-Halo selamat pagi Teh ijo mau bilang kalau Teh Ijo baru aja punya novel baru dan butuh dukungan kalian 😊 Singgah dong 🙏


**1. Lelah Disiksa Rindu.



Hidden Baby**



Oh iya, selagi menunggu kelanjutan novel ini singgah dulu ya ke novel teman Teh ijo


UNPERFECT WIFE

__ADS_1


KARYA SISCA NASTY



__ADS_2