SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
BERTEMU DENGAN REY


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 13 || BERTEMU DENGAN REY


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA ..


Dari hasil pemeriksaan mengatakan bahwa kesehatan Pita tidak bermasalah. Dokter hanya mengatakan kemungkinan Pita terlalu kelelahan sehingga organ tubuhnya tidak berjalan dengan sempurna.


Merasa tudak ada yang salah dengan dirinya, Pita merasa sangat lega.


Siang ini masih ditemani oleh Yuna, Pita mendatangi sebuah studio mini milik adik Asiah yang seorang fotografer.


Selama ini Pita mang belum pernah melihat adik Asiah karena memang saat itu sedang sekolah di luar Negeri.


"Bu, saya ke toilet bentar ya. Kebelet," ujar Yuna.


Pita mengangguk sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam studio tersebut.


Meskipun studionya terlihat kecil namun, di dalam sungguh luas. Bahkan kita akan terkecoh dengan penampilan luarnya yang terlihat tak menarik.


"Waoow… Lumayan bagus," gumam Pita.


Kedatangan Pita di sambut oleh seseorang yang sudah menembak itu dirinya. Benar saja, ternyata Pita langsung diberi arahn untuk segera masuk ke ruangan milik Reyhan karena Reyhan sudah menunggunya sedaru tadi.


Tok… Tok… Tok


Pita mengetuk pintu ruangan Reyhan. Setelah mendapat sahutan untuk masuk, Pita segera membuka pintu.


"Maaf saya sedikit terlambat, karena jalanan macet," ujar Pita.


Namun, Pita segera menutup mulutnya. Mata melotot lebar saat mengetahui siapa yang telah duduk di depannya.


"Kamu." Tunjuk Pita.


Reyhan mengernyit melihat Pita yang merasa shock saat melihat dirinya. Apakah dirinya terlihat menakutkan? Ah, jelas tidak, karena dirinya adalah makhluk Tuhan yang paling tampan.



"Turunkan tangan anda! Tidak sopan!" tegur Reyhan.


Pita segera menurunkan telunjuknya lalu berpikir apakah Reyhan tidak mengenali dirinya? 

__ADS_1


"Kamu pasti Pitaloka Siregar kan? Silahkan duduk!" ujar Reyhan.


Pita mengulurkan tangan berharap Rey akan  menjabat tangannya sebagai perkenalkan mereka. Namun, Pita menelan kasar ludahnya saat tidak ada tanda tanda Rey ingin berjabat tangan. Untuk kedua kalinya Pita menelan kekecewaan akibat diabaikan oleh Rey.


Pita berpikir akan ada basa basi perkenalkan seperti yang ia ketahui selama ini.


"Kamu Reyhan adiknya Asiah kan?" tanya Pita.


Mata Rey menatap manik mata Pita yang hitam lekat. "Kebiasaan, udah tahu nanya!" gerutu Reyhan.


Seketika Pita terdiam. Memang benar apa yang diucapkan Asiah jika adiknya memang sangat berbeda denganya. 


Rey bangkit lalu memutari kursi Pita. Memperhatikan dengan jeli. "Coba berdiri!" perintah Rey.


Pita segera berdiri. Rey mengangguk. "Ok kamu layak menjadi model pengganti, yah meskipun masih ada sedikit yang kurang," ujar Rey.


Pita mengernyitkan keningnya. Memangnya apa lagi yang kurang dari dirinya. Secara tinggi sudah tidak diragukan lagi. Wajah juga cantik, lalu apa?


"Apa yang kurang?" Pita penasaran.


"Ukuran dada kamu masih mini!"


Pita melotot sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya. Dasar masih bocah udah mesum. Jika Pita tidak membutuhkan pijakan pekerjaan ini, ia yakin sudah akan segera menunjang telur puyuhnya agar bisa nungging nungging.


Pita menghentakkan kakinya merasa geram atas sikap Rey yang dianggap tidak menghargai dirinya.


"Duduklah, baca baik baik kontrak ini jika kamu ingin bekerja denganku. Disini akulah yang berkuasa karena aku pemilik studio ini dan aku juga yang bertanggung jawab atas semua model yang berada dalam naungan R Group. Mengerti?" jelas Rey panjang lebar.


"Iya. Aku mengerti," ucap Pita.


"Bagus."


Akhirnya dengan tekad bulat Pita membubuhkan tanda tangannya diatas kertas bermaterai. Kerjasama antara Pita dan Reyhan pun terjadi.


*****


Yuna merasa kesal dengan Pita karena tidak diizinkan masuk untuk menemani Pita bertemu dengan Rey yang konon katanya adalah seorang fotografer yang sangat terkenal dan juga tampan.


"Ibu menang banyak," keluh Yuna.


Pita tak habis pikir Yuna masih membahas Rey meskipun mereka sudah berada telah sampai di rumah.


"Maksud kamu menang gimana sih, Yun?"

__ADS_1


"Idih Ibu kura kura perahu aslinya malu tapi mau."


"Astaga Yuna, aku beneran gak ngerti maksud kamu apa. Dah ah, aku capek mau istirahat. Kamu masak sana nanti Bang Danar pulang!" perintah Pita.


"Yaelah Bu kayak gak tahu suami ibu aja. Paling paling dia makan diluar lagi," celoteh Yuna.


Wajah Pita mendadak murung. Hidupnya saat ini sangat menyedihkan. Suaminya lebih memilih wanita lain ketimbang dirinya. Pita terlalu pengecut untuk menegur Danar. Ia takut jika Danar bener benar hilang dari genggamannya lalu lebih memilih wanita lain daripada dirinya.


"Maaf Bu, saya tidak bermaksud untuk menyinggung Ibu." Yuna merasa menyesal atas ucapannya yang asal keluar begitu saja.


"Tidak Yuna. Kamu tidak salah. Yang salah itu Bang Danar dan Jihan yang gak punya perasaan sedikitpun terhadapku. Padahal aku sudah begitu baik kepada Jihan selama ini dan ini yang Jihan berikan kepadaku?" Pita menumpahkan semua perasaan yang selama ini ia pendam sendiri. Pita benar benar menangis dalam dekapan Yuna, wanita yang baru saja ia kenal namun, telah memberikan sebuah kenyamanan dan kekuatan untuk bangkit.


"Bu, ibu yang sabar. Ibu gak boleh nyerah. Meskipun saya  baru bertemu dengan Ibu dan Pak Danar, saya melihat dari mata Pak Danar jika beliau sangat mencintai Ibu. Namun ada sesuatu yang aneh dengan suami anda yang pandangan selalu kosong." Yuna sebisa mungkin menguatkan Pita yang saat ini sedang rapuh.


"Maksud kamu apa, Yun?" Pita bangkit dari dekapan Yuna kemudian menyeka air matanya.


"Entahlah Bu. Saya juga kurang percaya akan hal yang seperti itu. Tetapi pandangan saya melihat, suami anda sedang dalam pengaruh mantra."


Pita terdiam sejenak. Mantra? Apakah Jihan sengaja menaburkan mantra kepada suaminya? Mengapa harus Danar yang Jihan incar, mengapa tidak lelaki lain yang lebih kaya dan lebih tampan yang masih single belum bersuami. Mengapa harus Danar.


****


Hawa dingin yang menembus hingga ke tulang tulang tak membuat kedua sepasang manusia yang sedang melakukan sebuah aktivitas merasa kedinginan. Bahkan keringat bercucuran deras seiring dengan hentakan demi hentakan  membuat wanita yang berada dalam tindihannya mendesah pelan menikmati setiap hentakan dari Danar. 


Danar mempercepat gerakannya saat miliknya sudah berkedut di dalam sana ingin memuntahkan cairan mentalnya. Danar ingin menarik keluar namun tangan Jihan melarang. Danar yang sudah tidak tahan lagi akhirnya mengerang panjang saat sebuah kenikmatan sudah berada di puncaknya.


Dada Jihan masih naik turun meresapi sisa sisa getaran cinta yang baru saja mencapai puncaknya sementara Danar segera menjatuhkan tubuhnya ke samping Jihan sambil menarik selimut agar menutupi tubuh keduanya.


Jihan membiarkan Danar untuk tertidur sesaat di sampingnya. Sebenarnya ia tidak rela Jika harus melihat Danar memberikan hak dan kewajiban kepada Pita. Tetapi Jihan tidak bisa berbuat apa apa karena Pita adalah pemilik Danar yang sah di mata hukum dan agama. Sementara dirinya hanya pemuas nafsu Danar tanpa ada ikatan apa pun. Secepatnya Jihan harus memastikan bahwa Danar harus bisa menjadi miliknya seutuhnya. Pita dan Danar harus segera berpisah.


Sementara itu di dalam sebuah kamar, Pita terbangun karena hendak ke kamar mandi. Pita mengernyit menatap ke samping yang masih kosong meskipun hari telah menunjukkan pukul 11 malam.


"Bang Danar belum pulang?" Pita memegang dadanya yang terasa sakit bak seperti sedang diiris sembilu. 


Bang Danar sudah kelewatan. Aku tidak bisa mendiamkan mereka seperti ini.  Apa yang mereka lakukan itu udah salah.


Pita meneteskan air matanya. Hatinya saat ini benar benar sangat sakit. Ia sangat tidak rela berbagi suami dengan seorang pelakor yang tidak tahu diri seperti seorang Jihan.


🍃🍃BERSAMBUNG🍃🍃


Hai hai sambil menunggu novel ini Up lagi mampir dulu di novel teman Othor ya. Ceritanya seru.


__ADS_1


__ADS_2