
SEGENGGAM LUKA
BAB 23 || DI JEMPUT REY
~TEH IJO~
HAPPY READING...
Malam ini terpaksa Yuna harus tidur di kamar belakang karena kamarnya dipakai untuk ibunya Pita. Sementara Ucok tidur sekamar dengan ibunya namun dia tidur di kasur lantai.
Beruntung saja Pita bisa berkilah bahwa Danar sedang keluar kota dan ternyata ibu dan abangnya benar percaya kepada dirinya.
Pita memijat kepalanya yang terasa pusing, perutnya pun juga terasa mual mungkin karena masuk angin ataupun kelelahan akibat jadwal Pita yang semakin hari semakin padat. Apalagi besok adalah jadwal fashion show yang diadakan oleh salah seorang pengusaha terkenal yang baru saja merintis usaha di bidang fashion. Untuk memperkenalkan produknya sang pengusaha itu mengadakan fashion show dan Pita terpilih untuk menjadi salah satu model yang beruntung bisa memperkenalkan produk tersebut.
Yuna yang lelah seharian mengerjakan tugasnya ingin beristirahat dengan tenang namun tetap saja tidak bisa karena Pita menyuruh untuk memijat kepalanya.
"Ibu terlalu banyak pikiran makanya sakit kayak gini," celoteh Yuna.
Pita terdiam, ia menikmati setiap pijatan dari tangan Yuna hingga ia bisa bersendawa keras.
"Tuh kan… Ini ibu masuk angin," ujar Yuna lagi.
"Makanya pijat yang bener biar sembuh. Besok aku ada Fashion show nih. Jangan sampai tumbang," ketus Pita.
"Ini juga udah bener kok, Bu." Akan ada saja jawaban yang Yuna berikan saat sedang berbicara dengan Pita, tak ada rasa segan sedikitpun kepada sang majikannya.
Saking menikmati pijatan dari Yuna, Pita pun tertidur dalam keadaan tengkurap.
Melihat akan hal itu, Yuna memastikan bahwa Pita sudah tertidur dengan pulas atau hanya tiduran saja. Namun ternyata Pita benar benar sudah tertidur.
Dengan pelan Yuna membenarkan posisi tidur Pita agar menjadi terlentang dan memberikan selimut untuk Pita.
"Ibu cantik sih, tapi kok ya bisa kalah dari setan valak sih?" gumam Yuna.
Tak terasa mentari telah menyingsing kembali memancarkan kilauan keemasannya. Ayam tetangga berkokok silih berganti dan burung burung berkicau dengan nyaring.
Yuna telah terbangun sejak suara Adzan berkumandang karena hari ini Yuna ingin ke pasar terlebih dahulu sesuai dengan perintah Pita untuk membelikan ikan mas untuk di arsik oleh ibunya.
Sebenarnya Yuna sendiri tidak tahu apa itu arsik karena Yuna belum pernah menemui sejenis makanan seperti ini di pulau jawa.
__ADS_1
Pita menggeliat, meregangkan otot ototnya. Ternyata tangan Yuna sangat mujarab. Setelah dipijat, Pita tertidur sampai sang fajar terbit tanpa terbangun tengah malam. Sebelum menemui ibunya, Pita membersihkan badannya terlebih dahulu agar lebih terasa segar.
Sekilas Pita mendengar suara berisik dari arah dapur, sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah suara ibunya dan Yuna yang sedang memasak.
"Merengkel kali kau ini. Sudah dibilang jangan diaduk masih saja kau aduk! Kau lihat hancur kan?" sentak Nadine kepada Yuna.
"Ya maaf, Bu. Lagiaan ibunya ibu sih, marah marah aja dari tadi. Nanti cepet tua lho," ejek Yuna.
"Siapa pula yang marah?! Aku cuma kasih tau agar kau tak aduk sayur ini. Aku cuma bilang, tidak marah. Ngertinya kau?"
Pita segera menghambur ke dapur. Itu dapur apa pasar. Hanya dua orang tetapi suaranya sudah terdengar hingga satu kompleks.
"Pagi pagi udah ribut," sela Pita.
"Pembantu kau ini rusuh. Mamak sudah bilang jangan diaduk aduk arsiknya, lha malah diaduk terus. Kan bikin Mamak naik tensi," terang Nadine.
"Kan saya gak tau Bu. Lagian ibunya ibu dari tadi ngomel mulu," gerutu Yuna.
"Apa kau bilang?" tantang Nadine.
Agenda memasak pagi ini diwarnai dengan cek cok adu mulut antara Yuna dan Nadine membuat Pita tidak bisa berkata apa apa lagi.
Pita tengah bersiap siap untuk segera berangkat karena sedari tadi Rey terus menghubungi Pita mengapa belum juga sampai di Studio padahal Rey sudah menunggu hampir satu jam lamanya dan Pita tak kunjung datang.
"Mak, Pita harus segera berangkat. Mak sama Bang Ucok jangan aneh aneh di rumah! Kasihan Yuna," pesan Pita sebelum berangkat.
"Macam anak kecil aja kau buat Mamakmu ini. Tau lah aku," protes Nadine.
"Baguslah, Pita berangkat sekarang ya," pamit Pita.
Baru saja Pita keluar dari pagar rumahnya, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Namun Pita yakin ini bukanlah mobil milik Danar, lalu mobil siapa ini.
"Tan, niat kerja gak sih?" Suara Rey dari dalam mobil. Ternyata itu adalah Rey yang datang untuk menjemput Pita karena Rey lelah menunggu Pita di Studio.
"Iya niatlah, Rey. Tapi kebetulan orang tuaku datang, jadi aku harus menemaninya sebentar." Pita memberi penjelasan.
Enggan panjang lebar beradu mulut, Pita segera naik ke dalam mobil Rey. Yah, wajarlah orang kaya, pakai mobil aja pakai jadwal sehingga Pita susah untuk menandai mobil milik Rey, karena saking seringnya Rey gonta ganti mobil.
"Tan, ini projek penting untuk kita. Seharusnya tante bersyukur bisa tampil di acara fashion show hari ini lho. Cuma 20 orang yang beruntung dan tante adalah salah satu wanita yang beruntung meskipun telah menikah." Suara Rey melemah saat di akhir kata. Pasalnya semua kandidat yang terpilih adalah wanita yang belum menikah alias masih ting ting, tidak seperti Pita yang sudah menikah.
__ADS_1
"Iya aku tahu, Rey," ujar Pita.
"Tante tahun siapa pemilik acara tersebut? Dia adalah pengusaha kaya raya jangan sampai Tante kena beli juga sama dia," celoteh Rey.
"Aku tahu tapi hanya sekedarnya saja. Di itu Adipati Anyer seorang duda keren yang kaya raya. Wah… Pas banget nih kalau mau di deketin."
Mendadak Rey menginjakkan rem secara tiba tiba membuat dahi Pita membentur dashboard. "Auw… Yang bener dong Rey bawa mobilnya. Aku masih dalam proses masa cerai nih. Ntar kalau aku mati belum cerai, enak dong Bang Danar bisa menikmati hartanya lagi," gerutu Pita.
Entah mengapa Rey tidak menyukai ucapan Pita yang seolah sedang memuji sosok Adipati Anyer.
"Iya maaf. Tadi yang mendadak nyebrang," kilah Rey.
Saat ini Pita sedang berada di ruang rias dan ganti. Hatinya berdebar karena ini adalah pertama kalinya dia harus berlenggak lenggok diatas panggung yang akan disaksikan oleh banyak mata terutama mata para petinggi sebuah sebuah perusahaan.
Rey telah duduk di sebuah kursi yang memang telah disediakan untuk para fotografer yang turut hadir untuk mengabadikan acara tersebut.
Mata Rey membulat sempurna manakala saat para model telah menampilkan diri. Sungguh ia tak percaya bahwa yang sedang berada diatas sana adalah Pita.
Pita telah disulap bagaikan anak remaja, sehingga aura tantenya tak terlihat lagi.
"Widih… Tante cantik sekali." Tanpa sadar mulut Rey bergumam. Tak ingin membuang kesempatan, Rey segera menjepret Pita yang sedang berjalan di atas panggung.
Hampir 2 jam acara berlangsung. Semua model telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, terutama Pita yang ternyata sudah dilirik oleh Anyer untuk digandeng menjadi salah satu modelnya nanti.
"Capek, Tan?" tanya Rey tiba tiba.
Setelah acara selesai Rey segera menuju ruang ganti dan memberikan air mineral untuk Pita.
"Capek lah, Rey," ujar Pita sambil mengambil botol air mineral tersebut.
Rey mencuri pandang kepada Pita, tidak di makeup aja udah cantik apalagi udah dibalut make up. Tan, napa sih cantik, batin Rey.
Namun sesaat kemudian Rey menggeleng, menepis kata batinnya yang sedang memuji Pita.
🍂🍂🍂 bersambung 🍂🍂🍂
__ADS_1