
Seperti hari-hari lalu yang lalu, Rey akan pulang saat dini hari dan akan pergi lagi saat subuh tiba. Awalnya Pita terkejut dengan kedatangan Rey yang tiba-tiba. Namun, hal itu terjadi setiap malam. Bahkan Pita sendiri tidak tahu kemana suami pergi. Malam ini perasaan Pita tidak nyaman karena sudah hampir pukul 2 dini hari Rey tak kunjung pulang. Hatinya terus gelisah hingha tidurpun tak tenang.
Saat ini Pita juga tidak mempunyai nomer telepon Rey. "Ya Tuhan, lindungi setiap langkah suamiku."
Pita terus menatap pintu, berharap puntu itu tengah.
Angin malam berhembus terasa begitu dingin hingga membuat badan akan menggigil jika tidak tahan dengan cuaca seperti ini. Meskipun Rey berhasil merebut apa yang sedang ia cari namun, naas lengannya harus terkena sayatan belati. Darah segar mengucur deras. Rey menahan rasa sakit yang ia rasakan. Dua orang membantu Rey untuk Rey untuk bangkit.
"Luka ini terlalu dalam, Rey. Kamu harus ke rumah sakit!"
"Tidak! Antara aku ke apartemen saja."
Sesuai permintaan Rey, akhirnya dua orang mengantarkan Rey ke apartemen dimana istrinya Rey tinggal.
Pita yang mendengar suara bel berbunyi segera bangkit, ia heran saat melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul tiga dini hati tetapi sudah ada tamu. Pita ragu dan takut namun, ia tetap berjaga dengan membawa sebuah tongkat besi. Siapa tahu yang datang adalah seseorang yang mempunyai niat jahat. Saat pintu dibuka, Pita sangat terkejut saatnya Rey dengan lengan yang sudah berlumuran darah.
"Ya Tuhan ... Rey," pekik Pita.
Saat ini Rey tengah ditangani oleh Pita. Berhubung Rey tidaj ingin di bawa ke rumah sakit, Pita berusaha untuk mengobati sayatan yang tergores di lengan Rey. Seharusnya Rey mendapatkan perawatan medis tetapi lelaki itu bersikukuh tidak mau.
"Tan, misalnya aku mati, tante jangan nikah sama Danar lagi ya."
Pita yang tengah membalut luka Rey dengan kain kasa, menatap Rey tajam.
"Kamu ngomong apa sih Rey. Emang kamu udah rela ningalin aku sama anak kita?" Mata Pita sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kan cuma misalnya, Tante."
"Bisa diam gak!"
Rey menuruti ucapan istrinya. Lama tidak bisa menghabiskan wakti bersam dengan Pita rasanya ada yang kurang. Rey benar-benar merindukan kehangatan cinta dari Pita. Semua ini salahnya sendiri.
"Udah, kamu tidur aja!" titah Pita.
Rey mengangguk pelan. Saat Pita ingin menyimpan kotak p3K tangannya dicekal oleh Rey. Mata keduanya saling bersitatap. Pita merasakan getaran jantungnya berdebar lebih kencang. Wajah Rey yang mulai medekat membuat Pita menutup matanya.
Lembut, hangat. Itulah sentuhan yang selama ini Pita rindukan dari sosok Rey. Semakin lama Pita semakin larut dalam permainan Rey yang terlalu lincah. Suara decakan menggema di ruang kamar yang sepi. Rey melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas yang sudah tersenggal. Ia menatap Pita dengan rasa bangga, sambil mengusap sisa di bibirnya Pita.
"Kamu semakin pandai ya, Tan. Aku suka." Rey mengeringkan matanya, membuat Pita semakin salah tinggah. Munafik jika Pita menolak ciuman yang selama ini ia rindukan.
"Sabar ya, Tan. Tangan aku masih sakit. Besok kalau sudah sembuh aku ajak tante keliling angkasa."
Pukul 4 dini hari Pita baru mulai terpejam setelah Pita membersihkan luka sayatan milik Rey. Pita bisa dengan jelas mencium aroma tubuh Rey yang telah lama ia rindukan. Pita tidak bisa seperti ini terus. Ia harus bisa membantu Rey keluar dari masalah ini. Meskipun terpejam, Pita tidak bisa terlelap takut sewaktu-waktu Rey akan pergi lagi lagi.
******
Pita mengira Rey sudah pergi dari apartemennya, beruntung dugaannya salah. Rey masih berbaring disampingnya. Ada yang aneh, saat tanpa sengaja kulit Pita bersentuhan, ia merasa rasa hangat. Pita segera mengecek keningnya Rey, dan ternyata hasilnya Rey demam.
"Ya ampun, Rey. Kamu demam. Aku harus menelepon dokter Mada."
Tanpa pikir panjang Pita segara menelepon dokter yang selalu menanganinya. Berharap luka sayatan langsung bisa di jahit oleh dokter Mada.
__ADS_1
Beruntung sekali Pita langsung menghubungi dokter Mada, jika tidak mungkin kondisinya akan lebih parah lagi.
Setelah mendapatkan perawatan dari dokter Mada, Pita menghubungi salah satu seorang kenalan yang tinggal di Jakarta. Pita berharap orang ini bisa membantu keadaan Rey saat ini agat keluar dari masalah yang sedang diciptakan oleh Rey.
Samar -samar Rey mendengar Pita menelepon tapi karena rasa pusing akibat pengaruh obat, Rey tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Tadi telepon siapa, Tan?" tanya Rey saat Pita hendak menyuapkan makanan ke mulut Rey.
"Kenapa?"
"Gak ada. Kayak serius aja."
"Iya memang serius. Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh. Istirahat dulu. Kamu mulai hari ini gak aku ijinin keluar dari apartemen ini. Mengerti?" Pita berkata sambil mengancam.
Untuk kali ini Rey terpaksa harus menyetujui ucapan Pita yang terlihat sangat khawatir. Sayangnya disaat seperti ini tangannya sedang sakit dan tubuhnya juga malah ngedrop.
Rey hanya menikmati setiap perlakuan manis dari istrinya. Seharusnya dialah yang memanjakan Pita disaat sedang hamil seperti ini. Rey benar-benar menjadi suami tak berguna di hadapan Pita.
"Tan, boleh aku telepon seseorang untuk sebentar?" tanya Rey.
"Tidak. Saat ini kamu gak boleh kemana-mana dan menelepon siapapun, apa pun itu alasannya."
"Tan, aku lihat kamu makin galak dan penuh disiplin. Pasti sekarang udah pandai goyang diatas ranjang," kekeh Pita.
#To Be Continue#
__ADS_1
Aku dah Up, kalian malah bubar 😟