SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 57 || BERTEMU LAGI


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA


Raka yang tidak mengangkat panggilan telepon membuat Pita merasa kesal. Mengapa Raka tidur seperti kebo gak dengar apa apa. Pita hanya bisa menunggu waktu hingga besok pagi. Rasanya sudah tidak sabar menunggu mentari bersinar lagi.


Melawati kesunyian malam yang sepi, mata Pita tak kunjung memejam, memikirkan bagaimana Danar melewati hari harinya dengan penuh kesakitan.


"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Pita.


Hingga pukul tiga dini hari mata Pita baru saja terpejam itu juga karena Pita tiba tiba menangis merenungi nasib Danar saat ini. Lama lama mata Pita pun terpejam akibat kelelahan menangis.


Pagi ini jangan ditanya bagaimana kondisi mata  Pita, bengkak semua. Mata panda juga sangat jelas terlihat.


"Ibu habis menangis atau begadang?" tanya Yuna yang sangat jeli dengan penampilan Pita.


"Punya ART kepo nauzubillah," gumam Pita.


"Yah harus begitu Bu. Kita ini tinggal satu atap meskipun beda status dan pangkat tapi … statusku masih tinggi, Bu karena masih ting ting," celoteh Yuna.


Entah harus marah atau tertawa, sikap Yuna solah membuat Pita lebih terhibur.


Setelah mendapatkan sebuah panggilan telepon, Pita segera berkemas. 


Yang membuat Yuna bingung adalah saat Pita memasukan semua makanan yang telah tersaji dalam rantang. Sepertinya majikan sedang ingin mencari amal kontan.


"Kamu masak lagi ya, Yun!" perintah Pita.


Yuna masih terdiam melihat kepergian Pita yang sangat buru buru. Dapat Yuna lihat, ternyata di luar sudah ada mobil yang tenang menjemput Pita.


"Pantas saja buru buru. Udah ada yang nunggu," gumam Yuna.


Jika boleh, Yuna akan menangis sejenak untuk meredakan perasaan sakitnya. Ternyata Pita membawa semua masakan tanpa sisa, itu artinya Yuna harus memasak kembali agar ia bisa sarapan.


"Majikan gak berakhlak. Masa semua makanan dibawa. Udah kayak mau ngasih makan orang kampung aja."


Pita segera naik kedalam mobil Raka untuk menuju dimana Danar saat ini berada. Hanya ada dua tempat, jika tidak berada di rumah maka Danar sudah berangkat ke tempat kerjanya.


Raka meminta maaf jika malam tadi tidak mengangkat telepon dari Pita karena Raka jika tidur selalu menggunakan mode silent jadi meskipun urgent, Raka tak akan mendengar panggilan telepon.


"Jadi kita kemana dulu, Bu?"

__ADS_1


"Terserah kamu saja."


Tak ada percakapan Sepanjangan perjalanan. Pita hanya bisa memejamkan mata berharap cepat sampai ke tempat dimana Danar saat ini. 


Raka melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Masih pukul 7 pagi, itu artinya Danar masih ada di rumah karena Danar akan pergi bekerja setelah pukul 8 pagi.


Raka melajukan mobilnya lebih cepat lagi agar bisa mengambangi rumah yang saat ini ditinggali oleh Danar.


Raka berharap setelah pertemuan ini hati Pita sedikit terbuka dan bisa membantu Danar dalam segi pengobatan. Disini Raka tidak memihak pada salah satu Pihak. Raka menyayangi mereka berdua, terlebih kepada Danar yang telah sama sama berjuang dari nol. Raka juga tidak bisa menghakimi Pita, karena apa yang telag dilakukan Danar sudah sangat keterlaluan, bisa dimaafkan saja, Raka turut bahagia.


"Masih lama, Rak?" tanya Pita.


"Bentar lagi kok, Bu."


Pita hanya mengangguk pelan, mencoba bersabar meskipun hatinya sudah memberonta.


Mobil yang dikendarai Pita tidak bisa masuk kedalam gang yang cukup sempit. Jalan itu hanya bisa di lewati pejalan kaki saja. Kanan kiri hanya perbatasan tembok besar, Pita sendiri bergidik ngeri saat melewati jalan tersebut yang terlihat menyeramkan. 


"Masih jauh?" tanya Pita lagi.


"Tidak. Sebentar lagi juga sampai," jawab Raka.


"Kamu sudah sering kesini?"


Raka mengangguk. "Hmm."


"Saya dan pak Danar tidak pernah putus komunikasi. Anda tahu bagaimana hubungan kami sebelumnya. Namun, saya harus tetap proposional. Saya tidak bisa menggabungkan urusan pribadi dan urusan pekerja. Saya sering kesini setelah jam pulang kerja. Kejadian ini sudah berlangsung sejak dua bulan lalu," terang Raka.


Tak lama, keduanya pun telah sampai si sebuah rumah kecil yang terlihat tidak terartur bahkan tak seperti ada penghuni di dalamnya.


Pita mengernyit, menyapus halaman sekitar dengan pandangan mengerikan. 


"Ini rumhnya, Bu. Seperti pak Danar masih ada di dalam."


Tokk … Tokk …


Raka mengetuk pintu, sebelum pada akhirnya Danar keluar untuk menyambut kedatangan Raka. Nanum hal lain terjadi, Danar yang terlihat lebih lusuh mematung saat melihat sosok yang sedang bersama dengan Raka pagi ini. Mengapa Raka membawa Pita kehadapannya? Bukankah Danar sudah berjanji tidak akan menampakkan wajahnya lagi dihadapan Pita?


Danar menunduk malu berhadapan langsung dengan Pita. Wanita yang telah ia campakkan datang untuk melihat kondisinya memilukan ini? Meris, jika Danar mengingat apa yang telah ia lakukan terhadap Pita, wanita yang ia cintai tulus dari hatinya.


"Bang Danar …" gumam Pita.


Tubug Pita mendadak merasa lemas saat melihat Danar secara langsung dengan penampilan lusuh dan tubuhnya yang jauh berbeda dari yang dulu. Saat ini hanya tinggal tulang yang menempel pada kulit.


"Pita … Kamu apa kabar?"

__ADS_1


Tak sanggup menahan matanya yang terasa panas, Pita segera menghambur memeluk laki laki yang telah membimbingnya mengucap kalimat syahadat. Mana mungkin Pita akan melupakan semua peristiwa penting dalm hidupnya meskipun keduanya sudah berpisah.


Pita menumpahkan air matanya dalam dekapan Danar. Danar sendir merasa bingung, tangan Danar hanya mengambang dalam udara antara ingin memeluk atau membiarkan begitu saja.


Namun, sebuah anggukan kecil dari Raka membuat Danar membalas pelukan dari Pita. 


Danar mengelus rambut halus yang selama ini dirindukan. Entah mimpi apa semalam hingga keinginan terakhir Danar bisa terpenuhi? Apakah ini pertanda jika dirinya sudah akan dipanggil untuk menghadap Tuhan lebih cepat?


Danar hanya bisa pasrah karena tak akan ada lagi harapan untuk dirinya bisa sembuh.


"Kenapa Bang Danar menyembunyikan semua ini. Kenapa Bang Danar gak bilang kalau sedang sakit? Maafkan aku yang sudah egois, Bang."  Pita masih terisak dalam dekapan Danar. 


Danar segera membawa Pita masuk kedalam tempat tinggalnya saat ini yang tak pantas disebut dengan rumah karena kondisi sebenarnya hanya seperti sebuah gubuk persinggahan. Dimana tempat masak, tempat tidur bahkan ruang tamu semuanya menyatu.


Setelah Pita tenang, Pita memberikan rantang yang sempat ia bawa tadi.


"Bang Danar pasti belum makan. Nih aku bawain makanan," ujar Pita.


Danar tidak bisa berpikir apa apa lagi. Yang ia rasakan hanyalah sebuah kebahagiaan. Bisa berdamai dengan Pita seperti ini adalah sebuah keajaiban untuk dirinya. Apalagi jika ia diberi satu kesempatan untuk menebus rasa bersalahnya, Danar tidak akan menyia nyiakan Pita lagi.


.


.


.


BAGAIMANA?


KALIAN TIM DANAR ATAU TIM BRONIS?


OTHOR AKAN MENGEMBALIKAN BRONIS SAAT KALIAN BANTU OTHOR DENGAN CARA


MENAMBAHKAN KE RAK FAVORIT


LIKE


KOMEN


TABUR BUNGA


DAN BERI RATE BINTAN 5 PADA NOVEL TERBARU AUTHOR YANG SEDANG MENGIKUTI EVENT LOMBA MENGUBAH TAKDIR.


SO ... DI HITUNGAN DARI SEKARANG 3 ... 2 ... 1 ..


JUDUL NOVEL : ISTRI TUAN MUDA

__ADS_1




__ADS_2