
SEGENGGAM LUKA
BAB 46 || AKHIR DARI PERJUANGAN
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
"Jadi kamu serius ngelamar aku, Rey?" tanya Pita masih tak percaya.
"Iya lho, Tan. Aku serius. Terima, ya!"
Lagi lagi Pita masih terdiam. Ingin rasanya segera iya tetapi lidahnya terasa kelu. Jujur Pita sangat bahagia atas lamaran ini meski tak ada romantisnya sama sekali. To the point, gak seru tetapi mampu membuat Pita melayang.
"Udah ah, kebanyakan mikir!" Tanpa menunggu persetujuan dari Pita, Rey segera menyempatkan sebuah cincin di jari manis Pita sebelah kiri. Harus bisa sabar menunggu waktu jika ingin menyematkan di jari manis sebelah kanan. Butuh waktu dan perjuangan.
Tak ada penolakan maupun protesan dari Pita membuat Rey semakin yakin jika Pita menerima lamarannya malam ini. Tidak sia sia perjuangan sampai ke kampung orang yang ternyata berbuah sangat manis semanis madu asli.
Rey tersenyum puas saat cincin tersebut bersemayam di jari lentik milik Pita. Rey pun segera mengecup cincin yang telah melingkar cantik kepada sang pemilik hatinya.
"Aku yakin diamnya Tante itu pertanda bahwa tante setuju dan menerima lamaranku malam ini. Aku janji akan sabar menunggu masa iddah tante habis untuk menikahi tante. Aku juga berjanji akan buat tante selalu bahagia, tak akan sedikitpun menyakiti tante apalagi meninggalkan tante. Itu janji aku, Tan. Tante boleh pegang. Em… Pegang yang lain juga boleh kok, Tan." Rey sudah berani menggoda Pita dengan nakal.
Pita tersipu malu sambil menggigit bibir bawahnya sambil melihat cincin yang indah melingkar di jarinya.
Cantik banget sih, Rey. Demi apa coba, kamu tuh meski ngeselin tapi so sweet banget sih, meski garing.
"Tante suka?" tanya Rey.
Pita mengangguk pelan sebagai jawaban bahwa dirinya memang menyukai cincin tersebut. Munafik jika dirinya menolak. Kemana lagi Pita akan mencari cincin bermata berlian biru yang hanya ada tiga di penjuru dunia?
"Berarti Tante menerima lamaran aku kan? Aku pengen denger dari bibir tante. Kalau gak mau bilang aku kecup ya." Baru saja dikasih sedikit celah, Rey sudah mulai nakal. Namun, Pita segera mengarahkan sebuah kepalan tangannya kedepan wajah Rey.
"Galak amat sih, Tan! Ayo dong, jawab!" paksa Pita.
__ADS_1
Dengan mengambil nafas dalam dalam Pita kembali mengangguk pelan. "Iya," lirih Pita.
Rey yang hanya mendengar samar samar tertawa pelan dan ingin terus menggoda Pita yang pipinya telah bersemu meski hawa diluar cukup dingin.
"Aku gak denger, Tan," protes Rey.
Pita mencebikan bibirnya. Merasa bahwa Rey sedang mengerjai dirinya.
"Nyebelin banget sih kamu, Rey. Dah, ah aku masuk aja." Pita pura pura merasa kesal.
Rey segera meraih bahu Pita agar bisa melihat dengan Pita dengan sempurna.
"Jangan ngambek dong, Tan. Ntar ilang cantiknya, lho! Sini sini aku tium duyu."
"Tante tau gak kenapa aku nekat datang kesini? Nih aku kasih spoilernya ya.
Saat tante pergi gak ada pamit sama aku terus ponsel tante ga bisa dihubungi, disitu aku frustasi. Malam ketujuh tante gak ada kabar aku memilih mengakhiri pertunanganku dengan Winda dan saat itu penyakit ayah kambuh. Saat itu aku benar benar tidak peduli tetapi Asiah datang mencoba menghiburku hingga akhirnya aku menjenguk ayah di rumah sakit. Ternyata saat itu Asiah yang sialan itu telah merekam segala unek-unek yang aku keluarkan. Tidak sampai disitu Tan, aku masih terus mencari tante di setiap sudut kota Jogja, mana tau tante nyangkut dimana gitu… dan mungkin saat itu Tuhan membukakan jalan untukku, tanpa sengaja jariku membuka Instagram terus aku liat story tante kalau tante sudah berada di pulau Sumatra. Dari situ aku mengancam Raka untuk memberitahu alamat rumah tante. Panjang kan Tan, ceritanya?" kenang Rey.
Pita sungguh salut dan terharu atas perjuangan Rey. Salah jika Pita menilai Rey tidak serius, nyatanya dia mampu mengambil resiko besar dengan memutuskan pertunangan dengan Winda meski akan ada efek di balik pembatalan tersebut. Siapa yang menyangka bahwa Rey juga nekat sampai menyusul dirinya hingga ke kampung.
Suasana malam hening sejenak, seolah jangkrik pun ingin menyaksikan dua orang insan yang saling membuka hati mereka untuk saling menerima perasaan masing masing. Pita yang gengsi akhirnya luluh atas segala usaha dan perjuangan Rey yang membuktikan keseriusannya kepada dirinya.
Demi langit dan bintang yang menjadi saksi, malam ini Pita dengan tulus menerima lamaran dari Rey malam ini.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Rey, jelas lebih bahagia. Ingin rasa dia berteriak agar seluruh kampung tahu bahwa malam ini Pita menerima lamaran dadakannya.
Jarum jam terus saja berpura, tak terasa sudah satu jam Pita dan Rey berada diluar. Waktu yang harusnya digunakan untuk beristirahat malah digunakan oleh kedua anak manusia itu untuk sekedar jalan jalan disekitar rumah Pita yang bisa dikatakan lebih luas daripada milik tetangga.
"Tan, makasih ya." Tak hentinya Rey mengulang kata terimakasih membuat Pita merasa bosan.
"Aku akan sabar kok nungguin tante siap nikah sama aku. Yang penting sekarang tante milikku seutuhnya. Dari mulai ujung kuku kaki hingga ujung rambut tante. Begitu juga aku, aku sekarang milik tante seutuhnya. Mata, hidung bibir semua ini milik tante. Nah, begitu juga tante, mata hidung dan bibir juga milikku." Rey menarik pinggang Pita hingga tubuh keduanya saling merapat. Jarak antara wajah Pita dan Rey hanya satu jengkal membuat Pita bisa merasakan hembusan nafas Rey. Jantung Pita terus bergemuruh, meskipun ini bukanlah yang pertama untuk dirinya. Rey memejamkan mata, memberanikan diri untuk mengambil sebuah kesempatan emas.
Begitu juga dengan Pita yang menggigit bibir bawahnya. Mengerti akan gerakan dari Rey, Pita pun segera memiringkan wajahnya agar bisa mendapatkan feel lebih dalam.
Tangan Rey sudah memegang tengkuk Pita, dengan pelan Rey berhasil menyatukan bibirnya. Sebuah kecupan biasa, karena pada awalnya Rey hanya ingin mengecup saja tetapi, melihat Pita yang terdiam semakin membuat Rey penasaran bagaimana rasanya hingga deckan dari bibir keduanya terdengar lebih menggairahkan membuat Rey terus dan terus memperdalam ciuman mereka. Pita yang bisa mengimbangi membuat Rey tak ingin memberhentikan kegiatan merek hingga Pita lah yang menarik diri karena sudah merasa sesak di dadanya tidak bisa bernafas dengan baik. Rey tersenyum puas sambil menyeka sudut bibirnya yang masih basah.
__ADS_1
"Makasih ya, Tan."
Rey segera menarik tubuh Pita kedalam pelukannya. Tak hentinya Rey mengecup kepala Pita.
🌿 🌿 🌿 🌿
Pita dan ayahnya sedang melakukan debat panjang lagi karena Pita telah meminta izin untuk segera pulang ke Jogja sementara pesta adat Ucok belum juga siap. Dengan situasi yang seperti ini Rey menjadi ragu untuk mengatakan sesuatu kepada ayah Pita.
Rencana awal, setelah sampai di kampung Rey akan segera memintanya kepada ayah Pita untuk mengizinkan Rey mengkhitbah Pita. Namun ternyata Rey tak mempunyai nyali untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan bilang kau yang pengaruhi Butet?!" tuduh ayah Pita pada Rey.
Rey mendongak lalu segera menggelengkan kepalanya. "Tidak! Saya tidak mempengaruhi tante kok." Rey membela diri.
"Awas saja kalau kau bawa pengaruh buruk kepada Butet. Cincang halus baru tahu rasa! Pokoknya ayah tidak setuju jika Butet kembali sebelum acara pesta ini selesai!" ayah Pita yang terbawa emosi memilih meninggalkan meja makan, menyisahkan perasaan kecewa pada diri Pita.
"Sudah... Jangan kau ambil hati ucapan ayah Butet! Dia memang begitu, kau tengok aja nanti 10 menit kemudian dia pasti gak akan marah lagi asal kau bisa ambil hatinya," lirih Nadine selaku ibu Pita.
"Mas Rey kesini mau jemput ibu ya? So sweet banget sih kalian? Tapi itu bagus sih, Mas. Aku udah gak tahan disini," adu Yuna pada Rey.
Rey masih terdiam seribu bahasa memikirkan bagaimana caranya mengambil hati ayahnya Pita dan cara menyampai niat baiknya, mengingat Pita yang baru saja bercerai dari Danar. Masa iddah juga belum habis tetapi Rey sudah berani mengkhitbah Pita.
"Tan, gimana dong cara jelasin sama ayahnya tante? Aku kok jadi insecure gini ya?" Rey sedang duduk disebuah kursi panjang, sambil melihat beberapa orang sedang memasak nasi dengan jumlah yang cukup banyak, karena memang acara pesta adat Ucok belumlah siap seutuhnya. Masih ada rangkaian acara lain dalam proses pesta adat tersebut.
"Ayah memang begitu orangnya, Rey. Aku sebenarnya salut sama keberanian kamu sampai sini mengingat ayahku susah ditaklukkan," ucap Pita.
"Tapi kamu tenang aja, aku akan selalu disampingmu untuk meyakinkan ayah." Pita tersenyum lebar menatap Rey yang sedang bimbang.
.
.
.
Ayo Rey, kamu pasti bisa!
__ADS_1