
SEGENGGAM LUKA
BAB 49 || RESTU
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA...
Tidak menyangka bahwa Rey bisa meyakinkan ayahnya dalam waktu sekejap mata saja dengan pernyataan konyolnya. Mana ada sinamot semahal itu, sudah seperti seorang ratu saja dirinya dihargai 1 M. Namun, Pita juga tak menyangkal jika dirinya turut bahagia atas restu yang diberikan sang ayah.
Siang ini Pita, Yuna dan Rey sudah berada di Bandara Kualanamu untuk terbang ke Yogyakarta dengan paling awal. Padahal hari sudah siang tetapi, itulah jadwalnya penerbangannya.
Pita merasa sangat bahagia saat sang ayah memberikan izin kepadanya untuk pulang ke Jogja lebih awal. Mendadak saja sikap ayahnya berubah sangat manis kepada dirinya. Semua ini adalah berkat cara Rey yang berhasil mengambil hati ayah Pita, bukan hanya hati saja tetapi juga jantungnya juga berhasil Rey ambil.
"Aku memang memberikan restu tapi jangan sampai kau macam macam dengan Butet. Jika sampai kudengar kau macam macam, ku pastikan kau akan ku cincang halus!" pesan dan sebuah ancaman mengiringi keberangkatan Rey menuju kotanya.
"Jangan terlalu khawatir calon bapak mertua. Saya bisa memastikan tidak akan macam macam kok, tapi cuma semacam saja," kekeh Rey.
🛫 🛫 🛫
3 jam kemudian
🛬 🛬 🛬
Setelah sampai di Bandara YIA, mobil yang dipesan oleh Rey sudah standby di parkiran luar menunggu kedatangan Rey.
Selama perjalanan, Yuna hanya dianggap sebagai Baygon untuk kedua manusia yang tengah dimabuk asmara. Tanpa merasa risih lagi kedua insan itu memperlihatkan kemesraan di depan Yuna. Seperti seorang ABG yang sedang kasmaran, umpat Yuna dalam hati.
Mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di depan halaman rumah Pita.
"Tan, aku gak bisa mampir ya."
"Iya. Gak papa. Kamu langsung pulang aja. Pasti capek kan?" ujar Pita.
Rey hanya mengangguk. Sebulan Pita menutup pintu mobil kembali, Rey telah menarik pinggang Pita hingga tubuh keduanya mendekat.
Cup!
Sebuah kecupan singkat dari Rey ke pipi Pita membuat Pita membeku sejenak.
"Sudah sana masuk!" titah Rey.
Pita yang menyadari segera menarik kembali tubuhnya. Pipinya terasa panas. Baru juga mendapatkan lampu hijau dalam hubungan keduanya, Rey sudah main nyosor nyosor terus.
"Jalan Pak!" perintah Rey pada sang supir
🌿 🌿 🌿
__ADS_1
Memulai harinya dengan kesibukan yang sangat padat karena banyak waktu yang sudah terbuang begitu saja. Pagi ini setelah sarapan pagi, cuaca mendadak tidak bersahabat. Tiba tiba saja angin kencang dan awan mendung menggulung hamparan luas nirwana. Pita yang hendak berangkat ke Studio pun harus menunda, karena hujan kasar sudah mulai turun.
"Yah, hujan," keluh Pita.
Pita segera mengambil ponsel untuk menghubungi Riyan, memberi kabar bahwa dirinya akan datang terlambat karena hujan. Riya mengiyakan, memberi izin karena memang sedang turun hujan.
Saat Pita hendak kembali ke kamar, suara bel pintu rumah terdengar nyaring.
"Siapa sih, hujan hujan datang?" keluh Pita lagi.
Pita tidak akan pernah menyangka jika yang datang adalah Rey. Rey nekat menerobos derasnya hujan hanya ingin bertemu dengan Pita. Belum ada 24 jam dirinya berpisah dengan Pita tetapi ia sudah merasakan sangat rindu.
"Pagi, Tan," sapa Rey dengan rambut sedikit basah karena harus menerobos jalan dari mobil hingga teras.
"Kamu ngapain hujan hujan kesini?" tanya Pita heran.
"Tadi pas aku kesini gak hujan kok Tan. As ditengah jalan baru hujan. Gak mungkin aku kembali pulang," celoteh Rey.
Pita hanya ber O ria sambil menyuruh Rey masuk ke dalam. Yuna yang baru saja siap dari dapur harus terbelalak saat melihat Rey sudah berada disini sepagi ini.
"Kalian bener bener ya! Mentang mentang udah dapat sinyal lampu hijau dari camer suka ati hujan pun rela diterjang hanya demi yang bisa kangen kangenan," cibir Yuna.
"Iri…? Biang bos," sahut Rey.
"Apaan sih, Rey?"
Hampir satu jam lamanya Rey berada di rumah Pita, hingga tak terasa hujan sudah mulai reda dan Pita pun mengajak Rey untuk segera berangkat ke Studio karena Pita yakin kedatangan keduanya sudah dinantikan oleh crew yang lainnya. Pita tak dapat lagi membendung rasa bahagianya setelah mobil Rey berhenti di depan sebuah gedung berlogo R Studio.
"Seneng amet?" ujar Rey.
"Iya dong. Hampir 2 minggu gak jumpa sama mereka," terang Pita.
Rey mengernyit. "Mereka siapa?" .
Bukannya menjawab, Pita malah menatap Rey dengan malas. Belum apa apa Rey sudah menaburkan kecemburuan.
Apakah setiap hari nanti Pita akan mendapatkan pertanyaan yang sama?
Darimana, sama siapa, siapa dia dan teman sejenisnya.
"Astaga, Rey. Kamu kenapa jadi posesifan gini sih? Aku gak suka ya kamu memperdalam pertanyaan yang mengarah pada ketidak percayaanmu kepadaku," kesal Pita.
Rey hanya mencebikan bibirnya tidak terima. Rey hanya tidak ingin Pita memikirkan pria lain selain dirinya.
"Tan! Jan ngambek dong! Mana sun nya?" teriak Rey saat Pita berhasil meninggalkan Rey di dalam mobil tanpa kata. Pita hanya tidak suka jika dirinya selalu di introgasi dengan masalah yang unfaedah menurut dirinya.
Pita sama sekali tak menghiraukan panggilan dari Rey. Ia pun segera masuk ke dalam gedung Studio.
__ADS_1
Benar dugaan Pita, di dalam sana ternyata
Sudah ramai. Bahkan sesi pemotretan juga sudah dimulai. Pita yang baru saja datang segera mencuri perhatian semua mata tak terkecuali oleh Riyan sendiri.
"Keliling dunia gak ngajak ngajak," celotehnya.
Pita menyunggingkan senyumnya. "Siapa yang keliling dunia? Aku hanya pulang ke Medan," jelas Pita.
"Tahu gak… Setelah kamu cuti, si Rey juga ngikut pergi," bisik Riyan.
"Frustasi berat, sampai sampai batalkan pertunangannya dengan Winda, gila kan? Yang lebih parah lagi bapaknya sampai masuk rumah sakit lho dan abis itu ngilang gak jelas," lanjut Riyan.
"Oh." Pita tidak bisa berkomentar apa apa lagi karena Pita sendiri juga sudah tahu kejadiannya, untuk apa terkejut?
"Ehm…" Sebuah deheman keras mengalihkan percakapan keduanya. Riyan yang melihat Rey muncul sangat terkejut, mengapa bisa kebetulan seperti ini dengan kedatangan Pita.
"Kerja, bukannya ngota," sinis Rey.
Pita hanya bisa mengernyitkan dahinya.
Dalam waktu sekejap saja mood Rey sudah berubah. Sungguh Rey seperti bocah. Pita menggeleng mengikuti langkah Rey menuju ruangannya.
"Rey, kamu kenapa sih?" todong Pita segera.
"Gak kenapa kenapa, kenapa masih kurang puas untuk bercerita dengan Riyan? Ya sudah sana tidak perlu ada jadwal pemotretan," ketus Rey.
Pita menghembuskan nafas kasarnya dan menggeleng. "Kok gitu?"
"Tau ah, aku masih banyak kerjaan. Jangan lupa tutup pintunya lagi kalau keluar!" perintah Rey.
"Kamu ngusir?"
Tak ada jawaban dari Rey, seolah tidak menganggap keberadaan Pita.
"Ya sudah, aku pergi." Pita memilih meninggalkan Rey yang sedang kesal. Hanya bercakap biasa dengan Riyan saja Rey sudah merasa seperti cacing kepanasan, bagaimana kalau ada partner kerjanya seorang laki laki?
"Ah, Rey gak asik," keluh Pita.
.
.
.
.
SELAMAT HARI LIBUR ❤ JANGAN LUPA JEJAK NYA DONG 😊 LIKE LIKE LIKE !!!
__ADS_1