
SEGENGGAM LUKA
BAB 81 || FIRASAT
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA ...
Baru juga belum ada satu hari berpisah dari Rey, rasa rindu sudah menggebu. Bagaimana jika sampai satu minggu hingga satu bulan Pita tak bertemu degan Rey, bisa-bisa Pita struk ringan dibuatnya.
Jangankan untuk makan, untuk bernafas saja Pita masih memikirkan tentang Rey. Sudah lima jam sejak kepergiannya, Rey juga belum memberikan kabar kepada dirinya. Padahal tadi sempat mengatakan jika telah sampai akan segera menghubunginya.
Pita merebahkan tubuhnya di ranjang besar seorang dirinya. Netranya selalu mengawasi ponselnya mana tahu Rey akan segera menghubungi dirinya.
"Mana sih tuh anak? Dari tadi belum ada kabarnya. Kan jadi khawatir." Pita masih merasa gelisah.
Seketika Pita baru teringat akan sesuatu. Sebuah jas yang sempat Rey berikan kepada sebelum keberangkatan dirinya.
Dengan pelan Pita mulai menghirup aroma tubuh Rey dari jas yang sedang ia peluk. Berharap dengan seperti itu, perasaan Pita akan lebih tenang.
Sayup-sayup mata Pita mulai menutup, tetapi samar samar pendengarannya mendengar suara ponsel berdering. Pita sekejap langsung membuka mata dan mencari letak ponselnya. Wajah Rey yang manis nan imut memenuhi layar ponselnya, dengan segera Pita langsung memencet tombol warna hijau sebagai tanda Pita menerima panggilan video call.
Hal yang pertama Pita lihat adalah senyum manis yang terukir indah mengembang luas serta wajah yang imut menyapa sang istri.
"Kenapa belum bobok?" Kata pertama yang Rey pertanyakan.
__ADS_1
"Baru juga mau tidur. Gimana keadaan kamu disana? Kamu gak aneh-aneh kan?"
Rey semakin tertawa renyah. Jika saja saat ini istrinya ada disisinya, Rey pastikan akan segera menghujani kecupan keseluruhan tubuhnya terutama bagian bibir yang asal berbicara saja.
"Kamu ngomong apa sih, Sayang? Maaf baru bisa kasih kabar soal tadi langsung meninjau lokasi," terang Rey.
"Iya gak papa, aku tahu."
"Kamu sendirian? Mana Yuna? Tadi kak Asiah ke sana kan? Ayah sama ibu udah ke sana belum?"
Pita menghembuskan nafas beratnya. Bingung ingin menjawab pertanyaan yang mana dahulu karena Rey langsung memborong semua pertanyaan.
"Satu satu Napa sih kalau nanya. Aku di rumah sendiri males manggil Yuna. Iya, tadi kak Asiah datang terus ayah dan ibu belum kesini, katanya masih ada urusan di luar kota. Terus apalagi pertanyaannya?"
"Emang kamu kapan pulangnya?"
"Baru juga sampai. Tapi aku usahakan untuk segera pulang. Oh ya, udah dulu ya, aku harus pergi. Kamu jaga diri baik-baik. Aku akan selalu merindukan mu. Muaacch." Sebelum mengakhiri obrolan, Rey menempelkan bibir di layar ponselnya, berharap kecupan itu sampai ke tempat Pita.
"Balas dong, masa cuma diliatin aja," protes Rey.
Lagi-lagi, Pita harus membuang nafas kasarnya saat meladeni sikap Rey. Ia pun mengikuti kata-kata suaminya, menempelkan bibirnya di layar ponsel.
Sejenak Pita terdiam, ada rasa sedih yang mendalam dengan apa yang baru saja diucapankan oleh Rey. Dalam relung hatinya, Pita meminta agar Rey terhindar dari hal yang buruk. Lama tak ada suaranya, Pita melihat sambungan videonya sudah berakhir. Rey keterlaluan, mematikan ponsel tanpa memberikan tahu dirinya.
\*. \*. .\*
__ADS_1
Keringat jagung bercucuran meski dalam keadaan sedang tertidur. Pita merintih memanggil nama Rey Dangan pilu. Air matanya juga keluar begitu saja. Meski sedang berada didalam mimpi tetapi bagi Pita itu seperti nyata.
"Tidak ...," teriak Pita.
Tubuh Pita langsung terduduk dengan deru nafas yang masih naik turun sambil mengusap jejak keringat di wajahnya.
"Astag ... ternyata hanya mimpi," lirih Pita.
Pita melirik nakas yang tak ada air minum dan akhirnya Pita beranjak untuk ke dapur.
Sesampainya di dapur, Pita langsung menuangkan air kedalam gelas tetapi, karena dia kurang berhati-hati gelas yang ada di tangannya terjatuh.
Pyarrr
"Astaga," pekik Pita.
Tidak sampai disitu, saat Pita hendak memungut pecahan kaca, tanpa sebagai jarinya tergores oleh kepingan kaca. "Aduh ...," rintihnya pelan.
Dada Pita kembali berdetak lebih kuat saat mengingat mimpi yang baru saja singgah. Mimpi yang begitu nyata dimana Rey mengabaikan dirinya dan perlahan meninggalkan dirinya dengan senyum manisnya. Tak ada sepatah kata yang terucap meski Pita terus berteriak memanggil namanya. Dengan waktu yang bersamaan dengan cahaya terang tiba-tiba Rey menghilangkan begitu saja.
Saat Pita melihat jarum jam, ternyata hari masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Berharap semua mimpi yang dialami hanya bunga tidurnya saja. Sungguh ia tidak ingin Rey kenapa-napa.
"Tuhan, lindung suamiku dimana pun dia berada."
JAN LUPA LIKENYA DONG 😊😊
__ADS_1