SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
TAMU TAK DI UNDANG


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 22 || TAMU TAK DI UNDANG


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA...


Yuna yang berada di rumah sendiri merasa sangat terkejut dengan kedatangan dua orang asing yang menyerobot masuk ke dalam rumah Pita tanpa basa basi. 


Seorang ibu setengah baya dan juga seorang lelaki muda namun tampilannya terlihat sangar baginya.


"Dimana Danar dan Pitaloka?" tanya Lelaki itu.


"Maaf kalian siapa. Bapak dan ibu tidak ada di rumah." Yuna sudah sangat ketakutan, jangan jangan kedua orang ini adalah maling yang berkedok teman majikannya, Yuna harus waspada.


"Kalian tidak boleh masuk! Majikan saya sedang tidak berada di rumah!" usir Yuna dengan keras.


Wanita setengah baya itu menatap Yuna dari ujung kaki hingga ujung rambutnya lalu memutari tubuh Yuna.


"Kau siapa, beraninya kau mengusir kami? Sejak kapan si Butet mempekerjakan pembantu macam kau ini?" sinis wanita itu.


Yuna mengernyitkan dahinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya siapa gerangan mereka yang merasa sok akrab dengan majikannya.


"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" tanya lelaki yang tak lain adalah Abang dari Pita. 


Tak akan menyangka bahwa sang ibu dan Abang Pita telah mendarat sempurna hingga rumah Pita. Bahkan Pita sendiri tidak mengetahui akan kedatangan mereka.


"Baru tiga bulan," ucap Yuna.


"Sini dulu kau biar ku jelaskan!" panggil Nadine yang tak lain adalah ibu dari Pita.


"Berhubung kau baru disini, biar ku jelaskan. Tapi bisa tidak kau buatkan aku minum dulu. Haus kali aku bah," lanjut Nadine lagi.


Yuna bergidik ngeri dengan kedatang tamu yang tak diundang ini. Apalagi menurut Yuna keduanya tidak sopan, nyelonong masuk langsung duduk padahal belum ditawarkan untuk duduk dan satu Yuna harus melayani tamu tersebut.


"Sekalian kau bikin dulu kopi yang pakai es itu!" perintah Ucok.


Yuna benar benar sangat kesal dengan tamu majikan yang sudah keterlaluan tidak memiliki sopan santun kepada dirinya.


Satu satunya cara adalah menelepon Pita agar  segera pulang. 


"Dasar tamu tak di undang, gak punya sopan santun," gerutu Yuna.

__ADS_1


Meskipun dalam keadaan dongkol Yuna tetap membuatkan minuman untuk kedua tamu Pita. Namun, sebelum itu Yuna telah mengabari bahwa di rumahnya sedang ada tamu yang tak diundang sedang mencarinya. Pita yang harus menyelesaikan sesi pemotretan terakhir pun mengiyakan permintaan Yuna dan sebentar lagi Pita akan pulang. Sebenarnya Pita sendiri juga penasaran dengan tamu yang tiba tiba singgah di rumahnya. Apakah itu teman Danar, batin Pita.


"Nih Bu, minum dulu." Yuna meletakkan orange jus kepada Nadine dan meletakkan secangkir kopi hitam yang ditambah dengan es batu.


"Apa pula ini?" Ucok merasa sangat bingung dengan minuman yang diberikan oleh Yuna.


"Lha tadi kan Mas nya minta kopi yang dicampur dengan es. Kopi es. Eh… salah, Es kopi. Lagian aneh aneh permintaan," gerutu Yuna. 


Melihatnya saja Yuna ingin tertawa, ada ada saja permintaan. Yang ada itu teh di campur es, jadilah Es teh.


"Bodoh kali bah, kau ini. Kau tak tahu minuman kopi macam di cafe itu?" 


Yuna menelan kasar ludahnya. Sebenarnya siapa yang bodoh? Kan dirinya hanya membuat seperti yang dikatakan sebelumnya, kopi dicampur es dan gak bilang jika yang diinginkan adalah capucino.


"Sudahlah, Cok. Berisik kali kau ini bah. Pusing pala Mamak. Diam kau!" protes Nadine.


Ucok pun langsung terdiam. Mau tidak mau ia pun meminum es kopi dengan penuh keterpaksaan. Jika bukan karena mamaknya menyuruh diam, Ucok ingin lebih lama beradu mulut dengan Yuna.


Yuna hanya bisa melihat anak dan ibu yang sedang kehausan bahkan mungkin kelaparan juga karena Yuna sempat mendengar cacing di perut Nadine protes.


Setelah jus orange habis Nadine segera mencari keberadaan Yuna yang sedang berada di dapur. Yuna terkejut saat Nadine tiba tiba sudah ada di belakangannya.


"Masak apa kau?" tanya Nadine.


"Astaga, ibu mengagetkan." Yun terkejut.


"Yuna Bu, Ibu sendiri siapanya Bu Pita?" tanya Yuna. Memang Yuna harus segera menanyakan hal itu dari tadi namun belum kesampaian karena tadi sedang beradu mulut dengan Ucok.


Baru saja Nadin ingin menjelaskan siapa dirinya, gendang telinganya dikagetkan dengan suara Pita.


"Mamak," teriak lantang saat melihat ibunya berada di dapur bersama dengan Yuna.


Baik Nadine maupun Yuna sangat terkejut dengan kedatangan Pita. Jika Nadine terkejut karena Pita telah mengalami perubahan, kini Pita menjelma menjadi wanita yang sangat cantik. Sedangkan Yuna terkejut dengan sebutan yang keluar dari mulut Pita. 


Apa? Mamak? Jadi tamu yang tak punya sopan santun itu adalah keluarga Pita. Ya ampun demi apa Yuna sama sekali tidak mengetahuinya. Ia pun menelan kasar ludahnya dan menggigit bibir bawahnya.


"Cantik kali kau sekarang. Anak sampai terpesona."


Pita saat ini tengah memeluk tubuh wanita yang dipanggilnya mamak. Tanpa terasa kristalan bening meleleh begitu saja tak terelakan lagi.


Kerinduannya benar benar terobati. Saat hatinya tengah remuk, Tuhan memberikan celah kebahagiaan lewat jalan lain dengan cara mengirimkan ibunya menjenguk dirinya. Sungguh indah cara Tuhan menggantikan rasa sakitnya menjadi rasa bahagia luar biasa.


"Kenapa kau malah menangis? Maafkan bapakmu yang tidak bisa ikut kesini," ujar Nadine sambil membelai rambut Pita.

__ADS_1


"Pita seneng, Mak. Mamak kesini."


****


Setelah melihat hara hura antara anak dan mamak akhirnya memilih melanjutkan kegiatannya di dapur. Berhubungan ada tamu, Yuna pun harus masak lebih dari porsi biasanya. Namun kali ini bukan rendang daging ataupun semur ayam melainkan sayur daun ubi tumbuk dan sambal tuk tuk di tambah lagi Yuna harus mencorengkan ikan asin. 


"Ternyata selera ibunya ibu ndesit juga ya." Yuna cekikikan sambil menata hidangan diatas meja. 


Sementara itu Abang Pita yang dipanggil Ucok itu tak begitu open dengan kebahagiaan sang adik yang terlihat sangat bahagia atas kedatangan mereka.


"Dimana Danar. Dari tadi aku tak nampak mukaknya?" tanya Ucok.


Pita mendadak menjadi kaku atas pertanyaan Danar. 


"Kenapa kau diam?" Ucok tak sabar ingin mengetahui dimana iparnya yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.


"Jangan bilang kau sedang berantam ya! Abang sudah pernah ingatkan kau kalau Danar itu tidak cocok samamu. Kau terlalu merengkel," ujar Ucok dengan khas logat Bataknya.


"Cok, jabir kali lah mulut kau itu! Diam mulutmu!" sentak Nadine.


Lagi lagi Ucok harus menutup mulutnya saat Nyonya besar sudah angkat bicara.


Sedari awal Ucak dan bapak Pita sangat menentang keras hubungan Pita dengan Danar, bahkan sampai sekarang bapak Pita masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Pita rela meninggalkan keluarganya demi seorang yang bernama Danar tersebut.


"Jadi dimana suamimu? Kenapa belum pulang? Sudah jam berapa ini?" 


Pita menggigit bibir bawahnya. Akankan secepat ini masalah itu terungkap. Apa kata Abangnya jika mengetahui Pita telah menggugat Danar. Yang pasti Ucok akan memojokkan  dan merendahkan dirinya.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana.


"Butet, kau dengar Mamak ngomong tidak?" sentak Nadine.


"Iya, Pita denger kok Mak. Mamak jangan marah marah napa? Nanti tensi Mamak naik lagi, lho."


Nadine mendengus kesal. Siapa juga yang sedang marah marah, memang sudah seperti itu logat bahasanya kayak gak tau aja bagaimana suara orang Batak kalau lagi ngomong. Orang ngomong baik baik dibilang marah. Nadine hanya mengeluh dalam hati melihat anaknya yang sudah tidak mengenali lagi logat bahasa kelahirannya.


🍂🍂BERSAMBUNG🍂🍂


HAI HAI... JANGAN LUPA JEJAK KALIAN 😘


*BUTET anak Perempuan


*UCOK anak laki-laki

__ADS_1


ADAKAH DI SINI YANG BERMARGA?


SALAM DARI BORU REGAR KW 😆


__ADS_2