
SEGENGGAM LUKA
BAB 47 || KECEPLOSAN
~TEH IJO~
SELAMAT BERAKHIR PEKAN & SELAMAT MEMBACA
Cuaca yang tidak bisa diprediksi, setelah terik panas yang menyengat tiba tiba hujan deras dan ini sudah terjadi selama sepekan di kota Gudeg ini.
Sebuah mobil melesat kencang di bawah derasnya guyuran air hujan yang turun. Jalanan sedikit licin tetapi tak membuat sang pengemudi merasa takut akan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Danar ingin sekali cepat sampai ke sebuah tujuan karena sempat mendengar istrinya hendak pergi kesana sementara dari jarak rumahnya sangat jauh. Danar merasa sangat penasaran mengapa Jihan rela jauh jauh menuju tempat tersebut dengan cuaca yang sedang ekstrim, apakah tidak memikirkan anak dalam kandungannya?
Sebuah desa kecil membuat mobil Danar kesusahan untuk melewati jalan yang bebatuan. Danar tidak habis pikir untuk apa Jihan mendatangi tempat ini.
Tak ingin putus asa, Danar tetap bersabar untuk sampai ke tempat tujuan. Sungguh ia sangat penasaran dengan tujuan Jihan.
Cukup lama Danar berada di dalam mobil karena cuaca sedang hujan dan Danar sendiri tidak tahu kemana tujuan Jihan, yang Danar tau hanya nama desa yang tak sengaja Danar dengar saat Jihan menelepon salah satu mobil rental. Mana mau taksi online mengantarkan Jihan ketempat ini. Tempat yang seperti tidak ada tanda tanda kehidupan karena saking sunyi dan rumah pun jarang dijumpai.
Disalah satu ruangan tertutup Jihan mengadu atas apa yang sedang menghantui dirinya selama sepekan ini. Kadang saat ia melihat ke kaca, tiba tiba wajahnya berubah keriput, sedetik kemudian terlihat seperti semula. Awalnya Jihan mengira bahwa itu hanya halusinasinya saja tetapi itu tidak hanya sekali dua kali terjadi, membuat Jihan merasa ada yang tidak beres. Terlebih kadang Jihan melihat sekelebat bayangan di depannya. Berharap itu hanya perasaanya, tetapi kadang Jihan juga melihat sosok yang mengerikan berada di kamarnya. Jihan menganggap rumah yang ia tempati angker dan berpenghuni makhluk astral.
Nyai Ageng, nama wanita yang tengah mendengarkan masalah yang dialami oleh Jihan masih terdiam. Wanita tua itu tengah menerawang hal apa yang membuat pengikat Jihan menampakkan diri dihadapan Jihan. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di luar sana.
"Apa di rumahmu sering dibuat beribadah untuk menyembah Tuhan?" tanya Nyai Ageng.
Jihan menggeleng karena memang setau Jihan dirinya dan juga Danar tidak pernah mengerjakan sholat dan lain sebagainya yang merujuk pada ketaatannya kepada Allah.
"Tidak, Nyi. Kami tidak pernah sholat, bahkan di rumah kami juga tidak ada kitab suci Agama kami," jelas Jihan.
Nyai Ageng mengangguk pelan dalam diamnya untuk menerawang lebih jauh.
Hening beberapa saat hingga Nyai Ageng kembali membuka matanya dan menatap Jihan dengan serius.
"Semua apa yang kau berikan kepada suamimu telah luntur, ada seseorang yang telah membuangnya dari tubuh suamimu hingga pemikat itu tidak memiliki tempatnya lagi. Aku tidak bisa memastikan dengn jika pemikat itu tidak akan menyentuhmu tetapi jika dia sudah berani menampakkan wujudnya kepadamu aku tidak bisa menjamin. Aku yakin rumahmu sekarang sudah digunakan untuk menyembah Tuhan dan itu adalah suamimu sendiri pelakunya. Bukankah sudah kubilang jangan pernah pernah menyembah Tuhan?" Nyai Ageng berhasil menerawang pemicu pemikat milik Jihan berkeliaran di rumahnya, itu karena peminat itu telah lepas dari tubuh Danar.
"Tidak… Tidak mungkin, Nyi. Aku tidak pernah melihat mas Danar sholat maupun ngaji." Pita tidak mempercayai ucapan Nyai Ageng. Karena Jihan memang tidak pernah melihat Danar sembahyang di rumah.
__ADS_1
"Itulah yang sebenarnya terjadi. Percaya atau tidak itu urusanmu! Jika terus seperti itu aku benar benar tidak bisa menjamin keselamatanmu!" ungkap Nyai Ageng berat.
Setelah selesai, Jihan pun pamit undur diri meski di bawah terpaan air hujan yang deras. Mobil yang ditumpangi Jihan pernah meninggalkan tempat tersebut. Saat itu juga mata Danar melihat mob tersebut sudah kembali meninggalkan desa tersebut.
"Eh, kok udah pulang?" Danar terheran.
Tak menunggu lama, Danar pun segera mengikuti laju mobil yang sedang ditumpangi oleh Jihan.
Berbeda dengan Danar yang masih heran, Jihan malah terus terngiang atas penjelasan dari Nyai Ageng mengenai Danar yang sudah mulai melakukan sembahyang. Sejak kapan Danar mulai sholat?
[ Sampai sini dulu kamu ya Jihan, Uthor mau liat Rey di Medan sana 😂 ntar Uthor sambung lagi. Baik baik, jangan frustasi ntar ngaruh sama anak dalam kandunganmu! ]
🌿 🌿 🌿 🌿
Rey hanya bisa menggigit bibirnya saat memaksa Rey untuk menemui ayahnya untuk ikut bergabung bersama keluarga besar Pita yang masih berkumpul untuk acara malam nanti.
"Tan, aku takut," ucap Rey pada Pita.
"Udah sana, katanya mau jadi menantunya? Ya udah sana deketin dong!"
Rey menghembuskan nafas beratnya mengikuti saran Pita untuk bergabung bersama dengan keluarga besar Pita yang mayoritas berbeda Agama dengan dirinya. Bahkan minuman nira adalah minuman andalan mereka saat sedang kumpul keluarga besar dan acara acara besar lainnya di dalam keluarga besar Pita.
"Ini siapa Lae? Suami si Butet?" tanya salah seorang kerabat ayah Pita.
"Yang pandai lah si Butet itu cari lakik. Masih seger kali bah nampaknya," sahut yang lainnya.
"Beruntung lah kau Lae punya hela macam ini. Dimana lagi nyari stoknya biar aku carikan dulu untuk butetku." gelak tawa pecah saat orang ketiga ikut menyela.
Rey merasa tidak enak sendiri dengan celoteh keluarga Pita yang super heboh. Namun, saat ini juga Rey belum bisa menatap ayah Pita karena insiden kemarin malam. Jika kata emaknya Pita, kemarin ayahnya tidak bertahan lama tetapi, sampai sekarang belum ada tanda tanda memudarnya kemarahan ayah Pita kepada dirinya.
"Stok sudah sold old. Mana ada pula stok lagi macam dia," sahut ayah Pita.
"Kau Lae mentang mentang punya hela ganteng, sombong!"
"Bah… Darimana pula jalannya aku sombong. Itu memang kenyatan." Ritme nada suara ayah Pita bertambah satu nada lagi menjadi lebih tinggi.
Hal itu membuat Rey merasa sangat terkejut. Sedang marah atau sedang membela dirinya. Bagi Rey yang tidak terbiasa berbaur bersama suku batak tidak bisa membedakan not yang sedang marah atau not yang sedang biasa saja karena semua not sama semua. Begitu juga dengan ekspresi wajah mereka yang sulit diartikan karena selalu memasang wajah sangarnya tetapi dibalik itu semua mereka baik kok.
__ADS_1
"Sudahlah minum dulu." Salah satu kerabat ayah Pita menawarkan nira atau tuak suling kepada Rey. Rey yang tidak terbiasa mencium baunya serasa ingin muntah.
"Tidak Pak," tolak Rey.
"Jangan kau paksa orang lain!" Ayah Pita berucap dengan nada dinginnya.
Saat itu juga Rey merasa sangat bersyukur jika Pita tidak membawa sifat ayahnya. Jika itu terjadi Rey pastikan tidak akan pernah berada disini.
Meski tidak ada percakapan antara Rey dan keluarga besar Pita, Rey ikut tertawa saja saat mereka tertawa meskipun tidak tahu arti dari bahasa mereka.
"Kau tau apa yang dikatakan mereka?" Tiba tiba suara ayah Pita menyelip di telinga Rey.
"Tidak," jawab Rey sambil menggeleng.
"Lalu kenapa kau ikut tertawa, bodoh? Mereka sedang membicarakan kau dan butet!"
Rey seketika membulatkan matanya dengan sempurna. Sialan! Sebenarnya apa yang mereka bahas sih?
Satu jam telah berlalu. Rey merasa sangat bosan dengan keadaan sekitar. Apalagi Rey tidak melihat Pita berada dimana. Rumah Pita masih ramai dengan orang banyak. Segan rasanya ingin mencari keberadaan Pita saatbini. Rey akhirnya memilih untuk duduk di bangku panjang dimana tadi malam dirinya melamar Pita, meskipun Rey sadar akan masa iddah Pita yang belum selesai. Lalu salahkan dirinya telah melamar Pita disaat masa iddah belum habis?
"Kenal kau disini tak masuk kedalam?" Suara yang menggetarkan dada Rey karena Rey sudah tahu milik siapa suara tersebut.
"Iya Pak. Bosan di dalam. Gak tau mau ngapa," jelas Rey.
"Jadi ngapain rupanya kau jauh jauh datang kesini?" tanya ayah Pita lagi.
"Mau melamar tante Pita."
[ Hayo Rey... kamu keceplosan. Gak takut ama ayahnya Pita? ]
.
.
.
.
__ADS_1
*Lae : Panggilan sesama lelaki
*Hela : Menatu laki laki