
SEGENGGAM LUKA
BAB 36 || KEMBALINYA DANAR
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
Dengan langkah berat Rey akhirnya meninggalkan rumah Pita karena Pita terus mengusir kehadirannya. Sepertinya Pita masih marah atas dirinya yang sengaja tak memberi kabar atas pertunangan dirinya.
Pita segera menutup pintu rumah, tubuhnya seketika luruh di belakang pintu. Ia terisak dalam tangisnya yang sejak tadi ia tahan. Sulit diartikan memang tentang rasa yang Pita miliki. Inikah yang dinamakan cinta? Pita tidak peduli, yang ia mau saat ini adalah mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Yuna yang tak sengaja keluar kamar melihat Pita yang sedang sesenggukan. Takut akan sesuatu kepada Pita, Yuna pun segera menghampiri Pita.
"Ibu… Ibu kenapa?" Yuna panik.
Pita menggelengkan kepala lalu memeluk tubuh Yuna. Yuna semakin bingung dengan sikap Pita.
"Ibu kenapa? Ayo berdiri!" Yuna mencoba mengangkat tubuh Pita ke sofa lalu memberikan air putih agar Pita merasa lebih tenang.
Yuna mencoba menenangkan Pita. Meskipun Yuna tidak tahu apa yang sedang dialami oleh sang majikan.
"Ibu tenang ya! Kalau udah tenang Ibu cerita sama Yuna ada apa, biar Ibu gak tertekan."
Pita menatap Yuna dengan malas. Memangnya harus ya, dirinya menceritakan masalahnya kepada Yuna, yang ada Yuna malah menertawakan sikapnya yang berlebihan. Ah, Pita membuang jauh pikiran tentang Rey.
Stop Pita! Sadar kamu siapa? Hanya seorang janda! Semua orang pasti akan merendahkan status tersebut jika kau bersikap berlebihan kepada orang lain. Apa pandangan mereka tentang kamu jika begitu cepat menaruh hati kepada pria lain sementara usia perceraian baru seumur jagung. Masa iddah saja belum habis. Sadar Pita!
"Gak ada! Lupakan saja, aku mau kembali ke kamar. Kamu jangan lupa pastikan semua pintu terkunci!" titah Pita.
Yuna masih mengernyit melihat perubahan sikap majikannya, kadang sedih, kadang ketus kadang terlihat sumringah. Apakah ini adalah efek dari perceraiannya dengan Danar. Yuna menggeleng melihat kepergian Pita.
"Dasar majikan aneh!"
Diluar sana, Rey masih belum menjalankan mobilnya. Ia masih tak mengalihkan pandangannya ke rumah Pita. Ada rasa sesak dalam dadanya yang susah diartikan melihat sikap Pita yang terlihat ketus seolah tidak menyukainya lagi.
__ADS_1
Semua memang salah dirinya. Seharusnya Rey berterus terang saja saat itu, kemana dia pergi. Rey membantingkan tangannya ke stir mobil.
🌿 🌿 🌿
Tak akan ada kedzoliman yang bertahta lama, begitulah kata pepatah lama.
Setelah kejadian malam itu, Danar mulai merasakan sedikit perubahan. Entah hanya halusinasinya atau dia sedang depresi karena saat melihat Jihan terkadang wajah Jihan sangat menakutkan tetapi sedetik kemudian terlihat biasa saja.
Jihan yang akhir akhir ini pulang malam membuat Danar semakin khawatir akan kesehatan kandungannya. Setiap kali Danar menyuruh Jihan untuk beristirahat di rumah, Jihan selalu saja marah dan malah menimbulkan pertengkaran kecil diantara keduanya. Danar saat ini benar benar menjadi lelaki tak berguna. Bagaimana bisa terjadi seorang lelaki mengurung diri di rumah sementara istri sibuk bekerja di luar sana dalam keadaan sedang hamil. Danar tidak bisa tinggal diam. Satu satunya cara adalah meminta belas kasihan dari Pita. Bagaimanapun, Danar harusnya berhak atas aset yang telah berpindah tangan kepada Pita karena itu murni jerih payah Danar sendiri.
Danar pun mulai menyusun rencana untuk menemui Pita besok pagi tanpa sepengetahuan dari Jihan.
Sementara itu di sudut ruangan yang gelap, Pita masih merenung. Mengartikan rasa yang ia miliki untuk Danar. Namun, Pita harus disadarkan lagi oleh keadaan. Keduanya berbeda. Rey lebih pantas untuk mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada dirinya.
Malam yang sunyi telah berganti terang dengan mentari yang bersinar terang serta kicauan burung yang yang beterbangan membuat jiwa yang masih terlelap berusa untuk membuka matanya. Sebuah pekerjaan telah menunggu tanpa tahu waktu, beruntung saja Pita hanya bekerja di siang hari karena saat ini Pita tidak mau jika harus bekerja hingga malam. Beruntungnya saja saat itu Rey menyetujui permintaan Pita.
Pita yang sudah siap untuk berangkat ke studio tiba tiba saja merasa terkejut akan sosok yang telah berdiri diambang pintu rumahnya. Jantungnya berdebar lebih kencang seketika tubuhnya kaku dan bergemetar. Sosok Danar, lelaki yang berhasil menghancurkan mimpi mimpinya masih berani datang ke rumah yang jelas bukan miliknya lagi.
"Pit, bisa kita bicara sebentar saja?" pinta Danar.
Danar tak putus asa. Ia tetap mencegah Pita agar bisa memberikan waktu sebentar untuk dirinya. Danar sendiri merasa minder dengan perubahan Pita saat ini yang terlihat lebih bersinar dan namanya telah beredar luas di media sosial namun, tak sedikitpun Pita menun tinggi hatinya kepada orang lain. Itulah yang membuat Danar luluh saat itu.
Ah, mengapa Danar malah terpesona dengan Pita lagi? Bukankah Danar sudah memiliki Jihan? Dan tujuannya saat ini adalah meminta belas kasihan kepada Pita?
"Tidak! Kita harus bicara sebentar?" cegah Danar.
"Urusan kita sudah selesai, Bang! Tidak ada lagi yang harus kita bahas. Maaf Bang, tapi aku bekerja sekarang!"
Lagi lagi Danar menghadang langkah Pita, berharap Pita memberikannya sedikit waktu saja untuk dirinya.
"Pit, ku mohon," desak Danar.
Sekuatnya hati Pita ternyata tidaklah sekuat baja yang keras dan tebal. Hati Pita kembali goyah, ia tidak sanggup melihat Danar yang seperti seorang pengemis hanya demi berbicara kepada dirinya? Apakah ini bukan dinamakan sombong dan tinggi hati? Pita tidak ingin mempunyai sifat sombong. Biarlah yang lalu biar berlalu, toh hubungan keduanya sudah berakhir meski harus meninggalkan serpihan luka. .
__ADS_1
Pita menatap nanar mata Danar. Mata yang dulu hanya untuk memuja dirinya. Pita tersenyum sinis. "Oke. Aku beri waktu tidak kurang dari 5 menit," ujar Pita.
Mendengar persetujuan Pita, Danar sangat terlihat bahagia.
Danar tidak ingin menyia nyiakan waktu yang diberikan oleh Pita.
Danar mengajak Pita untuk membicarakan masalah ini di taman sebelah kompleks. Pita hanya mengiyakan saja agar cepat selesai.
Sesampai di taman, Danar segera mengutarakan niatnya yang ingin meminta satu unit cabang Cafe yang saat ini sudah ditutup oleh Pita dan hendak di jual.
Pita hanya menertawakan saja keinginan gila dari Danar. Katakan saja saat ini Pita gila harta. Semua harta yang dimiliki oleh Danar tidak akan mampu membalut luka hatinya. Bukankah Danar saat itu sudah setuju dengan persyaratan dari Pita, lalu mengapa saat ini Danar berubah pikiran.
"Tidak Bang! Aku tidak akan pernah memberikan apa yang telah Abang berikan kepadaku! Semua yang Abang berikan tidak mudah untuk Abang tarik lagi, seperti luka hati yang telah Abang torehkan disini." Pita memegang dadanya.
"Pit, aku mohon," iba Danar.
Lagi lagi Pita hanya menggeleng. Sekali tidak ya tetap tidak.
"Pit, aku mohon," rengek Danar.
Pita hanya bisa tersenyum sinis. Ingin sekali menertawakan Bagaimana seorang Danar berkorban hanya demi wanita ****** seperti Jihan, sementara pengorbanannya tak dihargai sedikitpun oleh Danar. Miris bukan.
"Jika aku mengatakan bahwa anak yang ada dalam kandungan Jihan itu bukan anak Abang, apa Abang bisa percaya?" tantang Pita
Deg.
Danar tidak mengerti akan ucapan Pita. Sudah jelas jelas Jihan hanya melakukan hubungan badan dengan dirinya, lalu mengapa Pita bisa mengatakan hal seperti itu? Apakah Pita merasa iri terhadap Jihan yang begitu cepat bisa mengandung benihnya.
"Pita, tolong jangan ngelantur. Jelas jelas yang ada di kandungan Jihan itu anakku. Bagaimana kamu bisa menganggap bahwa itu bukan anakku. Atau… atau kamu sedang iri terhadap Jihan yang bisa mengandung anakku sementara kamu…"
"Cukup! Jika Abang kesini hanya untuk menghinaku lebih baik Abang pergi dari sini! Sudah cukup rasa sakit yang Abang goreskan jangan Abang tambah lagi dengan sebuah penghinaan! Aku subur Bang, dan aku bisa membuktikan semua itu! Sekarang Abang pergi, aku sama sekali tidak tertarik dengan permintaan Abang, lebih baik aku donasikan cafe itu daripada harus kuberikan kepada Abang!" teriak Pita dengan nafas yang memburu.
Percuma saja mengatakan sebuah kebenaran jika pada akhirnya mata Danar masih dibutakan oleh kebusukan Jihan.
__ADS_1
"Pit, maksud Abang bukan begitu," sanggah Danar.
Tetapi Pita tidak menghiraukan Danar lagi. Pita berlari kecil meninggalkan taman itu dengan berurai air mata. Sungguh sangat sakit ucapan Danar yang seolah ingin mengatakan bahwa rahim Pita tidak sehat.