
SEGENGGAM LUKA
BAB 35 || PERMINTAAN MAAF
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA, JANGAN LUPA LIKE!
Mungkin aku salah mengartikan perasaanku. Aku yang terlanjur merasa nyaman salah mengartikan hubungan kita hingga aku merasa terlena atas perasaan yang fana ini
...~Pitaloka.~...
Entah mengapa hati pita terasa sakit melebihi sakitnya saat memilih berpisah dari Danar yang jelas jelas sudah mengkhianati dirinya.
Pita berlari kecil sambil mengusap jejak air matanya yang sengaja tumpah begitu saja membuat Yuna merasa terheran.
"Ibu cemburu?" Dua kata yang menggetarkan hati Pita. Apa cemburu?
Pita mengernyitkan dahinya untuk mencerna ucapan Yuna. Untuk apa coba Pita menangis tanpa alasan dan hatinya terasa sangat sakit. Apakah Pita memang cemburu? Tidak, Pita! Katakan kamu sedang tidak cemburu! Sejak kapan kamu memiliki perasaan terhadap Rey yang dikatakan bronis itu.
"Tidak!" ketus Pita.
"Jangan bohong. Saya tahu Ibu sedang cemburu. Tuh buktinya pipi Ibu merah," ejek Yuna.
Semula Pita yang hendak menjawab ucapan Yuna mendadak membeku saat merasakan semu di pipinya. Pita segera memegangi pipinya.
"Kamu yang sopan! Mau aku pecat!" Sebuah ancaman keramat bagi Yuna.
Yuna pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Hingga sampai malam Pita tidak bisa membohongi perasaannya yang masih berkecamuk tentang Rey. Siapa wanita itu, mengapa Rey terlihat sangat mesra?
Pita sendiri tidak tahu tentang perasaannya yang terlihat marah saat Rey menggandeng wanita lain. Wajar saja jika Rey menggandeng seorang wanita, siapa tahu itu memang kekasihnya. Sejak awal Rey datang hanya untuk membantunya.
Mungkin rasa yang Pita miliki terlalu berlebihan terhadap Rey hingga seolah menganggap Rey juga memiliki rasa terhadapnya tetapi, semua itu salah besar. Rey tak pernah menganggap kebersamaannya selamail ini, tidak dengan Pita yang lebih menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar partner kerja biasa. Rasa itu Pita sadari saat kepergian Rey yang tanpa kabar. Ternyata Pita merasa kehilangan saat itu namun, kini Pita harus menepis prasangkanya terhadap Rey.
Rey mempunyai jalan hidupnya sendiri.
Suara bel rumah Pita terdengar nyaring saat waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Siapakan tamu yang malam malam singgah ke rumahnya?
Pita memanggil Yuna namun tak kunjung ada jawaban akhirnya Pita sendiri yang membukakan pintu untuk tamu tersebut.
"Siapa sih malam malam datang," gerutu Pita.
Setelah Pita membuka pintu, jantung Pita berdetak lebih kuat dari biasanya. Dadanya naik turun menyeimbangkan debaran jantungnya. Matanya terbelalak saat melihat Rey sudah berada di depan pintunya.
"Rey," lirih Pita.
__ADS_1
Seulas senyum Rey sunggingkan saat menyapa Pita.
"Malem, Tan," sapa Rey dengan gayanya yang sok cool.
Pita menahan nafas. Untuk apa Rey datang malam malam seperti ini? Bukankah masih ada hari esok?
"H-hai juga," gugup Pita.
Pita menyalahkan Rey untuk duduk di teras rumahnya mengingat waktu sudah malam. Apa kata tetangga jika Rey masuk kedalam rumah Pita yang statusnya seorang janda muda.
"Duduk Rey," ajak Pita.
Rey mengernyitkan dahinya saat melihat perubah tubuh Pita yang terlihat semakin kurus. Hanya satu minggu Rey tak bertemu dengan Pita namun perubahan Pita sangat jelas terlihat atau memang Rey yang terlalu berlebihan?
"Tante kok makin kurus? Tante gak makan makan ya? Aku kan udah tulis kalau Tante harus jaga kesehatan. Tuh, badan Tante tinggal sebesar lidi," celoteh Rey.
Pita memaksakan senyumnya. Inilah yang Pita rindukan dari sosok Rey. Selalu bisa menghibur dirinya.
"Kamu ngomong apa sih Rey?" tepis Pita.
"Kamu ngapain kesini?" Mendadak Pita menjadi sinis.
Tiba tiba saja Rey menyerahkan paper bag kepada Pita.
"Apa ini?" tanya Pita heran.
Ingin rasanya Pita menimpuk tubuh Rey namun ia sadar siapa dirinya. Pita pun mengurungkan niatnya.
Kedatangan Rey hanya untuk memberi hadiah, bukan untuk meminta maaf dan menjelaskan akan kepergiannya serta siapa wanita yang tadi bersamanya.
Ah, pikiran Pita semakin ngelantur saja, memang siapa Pita di hati Rey.
Hanya seorang yang kebetulan menjadi modelnya dan sering bersama kemanapun mereka pergi. Bukan seseorang yang ada didalam hatinya, jadi tidak usah berharap lebih dari hubungan tersebut.
"Sudah? Kalau sudah kamu boleh pulang. Terimakasih atas hadiahnya." Pita mencoba menguatkan hatinya. Meski nyatanya ia tak rela jika harus segera berpisah dari Rey.
Rey menautkan alisnya. "Tante ngusir aku? Tante gak ingin nanya kabar aku gimana gitu?" protes Pita.
Pita tersenyum sinis. "Untuk apa Rey? Bukankah kamu kesini hanya untuk mengantar hadiah ini. Hadiah sudah aku terima, lalu aku harus menanyakan bagaimana kabarmu? Bukankah kamu sudah ada disini dengan keadaan sehat wal afiat tanpa ada yang kurang satupun? Harusnya kamu Rey! Harusnya kamu yang tanya gimana kabar aku! Kamu pergi gitu aja tanpa pamit. Aku coba hubungi kamu berkali kali tetap gak bisa, Rey! Aku disini sangat merasa bersalah atas kepergianmu, Rey!" Pita tak bisa membendung lagi amarah dalam hatinya. Ia mengeluarkan segala unek unek dalam hatinya sambil terisak.
Rey sangat terkejut dengan amarah dari Pita ditambah lagi Pita yang terlihat sesenggukan, mencoba untuk tidak menangis. Apakah sikap Rey sudah sangat keterlaluan?
Hati Rey mendadak terasa ngilu melihat Pita yang sesenggukan. Rey mencoba mendekat dan memberanikan diri untuk mengelus rambut Pita.
"Maafkan aku, Tan," lirih Rey.
Rey bersimpuh di pangkuan Pita karena saat ini posisi Pita sedang duduk dan dirinya tengah berjongkok.
__ADS_1
"Maaf sudah bikin Tante khawatir. Aku janji tidak akan mengulangi," lirih Rey.
Pita masih terdiam. Apa maksud dari sikap Rey yang berani menyentuh rambut, hanya orang orang yang memiliki sebuah perasaan lebih yang akan berani membelai rambut seorang wanita dan Rey… tanpa sadar Rey telah membuat hati pita berguncang tak menentu lagi. Sebenarnya apa maksud Rey yang seperti ini.
"Tante mau kan maafin aku?" Rey mengiba kepada Pita.
"Tante jangan marah dong! Aku gak bisa tidur kalau Tante gak maafin aku," lanjut Rey lagi.
Pita membuang muka sambil mengusap jejak air matanya.
"Mau kamu apa Rey. Kamu malam malam datang kesini hanya untuk memberikan hadiah seperti tak ada hari esok. Kenapa kamu takut pacar kamu mengetahuinya?" todong Pita.
Rey menggenggam erat tangan Pita dan mengeluarkan nafas beratnya. Berat bagi Rey untuk memilih saat ini. Jika bisa memilih maka Rey akan memilih untuk berdiri disamping Pita, menemani suka dan dukanya namun, ternyata Rey harus menerima atas perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Saat ini Rey telah bertunangan dengan Winda, wanita yang Rey gandeng siang tadi.
"Maafkan aku, Tan. Orang tuaku telah menjodohkan aku dengan Winda dan saat ini kami sudah bertunangan," tutur Rey pelan.
Deg.
Bagaikan disiram air es ditengah malam. Pita membeku, hatinya terasa perih bak seperti luka yang disirami oleh garam lagi.
Setelah Pita merasa nyaman, Pita harus menelan sebuah kepahitan lagi. Apakah ini adalah sebuah karma karena telah menentang orang tuanya saat itu?
Mengapa baru sekarang cobaan datang silih berganti? Apakah ini yang disebut habis manis sampah dibuang, eh sepah di buang?
"Selamat." Satu kata yang lolos dari mulut Pita.
"Tante marah?" tanya Rey.
Pita mengernyit lagi. "Hah, marah? Atas dasar apa Rey? Aku malah bersyukur kamu sebenar lagi akan menikah dan tak akan selalu menempel padaku." Bohong jika Pita sedang baik baik saja, nyatanya dia sedang tidak baik baik saja. Hatinya perih.
"Lalu kenapa tante ketus seperti itu?" proses Rey lagi.
"Aku hanya kecewa saja. Kamu pergi bertunangan tapi tidak memberitahuku. Bahkan aku sempat mencarimu ke apartemen," ujar Pita.
Mata Rey membulat, ia sangat terkejut. Pita rela datang ke apartemennya hanya untuk memastikan dirinya baik baik saja. Sungguh Rey benar benar merasa sangat bersalah terhadap Pita.
.
.
.
.
Satu hari novel ini Up sampai 5 bab, mana nih dukungan kalian untuk Authornya?????
Ini adalah pertama kali dalam sejarah Author up sampai 5 bab sehari kasih 👏🏻👏🏻 dulu buat TEH IJO 😀
__ADS_1