SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
KHAWATIR


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 80 ||. KHAWATIRKAN


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA ...


Sungguh perasaan sangat berat saat hendak melepas kepergian suaminya. Entah mengapa Pita menjadi ragu dan takut berjauhan dari Rey meskipun hanya untuk beberapa hari saja.


"Aku akan segera kembali. Jika kamu seperti ini, aku tidak akan tenang untuk pergi." Rey memegang erat tangan Pita.


"Tapi ... " Pita menggantung ucapannya.


"Nanti setelah aku sampai, kita vedio call ya."


"Rey ..." Rasa sesak dalam hati melepaskan Rey. Perasaan sungguh tidak rela untuk di tinggal pergi.


Rey membalikkan badan, rasa tak tega juga ada, tapi ia dengan berat Rey harus segera menyelesaikan masalah ini.


"Aku cuma sebentar kok." Rey melepaskan jas yang di gunakan dan memasang ke pundak Pita. "Ini sebagai gantinya aku saat aku pergi. Jan di cuci biar aroma tubuhku gak ilang."


Untuk sejenak, Pita langsung memeluk erat lelaki yang telah menjadi suaminya tersebut. Semoga saja hanya perasaan Pita saja yang berlebihan. Dengan rasa yang amat berat, Pita benar benar melepaskan Rey untuk pergi.


"Aku sudah hubungi ibu dan juga kak Asiah. Mereka akan jagain kamu saat aku gak ada. Kamu harus semangat ya. Jan malas-malasan di rumah. Tunggu aku sampai kembali ya."


Lambaian tangan mengantar kepergian Rey. Pita hanya bisa menahan sesak di dalam dadanya. Semoga kamu baik-baik aja, Rey.


Seperti mengantarkan kepergian Danar saat itu, Pita belum beranjak sebelum pesawat yang ditumpangi Rey benar benar-benar lepas landas.

__ADS_1


Tuhan, lindung suamiku dalam menyelesaikan masalahnya. Semoga perjalanan lancar serta urusannya disana lekas selesai dan cepat kembali pulang.


.


.


.


Pita berjalan gontai menyusuri lorong apartemen. Tak ada semangat setelah ditinggalkan suaminya, padahal hanya untuk beberapa hari saja.


Dari arah berlawanan, terdengar derap langkah sepatu yang begitu nyaring di telinganya dan berhenti tepat dihadapan Pita.


"Kamu," gumam Pita.


Sesosok yang berada di depannya segera melepaskan kaca mata yang menghadangi penglihatannya untuk menatap Pita lebih jelas lagi.


"Lama tak bersua, apa kabar Pitaloka?" Seorang lelaki menyapa Pita.


Derap selangkah demi selangkah mengitari tubuh Pita, seolah sedang ingin mamacing ikan di air keruh.


"Santai ... aku hanya ingin turut prihatin atas kondisi gudang milik suamimu yang sedang mengalami musibah. Aku dengar gudang utama itu benar-benar ta bisa terselamatkan, itu artinya sebentar lagi suami barumu akan bangkit."


"Jika hanya ingin mencela, silahkan minggir. Tak perlu pura-pura berempati terhadap masalah ini. Aku dan suamiku pasti bisa melewati masalah ini," ketus Pita.


"Oh ya ...? Aku akan melihat bagaimana kamu memohon kepadaku dan saat itu aku akan tertawa puas saat. Lihatlah diriku yang sekarang. Aku sudah sukses dengan jerih payahku sendiri."


Pita mencoba membuang nafas kasarnya. Menghadapi orang terobsesi dengan dunia sangatlah susah. Mending pergi agar tidak merambat kemana mana lagi.


"Ilham, minggir," usir Pita.

__ADS_1


Ya, lelaki itu adalah Ilham, kakak iparnya Rey, itu artinya juga kakak ipar Pita. Namun, sepertinya Ilham benar-benar menyimpan rasa kebencian yang mendalam untuk Pita meskipun pernah mendambakan wanita tersebut di masa lalunya.


"Silahkan, aku hanya tinggal menunggu waktu saja dimana kamu bersujud meminta bantuan ku," ucap Ilham.


Tak ingin terpancing dengan ucapan Ilham, Pita pun segera melanjutkan langkahnya menuju kamar apartemennya, dimana Asiah sudah berdiri di depan pintu apartemen menunggu dirinya.


Rey sengaja meminta Asiah untuk menemani sang istri, meskipun Asiah tidak bisa menemani lama, setidaknya ia akan menghibur Pita agar tidak larut dalam kesedihannya.


"Asiah," gumam Pita.


"Kamu dari mana? Kamu baik-baik aja 'kan? Rey sudah cerita semuanya, kamu jangan sedih, anak itu pasti akan segera kembali," kata Asiah.


Pita mengangguk pelan, lalu membawa Asiah untuk masuk kedalam. Pantas saja Ilham masalah yang sedang terjadi, ternyata Rey sudah memberikan tau kakaknya. Dalam diam Pita berpikir, apakah Asiah tau jika Ilham sebenarnya tidak mencintai dirinya? Bagaimana jika Asiah tau jika suaminya pernah memiliki rasa yang tak terbalas? Pikiran Pita semakin buntu memikirkan satu persatu maslahah yang menumpang lewat.


"Pit, kamu beruntung sekali bisa menaklukkan hatinya Rey. Aku salut," puji Asiah.


"Yah, mungkin sudah takdir dari Tuhan. Semuanya juga berkat kamu juga. Coba aja dulu kamu gak kenalin aku sama anak itu, belum tentu kan kami bisa bertemu?"


Asiah membenarkan ucapan Pita. Sebenarnya Asih merasa sedikit iri terhadap kehidupan rumah tangga Pita dengan Rey yang terlihat harmonis, tak seperti rumah tangganya yang dingin bagai salju di kutub utara. Meskipun Ilham memanjakan dirinya, tetapi Asiah tahu semua itu karena paksaan, terlebih Asiah tau jika Ilham masih memiliki perasaan terhadap wanita lain.


"Pit, kamu tuh benar-benar wanita yang sangat beruntung ya, di cinta oleh lelaki yang sangat mencintaimu, tak seperti diriku. Sebuah topeng rekayasa yang semakin membuatku terluka semakin dalam." Asiah menghela nafasnya.


"Asalkan kamu tahu, selama setahun ini aku hidup dalam belenggu sebuah topeng. Terlihat sangat bahagia tetapi nyatanya aku sangat terluka saat aku mengetahui bahwa tak ada cinta di dalam biduk rumah tangga kami. Mas Ilham masih menyimpan rasa untuk wanita lain," terang Asiah.


Pita terperanjat, susah payah ia menelan kasar ludahnya, berharap wanita yang sedang di maksud bukanlah dirinya. Apa jadinya jika Asih tau bahwa wanita itu tak lain adalah Pita.


"Kamu yang sabar ya. Aku yakin suami kamu pasti bisa melupakan wanita itu dan menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hatinya," hibur Pita.


Asiah tersenyum kecut. "Mustahil itu, Pit. Nyatanya hingga setahun aku tak belum pernah di sentuh oleh mas Ilham layaknya suami istri."

__ADS_1


*Nah lho, lebih ngenes idup Asiah. Emang tahan setahun kagak nyentuh? Kalau Rey pasti kagak tahan. Hebat kamu Ilham 😃


__ADS_2