
SEGENGGAM LUKA
BAB 67 || YANG TERNODAI
~TEH IJO~
SEKAMAT MEMBACA
"Auw … Sakit tau," keluh Rey sambil memegangi bahunya.
"Jahat banget sih," gerutu Rey lagi.
Pita yang masih merasa kesal dengan Rey hendak berlalu tetapi, tiba tiba saja lengannya ditarik oleh Rey, karena oleng akhirnya Pita terjatuh ke dalam pangkuan Rey.
Siapa yang akan menyangka bahwa Pita akan menimpa tubuh Rey yang masih dalam posisi duduk. Mata Rey membulat, jantungnya berdebar dua kali lipat serasa ingin lepas. Ia menahan nafasnya untuk beberapa detik karena bibir Pita yang jatuh menimpa bibirnya. Desiran seperti bak tersengat arus listrik menjalar keseluruhan tubuhnya.
Disaat yang bersamaan dari arah pintu Riyan masuk karena tadi sudah diberitahu jika Rey tidak bisa datang ke Studio karena akan lembur.
"Kalian…!" teriak Riyan saat melihat pemandangan di depan matanya.
Mendengar suara teriakan, Pita segera menyadari apa yang tengah terjadi dan segera melepaskan diri. Merutuki kebodohannya yang tanpa sengaja ia lakukan.
Begitu juga dengan Rey yang segera merapikan jasnya kembali dan menetralkan degup jantungnya.
Riyan menggelengkan kepala sambil menghampiri meja Rey.
"Aku gak nyangka ternyata perempuan bisa agresif juga ya? Pasti bakalan mengimbangi keagresifan berondong jagung ini. Ingat, jangan kebablasan! Belum sah," celoteh Riyan, yang tak habis pikir dengan kedua pasangan beda usia yang kadang kadang masih suka beradu mulut.
Rey menatap Riyan dengan intens. "Ada apa? Tidak bisakah kamu ketuk pintu terlebih dahulu?"
Riyan cengengesan. "Iya maaf, lupa."
"Aku pulang duluan," ketus Pita. Entah kepada siapa ia berpamitan yang jelas saat ini Pita telah berlalu.
Rey tidak bisa mencegah, membiarkan mungkin lebih baik agar tak merasa malu dihadapan Riyan yang tak punya attitude, masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa," tanya Rey.
Riyan yang ingat tujuan awalnya segera memberikan beberapa hasil pemotretan saat itu. Karena Rey tak kunjung datang ke Studio, akhirnya Riyan memutuskan untuk menemui Rey di kantor barunya atas perintah dari Rey. Namun naasnya mata Riyan harus ternodai oleh pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
__ADS_1
"Ini hasil pemotretan. Silahkan pilih mana yang cocok agar bisa segera di cetak." tegas Riyan.
Lagi lagi Rey menatap Riyan kesal karena telah mengganggu kecelakaan kecil yang baru saja Pita alami bersama dengan dirinya.
"Yang mana saja yang penting kan bagus. Lagian kamu kan bisa kirim lewat email ataupun WA," ketus Rey.
"Ya ampun, Rey … Sudah seratus kali aku mencoba mengirimkan ke ponselmu, tapi tak kunjungi di buka," protes Riyan.
Rey yang tak percaya segera mengecek ponselnya. "Awak kalau bohong?" ancam Rey.
Riyan tak merasa takut, toh benar itu faktanya. Jika Rey mengelak Riyan masih bisa membuktikan dengan ponselnya.
Rey menelan kasar ludahnya. "Baru juga sepuluh, sudah kamu bilang seratu," ledek Rey saat membuka ponselnya.
Rey yang meminta Riyan untuk segera mencetak kartu undangan pernikahannya dengan Pita, meski masih satu bulan lagi.
Rey memperhatikan setiap gambarnya dengan Pita dalam berbagai ekspresi meski dalam gaun yang sama. Meski ini bukan pernikahan yang pertama untuk Pita, tetapi Rey ingin memberikan kesan yang tak bisa dilupakan dan pastinya lebih mewah dari pernikahan Pita yang pertama.
"Kamu urus aja yang mana, semuanya bagus! Dah ah, gara gara kamu, calon istriku jadi malu. Aku jalan duluan, jangan lupa matikan lampunya nanti!" titah Rey kemudian berlalu.
Riyan yang merasa terabaikan mendumal serta mengatai Rey dengan mulut yang komat kamit. Jika tidak butuh gaji yang besar Riyan pasti sudah resign menjadi tangan kanan Rey di Studio. "Dasar atasan gak tahu diri," umpat Riyan kesal.
.
.
.
Pita memegangi bibirnya. Kedua sudut bibir Pita tertarik lebar mengingat ada jejak bibir Rey yang masih menempel di bibirnya. "Coba aja tadi aku gigit biar tahu rasa," dumal Pita.
"Apa yang ingin kamu gigit?"
Tiba tiba saja suara Rey sudah menggema di daun telinganya. Rey sudah duduk samping Pita.
"Udah siap lemburnya?" Pita mengalihkan pertanyaan Rey.
"Belum. Udah keburu bad mood, jadi lebih baik pulang.
Mobil melaju dengan sedang. Suasana malam yang tidak terlalu padat dan lampu lampu yang menghiasi jalanan membuat Pita lebih fokus melihat keluar jendela dari pada melihat Rey yang kadang kadang mencuri pandang kepada Pita.
__ADS_1
Jika dilihat dari wajah dan postur tubuhnya, orang tak akan mengira bahwa Pita adalah janda muda.
"Sayang, makan dulu baru aku antar pulang ya," tawar Rey.
Pita yang masih merasa kesal berkata, "Terserah."
Satu kata keramat bagi siapapun yang mendengarkan. Terserah tidak bisa menjadi jawaban yang akurat, sebab bisa saja jawaban tak sesuai dengan keinginan.
"Ya udah, kita makan di pinggir jalan itu ya. Makanan disana enak banget lho. Pas aku kuliah dulu sering makan disana, bahkan hampir tiap hari," jelas Rey.
Pita tak menanggapi, membuat Rey merasa terabaikan. Rey berhasil memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Saat tak ada ekspresi apa pun dari Pita, Rey memilih mendekatkan diri.
"Kenapa lagi sih? Kurang lama tadi ciumnya? Ya udah mumpung sepi, sini cium lagi." Rey menyodorkan bibirnya sambil memejamkan mata.
Pitas sendiri merasa geli dan malah menabok bibir Rey. "Apaan sih," gerutu Pita.
"Aduh sakit Tante, eh." Rey segera menutup mulutnya lagi. Benar benar mulut gak bisa lemes sikit bilang sayang gitu.
"Sayang, maafkan lidahku yang lemes ya," pinta Rey bersungguh sungguh.
"Kamu tuh nyebelin tau gak sih, Rey!"
"Iya, iya. Aku minta maaf. Lain kali gak kelepasan lagi. Mau kan maafin aku? Cini peyuk dulu." Rey meraih tubuh Pita untuk dipeluknya. Tak ada perlawanan, berarti Pita setuju dan tidak keberatan dong. Sambil mengelus rambut Pita, Rey membisikan sebuah mantra cinta yang sudah biasa ia dengar dari segala penjuru.
"I love you."
Karena Rey yakin, perempuan akan luluh jika kaum adam bisa mengambil hatinya. Apalagi memuji dirinya, meski Rey tidak yakin jika Pita akan luluh oleh mantranya.
"Apaan sih, Rey. Lebay tau." Pita mendorong tubuh Rey.
Ah, Rey baru sadar jika wanita disampingnya saat ini bukanlah sembarang wanita yang mudah digoda. Bisa jatuh cinta dengan dirinya saja Rey sudah sangat bersyukur. Mungkin Pita belum terbiasa saja, atau bisa jadi masih malu malu meong.
...🍃Bersambung🍃...
MOON MAAP KAGAK JADI BONUSNYA, 🤣🤣
OH IYA, SELAGI NUNGGU UP LAGI YUK MAMPIR DUKU DI NOVEL AUTHOR TYATUL
JUDUL NOVEL : NAFSU ATAU CINTA
__ADS_1
AUTHOR : TYATUL