
Halo-halo Rey come back! Mana suara kalian yang minta aku Up novel ini? Gak ada suaranya aku sleding ya 🤣🤣
Rencana aku bakalan Up novel rutin mulai hari ini. Tapi liat bagaimana respon kalian sih.
Selamat membaca, Jangan lupa Like!
"Baiklah, mari kita ulangi kisah ini dari awal. Aku akan memanggilmu dengan panggilan tante, bagaimana?"
Tak ada jawaban dari Pita. Tubuhnya masih lemas tak bertenaga. Tangannya pun ikut bergemetar. Ia tidak tahu jika insiden tadi sempat terjadi, mungkin saat ini hanya tinggal namanya yang tersisa.Â
Rey mengangkat tubuh Pita ala bridal style menuju tempat tidur. Sudah cukup luka yang Rey goresan untuk sang istri, namun Rey juga tidak akan mundur atas keputusan yang telah ia buat demi untuk mengungkapkan siapa yang sudah menghancurkan perusahaannya.
"Berjanjilah kepada ku, jangan pernah ulangi hal bodoh seperti ini meskipun aku tak selalu berada di sampingmu."
Pita menautkan alisnya. "Kamu mau pergi lagi?"
Rey mencium tangan Pita dengan lembut. "Aku sudah memulainya, maka aku harus menyelesaikannya. Kamu tenang aja, aku akan baik-baik aja."
Hati Pita kembali bersedih lagi saat mendengar ucapan suaminya. Mengapa Rey sampai terjun ke dunia gelap hanya demi mengungkapkan dalang di balik kebangkrutan dua perusahaan secara bersamaan. Masalah ini bisa diselesaikan dengan pikiran tenang tanpa harus mengorbankan diri sendiri.
Satu jam Pita tertidur dalam dekapan suaminya. Rasa kehilangan itu langsung terobati akan sentuhan hangat dari Rey.
Rey yang berwajah manis tak pantas jika harus menjadi seorang buronan polisi. Cepat atau lambat semua pasti akan terbongkar dengan sendirinya. Pita takut jika saat itu tiba, dimana Rey harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di dalam jeruji besi.
Sudah lama Rey tak merasakan hangatnya tubuh sang istri. Terakhir kalinya menyentuhnya dengan kasar karena terbawa hasrat yang menggebu.
Sebelum Rey kembali pergi, terlebih dahulu Rey menyiapkan makanan untuk istrinya yang masih terlelap. Saat ini Rey tidak bisa tinggal bersama dengan Pita karena harus ada yang diselesaikan secepatnya.Â
2 jam kemudian …
Pita mengerjapkan matanya sambil mencari keberadaan Rey.Â
Kosong, itulah yang Pita tangkap. Tak ada sosok bayangan suaminya lagi di apartemen ini, hanya ada hidangan diatas meja dengan sebuah memo kecil di sampingnya.
__ADS_1
"Dia pergi lagi," gumam Pita.
Akankah Pita sanggup untuk melewati semua ini sendiri? Sampai kapan?
Di lain tempat, dengan pakaian serba hitam Rey dan beberapa orang sedang mengejar mobil hitam di depannya yang melaju dengan kecepatan tinggi.Â
"Sepertinya kita harus memotong jalan," saran salah seorang.
Rey memutar otak sambil mencari celah sesekali bagaimana agar bisa menyalip mobil tersebut.Â
"Kamu benar. Kita harus cari jalan pintas," balas Rey.
Sesuai perintah dari bosnya, Rey saat ini sedang mengejar seseorang yang telah membawa kabur diamond red yang seharusnya akan dilelang besok malam. Entah mengapa mereka semua bisa sampai kecolongan akan hal tersebut. Tapi yang pasti ada orang dalam yang membantunya.
Benar saja, jalan pintas yang Rey lewati berhasil menyalip mobil tersebut. Dengan cepat Rey menembak ban mobil yang berada disampingnya hingga mobil itu kehilangan keseimbangan namun terus berjalan.
"Sepertinya dia sendiri," kata salah seorang yang duduk di kursi penumpang.
Mobil Rey berhasil menyalip dan saat ini sudah menghadang mobil tersebut. Saat Rey berhasil membekukan orang tersebut ternyata dia hanyalah seorang sopir taksi biasa dan barang yang Rey cari tidak ada.Â
Mata Rey terlihat gelap sambil menodongkan sebuah pistol ke arah sopir tersebut. "Katakan dimana dia?!" bentak Rey.
"A-aku ti-tidak ta-tahu Tuan. Tiba-tiba mereka menyerangku dan merampas mobilku."
"Rey seperti dia belum jauh dari sini. Abaikan saja dia!"
"Baiklah. Beruntung nyawamu saat ini tidak melayang." Rey meninggalkan sopir mobil dengan santai. Setelah masuk ke dalam mobil, Rey menembakkan peluru ke salah satu ban mobil kemudian menancap gas tinggi layaknya seorang pembalap.
*******
Malam ini Yuna dan Danar menjenguk Pita untuk memastikan keadaan ibu hamil itu baik-baik saja. Keduanya turut prihatin atas apa yang sedang menimpa Pita saat ini.Â
Pita menyambut kedua orang tamu yang sudah membawakan makan malam untuknya. Rasa terimakasih yang bisa Pita ucapkan. Seperti biasa, Yuna akan memperlakukan Pita seperti majikan sendiri. Dia menyiapkan keperluan untuk makan makan malam mereka.
__ADS_1
Danar yang duduk di depan Pita bisa melihat dengan jelas raut kesedihan yang mendalam dari mantan istrinya itu. Danar mencoba memberanikan diri untuk menggenggam tangan Pita.
"Pit, Abang sungguh menyesal telah menyia-nyiakan kamu. Melihatmu seperti ini Abang merasa sangat bersalah. Bisakah kamu memberikan satu kesempatan untuk Abang? Abang janji tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi. Kita bangun keluarga impian kita lagi ya?"
Pita menatap kearah Danar. Miris, saat hati sudah menutup pintu untuknya, tiba-tiba dia memohon untuk kembali. Terlambat sudah, karena goresan itu masih membekas di hatinya.
"Bang … cerita cinta kita sudah usai saat pengadilan mengetukkan palu. Aku tidak bisa membangun keluarga impian bersama Abang, karena aku sudah membangun keluarga impian bersama dengan orang lain," jelas Pita.
"Tapi dia pergi tak tahu rimbanya, Pit! Entah hidup atau mati kami juga tidak tahu kan?"
"Cukup bang! Jika Bang Danar kesini hanya untuk mengambil hatiku, mending Abang pulang sana! Aku tidak butuh itu!" sentak Pita, membuat Danar sangat terkejut.
Yuna yang berada di dapur juga ikut tersentak dengan nada tinggi dari Pita. Tidak biasanya dia akan atau tersinggung. Apakah Danar sudah melakukan kesalahan fatal hingga membuat Pita emosi?"
"Bu Pita ada apa?"Â
"Yun, bawa dia pergi!" teriak Pita.
Saat ini emosionalnya Pita sedang tidak stabil. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah faktor kehamilannya.
"Pak Danar! Pak Danar sudah berbuat apa dengan Bu Pita?"Â
"Oke. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi tolong jangan usir aku. Aku masih ingin disini melihatmu sebentar."
Hening. Tak ada suara apapun kecuali dengung sendok yang beradu dengan piring. Selama makan malam, Pita membisu enggan untuk bersuara. Sedangkan Danar lebih menjaga diri agar tidak salah bicara lagi. Sementara Yuna hanya memperhatikan dua orang yang saling terdiam.
Kedatangan Danar dan Yuna hanya sekedar untuk makan bersama. Saat acara sudah selesai Danar undur diri tetapi tidak dengan Yuna yang masih ingin tetap tinggal untuk menemani Pita. Namun, dengan keras Pita menolaknya. Ia takut jika sewaktu-waktu Rey akan pulang dan Yuna mengetahui yang tak seharusnya ia ketahui.
"Ya sudah, kami pulang. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami ya," saran Danar.Â
Pita hanya mengangguk saja. Pita mau berdamai dengan Danar bukan berarti ingin kembali ke masa lalu, tetapi Pita juga ingin mengetahui sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
#TBC#
__ADS_1