SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MANDI DI SUNGAI


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 43 || MANDI DI SUNGAI


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA


Hampir sebagai para tamu memusatkan pandangan mereka ke arah Rey yang baru saja menginjakkan kakinya di bawah tenda yang telah didekorasi secantik mungkin.


Lagi lagi Rey hanya bisa mengernyitkan keningnya saat salah seorang anak mengajak Rey untuk naik keatas panggung pelaminan dimana dua orang insan sedang menjadi raja dan ratu dalam acara tersebut tetapi Rey menolak keras.


"Udah naik aja, Bang. Biar gak nyesel nanti!" ujar salah seorang anak.


"Kalian apa apaan sih? Aku gak kenal siapa yang nikah!" tolak Rey.


"Apa harus kami antar, Bang?" 


"Gak perlu!"


Sudah banyak mulut yang berbisik merasa sangat penasaran dengan kedatangan Rey karena pakaian dan sebuah tas ransel yang digendongnya. Bisik bisik itu akhirnya sampai juga di telinga Pita. Hanya butuh waktu 1 detik saja angin begitu cepat berhembus. Tanpa belum tahu kebenaran sebenarnya mereka sudah bisa menyimpulkan sesuatu yang mereka lihat.


Posisi Pita yang membelakangi Rey membuat Pita juga penasaran dengan tamu yang hampir membuat semua tamu heboh. Bahkan dengan lantang ada yang mengatakan bahwa mantan mempelai datang.


Pita tidak ingin pesta pernikahan abangnya hancur pun ingin menemui pria yang dikatakan mantan kakak iparnya.


Saat Pita telah menangkap keberadaan pria tersebut, mata Pita membulat lebar. Berharap itu hanya halusinasinya saja. Mana mungkin Rey ada disini. Mungkinkah hanya orang yang sekedar mirip dengan Rey.


Tidak mungkin! Pita menangkup mulutnya dengan mata terbelalak. Ini bukan mimpi dan bukan halusinasinya. Itu benar benar Rey!


Dengan langkah memburu, Pita segera menghampiri Rey.


"Rey," panggil Pita.


Bukan hanya Pita yang sangat merasa terkejut, bahkan Rey sendiri hampir tidak percaya dengan wanita yang berbalut kebayang dengan rambut disanggul yang membuat Pita sangat terlihat lebih anggun.


"Tante," lirih Rey tak percaya. 


Demi apapun yang bersinar, hati Rey sangat bahagia dengan refleks segera memeluk tubuh Pita. Menumpahkan segala kerinduan yang terbendung selama seminggu belakang ini. Memeluk tubuh Pita dengan erat membuat Pita sedikit kesusahan untuk bernafas.


"Rey, lepas! Gak bisa nafas aku," bisik Pita.


Aksi Rey yang memeluk Pita menjadi sorotan utama para tahu yang hadir dari pada sepasang pengantin yang berada di atas panggung pelaminan.


Pita tak habis pikir mengapa Rey bisa sampai di kampungnya.  Sementara itu, Rey yang sadar segera mengendurkan pelukan, bukan melepaskannya.


"Tante jahat! Tante sudah berhasil membuat aku hampir gila," bisik Rey.


"Iya. Tapi lepasin dulu, Rey! Malu diliatin banyak orang."

__ADS_1


Rey yang sadar sedang berada dimana segera melepaskan pelukannya dan hanya nyengir saja saat keduanya menjadi pusat perhatian dari tamu yang hadir.


Tak ingin mengganggu acara tersebut, Pita memilih menggandeng tangan Rey untuk ke kebelakang.


Tak hentinya Rey mengembangkan senyum di bibir merahnya. Setelah perjuangan yang melelahkan ternyata dirinya tidak salah alamat dan ternyata yang menikah adalah Ucok abang dari Pita. Rey masih ingin memeluk tubuh Pita untuk meredakan rasa rindunya tetapi ia takut jika Pita menolaknya.


Pita sudah membawa Rey ke halaman belakangan dimana orang juga sedang sibuk untuk masak memasak dan mencuci piring layaknya di sebuah kampung kampung biasa.


Bukan sebuah kota hanya kampung biasa tetapi sudah terbilang lebih maju. 


Karena keluarga Pita adalah keluarga yang terpandang dan orang tuanya memiliki sebuah kedudukan disana maka tak heran jika acara pernikahan Ucok diadakan secara besar besaran hingga 7 hari 7 malam.


Setelah keduanya duduk di sebuah bangku, Pita mengernyit heran mengingat Rey bisa sampai disini. 


"Rey, aku hampir tak percaya jika ini adalah kamu." Pita terkekeh pelan.


"Darimana kamu tahu alamat rumahku? Bukankah kamu tidak pernah kesini? Bahkan Bang Danar saja belum pernah lho menginjakkan kakinya di rumah ini," lanjut Pita lagi.


Hidung Rey kembang kempis tak bisa menahan rasa bangganya. Berarti derajat dia lebih tinggi dari pada mantan suami Pita. Rey yang bukan siapa siapa saja nekat mendatangi rumah Pita walaupun tidak tahu, modal nekat aja.


"Tante gak perlu tahu dari siapa aku mendapatkan alamat tante dari mana. Yang harus Tante tahu adalah niat baikku," kekeh Rey.


"Mulai deh…" lirih Pita.


Semakin lama acara semakin ramai. Tamu mulai padat untuk menghadiri pesta Ucok. 


Hingga detik ini orang tua Pita belum menyadari kehadiran Rey ditengah tengah meriahnya pesta. Wajar saja, karena ayah dan ibu Pita duduk manis di urutan kursi paling depan.


"Gak ah, udah jam berapa ini?" 


"Baru juga jam 7, Rey. Sana! Biar kita kedepan. Aku gak enak sama tamu ayah yang terus nanyain aku," ujar Pita.


"Gimana mau mandi Tan, kamar mandi tante aja cuma satu. Tuh liat family Tante aja masih ngantri," protes Rey.


Pita pun menyadari hal itu, membuatnya berinisiatif untuk mengajak Rey mandi di sungai yang biasa digunakan warga setiap harinya.


Rey menolak tetapi, Pita selalu saja bisa meluluhkan hati Rey dan menyetujui ide gila dari Pita untuk mandi di sungai pada malam hari. Selama hampir 24 tahun, Rey tidak pernah yang namanya mandi di sungai dan ini adalah kali pertama Rey mandi di sungai.


Tak seperti dalam pikirannya, ternyata sungai yang ditunjukkan oleh Pita tidaklah sunyi, nyatanya meski sudah pukul 7 malam sungai masih ramai dengan beberapa orang yang hendak mandi.


Bukan tidak ada air bersih atau sumur tetapi, sejak dulu kala mereka susah terbiasa mandi dan mencuci di sungai.


"Jadi aku mandi disini, Tan?" Rey meragukan diri.


"Iyalah, emang maunya di tengah sana?" sahut Pita.


Dengan berat hati dan ragu Rey mencoba untuk masuk kedalam sungai yang dingin.


"Yakin mau mandi seperti itu?" teriakan Pita membuat Rey sadar bahwa dirinya masih menggunakan pakain lengkap.

__ADS_1


"Tante mau liat aku telanjang ya?"


Pita menggelengkan kepalanya. Dasar bronis. Untung sayang.


"Amit amit! Nih pakai kain ini!" Pita terpaksa harus turun ke permukaan air untuk memberikan sebuah kain untuk menutup bagian tubuhnya saat mandi dan setelah itu memilih menunggu Rey diatas.


Dengan pancaran sebuah senter, Rey menikmati segarnya air yang mengalir meski awalnya Rey ragu untuk membasahi tubuhnya. Semakin lama Rey semakin keasyikan berenang di sungai yang arusnya tidak terlalu deras. 


Pita yang menunggu di atas sudah mulai menjadi santapan nyamuk nyamuk nakal yang menyukai darahnya.


"Rey cepetan! Banyak nyamuk, nih!" teriak Pita.


"Bentar, Tan!" sahut Rey.


🌳       🌳      🌳      🌳


Malam ini acara sangat meriah karena orang tua Pita mengundang salah satu penyanyi yang kondang di kotanya.


Semua orang telah sibuk mencari keberadaan Pita, bahkan Yuna sendiri tidak tahu karena sejak tadi Yuna berada di belakang panggung untuk menyumbangman suara emasanya. Yuna sendiri tidak tahu kedatang Rey kesini.


"Tidak mungkin ibu hilang kan?" pikir Yuna.


Nadine yang mendengar segera menyambar ucapan Yuna. "Enak saja kau bilang! Kau pikir si Butet anak kecil?"


"Yah… Mana tahu aja," sambung Yuna enteng.


Jangankan Nadine, Amzah ayah Pita juga tidak tahu keberadaan putri satu satunya berada. Tidak mungkin kabur sementara ada yang melihatnya beberapa menit yang lalu bersama dengan seorang lelaki tampan yang datang sore tadi. Orang yang melihat itu adalah teman Pita atau Ucok. Tidak mungkin Pita yang sudah bersuami akan membawa pria lain ke acara pernikahan abangnya.


Panjang umur Pita, baru saja menjadi pusat perbincangan kini sudah muncul dengan sosok seorang laki laki muda.


Mata Amzah menangkap dengan tajam, memastikan siapa lelaki tersebut. Mengapa Amzah tidak pernah melihat sebelumnya.


"Darimana kau?" tanta Amzah kesal


 


Pita dan Rey segera mendongak saat melihat wajah ayah Pita yang sudah tidak bersahabat.


"Dari sungai, Pak," jabaw Rey.


"Bukan kau yang aku tanya tetapi si butet." 


"Maaf pak kirain saya," sambung Rey


.


.


.

__ADS_1


.


Dah sampai sini dulu. Kalau banyak yang baca nanti aku Up lagi. Salam hangat ~teh ijo. ❤❤ 


__ADS_2