SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MERASA INSECURE


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 51 || MERASA INSECURE


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA


"Bagus ya, gak ada kabarnya ternyata sedang asik berduaan dengan pria lain."


Pita dan Riyan segera mendongak dan sangat terkejut dengan dengan kehadiran Rey. Sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang sedang disaksikan oleh Rey. 


Pita yang awalnya ingin keluar sendiri ternyata ditodong oleh Riyan untuk membawa Maura agar bisa ikut keluar bersama. Memang saat ini Riyan sedang melakukan pendekatan dengan Maura tetapi masih malu malu. Cara yang paling ampuh adalah mengumpankan Pita agar bisa membawa Maura untuk makan siang bersama.


"Rey kamu ngapain disini?" tanya Pita dengan sangat terkejut.


"Oh… Jadi aku gak boleh kesini agar gak tau kalau kalian sedang makan siang bersama? Kejam kamu, Tan!" seru Rey penuh kecewa.


Pita menggelengkan kepala. Belum tau apa yang sedang terjadi Rey sudah memberikan kesimpulan yang salah hanya karena matanya melihat dirinya sedang berduaan bersama dengan Riyan.


"Bukan gitu, Rey. Kita gak sedang berdua kok," jelas Pita.


Rey tersenyum sini. "Iya sekarang bertiga sama aku kan?" 


Ya ampun Rey… gregetin banget sih kamu. Belum juga tahu kebenarannya udah bisa narik kesimpulan. Salah pula.


Pita menarik nafas beratnya. Mungkin Rey sedang banyak pikiran akhirnya moodnya sangat tidak bagus mulai pagi tadi. 


"Rey… bisa gak dengerin penjelasan kita?" tawar Pita.


"Tidak perlu! Udah ah, lanjutkan lagi."


Namun, saat langkah Rey hendak berbalik terlihat maura sedang membawa tiga botol minuman dingin. Ia pun merasa heran saat semua mata mengarah pada dirinya. Apakah ada yang salah dengannya?


"Kok pada kayak gitu liatin aku?" Maura terheran.


"Ada yang sedang kepanasan di tempat sejuk ini," sahut Riyan.


Riyan yang sedari tadi diam bukan berarti tidak ingin membela diri tetapi ingin membuktikan rasa penasarannya. Sudah sejauh mana hubungan kedua rekan kerjanya ini tanpa sepengetahuan dirinya. Bisa saja kepergian Rey kemarin ada hubungannya dengan Pita. Buktinya saja keduanya sama sama muncul dalam waktu yang bersamaan dan terlihat jelas jika saat ini Rey tengah merasakan cemburu kepada dirinya. Itu sudah bisa Riyan pastikan.


Maura menatap Rey yang sedang kesal dan Pita yang biasa saja.


"Kalau mau gabung duduk aja, Rey. Tapi aku cuma pesan makanannya tiga. Gak tau kalau kamu mau ikut," ujar Maura.


Dengan rasa dongkol di hati akhirnya Rey mengalahkan egonya. Ia menarik kursi yang ada di di depan Pita. Menatap Pita tanpa henti karena merasa sangat berlebihan telah mencurigai Pita tidak jelas padahal Pita sendiri sudah berusaha menjelaskan masalahnya.

__ADS_1


"Maaf," lirih Rey pada Pita yang masih enggan menatap Rey. 


"Ra, pindah ke pojokan sana yuk! Disini hawanya panas," ajak Riyan.


"Dingin kok," sanggah Maura.


"Udah ayok!" Riyan segera menarik lengan Maura untuk menjauh sejenak.


Memberikan ruang untuk kedua insan menyelesaikan masalah mereka. Lagi pula Riyan juga tidak ingin acara makan malamnya terganggu oleh Rey.


Rey masih berusaha meminta maaf kepada Pita meski Pita tak peduli.


"Udah dong Tan, jan ngambek gitu. Oke aku ngaku salah udah salah paham dan bersikap berlebihan. Please, maafin ya." Rey mengiba dengan penuh perasaan dan benar benar menyesali sikapnya.


"Tan," panggil Rey lagi.


Pita akhirnya membuang nafas kasarnya.


"Rey, bisa gak sih kamu itu lebih dewasa sedikit. Jangan dikit dikit ngambek, dikit dikit salah paham, posesif yang berlebih. Jujur kalau kamu kayak gini terus aku ngerasa gak nyaman."


Rey menunduk menyadari kekurangannya yang terlalu mencintai Pita terlalu dalam hingga ia sangat takut untuk kehilangan.


"Iya Tan, aku janji gak akan kayak gitu lagi, tapi tante maafin ya?" pinta Rey.


Pita terpaksa harus pulang hingga larut karena perubahan jadwal dari Rey. Akibat keegoisannya, Pita yang harusnya sudah beristirahat dengan tenang harus bekerja lagi dengan ekstra. Rey sendiri merasa sangat menyesal melihat Pita masih berpose didepan kilatan kamera. 


🌿         🌿          🌿       🌿


Hari hari Pita dilewati dengan rasa yang berbeda setelah resmi mengikat hubungan dengan Rey, meski Rey belum mengkhitbah di depan orang tuanya.


Perlakuan Rey yang cukup manis membuat Pita semakin merasa nyaman meskipun masih ada sifat kekanak kanakan dari yang belum bisa hilang dari Rey. Semakin dalam mengenal Rey, Pita semakin tahu jika Rey aslinya Rey lebih manja.


"Gak terasa yan, Tan udah sebulan aja. Pengen cepat cepat sebulan lagi," ujar Rey saat keduanya sedang berada di apartemen Rey.


Rey sengaja memanggil Pita untuk datang. Rey yang manja sengaja ingin di buatkan sarapan oleh Pita sebelum berangkat kerja dan ini sudah berjalan selama dua minggu. Selama dua minggu terakhir ini sifat manja Rey sangat jelas terlihat. Bahkan Rey sering bolos kerja dan malah menghabiskan waktu bersama dengan Pita, mengingat jadwal pemotretan Pita sudah tidak padat lagi.


"Tan, besok kalau  kita nikah, tante maunya nikah dimana? Disini atau di Medan?" tanya Rey serius.


"Emangnya kamu serius mau nikah sama aku yang janda ini? Pikir lebih matang dulu Rey, jangan sampai kamu menyesal kelak."  Tiba tiba saja Pita meragukan keseriusan Rey.


"Tante kok ngomongnya gitu sih?" 


"Aku cuma gak mau kamu menyesal aja Rey."


Rey segera mendekat dan memeluk tubuh Pita dari belakang. Mencoba untuk menyalurkan rasa keseriusan kepada Pita. 

__ADS_1


Tak pernah terlintas dalam pikiran Rey untuk menyesal. Rey tidak memandang status ataupun jabatan. Yang Rey mau hanya ketulusan cinta Pita.


"Aku ini janda. Belum tentu orang tua dan keluargamu setuju, lho."


Rey semakin mengeratkan pelukannya.


"Jan bilang kek gitu lah, Tan. Oke besok aku bawa Tante ke rumah orang tuaku. Aku akan kenalin tante dengan keluargaku, gimana?" 


Pita tiba tiba merasa insecure atas status dirinya. Apakah keluarga Rey akan menerima kehadiran Pita sepenuhnya.


Pikiran Pita tiba tiba saja menjadi down.


Hari ini Rey tengah bersiap siap mengemas barang yang akan diperlukan dirinya saat berada di puncak nanti


 ( puncak Bukit Bintang bukan puncak Bogor ).


Rey sendiri tengah  mengambil proyek di sana tetapi bukan Pita yang akan menjadi modelnya. Ini adalah pemotretan untuk wedding. Berhubungan yang akan melakukan pemotretan adalah anak seorang konglomerat maka Rey akan memberikan hasil yang terbaik. Kali ini kepergian Rey tetap ditemani oleh Pita.


Pita merasa senang akhirnya ada  waktu luang untuk sekedar liburan sejenak.


[ Tan jan lupa bawa jaket yang tebal. Disana dingin!" titah Rey di ujung telepon ]


[ Oke siap ]


Perjalanan Pita dan Rey tak membutuhkan waktu lama. Kini keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Pita pikir tempat yang akan dikunjungi mereka adalah sebuah spot yang menarik tetapi nyatanya hanya tempat biasa dengan alam terbuka.


Jika tahu akan tempatnya seperti ini, Pita memilih beristirahat di rumah saja.


"Kok cemberut aja sih, Tan?" goda Rey saat melihat Pita mengerucutkan bibirnya. Rey mencium aroma tidak menyenangkan.


"Kamu bilang kita ke puncak. Ini bukan puncak, tapi hutan," keluh Pita


"Tante gimana sih, disini Puncak ya hutan pinus seperti ini. Tante pikir kayak puncak Bogor yang banyak villanya? Ah, aku lupa kalau tante bukan asli orang sini," kekeh Rey.


Berbeda dengan Rey yang terlihat sangat bahagia, Pita malah merasa kesal menjadi santapan nyamuk liar.


.


.


.


.


MON MAAF KALO ADA TYPO, BELUM SEMPAT CEK

__ADS_1


__ADS_2