
SEGENGGAM LUKA
BAB 41 || SALAH PAHAM
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA ❤
Pita belum bisa mencerna dengan baik atas penjelasan dari Abah mengenai sesuatu yang telah menutup mata hatinya.
Pita juga tak habis pikir akan perbuatan Jihan yang berada diluar nalarnya. Pita berpikir dengan keras apakah suatu kesalahan yang membuat Jihan sakit hati kepada pada dirinya dan menghancurkan rumah tangganya. Pita tidak merasa jika sikapnya ada yang melukai hati Jihan. Bahkan selama ini sikap Pita sudah jauh lebih baik, Pita menganggap Jihan bak saudaranya sendiri namun, mengapa Jihan tega melakukan hal itu kepada dirinya? Apa salahnya?
"Jadi bagaimana? Kamu percaya kan, Pit?" tanya Danar.
Meskipun Pita percaya bukan berarti Pita akan menerima Danar kembali dalam kehidupannya. Pantang bagi Pita untuk menjilat ludahnya kembali. Baginya Danar hanya masa lalu dan tak pernah akan bisa menjadi masa depan.
"Susah dicerna memang, tapi it's oke! Aku percaya tapi… bukan berarti aku memaafkan Abang sepenuhnya." Pita menatap lurus jalanan yang sudah terlihat senggang karena memang hari sudah siang.
Danar bisa menangkap dengan jelas bagaimana Pita terlanjur membenci dirinya. Bahkan kata maaf dan sebuah bukti nyata hati Pita tak tergoyahkan lagi.
"Sesuai janji Abang, setelah pertemuan ini tidak akan ada lagi pertemuan selanjutnya. Karena setiap kali aku melihat Abang, rasa sakit hati ini semakin dalam. Saat ini luka hatiku hampir kering, kuharap Abang bisa mengerti!" tekan Pita.
Danar hanya mengangguk pelan. Dirinya tidak akan egois, mungkin dengan menjauh dari Pita, hidup mantan istrinya akan jauh lebih bahagia.
"Oke! Abang tidak lupa."
Jantung Pita tak hentinya berdebar saat mendengar Danar mengucap kata abang.
Panggilan Pita untuk Danar yang telah lama menghilang dari peredaran pendengarannya selama hampir 6 bulan lebih.
🌿 🌿 🌿
Mobil Danar terpaksa harus berhenti di depan gedung studio. Awalnya Pita ingin singgah ke Cafe namun, panggilan dari Riyan membuat Pita mengubah tujuannya karena hari ini Pita akan melanjutkan sesi pemotretan busana dari seorang perancang terkenal. Danar turut bahagia atas kesuksesan Pita yang mendulang saat ini. Melihat Pita bahagia, Danar juga sudah bahagia.
"Pit… Setelah ini Abang janji tidak akan lagi menemuimu dan mengganggu hidupmu lagi bahkan Abang juga akan pergi dari peredaran penglihatanmu namu, sebelum itu ijinkan Abang untuk memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Abang mohon." Danar mengiba dengan raut wajah yang menyedihkan.
Pita yakin Danar akan menepati setiap ucapannya maka Pita mengizinkan Danar memeluk dirinya sebentar saja untuk yang terakhir kalinya.
"Dimanapun Abang berada, Abang harus bahagia," lirih Pita dalam pelukan Danar.
Setidak Danar merasa lega bisa memeluk tubuh Pita untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati dari kejauhan. Hatinya terasa remuk atas apa yang baru saja dilihatnya.
Jadi, apakah ini alasan bagi Pita tidak membalas perasaannya karena ternyata masih ingin kembali kepada mantan suaminya? Lalu untuk apa mereka bercerai? Rey memukulkan tangannya ke dinding hingga membuat darah segar merembes keluar.
"Iya, Abang akan selalu bahagia. Kamu juga harus bahagia. Jaga kesehatan. Abang pergi ya!" Dengan langkah berat Danar mencoba untuk melangkah pergi. Berat, sungguh berat bagi seorang Danar.
Langkah Danar terhenti saat sebuah panggilan menyebut namanya.
"Bang Danar," panggil Pita.
Danar segera menoleh, berharap Pita menghentikan langkahnya. Seulas senyum mengembang luas.
"Abang, hati hati ya." Pita melambaikan tangannya kepada Danar. Mungkin berdamai dengan perasaan itu lebih baik dari pada memendam kebencian yang mendalam.
Danar tersenyum pahit. "Iya." Satu kata mengiringi langkahnya.
( See you Danar, lain waktu kita jumpa lagi 😭😭 )
Pita melangkahkan kaki dengan perasaan sedikit lega karena akhirnya Danar sadar akan kebutaan hatinya terlebih Danar juga telah mempertimbangkan ucapan Pita tempo hari menyangkut anak dalam kandungan Jihan.
"Seneng amat, Pit," sapa Riyan yang sudah menunggu kedatangan Pita.
"Ah, biasa saja," jawab Pita.
"Iya. Tapi udah dibatalin sama Rey," ujar Riyan
Hah? Pita mengernyit mengapa tiba tiba Rey membatalkan jadwal pemotretan. Apakah karena kejadian tadi malam yang membuat mood Rey hilang. Ini tidak bisa dibiarkan. Rey harus tetap konsisten dalam bekerja, tidak bisa seseorang mencampurkan antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan.
"Dimana sekarang Rey?" tanya Pita pada Riyan.
"Tuh anaknya ada di ruangan. Kayaknya lagi badmood. Bawaanya mau makan orang. Mungkin karena di buru kawin sama bapaknya," jelas Riyan.
Pita menghembuskan nafas beratnya. Entah apa yang mempengaruhi mood Rey hingga seperti ini.
Tanpa mengetuk pintu, Pita segera nyelonong masuk ke dalam. Di lihat Rey tengah berdiri menghadap jendela dengan darah segar yang terus menetes. Pita yang melihat luka di tangan Rey dengan heboh menghampiri Rey.
"Astaga Rey tangan kamu kenapa bisa seperti ini? Dimana obat P3 K?" Pita terlihat sangat panik. Langkahnya tergesa gesa mencari P3K yang pasti ada di ruangan Rey. Pita berusaha mencari kesemua tempat namun, tak menemukan obat tersebut. Tak ingin hilang akal Pita pun memutuskan untuk mengambil di ruang belakang.
"Tunggu ya, aku ambil dibelakang dulu." Pita sudah sangat panik.
"Tidak usah!"
__ADS_1
Pita mengernyit kembali. Apakah Rey tidak ingin membalut lukanya?
"Obatnya ada di laci kecil," sambung Rey lagi.
Pita dengan perasaan tidak enak segera mengambil kotak kecil yang berada dilaci meja Rey. Saat hendak mengambil kotak tersebut, mata Pita membulat saat melihat beberapa potret milik dirinya yang Rey ambil tanpa sepengatahuan dirinya. Ingin rasanya Pita memprotes namun, Pita segera sadar akan luka Rey yang harus segera diobati agar tidak infeksi.
"Sini dulu." Pita menuntun Rey untuk duduk di meja.
Dengan telaten, Pita segera membersihkan luka di tangan Rey. Tak ada sepatah kata yang terucap dari mulut Rey meskipun merasakan perih akibat tetesan obat merah dan kain kasa yang menekan lukanya. Luka di tangan tak sesakit luka hatinya yang tengah di hancurkan oleh Pita, wanita yang ada di depannya saat ini. Tetapi lidahnya kelu saat ingin memaki Pita yang terlihat sangat khawatir akan lukanya.
"Udah… Selesai deh," ucap Pita.
Pita menatap Rey yang baru saja membuang mukanya. Jujur Pita tidak tahu kenapa tangan Rey bisa berdarah seperti ini.
"Kamu kenapa sih Rey? Marah karena kejadian tadi malam?" tanya Pita.
"Tidak!" ketus Rey.
"Halah bohong! Tuh lihat hidung kamu kembang kempis," ejek Pita.
"Hei… Itukan kamus aku kenapa tante copy paste?" protes Rey. Rey tidak terima kalau kamus andalan di tiru oleh Pita.
"Jujur, kenapa ini?" tekan Pita lagi. Mendadak Rey menutup rapat mulutnya. Jika awalnya tidak ingin berbicara dengan Pita namun, Rey tidak tahan karena sudah terbiasa berceloteh dan bersendau gurau.
"Rey… Jawab aku!" perintah Pita.
Rey membuang nafas beratnya dan kembali menatap Pita denga perasaan tidak menentu.
"Memangnya kamu siapa hingga aku harus mengatakan apa yang telah terjadi dalam hidupku? Tidak usah terlalu dalam mengkhawatirkan orang lain. Sekarang fokus saja terhadap mantan suamimu sana!" ketus Rey.
Pita seketika terdiam. Memang benar apa yang diucapkan oleh Rey. Siapa dirinya hingga memaksa Rey untuk berterus terang. Baiklah, Pita sadar diri. Ia pun pamit dari ruangan Rey.
"It's oke. Maaf aku sudah berlebihan mengkhawatirkan kamu. Aku pergi dulu," pamit Pita.
"Ya sudah, pergi sana! Pergi jauh bersama mantan suami kamu juga gak papa!" usir Rey.
Pita melenan kasar ludahnya. Sebegitu marahkah Rey terhadap dirinya hingga Rey mengusir dirinya dengan seperti ini.
Pita mengelus dadanya yang tiba tiba terasa ngilu.
"Oke. Kalau kamu maunya begitu." Pita segera pergi meninggalkan ruangan Rey dengan perasaan sedih. Ini adalah pertama kalinya Rey berkata kasar kepada dirinya. Wajar saja Rey berubah dingin terhadapnya, harusnya Pita juga sadar telah menghancurkan hati Rey.
__ADS_1
Sepeninggal Pita, Rey merutuki bibirnya yang asal jeplak. Bagaimana jika Pita benar benar pergi bersama dengan Danar?
"Ih… Tante nyebelin banget sih. Harusnya kan tante gak pergi gitu aja. Kenapa malah pergi sih," gerutu Rey dengan rasa kesal yang bersarang dalam dadanya.