SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MENGHAJAR DANAR


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 24 || MENGHAJAR DANAR


~TEH IJO ~


SELAMAT MEMBACA...


Setelah acara selesai Pita meminta Rey untuk mengantar dirinya ke Mall karena ternyata abang dan ibunya sedang jalan jalan ke Mall bersama dengan Yuna.


Sebenarnya Pita sendiri enggan untuk pergi ke Mall tetapi abangnya memaksa karena ada hal yang penting yang harus diperjelaskan. Pita sendiri tidak tahu hal apa itu. Tanpa menolak sedikit pun, Rey menyetujui keinginan Pita.


Satu jam yang lalu…


Ucok merasa sangat bosan berada di rumah Pita yang sangat sepi karena Pita memang tinggal di sebuah kompleks. Tak ada tetangga yang bisa diajak berkombur, tak seperti di kampungya yang akan selalu ramai jika ada sanak saudara yang datang. Sekedar basa basi melihat dan menanyakan kabar. Berbeda dengan tempat tinggal Pita yang tak mengenali tetangganya sendiri.


"Yun, kau antar dulu kami ke Mall!" perintah Ucok.


"Bang Ucok mau ngapain ke Mall. Kalau hanya sekedar jalan jalan, males aku." 


"Mulut kau ya! Gini gini uangku banyak. Sawah bapakku satu kampung," ujar Ucok


"Halah, punya orang tua kok di banggakan," sindir Yuna.


Melewati beberapa perdebatan kecil akhirnya Yuna bersedia untuk mengantar Ucok ke Mall, itu pun karena Nadine juga turut mendesak dengan alasan ingin membeli oleh oleh.


"Ya sudah, ayo." Akhirnya dengan rasa malas Yuna menuruti kemauan Ucok untuk jalan jalan ke Mall. Dengan senang hati Ucok bersorak ria. Akhirnya dirinya bisa mencuci matanya yang sepet dengan pemandangan Yuna sebagai objek yang ia lihat selama di rumah Pita.


Yuna memesan sebuah taksi online untuk alat transportasi ketiganya menuju sebuah Mall yang berada di jantung kota Gudeg tersebut. Yuna sengaja memilih Mall tersebut agar Nadine bisa membeli buah tangan khas kota Gudeg tersebut.


"Kecil kali lah Mall nya. Kalah jauh sama yang di Medan sana yang jauh lebih besar," kritik Ucok.


"Kau ini bisa diam gak sih? Pusing pala mamak," tegur Nadine.


Yuna geleng kepala, tak habis pikir mengapa Ucok sangat jauh berbeda dengan Pita, mungkin saja Ucok menuruni gen dari bapaknya. Yuna yakin jika bapak majikannya seperti Ucok yang sangat cerewet.


Yuna mengajak Ucok dan ibu majikannya mengelilingi Mall yang dikatakan Ucok tidak besar itu. Namun mata Ucok terpana karena ternyata Mall itu mempunyai lantai ruang bawah.

__ADS_1


"Nah ini baru keren," sanjung Ucok.


Mata Ucok berkeliaran untuk mengamati setiap sudutnya yang sangat memanjakan matanya. Tak henti Ucok berdecak kagum atas bangunan Mall tersebut. Namun mendadak tubuh Ucok terdiam membeku saat pandangan matanya mempertajam penglihatannya dengan sempurna.


Nafas Ucok naik turun saat dirinya yakin bahwa tidak salah mengenali. Tangannya mengepal kuat serta giginya mengerat.


"Kurang ajar!" Ucok benar benar tersulut emosinya saat melihat Danar, adik iparnya sedang bermesraan dengan wanita lain. Bahkan Danar tak merasa malu saat mengelus perut wanita tersebut yang sudah menonjol. Ucok yakin jika wanita itu sedang hamil.


Ucok segera menghampiri dimana Danar berada. Dari arah berlawanan Ucok segera membogem wajah Danar dengan membabi buta. 


Bug… Bug… Bug


"Ba**ngan kau!" maki Ucok


Danar yang tak sigap hanya bisa pasrah saat wajahnya menjadi amukan seseorang hingga Danar sangat terkejut saat mengenali suara Ucok.


"Bang Ucok," gumam Danar.


Mata Jihan menatap Danar dan Ucok bergantian. Jihan tidak tahu jika Ucok adalah kakak dari Pita.


"Kamu  gila ya?" sentak Jihan pada Ucok.


Tak puas sampai di situ, tangan Ucok masih gemetar dan ingin terus menghujani Danar dengan pukulan lagi. 


"Mati kau brengsek!" teriak Ucok sambil menghajar tubuh Danar. Jihan yang tidak terima pun menjerit meminta pertolongan untuk menghentikan aksi gila Danar. 


Teriakan Jihan memicu mata mengarah pada Ucuk yang sedang menghajar Danar penuh dengan emosinya. Mereka segera memisahkan Ucok yang terus menghajar tubuh Danar.


*****


Mobil Rey telah ia parkir di tempat parkiran yang agak jauh, karena memang ada tempat khusus untuk kendaraan mobil. Jarak parkiran dan juga tempat dimana Ucok berada ternyata tidaklah dekat. Sepanjang jalan, Pita menggerutu. Membuat masalah apa si Ucok di Mall ini, batin Pita.


"Pelan napa jalannya, Tan," protes Rey yang tidak bisa mengimbangi langkah Pita.


"Aku gak nyuruh kamu ngikutin aku!" 


Rey terdiam. Memang iya sih, tetapi Rey juga sangat penasaran sebenarnya ada apa sehingga Pita begitu sangat khawatir dan tergesa gesa seperti ini.

__ADS_1


Pita menelepon Ucok untuk memastikan saat ini mereka berada di sebelah mana namun yang terdengar adalah suara ibunya yang terdengar sangat panik dan khawatir membuat Pita juga ikut khawatir.


"Mak, ada apa? Dimana Abang? Mamak di sebelah mana?" Pita sangat panik.


"Mamak gak tahu ada di sebelah mana. Si Ucok di bawa sama petugas kemana, Tet."


Mata Pita membulat. Degup jantungnya berdetak lebih cepat. Pita sudah yakin jika Ucok yang berdarah panas telah membuat kekacauan di Mall ini.


Pita pun meminta Yuna untuk menjelaskan dimana keberadaan mereka saat ini.


Setelah sampai, Pita segera memeluk ibunya yang masih terisak di depan pintu ruang keamanan dimana Ucok ditahan hingga saat ini. Ucok yang menghajar Danar dengan ganas harus ditahan oleh satpam karena telah membuat kegaduhan di Mall dan menyebabkan Danar babak belur hingga harus di larikan ke rumah sakit.


"Mak… Gimana cerita sampai abang bisa ditahan?" tanya Pita penasaran.


Nadine menatap Pita dengan nanar. Naluri seorang ibu tidak akan pernah salah untuk menduga apa yang sedang terjadi kepada anaknya. "Apa benar suamimu telah menikah lagi?" 


Pertanyaan dari Nadine membuat Rey tersedak ludahnya, kaget tak percaya.


"Emak tahu darimana?" gugup Pita.


Nadine pun menjelaskan dengan terperinci saat Jihan mengatakan bahwa akan menuntut Ucok dengan pasal penganiayaan terhadap suaminya. Saat mendengar penjelasan Jihan, Ucok seperti sedang merasuk setan dan menghajar Danar bertubi tubi.


Pita tak bisa lagi mengelak. Kenyataan ini cepat atau lambat memang akan terungkap, tetapi mengapa terlalu cepat seperti ini. Tak dapat dipungkiri bahwa setitik rasa khawatir terhadap Danar itu masih ada saat ibunya mengatakan bahwa Danar dilarikan ke rumah sakit.


Pita saat ini menjamin Ucok agar tidak ditahan lagi dengan jaminan Ucok tidak akan mengulangi perbuatan lagi.


Ucok menatap Pita dengan sejuta amarah. Sebelum menikah dengan Danar, tak hentinya Ucok memperingati Pita bahwa Danar bukan laki laki yang baik namun, Pita tak menggubrisnya dan pada akhirnya apa yang dikhawatirkan Ucok benar terjadi.


"Apa yang ingin kau jelaskan!" bentak Ucok membuat Rey yang baru saja mengantarkan mereka pulang sangat terkejut. 


Pita terdiam sambil melilit kemejanya. Kini Pita seperti seorang terdakwa yang seolah sedang dimintai keterangan oleh seorang hakim.


"Sudah berulang kali Abang katakan jauh hari bahwa Danar itu tidak lelaki tidak baik tetapi kau terus memperjuangkan ba**ngan itu dan lihatlah sekarang apa yang dia lakukan kepadamu!" sentak Ucok lagi.


"Keluarga kita adalah keluarga terpandang di kampung. Bapak harus menerima berbagai penghinaan atas ulahmu dan lihatlah sekarang apa yang terjadi. Mau diletakan dimana muka keluarga kita di kampung jika tahu bahwa kau telah campakkan seperti ini. Sampai kapanpun Abang tidak rela jika kau masih berhubungan dengan ba**ngan itu! Segera urus perpisahan kalian dan ayo kita pulang ke kampung!" tegas Ucok.


🍂🍂Bersambung🍂🍂

__ADS_1


Yuhu... maaf baru bisa nongol. Biasa panggilan tugas negara 🤣🤣


Mana nih suaranya...?


__ADS_2