SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MELAMAR?


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 45 || MELAMAR?


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA WAHAI Reader tersayang❤ kecup jauh dari Othor 😘😘


Setelah melakukan makan malam semua anggota keluarga berkumpul seperti hendak menghakim sosok Rey meski acara masih ramai di luar sana. Bahkan nyali Rey mulai nyiut tak berani menatap ayah Pita yang terlihat lebih sangar. Pantas saja mantan suami Pita tidak berani untuk datang ke rumah Pita.


"Apa hubunganmu dengan Butet?" Setelah hening beberapa saat akhirnya ayah Pita buka suara.


Rey melirik Pita yang terdiam. Jangan ditanya lagi kaki Rey yang bergetar hebat. Entah kemana nyalinya yang selangit itu pergi.


"Hei… Dengar nya kau!" ulang ayah Pita.


"Iya. Iya… Pak. Saya denger kok," sahut Pita cepat.


Rey melirik Pita. "Saya cuma berteman kok, Pak."


🌳      🌳      🌳     🌳      🌳


Ternyata hawa malam di kota Medan  itu sangat dingin, berbeda dengan hawa malam di Jogja yang sedang sedang saja.


Mata Rey tidak bisa memejam meski waktu telah menunjukkan pukul 3 dini hari karena rumah Pita yang masih ramai.  Meskipun tamu undangan telah bubar tetapi para sanak saudara dan famili Pita masih bertahan di rumah Pita.


Rey sengaja diberikan kamar tamu untuk beristirahat saat ayah Pita tahu bahwa Rey adalah seorang fotografer yang membantu Pita meniti karirnya. Ayah Pita bahkan sampai berterima kasih kepada Rey, berkat dirinya kini nama ayah semakin diangkat oleh warga karena Pita yang telah sukses menjadi orang terkenal di Jawa sana. Berbeda dengan Pita yang merasa biasa saja, ia tidak ingin sombong atas ketenaran di Jawa sana. Memilih tetap rendah hati dan pura pura tidak tahu saja jika dirinya sudah terkenal tapi bukan berarti dia sombong.


Rey hanya bisa membolak balikan tubuhnya di sebuah ranjang berukuran sedang. Yah, meskipun tak sebagus ranjang di apartemennya sih.


"Kenapa sih ini mata gak bisa merem?" keluh Rey. 


"Pesta segede ini abisin duit berapa ya? Kalau bang Ucok pesta nikahnya segede ini, berarti pesta nikahan tante juga harus lebih dari ini dong! Wah… Mesti kerja keras dong aku biar bisa buat pesta yang lebih besar dari ini." Rey bermonolog dalam heningnya malam.


Jangankan kerbau, unta pun bisa Rey sembelih saat menikahi Pita kelak tetapi itu tidak mungkin Rey lakukan karena dalam agama yang dianut oleh keluarga Pita, Unta tidak boleh disembelih.


Tiba tiba saja pikiran nakal Rey membayangkan bang Ucok sedang malam pertama dengan istrinya dan yang bikin songong lagi, bang Ucok memilih menginap di hotel dengan alasan rumah mereka penuh dengan sanak famili. Bilang saja tidak ingin diganggu dan … Ah sudahlah, pikiran Rey semakin membayangkan yang tidak tidak.


Coba aja aku yang nikah sama tante Pita, aku langsung bawa dia ke Amsterdam, Belanda sana. Rey diam diam tertawa akan halusinasi yang terlalu tinggi. Sekarang boleh aja halu tapi besok besok aku pemainnya. Kekeh Rey pelan. Rey seperti orang gila, tidak bisa tidur malah menghalu berlebihan.


Rey melirik ponselnya lalu menekan dial nomor yang diberikan Pita tadi. Disini hanya bisa menggunakan kartu merah putih karena, kartu lain bisa saja tetapi harus keujung jalan baru bisa dapat sinyal.


Iseng iseng Rey mengirim pesan kepada Pita, sudah bangun atau belum. Tidak mungkin Rey menanyakan sudah tidur atau belum. Nampak kali kalau belum tidur.

__ADS_1


Rey  tidak percaya bahwa pesan Rey segera dibalas oleh Pita. Itu artinya Pita belum tidur.


[ Tante cari angin keluar yuk, aku gak bisa tidur ] send tante


[ Oke. Aku tunggu di halaman samping dekat dengan kamarmu, ya ] 


Rey terlihat sangat girang hingga tanpa sadar dia meloncat di atas tempat ranjang.


Sesampainya di halaman samping, Rey melihat Pita sedang duduk disebuah kursi panjang dengan melipat kedua tangannya didepan dada, merasakan dinginnya malam yang menusuk tulangnya.


Jantung Rey berdegup lebih kencang saat melihat Pita telah menunggu kedatangannya. Apakah Pita juga sama tidak bisa tidur malam ini?


"Tante," sapa Rey.


Pita menoleh lalu tersenyum. "Kamu gak bisa tidurkan?" tebak Pita.


Rey nyengir sambil menggaruk tengkuknya. "Tante tau aja," jawab Rey.


Rey dan Pita duduk berdekatan karena cuaca malam hari sangat dingin. Sebenarnya Rey ingin mendekap lagi tubuh Pita untuk menyalurkan rasa rindunya meski sore tadi sudah memeluk Pita tetapi rasanya masih belum puas.


"Tan, jika seandainya Tante disuruh milih antara aku dan mantan suami tante, Tante akan pilih siapa?" Tiba tiba Rey langsung memberikan pertanyaan yang konyol.


Pita menoleh menatap netra pekat milik Rey. "Kamu ngomong apa sih, Rey? Kamu mau aku kembali membuka luka yang sudah kering ini? Asal kamu tahu setiap aku melihat bang Danar maka luka hati ini kembali menganga. Itu pilihan yang mustahil, Rey." Pita tersenyum kecut. Sebenarnya dia sudah tidak ingin lagi menyebut nama Danar dari mulutnya karena Pita sudah meng-uninstall nama Danar dari dalam memorinya.


Pita terdiam. Iya pasti aku akan pilih kamu Rey, tapi semua itu juga mustahil karena kamu bentar lagi juga akan nikah. Percuma saja aku jawab jika benar begitu jawabannya.


"Iya kan, Tan?" Bibir Rey menyungging lebih lebar.


Astaga Rey, senyumanmu gemesin banget sih. Please Rey jangan buat aku semakin melayang!


"Kamu ngomong apa sih, Rey? Inget kamu udah punya tunangan, bentar lagi nikah! Bisa gak, gak bikin orang baper?" keuh Pita.


Rey segera menoleh. Apa baper? Beonya dalam hati. Jadi ternyata tantenya bisa baper juga. Rey semakin melebarkan senyumannya.


"Tan, aku mau bilang sesuatu. Namun, sebelum itu tante harus jawab pertanyaanku dengan sejujur jujurnya dari lubuk hati tante yang paling dalam, gimana?" tawar Rey.


Pita menghembuskan nafas beratnya. Memang Rey selalu aneh, kalau gak aneh, bukan Rey.


"Oke. Tanya aja. Ntar aku jawab jujur."


"Suer?" Rey meminta sebuah keyakinan dari Pita.


"Iya. Iya… Suer! Bawel amat sih jadi orang," keluh Pita kesal.

__ADS_1


"Oke, baiklah! To the point aja, ya. Tante Pitaloka binti Bapak Siregar alias Pitaloka Siregar anak dari bapak Siregar, jika hari ini aku melamar kamu dan mengajak kawin, eh maksud aku nikah, apakah tante bersedia? Silahkan jawab dengan sejujur jujurnya!"  Rey terlihat sangat pede tak seperti saat menembak malam itu. Malam ini secara tidak langsung Rey melamar Pita.


"Eh tunggu, mana cincinya ya?" Rey meraba raba saku celana tapi tak menemukan benda tersebut. Rey menepuk jidatnya saat mengingat beda logam tersebut masih berada di ranselnya.


Ah, matilah Rey. 


Rey bergegas ngacir ke dalam rumah untuk mengambil sebuah benda yang telah ia siapkan jauh jauh hari, bahkan sebelum menembak Pita malam itu.


Dengan deru nafas yang masih naik turun akhirnya Rey telah sampai lagi di samping Pita sambil membuka kota beludru berwarna maroon  tersebut. Didalamnya sudah tersemat sebuah cincin bermata berlian biru yang hanya tiga di penjuru dunia, salah satunya adalah yang Rey miliki.


Pita membulatkan matanya dengan sempurna, merasa takjub akan barang langka di depan matanya saat ini. Sungguh Pita benar benar merasa sangat terharu tetapi senyumannya menghilangkan kala mengingat Rey yang sudah bertunangan dengan Winda.


"Bagus sih cincinya tapi gimana aku mau terima kalau yang memberikan cincin ini sudah bertunangan dengan wanita lain. Masa iya aku kamu mau nikahin kita berdua Rey," celoteh Pita tanpa sadar.


Rey menatap Pita dengan berbinar. Tanpa sengaja Pita mau menerima lamarannya malam ini.


"Jadi misalnya aku tidak bertunangan dengan Winda, Tante mau dong nikah sama aku?"


"Kamu ngomong apa sih, ngaco mulu kalau ngomong," gerutu Pita.


"Aku serius, Tan," tegas Rey.


"Terus Winda mau dikemanakan?" 


"Pertunangan kami sudah batal, Tan. Gimana Tante setuju kan nikah sama aku?" todong Rey terus.


Sungguh Pita sangat terkejut dengan pengakuan dari Rey. Matanya terbelalak dan hatinya mulai bergemuruh hebat.


Pita masih belum bisa mencerna dengan baik. Jika benar pertunangan Rey batal berarti tidak ada ranting yang melintang lagi untuk jalan Pita selanjutnya. 


"Jadi kamu serius ngelamar aku, Rey?" tanya Pita masih tak percaya.


"Iya lho, Tan. Aku serius. Terima, ya!" 


.


.


.


.


MOHON TINGGALKAN LIKE 🙏🏻

__ADS_1


GANTUNG TERUS KAYAK JEMURAN KERING.


__ADS_2